Sekali-sekali nulis opini ahhhh . . . . Pemerintah, melalui Wapres Jusuf kalla di palembang Minggu kemarin memberikan bocoran bahwa sedang dikaji opsi-opsi pembatasan jumlah kendaraan. Secara pemerintah melihat pertumbuhan kendaraan sebanyak 46% per tahun rawan akan menimbulkan beberapa masalah seperti melambungnya subsidi bbm dan masalah-masalah yang berhubungan dengan infrastuktur jalan. Dua Opsi yang sedang dikaji pemerintah adalah Menaikkan harga BBM atau Pengurangan jumlah kendaraan bermotor. Opsi kedua bila dijabarkan lagi dapat berupa aksi menaikkan pajak kendaraan bermotor (PKB), pembatasan umur kendaraan, atau kombinasi keduanya.

Satu hal yang membuat saya bingung adalah penjelasan Wapres pada artikel ini di harian Republika pagi ini yang menyebutkan bahwa ternyata setiap satu liter BBM bersubsisi, besar subsidinya adalah sebesar Rp.5.000. Berarti bila premium dicabut subsidinya, maka harganya akan menjadi Rp 11ribu. Berarti (lagi) secara value ternyata lebih murah dari harga pertamax dan Pertamax plus yang merupakan BBM Non Subsidi cmiiw. Monggo kalo ada brothers yang bisa ikut sumbang penjelasan.

Seperti halnya mekanika klasik, Ada aksi-pasti ada reaksi, benar saja GAIKINDO mengkounter opsi kenaikan PKB dengan berpendapat bahwa menaikan PKB tidak akan efektif untuk menghemat energi, menurut saya secara jangka pendek memang tidak terasa, tapi pada jangka panjang pasti akan terasa penyusutan jumlah kendaraan bermotor. Hhhh, Yang pastinya LAPAK nya gaikindo-lah yang akan terganggu secara signifikan bila PKB jadi dinaikkan, yang otomatis akan membuat harga kendaraan bermotor akan semakin mahal dan orang Ogah beli kendaraan.

Lain Lagi curah pendapat saya mengenai solusi menanggulangi krisis krisis energi: Jika dilihat Kasat mata, Eksodus Masyarakat pada Roda dua sebagai respons dari naiknya Harga BBM hanya merupakan Efek psikologi yang secara umum tidak akan memecahkan masalah, Malah ke depan bila tidak diberlakukan regulasi yang ketat saya khawatir akan terjadi semacam kondisi STUCK, Macet Total dimana-mana karena kebanyakan kendaraan. Solusi MAKRO nya adalah pemerintah kudu mengkonsep Ulang grand Desain Energi dan Transportasi Nasional (MAKRO), gimana caranya?? Wah itumah urusannya Para petinggi, yang penting jangan sekali-kali di bumbui oleh kepentingan, hmmm bisa mentah lagi kalo ada kepentingan. Sedangkan ditataran teknis (MIKRO) dapat dilakukan antara lain dengan.

  1. Memulai Gaya berkendara yang hemat, mengurangi perjalanan yang tidak Perlu,
  2. perancangan Grand desain Transportasi kota yang mengutamakan Transportasi massal, mana ada sih orang yang mau capek-capek nyetir atau nyemplak motor kalo transportasi massanya nyaman. Naik motor itu paling nyaman ya di sirkuit dan ketika Touring liburan, yang tentunya tidak dilakukan setiap hari
  3. …. Monggo ditambahkan

salam,

Taufik of BuitenZorg

pict : ngadimin.org, kompas,

tmcblog youtube channel
TMC ADS

12 COMMENTS

  1. membuat produksi bbm dalam negri menjadi lebih efisien dan tidak terjadi lagi yang namanya penjajahan terselubung dari negara asing seperti sekarang ini, padahal dari kenaikan harga minyak dunia ini kita bisa menikmati juga lhoo, bukannya malah susah begini,,,,

    Guest
  2. 3. Kurangi kuantitas dan perbaiki kualitas alat transportasi masal (angkotnya banyak, karena belum penuh, ngetem deh. buang waktu penumpang-menimbulkan kemacetan);
    4. Subsidi alat transportasi masal agar tarifnya bisa murah (sekarang naik motor lebih murah daripada naik angkot, nyambung-nyambung lagi, kasian keponakan, walaupun bisa diterima di SMP terbaik di Bogor, tapi karena angkosnya mahal jadi batal);
    5. Perbaiki sarana jalan (yang rusak), ini juga salah satu pemborosan BBM dan waktu (pengemudi memperlambat jalan, antrian menjadi panjang);
    6. …..Mangga ditambih

    Guest
  3. lebih baek transportasi umum di benahi
    kualitas maupun kinerjanya…
    atau
    peraturan lalu lintas juga bener2 harus ditegakkan. sehingga orang2 tidak bisa berkendara seenaknya di jalanan.
    mungkin syarat untuk mendapatkan SIM di perketat…

    Guest
  4. Transportasi adalah kebutuhan masyarakat modern, kalau memang angkutan umum sudah nyaman ngapain beli mobil/motor sendiri.

    Mau beli sendiri harga dinaikkan, mau naik kendaraan umum susah, tidur aja deh dirumah nggak usah kemana-mana…..ngeblog aja…

    salam,
    bengkelsepedamotor

    ha ha ha ha πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    Guest
  5. yap soal transportasi usahakan menjadi pilihan utama ketimbang kendaraan pribadi, perbaiki kualitas. Soal kuantitas setuju sama bro stealth, angkot terlalu banyak dan kurang efektif jadinya, perlu pembatasan.

    Masalahnya pemerintah selama ini dalam kebijakannya selalu dibumbui kepentingan golongan dan tempelan2 lainnya, bagaimana praktek pembatasan ini tergantung dari kinerja para petinggi di atas sih…

    memang mas…kalo kepentingan dah masuk..jadi ruwet nentuin kebijakan yang pro masyarakat πŸ˜€

    Guest
  6. No 8 Lagi YEah…
    Hm…

    Ga Ngarti deh Apa Yg D Bilang Pak Wapres D koran Ntuh…
    N Stuju Bwt opsi2 bijak MEnGgunAkan KendaraaN..

    Waktu q D JpaNg KmaRen, Orang2 Emang BanYak Yg Make TransPor Umum, Jarang Yg Make Punya PriBadi. KyknYa Plus PointnYa DisamPing fleksibel, orang2 Yg Naek KndarAan Umum Pada Rapi2, Ga ada Yg Bawa Ikan dalam Baskom, saYur SeiKat Gede.
    MaksudnYa, Klw Mau Naek Transpor uMum, Pnampilan D Prhatiin Juga, supaYa PnumPang Lain Juga NyamAn.

    Guest
  7. contoh aja singapore, paling deket, atau hongkong yang agak jauhan, sudah nyaman, bersih, subwaynya bisa sampe mana-mana, jalan jadi gak pernah macet

    tapi waktu di sono, gw jadi mikir, kalo jakarta dikasih gini, dalam hitungan bulan pasti bakal rusak semua fasilitasnya karena mentalnya beda jauh… kalo mental kita kayanya memang sudah dasarnya vandalisme dan gak peduli kepentingan umum πŸ™ meludah aja masih sembarangan.. tadi pagi gw liat cewek cakep modis meludah pinggir jalan… gak cocok banget ama penampilannya πŸ™

    mental….Pe Er selanjutnya πŸ˜‰

    Guest
  8. sbetulnya cara yg plg efektif U/ mslh kendaraan brmotor d JKT gampang bgt ko..tiru aja singapura…negara tetangga kita ini dari thn 90 an (kl gk salah) udh nerapin cara pembelian mobil baru hrs d sertakan juga pembelian mobil tua untuk d serahkan ke pemerintah untuk d musnahkan (makanya banyak Junkyard mesin kan d singapore) sedangkan bodynya bisa d lebur lg jd besi utuh / d turunkan secara utuh U/ terumbu karang buatan. logikanya org yg mo beli mobil baru gk mungkin menengah ke bwh..jd sasarannya tepat bgt. perlahan tp pasti mobil d jakarta pasti berputar siklusnya…pa lg kl PKB nya jg ikut d naikan..pasti sasarannya bener2 tepat…& yg terakhir benahi transportasi masal dan jalankan hukum secara benar…agar pelaku2 vandalisme & org kampung yg norak yg gk bisa ngeliat barang bagus yg bisa nya cuman coret2, naik gk pake tiket, duduk d atep, kencing sembarangan, buang sampah sembarangan…bla…bla..bla…..agar d dpt merasakan hukuman kurungan dan harus d kenakan sangsi materiil..sukur2 hukumannya d tambahin lg kerja sosial (angkut sampah, bersihkan toilet umum, etc..) selama sebulan…pasti jera mereka…tp ko kaya nya gk mungkin ya bisa ky gitu d JKT….org kl ada yg ketangkep lgsng sidang d tempat..maksudnya…”udh loe kasih gue goban aja…dr pd loe gw bw ke pengadilan..!!”…whuakakakakakak πŸ˜† πŸ˜€ ;p
    xixixixixi….udh ah…tidur lagi ajah…hayo obatnya jgn lupa d minum…. :kabur:

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here