Ada perumpaman yang umum beredar bahwa

Pemimpin itu ibarat Ibu Jari (jempol) di telapak tangan. Sedangkan ke empat ruas jari lainya merupakan Rakyat. Coba deh brader bentangkan kelima jari dalam satu telapak. Niscaya . . . jari kelingking, jari manis, jari tengah, maupun jari telunjuk tidak akan dapat mencapai Ibu jari  . . .kecuali Ibu jari mengulurkan diri ke arah ruas jari yang berniat mendekatinya.

Yah itulah pemimpin. Pemimpin yang rendah hati tidak bisa merasa dirinya harus selalu didatangi tanpa dirinya yang ikut pro aktif mendatangi Rakyat/bawahannya. Contoh pemimpin ini adalah Rasulullah Muhammad SAW. Pernah suatu ketika, sang baginda sedang menerima tamu, (namanya sy lupa) Tamu ini diajak Rasul untuk menuju ke Rumahnya. Ditengah jalan Rasulullah di cegat oleh seorang ibu-ibu tua nan bungkuk yang hendak menyampaikan permasalahnnya. Maka Rasulullah pun menanggapi curhat sang Ibu dengan cara mengubah posisinya menjadi seimbang agar mata sang ibu sejajar dengan mata Rasulullah. Begitu rendah Hatinya seorang Rasulullah jauh dari sekedar sifat Jaim.

Pemimpin yang baik bukanlah orang yang menampatkan diri sebagai seorang Boss.

The Boss drives his men, The Leader inspire them.

The Boss depends upon Authority , The Leader on Goodwill.

The Boss evokes fear, The Leader radiates love.

The Boss says I, The Leader says we.

The Boss shows who is wrong, The Leader shows how it is done.

The Boss shows who is wrong, The Leader shows how it is done.

The Boss shows who is wrong, The Leader what is wrong.

The Boss knows how it is done, The Leader shows how it is done.

The Boss abuses men , The Leader uses men.

The Boss demands respect, The Leader commends respect.

15 COMMENTS

  1. memang susah menciptakan the soul of leadership dalam diri ini. Apalagi pemimpin yang akhlakul karimah ( akhlak yang mulia ,red ). Kalo akhlak sudah baik, mau berbeda seperti apapun, tidak perlu terjadi pertengkaran atau beda penafsiran lalu bertengkar.

    Kalo akhlak mulia ini sudah tertancap didalam kalbu manusia, yakin timbul damai di seisi hati kita, dan orang lain pun dapat merasakannya melalui tutur kata yang sopan, lembut, tatakrama yang baik, dan wajah yang teduh. Akibatnya orang lain akan bersimpati pada kita. Jadi ga perlu itu ilmu SEMAR MESEM, atau SEMAR MENDEM.

    Guest
  2. Alhamdulillah. Syukron Kang.
    Usul nih, kurangi bahasa Inggrisnya (atau sertakan terjemahannya) karena tidak semua orang paham maksudnya, yang mengakibatkan “pesan dakwah”nya tidak sampai / terganggu.

    Guest
  3. waduh.. kok bisa nyambung gini (ada apa ini.. ada apa ini…), tadi pagi sebelom berangkat ngampus kepikiran ibu jari melulu lho Mas Taufik, kalo ga ada jari yang ini, wah susah mo ngapa2in (kecuali ngupil)

    Guest
  4. Para pemimpin di negeri ini pastinya sudah tahu bagaimana suritauladan Baginda Nabi Muhammad SAW. Serta bagaimana sahabat nabi yg menjadi khalifah menerapkan nilai2 islam dalam kepemimpinannya. Cuma permasalahannya adakah keinginan dan kemauan pemimpin2 negeri ini mengikuti jejak kepemimpinan Rasulullah SAW.

    Guest
  5. saya yakin semua pemimpin2 kita terutama yang muslim sangat faham Rosulullahlah teladan kepemimpinan yang sempurna. masalahnya beliau2 ini tergerak gak hatinya untuk mentauladani baginda Nabi…
    mudah2n Allah, membimbing jalan para pemimpin2 kita ya kang….

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here