Artikel ini terispirasi dari komentar bro xb pada artikel sebelumnya . .. beliau berujar :

buat saia pribadi, klo milih motor ga peduli brand dan brand image..
image yg nempel di brand juga dah pada luntur/biasbrand. image dah mulai ga terlalu penting..

Sungguh menarik bukan? . . . menurut saya inilah gambaran Imbas zaman melek Informasi. Maksute? bagi konsumen yang melek informasi (contohnya bro xb ), faktor-faktor terukur seperti yang bro xb sebutkan : (layanan) after sales, resale value, jaringan 3s dan paling gampang (kemudahan) kredit akan menjadi tolok ukur penting dalam penentuan merk apa yang akan dipilih. Selain itu, informasi-informasi komprehensif mengenai suatu produk seperti  data performa motor dan testimony test ride akan memperkaya khasanah informasi yang membuat Konsumen tidak seperti membeli Kucing dalam karung . . .

Tapi apakah gambaran di atas merupakan Gambaran general Konsumen Di negara Kita? Saya masih pesimis untuk mengatakan “YA” . Saya nggak memiliki data mengenai sebaran market motor di tiap daerah di Indonesia, akan tetapi saya yakin, cukup besar juga belanja Motor oleh konsumen di Daerah. Mereka ini belum tentu terjamah oleh informasi up to date melalui media Online yang notabenenya paling cepat UP-TO DATE informasi. cmiiw Atau walaupun sudah terjamah, bisa jadi tidak semua dari mereka/ mayoritas belum mampu secara Finansial untuk mengakses informasi ini.

Nah walhasil untuk kondisi konsumen seperti ini. Brand Image akan terbangun dengan cara yang “Tradisional” seperti  baner-baner Iklan, Klasifikasi di koran, dan bombardir tayangan Iklan produk R2 di televisi. Bahkan ada yang Lebih Tradisional lagi (kalau boleh saya bilang “primitif” ) yaitu infomasi Verbal mulut-kemulut yang bahkan diwariskan ke keturunan. Tidak jarang kita mendengar, seorang anak menyesal karena Orang tuanya memilihkan produk motor untuknya berdasarkan Brand Image yang diketahui oleh Orang tuanya dari dulu (yang lebih parahnya .. . brand image itu diturukan dari sang kakek dan ‘dicekokki’ ke keturunan selanjutnya). Nah IMHO menurut saya disinilah terlihat bahwa membangun Brand Image tetap masih menjadi Faktor penentu , tapi ini menurut saya lho .  . bisa jadi nggak tepat juga 🙂 , cmiiw . . . Nah bagaimana menurut bro semua?

Taufik of BuitenZorg

34 COMMENTS

  1. iya iya betul juga om topik….
    kayak vega zr, dicaci jadul cuma di internet aja
    di daerah banyak banget….
    orang daerah jarang tau secara detil ttg power lah, torsi lah…mumet…
    imajinasinya vega zr 115cc = lebih kenceng dari musuhnya yg 110 cc
    ditambah menangnya yamaha di ajang motogp
    dalam benaknya yang namanya brand yamaha ya motor juara
    mau motornya vega kek, mx kek, apalagi vixion/scorpio

    Guest
  2. iya juga sih,kalo udah ngomong urusan daerah dan wilayah koverage fasilitias teknologi informasi juga rada repot.ditambah biaya yang harus dikeluarkan untuk mengail informasi tsb…

    Guest
  3. kang opik, kalau menurut saya di daerah juga pola fikir konsumen sudah mulai setara dengan pola fikir konsumen di perkotaan, sehubungan di daerah juga sudah mulai terambah media online berkat teknologi GPRS dan 3G, hampir semua pemilik HP adalah juga penyakses internet melalui handsetnya. Dengan mengamati pilhan produk yang dibeli terutama produk otomotif (R4 dan R2) di pedesaan yang semula hanya mementingkan fungsionalitas sekarang sudah mulai bergeser kearah yang lebih tinggi dari itu, saya kira brand image sudah mulai berkurang pengaruhnya terhadap konsumen di daerah.

    Guest
  4. brand image (disamping iklan) terbangun dr pengalaman tiap pmakai sendiri
    🙂

    ^ja
    Setuju bro..
    tmen bilang vega zr uda 115cc jelas lbh kenceng dr jupiterz/vega r..
    orangnya ngotot men wkwkwk

    Guest
  5. @ja &nick 69
    kalau kasus itu, mungkin bukan brand imagenya yang salah tapi informasi yang diterima kurang lengkap.

    Guest
  6. Gimana ya..
    Kebanyakan masyarakat indonesia lebih percaya omongan orang sih
    Jadi pernah denger ada temenku yang ngomong bahwa di Indonesia sini media iklan yang efektif adalah mout to mouth advertising, karena 3 dari 5 konsumen akan “meng-iklan-kan” pengalaman pribadinya ke calon konsumen lain
    Dibandingkan di Amrik dimana cuma 1 dari 5 konsumen yang melakukan hal yang sama

    Guest
  7. Ha ha makanya saya tetap percaya bahwa pertarungan untuk R2 adalah dikalangan pemakai pertama (yang sangat dipengaruhi pembelinya juga), dhi umumnya si anak remaja dan ibundanya …… baru selanjutnya untuk kalangan yang perlu upgrade karena kebutuhan fungsional .. nah terakhir dan yang paling seru adalah orang yang tahu mengenai dunia R2 karena hobi dan pengetahuan ……

    Guest
  8. kalo menurut saya, terutama mereka yang ada di daerah-daerah tidak mau repot-repot berpikir mendalam, tapi cenderung mengambil yang sudah jadi. mungkin ini disebabkan kebiasaan tidak-mau-ambil resiko. kalau para pemain baru dari India bisa begitu cepat eksis di daerah-daerah, bahkan bisa melampaui dua besar di negeri ini, berarti pandangan saya di atas itu keliru. CMIIW.

    Guest
  9. Aku setuju nih ama komentar bang fraziel..
    walau sudah memiliki kemampuan akses internet, latar pendidikan yg cukup tinggi, tetep aja ajang gosip “fish-to-fish” / face to face lbh mengena.
    Aku sih bs maklum..Liat aja komentar bola or motorsport di tv-tv, pada jago kan? hihi

    Guest
  10. IMHO, brand image bukanlah sesuatu yg tercipta secara instant, tapi merupakan hasil kerja keras dan proses panjang. Faktor2 terukur seperti after sales service, 3S, resale value dsb merupakan komponen pendukung terbentuknya brand image. Jadi brand image ga semata2 berkaitan dengan hal2 teknis motor seperti kenceng, boros, irit dsb tapi juga faktor non teknis di atas. Jika dalam jangka panjang konsumen terpuaskan dari segi teknis maupun non teknis maka image positif dengan sendirinya akan terbentuk

    Guest
  11. @moncer…& mas Taufik
    se7 + tambahan sedikt Dab…….
    brand image tanpa continue maintenance akan hilang dgn sendirinya…tergerus oleh perubahan jaman….
    ibarat menaiki bukit tanpa ada rem tangan…..

    Guest
  12. “(layanan) after sales, resale value, jaringan 3s dan paling gampang (kemudahan) kredit akan menjadi tolok ukur penting dalam penentuan merk apa yang akan dipilih. Selain itu, informasi-informasi komprehensif mengenai suatu produk seperti data performa motor dan testimony test ride akan memperkaya khasanah informasi yang membuat Konsumen tidak seperti membeli Kucing dalam karung . . .”

    ijin copy kang. menarik sekali yang tertulis di atas, saya melihat produk TVS sekarang memang benar2 ingin menunjukkan bahwa mereka ingin merebut pangsa pasar di Indonesia. di kalsel aja mereka hampir di tiap kabupaten (kotamadya sudah) sudah ada dialer resmi, jadi 3S mereka sudah siap. ini saya suka, orang yang cari duit di negara lain yang benar2 mempersiapkan segala sesuatunya. 😉

    Guest
  13. betul brand image sudah tidak terlalu penting, karena semua brand image nya bagus semua. coba bandingkan motor jepang sama motor china. itu baru terasa brand imagenya.

    brand image terbentuk dari belasan tahun akumulai pengalaman & usaha dari penjual motor di negara yang bersangkutan. belum lagi miliaran rupiah untuk iklan televisi & acara2.

    Guest
  14. Brand image yg tertanam lama sudah mnjadi TOXIN ato racun dlam masyarakat kt.. mmang btuh wkt untk mengemblikan smua.. Tp seiring kmajuan pengetahuan konsumen thd produk (R2), sya rasa tdk akn btuh wkt lama lg untk menghapus tradisi lama yg menekankan HANYA pd merk dan akan sgera beralih kpd orientasi kualitas, fungsional, & teknologi !

    Guest
  15. ya itu pendapat pribadi mas..
    fenomena boomingnya mocin juga bisa jadi tolok ukur kadar brand image dimata calon konsumen..
    imo, yamaha melakukan penetrasi yg sama tapi dgn after sales dan 3s yg jauh lebih baik..
    gampangnya, konsumen bisa menerima brand apa aja (tanpa embel2 irit, kenceng dsb) asal atpm bisa memenuhi apa yg diinginkan konsumen yaitu 3s yg mudah ditemui utk beli/servis/komplain/klaim, dp ringan dan pelayanan yg bagus.. dampaknya ke resale value juga..
    saat ini yg baru memenuhi kebetulan honda dan yamaha..
    suzuki dan kawasaki sayangnya kurang banyak 3s nya..
    bajaj, tvs dan minerva juga..

    Guest
  16. Heran gw mach pola pikir manusia, unik bngz ga bs di terka & prediksi..

    Setau gw mao dy hdp d kampung / d Kota
    Bs akses internet / gak
    yg nama ny informasi ntu bs DI TERIMA / GA DI TERIMA..

    contoh ny Vega ZR di caci maki & hina2 d internet ttp mlh laku tuch, dr stu gw tao klo comment2 yg buruk / baik d internet itu ga sepenuh ny DI TERIMA oleh konsumen yg baca. Mungkin dlm pikiran mereka ( Siapa u,?? Temen bukan, Sodara jga bukan, bisa aza kan u ksh comment yg asal ngejeplak / menjerumuskan)
    jdi konsumen yg bs akses internet yha cm mencari informasi aza tp utk memutus kan dlm MEMBELI sebuah mtr tetep aza yg lbh Efiktif & DI TERIMA dr mulut ke mulut / dr pengalaman orng yg di kenal n dpt di percaya..

    Guest
  17. jawabannya tergantung.
    preferensinya sangat berbeda-beda, kalo umum di daerah-daerah sepertinya masih yang dikatakan merk jadul masih merajai. terkecuali dikota-kota besar persainganya agak mulai ketat. tapi masih menang tipis merk yang katanya jadul itu.

    kalo di blog-blog lain lagi, tergantung yang punya blognya. kalo misalkan yang punya blog ini condong ke merk A, fansboynya so pasti banyak pendukung merek A.

    memang pada akhirnya tingkat kesadaran lah yang menetukan si A pilih merek B atau C atau D.

    Guest
  18. Brand Image terbentuk karena kualitas yang baik dari suatu produk ( first mover ) yang baik ( diatas rata2 )….

    Guest
  19. Oh ya kang Opick, Image-nya Kwasaki sebagai motor Ijo mulai di ambil alih sama Yamaha tuh, Mio Ijo atau MX Ijo udah banyak yang mengaspal,…… Kawasaki bisa kehilangan Image Ijonya neh,….!?

    Guest
  20. Wah komentatore serius kabeh…yg jelas menurut saya,faktor ekonomilah yg paling mempengaruhi,klo ada brand yg kasih keuntungan ekonomis paling tinggi itulah yg paling banyak dicari.misal bonus bebas angsuran berapa kali,dp yg cuma berapa ribu rupiah,irit dan fungsinya,harga jual sekenan yg masih tinggi…

    Saya juga menyesal waktu bapak tumbas motor yg brand imejnya dr tipi bisa ngrubuhin jembatan,tapi kenyataannya cuman mentok 90kpj di spidometernya tapi lumayan boros..yg mendingan(bagi saya)motor yg imejnya dari dulu buat ibu2 ke pasar dg cc yg lebih gede namun irit dg harga yg beda2 tipis..

    Guest
  21. brand image yagh…….
    waktu saia pulkam semalam,setelah saia amati ternyata masyarakatnya rata2 cuma pake satu merk yaitu h****,mungkin brand image produk tugh melekat kuat mulai dr ortu ampe kakek2 mereka trus mengalir sampe ke anak cucu mereka,klu beli motor hrs h****,meskipun banyak motor2 lain yg buat iklan di tv,tapi kelihatannya mereka klu beli motor biasanya pertimbangannya lebih efektif dr mulut ke mulut seperti yg dibilang @8 fraziel diatas,

    Guest
  22. bang upik bener nih kayaknya.
    info yg selalu up to date,yg mjd andalan utk membentuk/merubah brand image saya kira hanya lewat media on-line. sedangkan kita semua tau yang meng akses media sprti ini tidaklah banyak. kalopun banyak,paling bo’ongan alias klooning(reality mode:on)

    Guest
  23. @ adul : tp d desa hape2nya msh yg item-putih sebatas sms ma nelpon atuh,yg make bwt ngenet cm anak2 kota yg kmrn mudik k desa bw hape canggih ato leptop coz mnrtku tll berat klo gugling lwt hape coz biasanya jg hape sebatas fesbuk & ceting…klo d daerah2 yg uda ada warnetnya yg biasanya uda mule melek internet

    Guest
  24. saia rasa masyarakat juga mempengaruhi faktor apakah brand image itu dapat menjadi pengaruh positif.
    soalnya klo masyarakatnya tambah lama tambah pinter…mereka pasti mulai bisa membanding2kan antara price dan apa saja fitur yang bisa dia peroleh.
    slama ini masyarakat terkesan dibodohi dan hanya menjadi ladang basah bagi pabrikan.
    diberi mesin lama,baju baru tapi harga dinaikkan.
    line up produknya juga itu2 aja,tapi masyarakatnya kog ok2 aja.
    berani membayar lebih buat barang lama yang dibajuin baru.

    Guest
  25. alow bang taufik, ikutan sedikit komentar maap kalo rada sotoy yah ^_^.

    ada pergeseran pola pengambilan keputusan konsumen setelah berkembangnya web 2.0, alias beralihnya fungsi internet dari media korporat ke ‘Consumer Generated Media’, CGM ini macem bulletinboard, blog, wiki, etc. yang menjadi media penyebaran Word of Mouth, salah satunya blog punya abang taufik tercinta kita ini :P.

    sekarang ini sebelum melakukan pembelian, calon konsumen bakal ngelakuin riset kecil di internet, searching info, cari referensi, cari forum owner group, liat keluh kesahnya & kalo dia merasa cocok dia bakal melakukan pembelian. Prosesnya nggak berhenti disitu, konsumen yang udah ngerasain manis-pahitnya itu produk bikin review balasan di CGMyang jadi referensi dia,

    kalo di annual report biro iklan Dentsu jepang tahun 2006, dia ngerumusinnya dengan nama AISAS (Awareness, Interest, Search, Action(Buying), Share).

    nah begitu mudahnya terjadi tukar menukar informasi, pada akhirnya menggeser hasrat pembelian dari ‘Want’ ke ‘Need’ lalu kepada ‘Value’, tetapi sayangnya nggak semua orang melek internet
    (atau pake internet tapi ga pernah buka blognya bang taufik :P),

    jadi untuk beberapa kalangan, hasrat pembeliannya mentok di ‘Want’ saja, nah untuk mereka inilah ‘Brand Image’ punya peranan yang kuat, karena Brand Image adanya di level ‘Want’ saja.

    Guest
  26. Salut dgn Mas Taufik. Pinter tapi gak sombong, gak menggurui dalam artikelnya.

    tetap sehat n produktif dalam sharing knowledge ya mas.

    Guest
  27. kl dibangka yamah megang dr dl. walaupun skrg honda nomer dua dsn, tp perbedaan nya jauh… ya bener kata bro topik, krn brand image yg terus diturunkan, ttp seleksi alam tetap ada hehehe… kmnya merk honda dan suzuki bisa masuk… terutama honda yg memiliki image canggih dan irit…

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here