Salah satu berita santer di januari ini selain rumor blokir BB adalah, masalah Pajak Progresif. Besaran persentase pajak progresif sebesar 1,5 persen kali nilai jual untuk kendaraan pertama, lalu 2 persen kali nilai jual untuk kendaraan kedua, 2,5 persen kali nilai jual untuk kendaraan ketiga, serta 4 persen kali nilai jual untuk kendaraan keempat dan seterusnya. Kenyataan ini tentu membuat Penduduk DKI yang memiliki beberapa motor merasa Kelenger. Dan DKI jakarta adalah Propinsi pertama yang akan melaksanakan kebijakan ini dan bertujuan untuk bisa mengendalikan pertumbuhan kendaraan bermotor.

Gimana strategi yang dilakukan konsumen pemilik lebih dari satu kendaraan . ..  yaah macem macem misalnya  dengan membalik namakan kendaraannya ke nama orang lain yang dikenalnya seperti saudara atau bahkan . ..  pembantunya kali yaa he he he. Yang penting pinjem KTP nya gampang. Sedangkan saya belum mengerti bagaimana sistem Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan sistem nomor identitas tunggal atau single identity number (SIN) yang akan diberlakukan tahun depan di Jakarta bisa mencegah hal ini.

Lha itu konsumen . . . Gimana ATPM? suka atau tidak suka kebijakan ini bisa jadi akan mempengaruhi volume penjualan mereka. Salah satu yang bisa dilakukan adalah melakukan penyesuaian harga untuk bisa sedikit ‘mensubsidi’ beban konsumen dalam membayar pajak nanti . . . nah Trik ini sepertinya telah dilakukan oleh Honda saat peluncuran Honda Beat jari jari Striping yang ternyata harganya direposisi menjadi turun 2,5 Persen. tapi koq cuma Honda Beat Jari jari doang yang di reposisi harganya ya?

Oh ya menurut saya Pajak progresif belum akan mengerem laju pertumbuhan kendaraan dengan signifikan. Soalnya menurut saya, IMHO,  Pemerintah belum menyentuh hal yang fundamental yakni tersedianya angkutan massal yang nyaman, masal dan menyeluruh. Atau emang kagak ada Grand Design ke arah Mass Transportation ya? . . . dibiarin ruwet gini, sehingga banyak ketidak efesienan terjadi dimana mana karena macet dsb dsb . ..  silahkan share komentar bro semua, semoga berguna

Taufik of BuitenZorg

1 COMMENT

  1. hmm..jd membayangkan nikmatnya jalan lenggang krn MRT..bisa touring antar propinsi pake suzuki GW 250cc tanpa direcoki mbebek&skutik

    Guest
  2. Semoga pemerintahnya bisa adil dlm menerapkan kebijakan. Terutama disektor transportasi. Kalau semua sarana & prasarananya aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu. Tidak usah ada pajak progresif dkk. Pasti masyarakat dengan kesadaran sendiri akan menerimanya… Ya mirip di Singapura atau Malaysia lah..

    Guest
  3. Terpaksa aja, siapa pula yang suka berkendara jauh2 tiap hari kerja? Klo ada sarana transportasi yg murah, aman dan nyaman, otomatis orang akan beralih ke angkutan umum.

    Guest
  4. 6 . thole – Januari 16, 2011

    saya masih menunggu artikel test ride yamaha xeon kapan ? 🙂

    9 . xxl123 – Januari 16, 2011

    idem sama thole 😀

    ==========================
    perform mah paling juga beda 1 sendok teh ama V-CBS 😀
    selebihnya V-CBS ke mana2 🙂

    Guest
  5. atau, ada lirik2an antara ATPM dan pemda tentang transportasi massal yang nyaman dan efisien? pemda dibujuk tidak perlu bikin angkutan massal seperti itu agar jualannya ATPM makin banyak laris? toh jualan laris kayak gitu larinya sebagian juga ke pemda to.

    Guest
  6. variabel pengkalinya adalah nilai jual kendaraan. Ada kecenderungan semakin tua object kendaraan, semakin kecil pajak yg dibayarkan.
    Atau misal merk AAA terpaksa produk diskontinyu karena populasi rendah, berimbas harga jual rendah, maka pajak yg dibayar sangat kecil.

    Misal merk BBB dengan tahun dan kubikasi yang sama dengan merk AAA, namun karena permintaan tinggi dan cycle lifetimenya panjang, maka nilai jual masih tinggi, maka pajak yg dikenakan akan lebih tinggi.
    ..kira kira gitu nggak ya kang Haji..??

    Guest
  7. Kekhawatiran juga diungkapkan industri sepeda motor. Meski diyakini tidak akan terlalu berimbas terhadap penjualan, tapi khusus untuk motor sport dan motor gede diprediksi akan lesu. ”Kalau dikenakan hanya untuk yang 250cc ke atas efeknya tidak terlalu terasa,” ujar Ketua Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata.

    Pasalnya, penjualan motor tipe 250 cc ke atas hanya sekitar 200 unit per bulan. Padahal, sepeda motor tipe yang lain seperti misalnya 135cc bisa sampai 400 unit per bulan/ model. Mengenai tujuan pengenaan pajak progresif yang dikatakan untuk mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya, Gunadi menyatakan sepertinya kurang efektif untuk sepeda motor jika yang dikenakan adalah sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 250cc.
    ————————————————-
    ngurangi macet belum pasti, tapi menambah pendapatan di sektor pajak ya iyalah…

    Guest
  8. yg jadi masalah om, klo dalam satu rumah ada 3 kk(kepala keluarga) alamat kan sama, trus punya motor sdiri2.
    apakah kena pajak progresif jg ?
    klo iya,,geblek tuch pemerintah

    Guest
  9. tujuan pemerintah sih baik… tapi tujuan pemerintah yang baik tidak selamanya berdampak baik bagi masyarakatnya.

    Guest
  10. Nyari jalan keluar paling gampang toh…kalo bisa susah ngapain dibkin gampang….ah gimna sich kalian ini gak gede2 kita kan di indonesia, u tau kan kta lagi pusing mau bkin interior gedung yang lebih mewah + fasilitas yg nyaman buat kita2 disni, nah skrg u aja deh pikirin bayar pajak, kalo gak mau susah yah jalan……

    Kalo bisa susah kenapa dibkin gampang

    Guest
  11. nyaman aman dan menyeluruh.. paling keren dan tepat kata2nya. klo saya lihat dr kacamata saya, dan berdasarkan info dr ortu yg kerjanya di bagian tersebut, ternyata sudah ada rencana2 tersebut, tp terbentur banyak kepentingan elit dan “bagi-bagi lahan” dari kepentingan org2 di atas jadi ga rampung2.. di senayan ada bukti pancang2 yg dah di pasang, namun pengelolaannya berhenti.

    Guest
  12. setuju ttg pemerintah kurang menyiapkan transportasi massal

    armada busway terlalu sedikit tuh..
    dan kl blh komentar si, jakarta kepenuhan kendaraan gara2 ud terlalu padat penduduk ny >.<
    mesti cari solusi jangka panjang..
    percuma jg dibikin busway tp agak setengah2, dan gt2 aj
    tp pendudukny makin padet tiap taon

    Guest
  13. hnd bit direposisikan hrgnya 2,5%…maksudnya hnd, ni bit cuma disiapkan jadi kendaraan no.3 , itupun kalo ada yg mau punya 3 mtr , ya sukur-sukur kalo yg jadi no.1 di keluarga itu….
    itu yg saya tangkap maksudnya kalo melihat pajak progresif buat kendaraan no.3.

    mudah-2an bisa membantu.

    Guest
  14. pemerintah perlu dana buat nge-gaji gayus om Taufik.. transportasi masal mah sengaja ga dibenerin.. itu juga kan jatahnya rekening polisi gendut

    Guest
  15. Si e-Beat ini sbg pilot proyek menghadapi kenaikan pajak, selanjutnya dapat manjadi bahan kajian untuk diteliti dan dievaluasi guna mengambil langkah-langkah yang bijaksini dan bijaksana untuk varian2 lainnya …

    * ini langkah yang cerdas, kontradiksi dengan si lexam ….

    Guest
  16. Disinyalir, kalo menggunakan alternatif lain utk mghambat pertumbuhan motor, maka akan mengurangi pendapatan pajak daerah. dengan cara ini maka jumlah kendaraan turun, tapi penermimaan pajak malah meningkat. two birds with one stone.

    Guest
  17. saya pribadi ada dua pendapat

    1. Muak dengan pajak yang ujung-ujung dikorupsi

    2. Di sisi lain, kalau mau jujur, orang endonesa pada dasar nya memang gak bisa diatur dan gak bisa teratur.

    Kita semua ingin jakarta nyaman dan bebas macet, tapi kalau ada yg harus (berkorban diri) membatasi jumlah kendara’an ber-mesin yang dimiliki, maka yang harus berkorban adalah bukan SAYA. POKOKNYA saya tidak ingin diatur. Kalau ada yang gak bener, itu ber-arti pemerintah nya, sementara SAYA ( dan masyarakat ) selalu BENAR.

    Transportasi masal ? boleh, tapi harus yang MURAH, yang NYAMAN, yang BERSIH, cuman kalau buang sampah ya … tetap sembarangan ( yang lain juga begitu kok )

    makan-makan habis ratusan ribu ? gak masalah.
    Dugem habis juta’an ? gak masalah
    bensin naik seribu rupiah ? TEREAK PLUS MENGHUJAT ( pemerintah nya gak bener nih … )

    Gimana kalau tanpa pajak pun, kita batasi kepemilikan kendara’an bermesin yang kita miliki ?

    Jakarta tidak akan bebas macet tanpa peran aktif dari kita. Belum lagi masalah banjir dan sampah.

    kalau tidak ingin dibatasi ya gak apa-apa, tapi kalau kota semakin macet ya wajar. Itu konsekwensi logis dari keputusan yang kita ambil sendiri. Jangan lagi menyalah-nyalahkan yang lain.

    Guest
  18. kalo inget pajak yang makin tinggi, jadi makin malas…
    lha kita bayar pajak, gak tau duitnya kemana…fasilitas pada bobrok, jalan rusak..
    ngasi duit buat Gayus jalan-jalan aja kayaknya…:-(

    Guest
  19. pisau bermata dua nih … menaikkan pndapatan sektor pajak dan mengurangi populasi kendaraan di jalan raya…
    Tapi ATPM tidak di batasi dalam memproduksi kendaraan baru, konsumen yg dibebankan, pegimana nih, lagi-lagi rakyat banyak yg harus menanggung….ckckck negeri seribu gayus.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here