460x110-indent-now

cengkareng-shop

  440x100_tirei

lorenzo-duc

TMCblog.com – Bro sekalian, seperti Kita ketahui Jorge Lorenzo memperoleh kesempatan hanya dua hari untuk mencoba Ducati Desmosedici GP17 di Sirkuit Valencia sebulan yang lalu. Hal ini dikarenakan Sejatinya Secara De-Facto Lorenzo masih ‘Milik Yamaha’ Sampai 31 Desember 2016. Bahkan Pada dasarnya dalam pengetesan tersebut baik di Werpak Lorenzo maupun di Motor tidak diperkenankan ada satupun logo lambang Ducati menempel . .  selain itu Juga Lorenzo tidak diperbolehkan berkata apapun tentang hasil pengetesannya Terhadap Desmosedici GP17 kepada media. Namun Salah seorang Jurnalis MotoGP yang merupakan sobat dan Kontributor TMCblog asal Spanyol, Manuel Pecino berhasil ngubek Ngubek Info mengenai Jorge Lorenzo dan Ducati Desmosedici GP17 dan asiknya beliau Berkenan share tulisannya kepada pembaca di Indonesia Via TMCblog.com  . . Cekidot deh sob . ..

MBtech - TMC sep16

tnt25_tmcblog

pre-2017-val

Ekspektasi terhadap Jorge Lorenzo di atas Motor Ducati Desmosedici MotoGP pada test Pramusim MotoGP di valencia sebulan yang lalu cukup tinggi. Namun hasilnya Jorge Lorenzo finish di Posisi 8 dengan laptime 0,769 detik di belakang Maveric Vinales yang membukukan Laptime tercepat menggunakan Motor Yamaha M1 ‘bekasan’ Lorenzo sendiri. Dengan M1 yang saat itu dipakai Maveric, Jorge Lorenzo empat hari sebelumnya menorehkan Laptime tercepat Pole Possition MotoGP valencia 2016 1:29,401 . . . laptime tercepat Jorge di Atas Desmosedici GP17 adalah 1:30,744 . . . jadi apakah kesimpulannya? Apakah Positif? ataukah negatif? apakah megecewakan ?

pre-2011-val

Secara realistis Apa yang bisa dikatakan dari yang dilakukan Lorenzo di dua hari pengetesan Ducati adalah “Logis “  . . . Tidak ada keajaiban yang bisa diharapkan dari seseorang yang selama 8 tahun sebelumnya mengendarai Motor paling mudah ditekuk dan dikendalikan kemudian beralih ke Motor paling sulit dikendalikan di MotoGP. Bahkan Tidak untuk sekelas Valentino Rossi sekalipun saat ia pindah dari Yamaha Ke ducati beberapa tahun silam. Patut diingat bahwa Rossi menorehkan Laptime lebih dari 1,5 detik lambat dari pebalap tercepat saat test pramusim Valencia 2011 menggunakan Motor Desmosedici bekas Stoner yang menorehkan Pole Possition 3 hari sebelumnya.

lorenzo-stoner

Tidak ada yang dapat dikorek dari Omongan Lorenzo secara Official, namun ada beberapa yang saya ( manuel ) peroleh dari sensasi yang Lorenzo perlihatkan terhadap Ducati Desmosedici yakni :

  1. Lorenzo PUAS dengan efesiensi kerja Elektronik yang bekerja di Ducati dimana terlihat bekerja lebih akurat dari pada saat bekerja di Yamaha M1. – OPINI TMCBLOG -> hal ini dikarenakan memang Boleh dibilang Ducati adalah Pabrikan Yang paling awal ngoprek software Magneti marelli dibandingkan Pabrikan lain, Ducati sangat Consern dan Serius membangun team Satelit di dua tahun yang lalu dimana Pabrikan lain seperti honda dan yamaha tidak terlalu serius.
  2. Lorenzo PUAS dengan Stabilitas Ducati Desmosedici saat Mengerem
  3. Di sisi lain mengenai masalah Ducati saat menikung yang merupakan hal  hal yang menjadi Komplain Iannone dan Dovizioso sepanjang Musim 2016, Lorenzo punya cara khusus memperitahukan kepada Ducati. Setelah melakukan berlap lap melakukan time attack, merubah gaya riding, mencoba berbagai titik pengereman, Jorge Lorenzo akhirnnya memberitahukan dan berpesan amat serius kepada bekas Chiefnya di GP250 yang Musim depan jadi Boss nya di Ducati , Gigi DallIgna . . pesannya Gini  . . . ” Tidak Gigi, dengan Motor ini Nggak bakalan Mungkin melakukan Lap dengan Laptime 1’29 ” cukup jelas bukan ?

Tendensi Ducati desmosedici Gp17 yang tidak bisa menutup tikungan setelah apex ( atau yang biasa disebut Over-steer ) adalah hal yang secara tidak langsung dikeluhkan Jorge Lorenzo dan akan jadi PR besar kerja sepanjang Musim dingin di Borgo Panigale.

lorenzo-duc2

FlashBack ke Karakter riding Jorge Lorenzo. Jorge Lorenzo memiliki karakter yang unik. Jorge Lorenzo boleh dikatakan Pebalap motoGP yang paling dahulu bejek gas saat di tikungan. Ketika Pebalap lain masih melakukan fase akhir pengereman, Jorge Lorenzo telah memulai fase Traksi. Ia Membuka sedikit throtel Gas sebelum menyentuh apex dan mempertahankan bukaan throtel gas yang kecil itu sepanjang motor menikung dekat apex  dan menaikkan secara progresif setelah Motor keluar tikungan( Apex adalah Titik paling rapat dari suatu tikungan yang mana biasanya pembalap melaluinya sebelum mulai keluar tikungan dan berakselerasi. )

Gaya Nikung Jorge Lorenzo ini berbeda dengan gaya Nikung Marc Marquez yang lebih On-OFF. Semuanya yang dilakukan Jl99 cukup efesien dan secara fisik akan menghasilkan Tipikal Klasik jalur U yang khas Banget Jorge Lorenzo

Namun Untuk bisa efesien dalam melakukan gaya nikung seperti ini Jorge Lorenzo membutuhkan dua syarat :

  • Ban belakang yang memberikan ia rasa percaya diri ketika membuka Throtel dikit sebelum apex dan sepanjang apex
  • Motor yang nurut saat diajak melakukan Bukaan gas di awal tersebut

Untuk Syarat pertama Jorge Lorenzo sangat bergantung pada tipe Ban yang disiapkan oleh pemasok ban, dalam hal ini Konstruksi ban yang diprovide oleh Michelin. 

Sedangkan Syarat kedua adalah ia butuh mesin yang punya karakter power rpm bawah yang ‘lembut’ dan tentunya paket Motor yang bisa diajak nikung seperti itu. Jika Syarat kedua belum bisa diperoleh, terpaksa Jorge harus melakukannya dengan menambah derajat rebahan nikung dan otomatis bearti akan berada di ujung bibir ban dan ini artinya sangat riskan.

Saat test Valencia sebulan Yang lalu, Andrea Dovizioso mengatakan bahwa Dibanding mesin 2016, Desmosedici 2017 punya Delivery Power yang ‘lembut’. Namun yang dikatakan Oleh Dovi adalah secara umum delivery keseluruhan bukan delivery saat rpm rendah yang dibutuhkan Oleh gaya riding / karakter Jorge Lorenzo . . . so Seperti itulah kira kira Pekerjaan rumah besar Borgo Panigale  ..  mereka kemungkinan nggak banyak libur di Liburan musim dingin kali ini  . . .

Manuel pecino On Behalf TMCblog.com

MVAI-Banner-1

Silahkan bersilaturahmi dengan TMCBlog melalui

[GTranslate]

55 COMMENTS

  1. Jadi males baca artikel lapak sebelah, udah artikel moto gp alakadarnya, bahasanya lebay, cenderung memihak, dan komennya semnjak ada kuisnya makin gak bermutu, bukannya ngasih opini pribadi di komen malah ejek”an, ngehina, ngitung, dll.

    Guest
    • Baca judulnya aja kang bro
      Klo gk menarik ya gk usah di buka
      Klo saya sih gitu di semua blog yg saya kunjungi

      Guest
    • Semua punya karakter masing” mas bero, gak semua harus sama, motor aja beda beda kan masa iya harus sama.
      Think smart aja mas bero. Wekawekaweka

      Guest
    • Sebelah mah Jumawa dulu ngemis pembaca sekarang.. pilih2 pembaca..

      Komentar juga harus sopan g boleh mengkritik.. pdhl kritikan itu yg jadi cambuk buat pabrikan agar bisa brbenag..

      Ky HONDA. buoosok.. cat buluk.

      Yamaha buoSOHC ngebuell.. bin protol velg geal-geol.

      Mungkin klo pihak Honda itu yg dicari.

      Tp klo Yamaha dikritik malah nyerang blogerr..

      Tp tetap.. kita ini butuh kritik ut berbenah.

      Guest
    • Brrti ente yg salah bro..blog merupakan opini pribadi,bukan media yg mempunyai team redaksi, jadi wajar kalo pendapat sndiri lebih ditekan..kalo ane baca,blog sebelah itu sama kaya kita,lebih mewakilkan pendapat para konsumen..kalo blog wak haji mah sbenarnya udah sekelas media online, info yg diulas jg lebih akurat dan proporsional..

      Nah kalo untuk kuis2an,ane rasa itu strategi buat meredam bc2an para fb..trbukti toh warungnya ga kebakaran lg..

      Guest
    • Kurang piknik ente bos.
      Artikel orang mah beda”..
      Nggak seneng ya gak usah menghujat..
      Begono..

      Guest
    • Kalo aku,suka bloger kek kobayogas.dia tidak melulu nulis soal motor,kadang ada foto cewek/spg/yg asyik dimata lelaki.dia tau pembacanya lelaki tulen.hehe

      Guest
  2. Memang dasar prinsip ducati, joos d trek lurus, mslh tikungan d serahkan kpd skill dan talenta msg2 ridernya, justru bg sy d situ sininya karakter seorg rider dlm memahami tekno motornya..krn motogp bukn hy melulu bicara motor.

    Guest
  3. bahasa simpelnya antara motor & rider belum ketemu setup yg tepat ya wak.. ducati-honda itu mirip2 karakter engine nya. seperti jg yamaha-suzuki..

    Guest
  4. kira2 gampangan yg mana?
    rubah gaya balap jorge, agar bisa mengontrol desmo
    atw rubah gaya mesin, atw bahkan merubah tipe mesin. ganti dri L ke V mungkin?

    Guest
  5. Bener-bener pembalap “text book” si lorenzo ini, dia menerapkan yang namanya rolling speed di tikungan secara sempurna…tapi ya itu tadi, harus memenuhi kedua syarat yang disebutkan oleh wak haji tadi…

    Guest
    • Disitu pulalah kenapa jl99 dihargai 2jt lebih nahl drpd vr46. Akses beli ferrari jg dipermudah (yg sehrusnya kudu punya moobil ferarri tipe X dan Z sebelum beli tipe ini). Keren..
      Mudah2an saja sesuai ekspektasi om gigi aja ituh..

      Guest
  6. Cmiiw
    Kalo ngerubah mesin kayanya mission impossible
    Ban juga, Karena one tyre to rule them all.
    Sepertinya hohe yg kudu rubah gaya balapnya, Dan sekaligus membuktikan Duc kaga salah pilih..
    Ayo wak banyakin artikel spt ini
    Dulu aja tiap Jumat ada artikel religi, skrg ilang
    Dulu DIY lumayan banyak
    Sorry

    Guest
  7. Ada benernya yg dibilang crutclhow kalau yg dibutuhkan ducati adalah rider tipe seperti mm93.
    Tim repsol honda musim kemarin mungkin nasibnya tidak lebih bagus dari tim ducati kalau tanpa mm93

    Guest
  8. Lorenzo terlalu perfeksionis, makanya kalau hujan dia jadi inferior..
    Harusnya dia banyak” latihan melahap berbagai jenis tikungan disegala kondisi dengan latihan teknik” menikung yg berbeda” biar bisa terbiasa dan nemuin settingan yg pas untuk masing” kondisi terutama saat wet race..
    Merk dan pemilihan ban gak bisa selalu jadi alasan selama ada mental kuat dan sikap open minded..

    Guest
    • Kelihatan sampeyan gak bener2 pahan motoGP kemarin. RCV itu cuman kalah di start. Setelah itu, WUSSSSSHHHHHHH. Gak percaya? tanya saja pujaan sampeyan.

      Guest
  9. apa mungkin ducati pake set up wheel base yang lebih panjang ya dari h maupun y

    wheel base panjang memang lebih stabil saat mengerem dan akselerasi, tapi kalo hitting apex ya jelas kedodoran

    Guest
  10. Salut sama Stonner, terus ngajarin orang lain buat bisa jadi Juara.
    Bukannya terus-terusan mengambil kesempatan orang lain untuk menjadi juara kaya V46 Rossi

    Guest
  11. pebalap kencang* dan sempurna**
    * syarat dan ketentuan berlaku
    ** sewaktu2 dapat berubah tanpa pemberitahuan

    ngah ngah ngah

    Guest
  12. Kita tunggu komen dari Pak Bambang, siapa tau dia menemukan jawabannya. Mungkin Pak Bambang lagi diskusi sama Gigi utk mencari jalan keluarnya…Semoga Pak Bambang bisa berbagi…hihihihihi…

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here