Order GSX-R-S150
jump to navigation

Tech Talk : Mesin Dengan Rasio Kompresi Yang bisa berubah ubah ( Variable Compression Engine ) January 11, 2017

Posted by Taufik in : tech talk, Teknologi Otomotif , trackback

460x110-indent-now

cengkareng-shop

440x100_tirei

TMCblog.com – Bro sekalian, di pembahasan tech talk Yang lalu lau, kita pernah membahas dan memaparkan mengenai Hubungan kenapa Pemilihan Oktan bahan bakar harus disesuaikan dengan Kompresi mesin dari kendaraan. Kenapa Mesin Dengan Kompresi tinggi harus menggunakan bensin yang tidak mudah terbakar / Oktan tinggi dan sebaliknya. Nah Di artikel tech talk Khas tmcblog kali ini kita akan sama sama mebahas sebuah mesin yang unik dimana Rasio Kompresi dari mesin tersebut bisa berubah ubah dari Kompresi rendah ke Kompresi Tinggi . . . nah kepo kan ? silahkan cekidot artikel dan video yang terinspirasi dari postingan engeenering explain ini sob

MBtech - TMC sep16

tnt25_tmcblog

Jadi Gini di awal Video, tmcblog menjelaskan kembali soal masalah Kompresi mesin dengan harapan sobat sekalian cukup paham dengan apa yang dimaksud dengan kompresi mesin . . . Lalu Setelah itu Kita Masuk ke Mesin nya sendiri Variable Compression Engine dari Infinity  . . Mesin ini sejatinya adalah mesin Diesel sehingga tidak heran Jika mesin ini bisa memiliki kompresi yang sangat tinggi. Tercatat VC-T engine Infinity ini bisa berubah Rasio Kompresinya dari 9:1 ke 14:1 . ..

Di bagian penggerak Pistonnya boleh dibilang bekerja dengan komsep yang sama dengan mesin diesel pada umumnya. Mesin diesel pada dasarnya mirip dengan mesin bensin 4 tak, namun pada mesin diesel tanpa kehadiran percikan api . . . namun di bagian CrankShaft, ada semacam lempengan koneksi berbentuk jajar genjang yang bisa membuat gerakan dimana tuas Conection Rod/ Conrod/ setang seher bisa bervariasi jadi lebih ‘turun ‘ ke bawah atau lebih ‘naik ke atas’

Nah turun dan naiknya posisi dari Conrod/ Setang seher dari turun ke bawah menajdi Naik ke atas ini lah yang membuat efek perubahan Kompresi mesin dari rendah ke tinggi. . . Gerakan Jajar Genjang yang bisa miring turun atau naik disebabkan ada sistem mekanisme yang mendorong atau menariknya Conection Rod. Sistem pada plat jajar genjang ini ini terdiri dari dua titik tumpu dan dua lengan dan bisa sobat lihat di Gambar gambar di atas.

TMCblog belum tahu apakah sistem ini bisa diaplikasikan ke Motor atau nggak, secara sampai sekarang mesin ini mayoritas diaplikasikan ke Mesin Diesel. Cuma kebayang mesin ini akan sangat berguna . . Misalnya saja di mesin Motor ada Knock Sensor yang bisa mendeteksi adanya Knocking. nah jika sensor ini mendeteksi adanya Knocking, maka Informasi tersebut bisa diteruskan ke ECU. Setelah itu ECU akan memerintahkan Actuator di sistem Variasi Rasio kompresi akan membuat Kompresi mesin turun guna menghindari gejala Knocking . . Cerdas bukan, silahkan dikunyah kunyah dan semoga berguna

Taufik of BuitenZorg

MVAI-Banner-1

Silahkan bersilaturahmi dengan TMCBlog melalui

EnglishHindiIndonesianJapaneseSpanishThaiVietnamese

Comments»

1. oncom - January 11, 2017

sip wak

oncom - January 11, 2017

amankan pertamax

♡♡ ™MB@H D@RMO™ ♡♡ - January 11, 2017

ekekek…

intinya kemarin pabrikan sebelah
bilang ” walau kompresi tinggi ini tetep premium ready ” ….
apa mungkin ini bisa dibilang pembodohan terhadap fbh …??

biar tensioner jebol dan mesin klotok2 yg menjawab .

😂😂😂😂

sudarmono - January 12, 2017

Darmo sok tau tentng mesin.rasio Kompresi statis dan dinamis tau gk kon mo? Tau profil noken as gk? Sebaiknya belajar dulu sana sebelum bc.

2. Akbar - January 11, 2017

Kalo di Honda old CBR 250 R, sistemnya dia ngerubah durasi pengapian. menyesuaikan bahan bakar. Biar gejala knocking bisa di tekan. Motor lain belum tau

3. arai - January 11, 2017

wak .banner instagram kok nutupin judul melulu kalo di android .gak bisa dipindah tempat ketengah / bawah .

4. dedy - January 11, 2017

Mantap waj haji, tapi kyanya klo di aplikasikan ke mesin mtr cc kecil apalagi communer costnya lumayan deh

5. ardiantoyugo - January 11, 2017

suangar yo…

6. the power of dream - January 11, 2017

honda emang joss

7. Dennis - January 11, 2017

Wah bisa gitu ya? Keren deh hehe jadi kompresinya bisa menyesuaikan dgn bahan bakar yang diminum ya?

8. plat titanium - January 11, 2017

kalo buat mesin kecil, ukuran mesin lbh besar dan berat (komponen mesin bertambah) dan harga per satu mesin nya jd lbh mahal. msh efisien sensor elektronik kynya klo bwt mesin kecil

9. anigaV - January 11, 2017

kalo ane sih user masa bodo, beli motor buat dipake. kecuali orang bengkel atau yg sog begaya tau mesin alias teori doank silaken ngoceh.

arai - January 11, 2017

lu mau bilang wak taufiq jg sok bergaya gitu.teori doang gitu..kalo lu cuma user dan gak tertarik dgn pengetahuan .mending mingkem gak usah nyinyir..bagi enthusias otomotif. .pengetahuan seperti ini menarik utk diketahui..jangan samakan semua orang dgn otak lu yg sempit itu. terus dgn seenak jidat lu menilai orang lain cuma ngoceh doang.

10. dave - January 11, 2017

untuk mobil jenis apa aja nih mas yg bs ubah2 kompresinya?
apa mobil2 sedan mewah?
atw suv? mpv menengah?
atw truk2 gt jg?

plat titanium - January 11, 2017

infiniti mah setau sy hanya bikin sedan mewah dan suv mewah

11. jo - January 11, 2017

misal ni wak, kalo bisa variable kompresi amplikasikan di motor, naruh bahan bkarnya gmna? masak nunggu bahan bakar habis baru d sesuaikan kompresinya, kalo g nunggu habis g mgkn jg bahan bakar misal bensin di campur pertamax turbo.

Cak Peno - January 11, 2017

tuh kx85 udah kompresi variabel, tapi masih belum tau prinsip kerjanya

12. aspal - January 11, 2017

kok mesin diesel kompresinya 1:14??
bukannya seperti mobil” diesel sini kompresinya 1:16 sd 1:19 ya?
ciiw

Cak Peno - January 11, 2017

mesin diesel itu emang berkompresi 1:14 keatas

13. jbat - January 11, 2017

Tek tok

14. manik - January 11, 2017

nyimak om taufik, ilmu kanuragan saya belom sampai sini

http://www.3835group.com

15. tapir rawa - January 11, 2017

Bahas cargine engine juga dong mas taufik.

16. Hazadude80 - January 11, 2017

mungkin, di aplikasikan ke motor tp dijamin gak menguntungkan
harga pasti jadi mahal, lagian inovasi mesin itu udah lewat masanya, thn 80-90am itu lg gila2 nya. sekarang mah bukan fasenya tinggal nyempurnain aja teknologi2 yg udah ada hehehe..
Supercharge,Turbo, VVA, DOHC dll, itu mah teknologi lama sob, jgn mikir itu sesuatu yang canggih dan hebat

17. Mecho.off - January 11, 2017

Ada cara lain Wak selain dengan cara ini.
Mungkin VVA dari Yamaha pun bisa dimodifikasi menjadikan durasi yang panjang.
Mesin diseting dengan kompresi tinggi
Di RPM rendah bukaan katup in (dengan VVA) dimodifikasi dengan durasi panjang. Sehingga Katup In tetap terbuka beberapa derajad (10-20) ketika langkah kompresi dimulai, katup in tetap terbuka.
ini dapat menurunkan kompresi mesin.
Dan saat RPM tinggi Durasi katup in menjadi Normal,
sehingga kompresi mesin melonjak.

Taufik - January 11, 2017

wah asli menarik nih

18. Cak Peno - January 11, 2017

kalo di special engine, misal kx85 yg punya kompresi variabel antara 9.2:1 – 10.0:1 . apa itu juga disebut variable compression engine pd sepeda motor wak ?

19. Danang - January 11, 2017

Seberapa efektif bila dibandingkan dengan variable timing pengapian ?

20. semar - January 11, 2017

Seberapa efektif bila dibandingkan dengan variable timing pengapian ?
________________________________________________________________
mgkn yg pakai diesel ya pakai atur kompresi ini, karena diesel gak ada busi yg bisa diatur timing pengapiannya (percikan api busi), timing pengapian busi sejatinya sama kya ini, ngatur kompresi jg

wongndesobanget - January 11, 2017

@Semar…nuwun sewu.
timing dlm diesel engine tetap ada..yi dg pengaturan waktu kpn saat yg tepat bbm solar dimasukkan ke ruang bakar..biasanya disebut timing injection dlm satuan derajat sblm top dead center.
Sehingga bisa diatur maju mundurnya pengapian…

21. Danang - January 11, 2017

@Cak Semar, joss. Jadi terjawab kenapa hal tsb diaplikasikan ke diesel engine bukan gasoline engine ya…

22. wongndesobanget - January 11, 2017

Sensor knocking dah ada di mobil” sejuta umat…apapun jenis bbm yg dimasukkan walo gonta ganti prem..ptlite..max/turbo…tetap bisa dilayani dg timing yg tepat…cm beda di power saja.
Nah klo variable compression ini cenderung ngejar efisiensi dlm pemakaian bbm yg sama..misal saat dipakai low load bisa kompresi rendah mengurangi beban mengkompresi tinggi dan mengurangi getaran….sehingga saat laju ditol bisa haluusss..dsn irit

23. teknologi jadul lebih bandel - January 11, 2017

mesin 2 tak kompresi rendah karbu premium oke tenaga joss perawatan ringan
mesin 4 tak kompresi tinggi fuel injection pertamax plus plus plus tenaga setengah mesin 2 tak perawatan mahal onderdil cepat aus.

24. Bejo - January 11, 2017

Siip Pak Dosen….!
Jadi nambah ni ilmu!

25. ojan83 - January 11, 2017

bajunya boleh juga tuh… 😛

26. Robby - January 11, 2017

Nggak efisien karena dimensi mesin akan lebih besar buat mengakomodir part tambahan dibawah kruk as. Meski utk mesin diesel sekalipun yang notabene bobot mesinnya sudah berat ditambah part yg bikin tambah berat. Lebih baik dikembangkan teknologi direct injection atau common rail yg bisa lebih efisien ngebaca kompresi.

27. Ade semarang - January 11, 2017

Wak haki kalau kompresi 9:1 apa solar bisa.kebakar ?

28. Din Syams - January 11, 2017

setuju, nggak efisien buat mesin bensin. mending engine pakai turbocharger, begitu knock sensor aktif, katup pembatas tekanan mulai bekerja mengurangi boost, atau pakai variable nosel, begitu tekanan over (knocking), nosel variabel akan mengatur agar putaran turbin berkurang tekanannya.
jadi terpisah sama blow off valve,

29. Ade semarang - January 11, 2017

Wak haji …kalau hanya untuk mengatasi knoking di mesin tehnologi ini terlalu mahal…
Lebih efisien pakenl tehnologi yg di pake pada mesin2 mobilnsekarang…dengan memundurkan pengapiannya …lebih murah..

30. sport-x - January 11, 2017

Wah…., Wak haji postingan ginian kira2 ada benang merah sama apa nih ye….Bocor aluuusssss…..

31. Ade semarang - January 11, 2017

Masih bagusan camlles…
Mau di bikin 4 stroke.5 stoke ..6 stroke
Joss…!

32. jhoni - January 11, 2017

Kalo dari video kenapa yang berubah titik mati atasnya ya wak?

33. aselole - January 11, 2017

Konstruksi makin berat dong si mesin, mending main dimekanisme katup ame noken aza cukup hehe

34. send - January 12, 2017

wak, semakin tinggi nilai oktan, semakin tidak mudah terbakar ya?

CF110R - January 12, 2017

Bantu jawab
Ya benar om, tidak mudah terbakar diruang bakar
Cari aja artikelnya, pak taufik dah pernah membahasnya

35. boigokils - January 12, 2017

apakah sudah ada yah sepeda motor yang bermesin diesel

36. NEUTRAL - January 12, 2017

Mungkin nih teknologi udah diterapin di allnew pajero sport tipe dakar ya wak, supaya penggunanya gak malu kalo mobilnya pajero tapi ngebul

37. NEUTRAL - January 12, 2017

Wak mau tanya, bukannya kalo diesel semakin tinggi tingkat cetane number nya akan semakin cepat terbakar, dan semakin rendah cetane nya akan semakin lama terbakar, bukannya knocking itu istilah yg menggambarkan jika bahan bakar duluan terbakar ya wak? Jdi apa gunanya teknologi ini di mesin diesel wak, jdi kayak pemborosan gitu.. Mending diterapin di mesin yg berbahan bensin biar lebih berguna, thanks wak

38. Din Syams - January 13, 2017

Diesel, kalo solar susah kebakar, maka agar tenaga keluar injection timing dimajukan agar pembakaran maksimum diperoleh tepat setelah TMA (ignition delaynya panjang). nah, ketika dimajukan itulah, solar yang disemprotkan duluan ada yang sudah terbakar banyak, melawan gerakan piston yang masih berjalan ke TMA. hal ini menjadi knocking, apalagi jika engine mulai ada kerak karbon (pemicu panas).

jika cetane number tinggi, mudah terbakar (ignition delay pendek), maka injection timing tidak perlu maju banyak, jadi ketika disemprotkan cepat terbakar, cepat tercapai tekanan maksimum, piston sudah dekat sekali dengan TMA.

karena sudah dekat TMA, tekanan pembakaran sedikit sekali yang melawan gaya piston, sehingga knocking berkurang/hilang.

ketika knocking, pada mesin diesel bisa diatasi dengan menaikkan rasio kompresi (disertai memundurkan injection timing) atau menaikkan angka cetane (dengan juga memundurkan injection timing).

jadi jelas, rasio kompresi sangat ada hubungannya,

39. Din Syams - January 13, 2017

semakin maju timing injeksi, semakin besar kemungkinan knocking, semakin mundur timing injeksi, semakin kecil kemungkinan knocking.

timing bisa dimundurkan hanya jika solarnya cepat terbakar. kalau solar tidak cepat terbakar timing dimundurkan, tenaga hilang (tekanan maksimum tercapai setelah piston turun jauh dari TMA)



%d bloggers like this: