TMCBLOG.com – Bro sekalian, Banyak yang bingung saat lihat kondisi Ban Marc Marquez berbeda dengan ban Rossi saat selesai race . . . padahal Keduanya menggunakan ban dengan jenis yang sama , namun kenapa salah satu pembalap bisa lebih tergerus Karetnya dibanding pembalap Lain . . jangan kan Marquez dan Rossi yang berbeda mesin inline 4 VS V4 . . . Silahkan lihat ban Marquez dan ban Crutchlow yang mesinnya sama sama RC213V MY 2018 dimana saat akhir race di Brno, Cal Bisa kehabisan Grip ban belakang sehingga nggak berdaya saat dilibas valentino Rossi sedangkan marc Marquez bisa menorehkan Lap tercepatnya di lap terakhirnya . . beda orang beda riding style dan beda pula cara ‘ merawat ‘Β  bannya . . . Selain itu memang Michelin ini punya karakter Yang sangat berbeda dibandingkan Bridgestone dan sangat tidak bisa diprediksi pembalap keduali pembalap Punya banyak data yang diperoleh melalui riset terstruktur . . kenapa bisa begitu ? Untuk hal ini Jurnalis Kawakan Mat Oxley membawakan dengan bernasΒ  . .

Paling tidak ada 4 alasan menurut Opini Mat Oxley mengapa orang kadang bingung sama Performa ban Michelin MotoGP . . Alasan pertama Berbeda dengan bridgestone dimana Bridgestone sangat membedakan Karakter Soft, medium dan hard . . Michelin sengaja memberikan perbedaan yang tipis/ Beda tipis/ tidak terlalu signifikan terhadap ban Soft, Medium dan hard.

Jika di era Bridgestone semua Pembalap bisa hadir di starting Grid race dengan Pilihan ban yang sama, namun Michelin tidak. Michelin memang sengaja bikin kondisi seperti ini dengan tujuan mereka ingin semua ban yang mereka pakai bisa dipakai semua bergantung pada preferensi pembalap yang didasari oleh hasil Riset individu/ team mereka sendiri. Michelin ingin memperbesar potensi pembalap Membangun spek Motor untuk diri pembalap sendiri . . . Oleh karena itu bisa jadi Spek ban yang dipakai marquez bisa jadi berbeda dengan spek yang dipakai pedrosa.

Alasan kedua adalah perbedaan performa antara masing masing jenis kompon ban ( Hard – medium dan Soft ) terlalu sempit. Oleh karena itu sering kita dengar Marquez kadang berkata bahwa ban Paling Hard Dari Michelin masih terlalu ‘ lunak ‘ untuk RC213V dan lain lain. Hal ini mau nggak mau pembalap Harus kerja lebih keras, lebih banyak mengumpulkan data . . dan pada ujungnya, Sampai benar benar dibutuhkan team super test yang salah satu tugasnya adalah mengumpulkan data limit ban dikomparasikan dan di kombinasikan dengan setingan tertentu dari elektronik maupun suspensi dari Motor.

Alasan ke tiga Michelin terlalu mudah untuk di eksplore oleh pembalap sampai limit dibandingkan dengan bridgestone. . . . Ujaran Mat Oxley yang ini masih belum bisa tmcblog kunyah kunyah dengan jelas sob πŸ˜€ . . ada yang bsia bantu ?

Alasan ke empat adalah karena untuk bisa ‘ merawat ‘ karet michelin bisa cukup sampai akhir race Pembalap Butuh strategy . .. salah satunya adalah strategy Race berkumpul dalam satu Pack kecil terlebih saat kondisi temperatur Track yang sangat ekstrim seperti Di brno saat race day.

dimana Sobat bisa lihat pembalap terutama Top 3 Dovizioso, Lorenzo dan Marquez lebih memilih riding strategic di setengah Race awal lalu menggunakan Paruh kedua race untuk getok palu jedeeerrr . .Β  fastest Laptime ketiganya ada di lap terakhir

taufik of BuitenZorg

86 COMMENTS

    • Michelin memang sengaja bikin kondisi seperti ini dengan tujuan mereka ingin semua ban yang mereka pakai bisa dipakai semua bergantung pada preferensi pembalap yang didasari oleh hasil Riset individu/ team mereka sendiri.

      emang ga becus bikin ban kyk bridgestone apa ini pesanan dorna… biar balapan seru…. ??????

      πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

      klo gini caranya tim2 kecil… ga bakalan bisa bersaing… coz butuh dana besar untuk riset ban tiap race….

      pdhal… adanya penyeragaman imu…elektronik dll…katanya buat penyarataan semua tim….

      bingung jadinyaπŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”

      Guest
    • Bukan gitu, maksudnya kobay, justru malah michelin menghadiirkan persaingan yang sulit ditebak, ibarat kata, kita gak bisa terus mengatakan, kalo cuaca panas harus pake hard, cuaca mendung enaknya pake soft. Michelin membuat seperti itu supaya performa motor yang tidak terlalu bagus bisa ditutup oleh performa ban, jadi jika tepat memilih ban dan strategy bisa saja menghasilkan hasil finish race yang bagus. Contoh jelas ya pada saat di 2016. Nah di 2017 pun udah terbukti bahwa kompon ban membuat race jadi menarik. Entah di sisa race di 2018 ini nanti kayak gimana, tapi saya rasa kalo pembalap baris depan salah memilih ban, bisa mengakibatkan hasil race yang buruk untuk dirinya sendiri.

      Guest
    • bener kata kobay, intinya tim2 kecil yang gak punya tim super test seperti ducati dan HRC gak bakal bisa bersaing. padahal tujuan utama penyeragaman spesifikasi beberapa perangkat adalah untuk memperkecil gap antara tim papan atas dan papan bawah. lucu dorna ini

      Guest
    • Perbedaan dana sepertinya tidak berpengaruh di riset ban IMHO karena baik team kaya maupun kismin dapat jatah ban yang jumlahnya sama. Artinya eksplorasi terhadap ban sama-sama dibatasi. Pembatasan jumlah alokasi ban juga merupakan strategi Dorna untuk membatasi jumlah test oleh team pabrikan. Pabrikan mau test terus ya gabisa wong bannya ga ada. Mau pakai ban lain ya percuma dong testnya

      Guest
    • Kalau baca di artikel aslinya Mat Oxley justru para crew dan rider menyukai kebijakan ini. Saya quote langsung
      “but many riders and crew chiefs like the current situation, because they feel that can gain an advantage if they think harder and work better than their rivals”
      Think harder dan work better ya BUKAN more budget. Yang bagian ini kok luput diterjemahkan sih wak haji, saya protes wkwkwk

      Guest
    • Sepertinya kobay dan yang setuju dengannya belum paham ya bahwa sebelum era penyeragaman ban, team yang berdana besar (you know who) bisa mendapat ban super ghoib yang dibuat dalam satu malam saja asal mau bayar lebih. Jadi saat FP digunakan untuk riset ban kompon, konsistensi, grip, traction mana yang paling oke. Kemudian ban tersebut baru dibuat malam minggu di pabrik dan dikirim ke sirkuit minggu paginya. Dengan adanya spec tyre praktik sperti ini dimusnahkan yang mana lebih friendly untuk team non pabrikan.

      Guest
    • @udin aja
      tetap saja pabrikan yang resources-nya lebih besar seperti HRC dan Ducati akan lebih superior. lihat sekarang, mereka punya setidaknya 3 motor spek pabrikan di grid, yang tugasnya juga sebagai lab berjalan. jelas lah keuntungan mereka memiliki 1 set ban lebih untuk 1 rider dengan motor spek pabrikan seperti Crutchlow dan Petrucci. ujung2nya kuat-kuatan dana juga toh

      Guest
    • mantap mang udin aja wawasannya, tentunya drna menginginkan balapan yg lebih balance dan kompetitif, dimulai dari unified ecu, kemudian ban, dan nanti imu

      Guest
    • @profit makanya dorna ingin agar masing masing team pabrikan memiliki team satelit, kan… taon depan ktm bakal turunin tech 3 ktm spec factory semua pula, dan suzuki juga kalo deal ama marc vds juga nurunin team satelit

      Guest
    • Ban’e wis mirip Ohlins… Bs mnyesuaikan karakter user’e 😁
      Tp yo prcuma ae sih si anu nyalah2no Michinin, la wong pas zaman Kingston yo ttep ae g mmpu jurdun… Hehe…

      Guest
    • @Gembel, sampeyan itu jangan mendahulukan kebencian dan kenyinyiran….yang sampeyan maksud VR kan?? lha 2015 kan nyaris jurdun kalo gak ada clash dengan yang justru bukan kontender jurdun waktu itu…hehehehehe artinya performa doi masih bisa bersaing bahkan sampe saat ini…hehehehehe…nikmati saja drama motogp ini bro…hehehehehe

      Guest
    • wkwkw yang dibahas siapa, yang dinyinyirin ujung2nya pasti si living Legend. biarin lah, legend pasti banyak haters-nya

      Guest
  1. Marc paling pintar melakukan strategi pemilihan ban.
    Dovizioso handal merawat karet ban.
    Lorenzo yang mulai adaptasi sama keadaan ban Michelin.

    Hope will see another unpredictable races…

    Guest
    • Yamaha?
      Keliru pilih pembalap dan mesin. 😺😺😺
      Andai, kalau, jika Jorge masih d Yamaha. Semakin di depan bukan motto yg nempel aja.. 😹

      Guest
    • @CANGKEMMU
      Sori bro, ane sering baca artikel wak Haji..
      Statement itu kn cuma pndapat ane saja..
      Monggo disanggah.. 😜

      Guest
    • orang2 membandingkan mereka dengan Bridgestone. kalau menurut mereka lebih buruk dari Bridgestone, sah2 aja mereka bilang tidak becus.

      Guest
    • bilang Bridgestone lebih baik memang sah sah saja. Tapi semua rider dapat ban yang sama “jeleknya” tinggal lihat mana yang becus dan tidak becus dalam menangani “jeleknya” Michelin ini

      Guest
    • ya intinya orang sudah accustomed to (terbiasa dengan) Bridgestone tires yang sudah bertahun-tahun menjadi supplier ban MotoGP. jadi wajar mereka membanding-bandingkan dengan Bridgestone, sama seperti kita membandingkan Gubernur sekarang dengan yang terdahulu.
      tapi kenyataannya memang cara kerja Michelin berbeda dari Bridgestone bukan berarti mereka lebih inferior.

      Guest
  2. wkwkwk semoga fumi bisa mencerna tulisan ini, biar kalo kalah dari marquez gak ada istilah marquez menang karena ban ghoib. wkwkwkwk

    Guest
  3. sebagai penonton doang nih ane sering bayangin kenapa WSBK gak pernah seribet ini soal ban, winglet, dll.. padahal lari 11/13 lah.. .. ..

    pppfffftttttt 😰😰😰

    Prototype emang Luar biasa..!!!

    Guest
    • Karena kalau di WSBK ibarat ada 2 wartawan, di MotoGP ada 10 wartawan. Makanya ceritanya seolah seru karena ada 10 otak yang bikin cerita, beda kalau cuma 2.

      Guest
  4. Secara tidak langsung, Michelin sudah memberikan tantangan kepada pebalap MotoGP.. ..

    -) Hey .. kamu bisa pake ban kompon yg sama, engine yg sama diwaktu yg sama tapi kamu tidak akan sama dalam degradasi ban jika beda riding style, dll.. .. hAhAha (ketawa model penjahat)

    vangke veneeer πŸ˜‚βœŒ

    Guest
  5. Alasannya saling berkesinambungan ya wak, yang bisa mengeksplor sampai limit (trial and error) ban akhirnya tau karakter tiap tipe ban yang katanya cukup sempit bedanya yang berujung pada pemilihan ban (strategi). Imho
    Jadi penasaran range sempit tipe ban itu

    Guest
  6. asal jangan disamain sama yg dijual bebas,entar orang abis beli yg compound medium terus dirasa lebih cepat abis dan mau ganti ke hard ternyata hampir sama,kan jadi kecewa konsumen nya

    Guest
  7. The conclusion Bridgestone much better than Michelin ?

    Alasan yang ketiga mungkin dari all setup banlah yang sudah cepat sampai 100 persen disetiap sesi weekend race mau fp qp smpe race langsung ketemu limit max performa ban, team dan rider jadi tinggal mengakali mapping ecu dan setting ini itu plus riding style biar bisa bertahan hingga akhir race..

    Liat #93 di awal fp bukan cri attack time, lgsg test utk long run..

    Menarik kalau di era skrg Bridgestone balik, apa rekor lap bisa lbh dari Michelin .. ?

    Guest
  8. Michelin membatasi pembalap untuk explore sampai limit,,,
    Jadinya race penuh dengan strategi,, ga bisa pol2an…

    Guest
  9. Mungkin nih ya
    Mungkin, michelin ingin memberikan sebuah karakter ban yg memiliki pendekatan karismatik supaya jalan nya race tdk membosankan. Bukti nya sudah jarang pemenang race memperoleh gap jauh pdhal pada era bridgestone sebaliknya

    Ya bridgestone dibuat dan di engineer oleh jepang, yg semua sesuatu nya dibikin serius.
    Bagi yg bilang michelin gak becus bikin ban kalian liat dulu sejarah nya, mereka perusahaan karet ban yg termasuk dalam sejarah pengembangan karet roda dan pengalaman mereka banyak termasuk utk ajang balap dan juga mereka yg ditunjuk utk bikin ban khusus mobil dgn tenaga yg dahsyat seperti bugati veyron supersport dan yg terbaru chiron (ini cuma mereka yg bikin ban utk bugatti) serta hyper&sport car lainnya

    Guest
    • Nasionalisme ky gmn? Michelin prodak perancis dorna perusahaan spanyol
      Kalo bugatti meskipun pabrik dan asalnya dr perancis, tp soal manajemen dan engineering jerman yg pegang

      Guest
    • seketika saya jd lupa kalo kenyataan nya pada era bridstone itu pake ecu inhouse. sekarang d era micel ecu seragam.

      jadi yang bikin gap makin deket ecu apa ban. kalo ban saja ckup. mending ganti kembali ke era ecu inhouse. toh tak perlu ecu seragam untuk membuat gap dekat dekat.cmiin

      Guest
  10. apakah ada perbedaan yang mendasar dari diameter ban bridgestone 16.5 sedangkan michelin 17 inc.
    dan apakah pabrikan yang mendisain swing arm yang disesuaikan dengan karakter michelin dan juga setiing shcok breker yang pas menjadikan hasil race yang bagus pula, marq dan cal beda bahan swing arm nya dan hasilnya pun berbeda CMIIW

    Guest
  11. Diekplore sampai limit maksudnya sampai grip bannya habis kali wak. hahaha..michelin g recommended dah utk moge. lbh baik bridgestone, btw ban blkg michelin emg terkenal krg bagus aplgi buat yamaha yg ngandelin full akselerasi habis tikungan.utk tikungan ban dpn yamaha g perlu krn sdh paling stabil.

    Guest
  12. Lebih seru lihat balapan sebelum tahun 2000-an. Dimana pembalap sudah saling salip sejak lap lap awal dan ga ada istilah ban awet atau ga.
    Motor bagus, pembalap bagus, tapi ban tidak mendukung, jadinya sia sia.
    Dorna harus bisa memaksa pabrikan manapun untuk membuat ban awet dihajar balap extrim sejak lap awal sampai akhir karena nonton motogp itu dari awal sampai akhir, bukan terakhir aja yang dikasih keseruan.

    Guest
    • jadinya yang menang pembalap yang punya strategi, bukan pembalap yang berani bertarung seperti Iannone and gang

      Guest
  13. susah Kalau ban sudah mentok “kapasitasnya” gak bisa gas poll dari awal sampai akhir, dan harus “ngeman-eman” ban biar bisa getok palu diakhir lomba. Sangat2 diperlukan start yang brilian sehingga berada di pack terdepan dari awal, dan benar yang dikatakan TMCblog pack terdepan saja gak cukup, tapi harus pack kecil misal 2 pembalap saja didepan. dipastikan bisa kabur berdua dan hemat ban. Strategi diatas menandakan perbedaan keunggulan kombinasi antar motor dan pembalapnya sebenarnya sangat tipis.

    Guest
  14. untuk alasan ketiga, saya rasa yang dimaksud dengan limit adalah waktu tercepat yang bisa diraih dengan menggunakan salah satu spesifikasi ban. jadi pembalap lebih cepat mendapatkan waktu tercepat tanpa harus melakukan riset yang banyak. jadi tantangannya tinggal mencari setting yang paling pas untuk mendapatkan pace tercepat dengan ketahanan ban sampai akhir race, sama seperti pemilihan karakter noken as, di mana untuk mencapai power di rpm atas akan mengorbankan power di rpm bawah dan sebaliknya.

    Guest
  15. mungkin karna awal comeback mereka,disaat masih meraba2 resep yg cocok,mereka bisa menghadirkan 9 pemenang berbeda dgn resep ban so-so itu,makanya karakter nya tetap dipertahankan

    Guest
  16. Intinya ban Michelin ini jelek, makanya rider harus putar otak untuk memaksimalkan ini ban, Marques dengan cara uji ban di FP, Lorenzo sepertinya trial eror di race (Sachsenring kehabisan ban diakhir lap, di Brno hemat ban di awal attack di akhir) Yamaha? Mungkin ga usah malu belajar gaya balap Lorenzo yg lembut untuk hemat ban ( seperti kata Stoner merubah gaya balap lebih mudah drpd merubah motor)

    Guest
  17. makanya gak ada tuh ban ghoib seperti kata orang2 πŸ˜† yg ada emang yamaha lagi bermasalah dlm hal traksi

    Guest
    • mereka butuh rider ketiga dengan spek motor pabrikan, tapi sayangnya mereka tidak sekaya HRC dan Ducati.

      Guest
    • makanya dollarnya dipakai buat bayar rider ke 3, jangan cuma buat kipas2 doang
      ekekekekekekekekekek

      Guest
  18. Kalo terlalu mudah untuk di eksplore sampai limit artinya pembalap yg tidak peduli/tidak terlalu pintar strategi pemeliharaan ban sampai akhir race akan keenakan mengeksplore & menggeber dari awal sehingga ban pun cepat habis, ya karena terlalu mudah dieksplore tadi

    Guest
  19. Eksplor sampai limit itu maksudnya crash.

    hahaha

    Btw BS (bullshit bukan Bridgestone) , pembedaan tipis antar ban demi mengakomodasi semua rider.

    Kompon ban depan ganti dari 06 ke 70 di tengah musim 2017 kemarin jelas sangat merugikan Pedrosa dan Vinales.

    Tapi karena voting, dan didukung MM + VR ya jalan terus. Baru 2018 ada aturan kompon ban ga diganti di musim berjalan. Pedrosa udah kadung galau diujung tanduk dan Vinales kejebak mesin M1 yg bermasalah.

    Guest
  20. ngasih bridgestone yang merupakan favorit jorge = autowin dah itu saza
    bannya fav jorge ini sampai pake topi bridgestone gara2 susah move on hahaha

    Guest
  21. Hehe kalo sempet yg menang tender ban nya Gajah tunggal lebih puyeng lg ni para pembalap . .
    Oo iya ada pemikiran liar ni gmn kalo lapnya ditambahin sebanyak f1 trus pake pit stop . .lol

    Guest
  22. Tampaknya isyu ban ini sudah jadi isyu dunia ya wak…he…he…sampe om Matt buat tulisan khusus menjawab penisirin para pecinta moto gp. Susah lho nulisnya…wong om Matt wawancara ini itu segala…siip lah…

    Guest
  23. Explore smapai limit mungkin maksudnya, batas traksi n grip juga daya tahan ban yg susah d cari limitnya?
    Karena antar kompon bedanya tipis jdi pembalap mesti meriset lbh dalam batas dri tiap kompon ban itu kali yak?
    Maka dari itu pembalap dan tim harus riset dan bekerja lbh keras saat FP, untuk menentukan pilihan ban, dan tim yg melakukan ini dg baik, kemungkinan besar menjadi pemenang, bukan cma ngandalin motor n elektronik saja, persaingan pun semakin mepet gapnya, perbedaan performa motor d acak2 oleh ban michelin

    Guest
  24. Mudah diexplore sampe limit mungkin maksudnya limitnya lebih rendah dibanding bridgestone, lorenzo ga bisa se miring pake bridgestone kalo pake michelin, jadi skill pembalap dibatasi limit ban.

    Guest
  25. Lama lama kondisi ban yang begini malah bikin balapan makin seru, jadi ga asal bejek gas aja, feeling pembalap lebih di asah dripada limit motor, yg begini bisa bikin motor dan pembalap jd 1 kesatuan gak ngandelin elektronik aja sm motor, tp di tuntut buat ngerti strategi dan motornya sendiri

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.