TMCBlog.com – Bro sekalian, terus terang drama dari MotoGP musim 2016 belum lepas dari ingatan saya, yakni musim dimana MotoGP memunculkan 9 nama pembalap berbeda sebagai pemenang seri balap. Suatu hal yang sangat-sangat langka jika kita tengok beberapa tahun ke belakang di premier class. Lalu di musim kompetisi tahun ini saya sedikit tersadar bahwa pertarungan perebutan juara dunia akan terus menarik setiap tahunnya di masa depan dan dalam tahap memasuki era baru MotoGP, dengan musim ini saja setidaknya ada 5 nama pembalap yang pernah bersaing poin klasemen perebutan title juara dunia, dan perlu diingat pemuncak klasemen-pun sempat beberapa kali berganti-ganti nama (Vinales, Rossi, Dovizioso, Marquez). Persaingan perebutan title pun akhirnya mengerucut pada dua nama, Marc Marquez dan Andrea Dovizioso yang mana belum pernah muncul pertarungan dari mereka berdua dalam perebutan gelar dunia sebelumnya. Apa yang bisa kita harapkan lebih dari ini?

Suka atau tidak suka, seorang Marc Marquez adalah salah satu entertainer dalam sirkus MotoGP. Sedikit flashback saat musim rookie -nya di 2013, Marquez dengan perlahan sanggup menggeser senior-seniornya dan merebut gelar juara dunia MotoGP pertama di musim pertama dirinya bergabung. Pertarungan dengan sang idola, Valentino Rossi pun tak terelakkan, disambung dengan persaingan Jorge Lorenzo di tahun 2016, dan di tahun ini Marquez kembali mendapat penantang baru seseorang yang bisa saya katakan merupakan pembalap underdog, Andrea Dovizioso. Marquez bisa mengingatkan kita pada Vale saat masih muda yang selalu punya rival bebuyutan di setiap musim kompetisi, sebut saja Kenny Roberts Jr, Max Biaggi, Tohru Ukawa, Sete Gibernau dan lain-lain termasuk juga Marc Marquez sendiri.

Dilihat dari sudut pandang Andrea Dovizioso, Dovi memang bukanlah pembalap baru, pun juga kurang tepat jika dikatakan pembalap muda (umur Dovi 31 tahun, kelahiran 23 Maret 1986), namun Dovi tidak serta merta kalah dengan Marquez yang masih muda dalam hal strategi dan kekuatan fisik. Perlu diingat sob, di samping Valentino Rossi, mereka berdualah pembalap yang terkenal dengan kekuatan hard braking -nya. Pun Dovi seseorang yang kalem dan belum pernah terlibat rivalitas sengit terhadap seseorang di dalam maupun luar lintasan. Selama beberapa tahun malang melintang di MotoGP, Dovi lah yang paling banyak memegang merk motor di balapan MotoGP, yup dirinya pernah membalap untuk Honda JiR Scot , Tech 3 Yamaha, Repsol Honda dan kini di Ducati Motor.

Rivalitas antara Marquez dengan Dovizioso memang tidak seheboh kejadian di MotoGP musim 2015, tapi justru rivalitas yang seperti ini sangat baik bagi olah raga bermotor dan juga baik untuk disaksikan pecinta balap. Cara keduanya menyuguhkan aksi overtaking di dalam lintasan seperti aksi Dovi-Marquez di Red Bull Ring dan Motegi Twin Ring kemarin adalah hal yang keren banget buat saya pribadi. Siapa yang menyangka bahwa seorang Marquez yang selalu memberikan serangan di saat-saat terakhir mampu ‘ditangkis’ oleh Dovi dengan sangat baik dua kali pula dalam setahun sob, edyannn. Memang rahasia yang diungkap oleh Dovi beberapa waktu dalam hal merubah mentalitas diri dan melatih kekuatan fisiknya membuahkan hasil yakni dirinya makin kompetitif dalam persaingan MotoGP. “Semua rider bekerja atas kekuatan fisik badan mereka, tapi kekuatan pikiranmu lebih besar daripada kekuatan fisikmu. Kita semua memilki ruang untuk improvement pada area tersebut (mentalitas dan fisik). Saya telah menemukan sesuatu yang sangat menarik di sana dan itu telah bekerja dengan baik. Maka dari itulah salah satu penyebab kami sanggup tampil lebih kompetitif musim ini.” Ungkap Dovizioso.

Valentino Rossi pun mengungkapkan “Salah satu pertarungan yang sangat mengesankan dan sangat baik untuk olahraga ini, dimana kedua rival sangat kuat dan mereka akan bersaing dengan sekuat tenaga.” Menanggapi moment pertarungan di Motegi yang lalu, Vale berpendapat bahwa Motegi 2017 adalah salah satu balapan terbaik Dovi dan perebutan juara dunia musim ini akan berlanjut sengit sampai di Valencia (seri terakhir). “Perbedaan poin antara keduanya (Marquez dan Dovizioso) berubah sedikit demi sedikit di tiap balapan, kita lihat di Aragon Marquez kuat dan sanggup memenanginya. Tapi kali ini Dovi yang lebih unggul dan menjadi kemenangan ke-lima baginya di musim ini dan keduanya hanya berselisih 11 poin. Jadi mereka tidak terpaut jauh, dan menurutku ini akan menjadi salah satu pertarungan yang terbaik.” Lanjut Vale.

Perbedaan 11 poin antara Marquez-Dovizioso, dengan 3 balapan tersisa, segala kemungkinan bisa terjadi dan berharap ada drama-drama menarik dalam 3 seri terakhir MotoGP 2017. Next round, Philip Island dimana Marquez selalu tampil tangguh di sana namun tidak halnya dengan Dovi. Meskipun demikian, Ducati di tangan Gigi D’alligna lebih ‘menggigit’ dibandingkan paket Desmo sebelum-sebelumnya dan terbukti loh dimana Ducati Desmosedici sudah beberapa kali memberi kejutan-kejutan saat balapan berlangsung di berbagai situasi – kondisi race. Jujur saja saya senang melihat pertarungan keduanya karena diisi oleh wajah yang berbeda dari perebutan title tahun-tahun sebelumnya.

Menurut opini saya, kompetisi MotoGP sudah mulai membuka era baru-nya, dengan hadirnya pertarungan perebutan gelar juara dunia pembalap yang lebih kompleks dan akan semakin kompleks di masa depan. Terlepas dari siapa rider selaku pemeran antagonis dan protagonis, itu semua hanyalah prasangka para fans dari masing-masing rider. IMHO.. Satu hal yang pasti, MotoGP tetap akan selalu menjadi tontonan yang wajib ditunggu-tunggu oleh penikmat balap motor di seluruh dunia. Regulasi teknis dan juga aturan tes terbaru sengaja dibuat untuk membuat kompetisi ini semakin menarik kedepannya, berharap makin merata level persaingan antar pabrikan dan juga dengan team independen. Terlebih lagi akan ada banyak pembalap rookie yang cukup kuat di musim depan. Jadi sekarang tinggal masalah waktu saja nih siapa yang sanggup bertahan dengan strategi-strategi ciamik dan juga mampu menjaga kekompetitifan diri maka dia lah rider yang sanggup untuk bersaing di kelas para raja. Setiap Masa Ada Orang-nya, dan Setiap Orang Ada Masa-nya …

Nugi TMCBlog

63 COMMENTS

  1. dovi ini telat panas, pas udah tua baru panas.
    dulu dovi yang membawa tongkat estafet regenerasi pembalap honda dari pedrosa. dari gp 250 sampai ke motogp dihonda, sayang pas udah mateng di jir scot lalu diambil repsol dovi dibawah ekspetasi honda karena waktu itu kalah bersaing sama rossi, lorenzo dan stoner.

    • Yap, suka gaya balapnya sejak era 250cc, atau mungkin karena orang dibelakangnya yang bikin ducati kompetitif? Stoner sedikit banyak pasti kasih tips oprek mesin yang diambil saat dia dibelakang honda

  2. ini pertarungan paling seru nih buat memperebutkan juara dunia motogp.
    si dovi pembalap underdog tampil tanpa beban.
    si marquez juga selalu tampil lepas tanpa beban apalagi kalo abis lomba pas fight cengar cengir bae kaya bocah wkwk.
    tapi tahun 2013 marquez pernah punya pengalaman dalam selisih poin dikit untuk memperebutkan juara dunia. waktu itu dia selisih poin sama lorenzo hanya 4 diklasemen akhir.
    tapi melihat marquez dalam beberapa race terakhir yang selalu nekat fight baik basah ataupun kering ko yak jadi deg deg ser apalagi kalo race liat ekpresi bapaknya marquez wkwkwkwk

    • salah satu yg ane tunggu2 tuh tiap race,ekspresi bapaknya marquez yg konyol (meskipun tau sih, siapa yg nggak tegang liat darah dagingnya jumpalitan menantang maut)

    • makanya kalau di pit gak ada yg mau nonton di depan bapaknya marquez.. karena kakinya suka nendang2 kayak lagi silat

  3. Buah software tunggal juga. Jadi semua motor dipaksa pakai otak yg sama.
    Markes jg mumet kali. Ditambah powernya jadi wheelie, dikurangi biar gak wheelie malah jd lemot.
    Tapi biarlah itu jd urusan mekanik. Toh hrc jg nrimo.walaupun harus gonta-ganti mesin buat menyesuaikan dg sofware.

    Cuma kalimat yg paling akhir itu kayak abis nonton cars 3 aja.
    Semua orang ada masanya..

  4. Yg #46 ngga di bahas Wak,,,

    Apa gara gara sudah ngimpi juara dunia 2017,,,???????

    Mesin superior kok kalah sama RCV meleduk,,,???????

  5. Dan yg paling enak diliat di perebutan title juara ini pas abis race yaudah saling salaman(sometime pelukan) abis itu nglempar joke masing2 ketawa bareng kayak pas wawancara austria dovi bilang”i feel something strange at my rear tyre” terus marc nimpalin ” i touch it” dovi cuma geleng2 pala sambil senyum2 ,
    nggak kayak persaingan perebutan jurdun yg dulu2 yg biasanya panas bahkan sampe nggak bertegur sapa kayak kucing ngerebutin betina

  6. FBR mungkin kurang setuju dengan artikel ini,, bagaimana pun ceritanya rossi lah ikon MotoGP,,
    #hate_fbr_akut?☹☹☹

    • disaat didepan mata ada neng april yg masih lugu
      kembang desa italia siap untuk dilibas,tapi
      sayangnya M1 impoten eh…Empot2an ngejarnya

    • Rossi yg cari aki aja udah merasakan jurdun (dengan mudah pake motor sempurna dunia akherat)
      Terus vinales muka celenk kapan???
      Ekekekek

    • kalo recikvi mesin kawe masih bisa bersaing bahkan kadang ngamplengin mesin ori,lalu mesin M1 setara apa?? Apa cuma mampu bersaingnya lawan mesin Roller Starter yg biasanya buat starter motor motogp

    • para fbnyek lupa kalau tahun kemarin motor dewa m1 pujaan mereka mleduk bareng 2 unit. jadi gak punya malu untuk menghina honda

      #jasmerah

  7. Ada fans suatu pabrikan yang kepanasan dan kojel2 karena pabrikan kesayangannya tidak menjadi bagian perebutan juara pada masa emas MotoGP wqwqwq

  8. Biasa, bro… Doyan jasjesjos & pengen Ceboker250 Thai tp g kturutan trs jd pnyakit hati hgg brtahun2 & jd plampiasan deh Mbitny ??

  9. Tahun kemaren Marc Marquez mengunci gelar juara dunia di motegi.
    Tahun ini VR menyerah dari perebutan gelar juara dunia motogp juga di motegi.
    Klop dah.

  10. walaubagaimanapun jangan pernah anggap remeh yang tua begitu juga sebaliknya, perlu satu pembuktian lagi 93 bisa jurdun dengan pabrikan motor selain Honda

  11. 2017 adl tahun Desmosedici GP17 menggila dgn powernya …
    Tapi saya yakin thn depan RC213V akan lebih baik …
    Paling tidak sama power dan akselerasinya dgn GP18 nantinya …
    Jadi fair … kalo skrg kelihatan bgt MM93 off the limit di trek lurus …
    Dgn gampangnya dibalap sama AD04 … keluar tikungan pun keok.
    Kelihatan bgt sampai mau jatuh berkali-kali MM93 …
    Kalo gak nekat mungkin gak bakalan pimpin klasemen …

    RC213V 2018 … hhhmmm ….

  12. Yg diuntungkan tetep ducati bro..cz lbih paham karakteristik ecu MM..secara garapan lokal ( itali) alias sama sama pruduk dalm negeri..

  13. sepakat cak, gw salut dengan Dovi…..kebetulan doi idola gw di gp250 pas bertarung ama pedrosa.
    naek ke motogp keliatan terlalu kalem si Dovi dan sempet dijadiin tumbal di repsol Honda (jamannya Repsol pake 3 pembalap). gw kira uda abis dia di satelit Yamaha, ternyata pelan pelan bisa naik lagi di Ducati.

    Forza DesmoDovi

  14. dengan penyeragaman ecu sama saja secara tidak langsung dorna menyuruh seluruh pabrikan hanya fokus pada pengembangan mesin dan sasis saja tanpa fokus pada elektronik lagi.

  15. [ Opini ] MotoGP 2017: Persaingan Marquez vs Dovizioso Mengawali Era Baru MotoGP
    ————–
    sebelumnya mohon maaf ni wak haji, berdasarkan opini di atas, bolehkah saya tahu, pihak yang merupakan representasi era lama itu siapakah gerangan ya orangnya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.