TMCBLOG.com – Artikel dua hari yang lalu bisa kita lihat betapa Valentino Rossi ingin Yamaha Jepang melihat makna mendalam dari 23 Seri Puasa gelar yang kini menerpa mereka sebagai sesuatu yang serius. Vale Apayang kini dialami Oleh Yamaha dengan Momen Krisis Yamaha saat Pertama Ia bergabung di 2004 .

Menurut Vale di 2004 yang lalu Yamaha melakukan banyak Hal sampai melakukan perubahan radial seperti seperti merubah Management Organisasi Dengan Masao Furusawa ambil bagian lebih banyak, Penggelontoran dana lebih Banyak  dan Menurunkan Sumber daya lebih banyak sehingga bisa membuat M1 MY2005 menjadi Yamaha M1 terbaik versi Valentino Ross. Pada dasarnya The Doctor ingin Yamaha saat ini menghadirkan Effort yang sama seperti 14 Tahun yang lalu . . Namun seperti apa Jawaban yamaha ?

Entah memang mau mengkonfirmasi pertanyaan dari vale atau Bukan, Via Tuttomotoriweb Yamaha Motor racing Managing Director Lin Jarvis menjawab bahwa saat ini ( 2018 ) Yamaha memiliki situasi yang berbeda dengan saat 2004 yang lalu. Lin Tidak bisa berkata apakah Yamaha Butuh perubahan seradikal Yang Vale inginkan atau nggak, Namun Lin Tidak menyangkal bahwa saat ini Yamaha sedang mengalami Momen krisis yang serius.

Lin Menambahkan bahwa Saat ini yang sedang dilakukan Yamaha adalah berupaya mencari Sumber daya manusia baru dengan ide ide baru yang dapat meningkatkan level dari para insinyur Yamaha.

Mengenai Yamaha M1 2019

Diluar permintaan perubahan radikal di Kubu Yamaha, Vale Juga mempertanyakan persiapan Yamaha Untuk mengahdirkan Yamaha M1 yang akan digunakan di 2019 nanti. Vale melihat Kompetitor kompetitor yamaha sudah mulai memperlihatkan Minimal basis motor Yang akan dipakai di 2019 nanti.

Sedangkan Rossi mengaku baru sekali mencoba Versi pertama Mesin Inline 4 Yamaha M1 di test terdahulu namun Rossi mengaku ia tidak memperoleh feel perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan M1 yang saat ini ia Pakai . .

Pengenai Petanyaan vale ini pun Sepertinya sudah disiapkan Juga Oleh Lin jarvis. mengenai M1 2019 sebenarnya memang sudah mulai di test di test Aragon yang lalu dengan perubahan Mesin dan Elektronik. Namun Lin mengatakan belum bisa mengatakan kapan tepatnya Versi Final dari M1 2019 akan Hadir

Namun begitu Lin juga kembali menambahkan bahwa saat ini yamaha memiliki 4 bulan yang sedang di intesifkan guna persiapan test selanjutnya pasca race Finale di valencia November 2018 nanti . . .

Taufik of BuitenZorg

129 COMMENTS

    • The Ending of a Legend
      siapapun tau development 2019 ga akan langsung berubah secara frontal. paling cepat 2020 kalau fase perkembangannya ga ada masalah

      Guest
    • Krisis Yamaha sudah demikian parah akibat internal di antara mereka sendiri.
      Permintaan maaf secara official yg dilakukan factory Yamaha beberapa waktu lalu menjadi bukti, sesuatu hal yg saya kira kurang patut.
      Balapan itu adalah kerja tim, kesuksesan ataupun kegagalan adalah buah dari sinergi di antara anggota tim yg terlibat, bukan salah ini, karena ini, atau apalah lainnya….

      Guest
  1. M1 17&18 kacau!
    ayo benahi lagi, masa cuma honda ducati doank yg fight.. ehh malah suzuki kemaren yg ikutan fight
    Yamaha?
    auu ahh..

    Guest
    • Sumber daya lh, bro… Gnti SDM yg lbh mumpuni.
      Rekrut ja Darmo dkk… Psti bs bkin lbh kencang M1 dg VVA, Double Wishbone, AWD & Tri Turbo! ?

      Guest
    • Al Gembel ini saya amati koment-komentnya dari beberapa artikel TMCBlog.com ndak ada mutunya. Jauh dari sisi edukasi, informasi, atau tips-tips kekinian yang bisa enak bagi pembaca setia TMCBlog. Tolong buat admin, atau Mas Nugie, dibanned saja akun-akun yang seperti ini. Sebagai pembelajaran juga terhadap komentar-komentar yang tidak bermanfaat dan tidak bermutu.

      Guest
    • ada bro waktu itu pernah disinggung, cuma masalahnya pembalapnya mau disalahkan dan manajemen cenderung menutupi kesalahan pembalap. beda dengan contoh kasus honda 2015 yang blak blakan pembalap mereka salah memilih mesin, suzuki 2017 yang blak blakan kalo rins dan iannone salah memilih mesin. masalahnya pembalap yamaha dan manajemen yamaha emang berani kaya gitu ?

      Guest
  2. yang jadi pertanyaan adalah seperti ini.
    oke misalnya lin jarvis atau semua jajaran manajemen yamaha diganti. terus di 2019 nanti yamaha akan mempunyai divisi elektronik yang khusus menangani magneti marelli, lalu ada test rider seorang folger dan ada laboratorium berjalan sekelas franco morbidelli. nah ternyata hasilnya masih belom sesuai harapan nih masih jadi bulan bulanan honda sama ducati, terus apalagi yang bakal dirubah dan diganti nih ? ???

    Guest
    • Yg slanjutnya ngga diganti,tapi ngibarin bendera putih..doi udah masuk masa pensiun..makanya satu tahun ke dpan ngarep mesin kembali kompetitif,tahun slanjutnya juara,kemudian pensiun….

      Guest
    • Kalo hasil gak sesuai harapan ya review ulang risetnya, step by step dicek kekurangannya, tes lagi dst. kalo emg masih mentok, baru ada inovasi radikal. semua pabrikan jg ngalamin paceklik. yg membedakan ya respon/dedikasi dr pabrikan.

      ducati kayak skrg jg butuh waktu berapa tahun pasca stoner terakhir jurdun. gelontor duit ampe gak berseri, tehnisi ampe berjibun, rombak crew chief dsb.

      Guest
  3. Gimana yaa, masalahnya dulu rossi pernah bilang, yg penting ridernya, motor ke sekian sampe ngambek hengkang dari honda karena honda gk ngakuin skill rossi
    Lah kok sekarang bingung nyalahin motornya ?

    Guest
    • Kalo rider no 1, kendaraan ke sekian, jadi kayak sopir truk di indo bro, power kecil, torque kecil, beban berat, tanjakan sumatra, wes modal skill driver tok

      Guest
    • Kenyataannya Honda menang karena pembalapnya MM93 sebelumnya Stoner coba saja lihat Pedroza ya struugle dari tahun ke tahun.

      Guest
    • eh mas….kalo ngomong sesuaikan dengan jaman dan situasinya…jaman VR ngomong gitu karena porsi elektronik gak sebesar saat ini, skill dan insting rider memang dibutuhkan…makanya 2004 M1 kalah power dan topspeed dari RCV tapi masih bisa jurdun…wkwkwkwkwkwkwk Lah sekarang…kagak bisa nolak elektronik, tuntutan zaman dan regulasi… mau gak mau ngakuin kalo masalah elektronik ambil bagian penting sekarang…gitu lho bro…

      Guest
    • @comel
      Lah, sayakan ngomong sesuai perkataan rossi dulu, harusnya walau sekarang jaman elektronik ya harus bisa kompetitif dong klo emang skill rossi sehebat dulu, bukan nyalahin ini itu, wkwkwk
      Tuh markes tahun 2016 rcv banyak trouble juga akhirnya bisa jurdun bro dengan dukungan dan kerja keras tim tanpa nyalahin ini itu ?

      Guest
    • Jangan disamakan donk gan..itu kan jaman dulu…jaman dimana saingannya pembalap medioker semua..jaman Sekaran lawannya para alien…wajar kalo si engkong ngos2an lawan para alien..ekekekek…

      Guest
    • Benar, itu kata rossi zaman dulu, ga bisa disamakan dgn zaman sekarang. Waktu itu saingan rossi sudah tua tua dan rossi masih 20tahunan. Dan ingat saat itu selain belum ada elektronik juga belum ada lawan yang sepadan makanya bisa jurdun

      Guest
  4. Sebenar kondisi ymh ngak.lebih baik, karena kompetitor sdh lebih kuat dan rider kompetitor pun skillnya setara vr, 2004 kan cuma bianggi, sete, colin yg kelasnya 1 tingkat dibawah vr dan bukan pemegang jurdun, lah sekarang, mesti hadapi pemegang jurdun dan motor pun hampir setara

    Guest
    • Nah ini lo… Dulu gk ada lawan yg setanding… Skrng udah bnyak yg setanding…

      Skrng rossi skill tetap + pengalaman harusnya lebih berhasil, tapi sayangnya pembalap skrng setanding atau bahkn ada yg lebih hebat… Maknya situasi beda dgn dulu.

      Seingat ane, rossi dulu jrng mengeluh, santai easy going…. Dia mulai ngeluh umbar ke media seingat ane jaman stoner.

      Guest
  5. saya rasa tahun ini meski ahli ecu wsbk bantu sulit utk menadingi performa krn kesalahan bandul dan gak boleh oprek mesin. tahun depan kesempatan buat yamaha utk memperbaikinya.

    Guest
  6. katanya bandul crank shaftnya terlalu ringan
    ya dibuat lebih berat aja to?
    jajal bobot segini enak gak, kalau kurang tambahin, kalau lebih kurangin
    gitu aja to?
    Toh developt mesin 2019 bisa dilakukan pake test rider jepang ato eropa disisa musim ini
    ya to?
    kalau engineer elektronik di indonesia banyak yang bisa buat serpis tipi
    haha..becanda
    maksudnya memang susah (dan bakal gak mungkin) kalau mau nge hire orang yang ngerti magneti mireli, soalnya orang2nya pasti udah diblokade sama honda, ducati dan magneti sendiri supaya gak lepas dari perusahaan mereka. dan pastinya udah teken kontrak jangka panjang.
    trus mau dapet engineer yang ngerti magneti dari luar ketiga perusahaan itu juga gak mungkin
    fokus aja ke bandul

    Oh iya, kalau tahun ini gak dapet podium tahun 2019 dapet konsesi kan?
    nah itu bisa dipake buat riset mesin, jangan rangka mulu diotak atik

    #cuma_saran aja

    Guest
    • yamaha uwis munggah podium beberapa kali lek, cuma ga pod 1, dia tahun depan belum dapat konsesi.

      saran yo lek, yen wak haji lagi ngajar ojo bolos teruss… yen ulangan ngene iki soale iso ora munggah kelas sampyan.

      Guest
    • Punya masalah dlm rumah tangga, tp menyalahkan tetangga?
      Simpel, yamaha bisa gak menghadirkan effort waktu pertama kali vale datang? Tetangga dari 2015 sampe 2017 jungkir balik bikin motor. Dan sekarang mereka menuai kemenangan dri hasil usaha mereka

      Guest
    • @embhul
      apa yg sampean sebut saran tersebut pastinya udah dipikirkan masbro.. dan 2019 pastilah bakal berbenah klo gk bkin malu lagi. dapat konsesi itu kalo pabrikan minim pengalaman atau baru mulai debut. still need to know about everything they had. knapa sasis diutak-atik. dan mngalami update. karna jelas performa mesin, ban, paket elektronik dsb. itu cenderung dinamis disetiap musimnya bro. dan jelas seperti yg wak haji bahas disetiap artikel technonya. klo yamaha dlm developnya merujuk kepada sasis daripada mesin.

      Guest
    • Crankshaft dibuat lebih ringan kan keinginan pembalabnya biar gk kalah topspeed dari kompetitor tp side effectnya yaitu spin ban belakang dan tidak bisa diatasi elektroniknya. Kalo kmu bilang dengan mudahnya nambah bobot crankshaft, tanpa diimbangi elektronik yg mumpuni ya sama aja kaya mesin 2017

      Guest
  7. ini seperti saat Yamaha Marlboro Team Roberts ditinggal Wayne Rainey,malah kini kondisinya lebih buruk karena di Movistar Yamaha justru masih bercokol VR46 dan MV25
    Btw, MAx Biaggi di team Marboro yamaha pun pernah paceklik kemenangan,kini VR46 pun merasakan gundah yang sama dengan Biaggi di masa lampau,betapa menyakitkan bagi mereka sebagai juara dunia tapi kenyataannya susah bersaing di barisan terdepan

    Guest
  8. mungkin solusinya : order mesin ke Honda atau Yamaha atau Suzuki yang nyatanya mesin mesin itu lebih kencang,kemudian dipasang di sasis Yamaha

    ::komen ngawur sisan

    Guest
    • @segotiwul.sekarang jamannya profesionalitas bro.yg bisa bayar kemampuan dia ya dia akan bekerja sama yg berani bayar tinggi.udah nggak jamannya loyalitas.pertanyaannya.berani nggak yamaha ngeluarin biaya tinggi untuk mendapatkan prestasi.kalo mau low budget ya main di moto2 atau superstock aja?

      Guest
  9. jika bnar impresi mesin 2019 tdk signifikan drpada saat ini, brarti problemnya bkn massa bandul, scara sdh bnyk wcana tntg itu dn masa sih insinyurnya gk ngutak atik bndul itu??

    Guest
    • bandul adalah sebab, masalah utamanya adalah akselerasi vs spinning
      bandul berat akselerasi letoy
      bandul ringsan akselerasi ok, timbul spinning, gak bisa diatasi waste jg akhirnya
      klo engineer gak bs ngimbangi pembalap (satu visi) mending cari pembalap lainnya yg sesuai dengan visi engineernya, masa rossi adalah dengan furusawa saatnya M2 dikeluarkan

      Guest
  10. Aku punya banyak ide baru wak, bisa dibilangin om jarvis kali… hehe
    Sebenarnya yamaha bisa tetap menggunakan cira khasnya cross plane cranksahaft, tapi utk silinder 2&3 firingnya dimundurkan 180 derajat (siklus mesin), jadi jarak firing silinder 1 -> 4 -> 2 -> 3 (siklus mesin) adalah
    0 -> 45 -> 195 -> 210 (derajat siklus mesin)
    Itu hanya perlu mengubah chamsshaft dan sesnsor pengapian di silinder 2&3. Jika getaran kurang halus, desain ulang bandul.
    Secara lagika, karakter dasar mesinnya akan lebih agresif dari bigbang suzuki, tapi tidak seliar rcv honda. Atau bisa disebut karakter dasarnya kompromis antara big bang dan screamer.

    Guest
  11. Apakah ada hubungan dengan market share di Indo yang sampai berefek ke keuangann global yamaha? 2005 – 2010 market share yamaha sangat bagus di Indonesia. Ducati di back-up philip moris. Honda sudah raksasa financialnya. Suzuki sempet mundur 4thn untuk penghematan dan mencari talenta yang sesuai dan sukses mengajak davide brivio.

    Guest
  12. Menurut saya, yamaha harusnya mulai seri besok segera bangun mesin baru yg sesuai harapan rider.

    Segera dipake dan dikembangkan meskipun efeknya bakal dipenalti terus, start dari grid belakang.. Toh dengan current mesin juga zonk terus

    Mirip sama Toro Rosso Honda di F1.. Sering update mesin meski melanggar rules dan start dari belakang.. Tapi hasilnya kan mulai kerasa sampe akhirnya bisa dipercaya Red Bull musim depan!

    Guest
  13. mungkin rossi lupa dengan feel inline crossplane setelah naik L4 ducati, dimana inline4 terkesan lambat tp cepat dicatatan waktu seperti komentar dia waktu baru pindah dari honda, yah umur emg gak bisa boong soal ketahanan fisik,
    dan masalahnya gak sesimple hanya berat bandul, nambah berat akselerasi turun, kurangi berat akselerasi nambah tp spining jadi feelnya akan sama saja, masalah sebenarnya adalah menemukan ide gila buat ngatasi akselerasi vs spinning

    Guest
  14. Gampang, saran ane YAMAHA cukup cari tambahan 2 orang aja.. seorang GENIUS ahli matematika dengan IQ 200++ & seorang HACKER pro ahli retas & master pemrograman, nanti si jenius matematika bakal kalkulasi dan nulis perhitungan sempurna untuk memecahkan PROBLEM M1, dan si hacker yg support untuk memecahkan elektronika nya… kelemahan M1 karena kalkulasi insiyurnya yang kurang sempurna atau ada yg miss, dan kurang sumberdaya ahli di pemrograman… :3

    Guest
  15. Dugaan saya sih teknisi2 yahaha ketularan tabiat paidi, yaitu, terlalu sayang dan perhatian dg permasalahan yg dialami pedrosa, sampai2 masalah m1 yg seharusnya jd tgg jawab mereka, terabaikan.

    Guest
  16. diduga kuat yamaha sedang berusaha mencetak rekor baru tanpa kemenangan, 23 itu baru setengah jalan, targetnya 46 seri dalam rangka memberi penghormatan pada vale

    Guest
  17. coba factory yamaha kontak paidi, shock mletot, mbah darmo. siapa tau mereka available buat ngisi sdm yg lin jarvis lagi cari sampai sekarang. paidi cs nyatanya sukses bawa yimm dapat 19%

    Guest
  18. 1. Jelang pensiun VR maunya tinggal betot gas, juara
    2. Sayangnya tim sdh jenuh, mentok kreativitasnya
    3. Hanya bergantung pada output Iwata yg berdasarkan input komplain
    4. Managing & strategi Lin Jarvis dipertanyakan
    5. Lbh asik memposisikan Iwata yg paling bertanggung jawab
    6. MV cuman tengok sana sini dan “I don’t know”..

    Guest
  19. 2004 ternyata peran pabrikan yahaha yg jauh lebih besar ya … tapi yg dapat nama the doctor dan legend orang nya …. nah skrg apakabar yg katanya the doctor dan legend … cuma gaya balap doang ?? … mungkin skrg yahaha mau buktikan siapa the man behind the gun sebenarnya … ya mungkin … entah lah … let it be …

    Guest
  20. Lin Menambahkan bahwa Saat ini yang sedang dilakukan Yamaha adalah berupaya mencari Sumber daya manusia baru dengan ide ide baru yang dapat meningkatkan level dari para insinyur Yamaha….
    Dan..mengenai M1 2019 sebenarnya msh level sdm lama…

    Guest
  21. Mbok hrc itu minjemin mamakes dan tim nya…sepekan untuk riset m1…barangkali nanti ada input berharga untuk yfr

    Maaf sy asal komen karena gemes sama m1

    Guest
  22. semua rossi yang kerja yang mengembangkan, ternyata ditemukan masalah salah dalam pemilihan mesin dan arah pengembangan. terus siapa yang disalahkan ? yakin rossi yang disalahkan ? yak ujung ujungnya vinales lagi kambing hitam.

    Guest
  23. ini masa2 hancurnya yamaha di motogp yak
    pabrikan sama satelitnya gak berkutik, semua pembalapnya puyeng
    ini ibarat jetting tanpa dyno….lamaaaaaaaa

    Guest
  24. Manajemen dirombak, terus isinya siapa, Uccio? Kl Yamaha principalnya di Surabaya, paling dia bakalan ngomong. G melu motojipi gak pateken. Kawasaki y sek payu nang Eropah…….. Ini Team directornya sebenernya siapa sih? Siapa gaji siapa sih………………..

    Guest
  25. sama toh kaya waktu c mbah bilang sasis 2016 lebih baik. dan akhirnya yamama bikin tes perbandingan sasis. ternyata kedua pembalapnya tetap milih sasis 2017 yg jadi kambing hitam?

    Guest
  26. Thr doctor hanya bisa tangani motor tanpa elektronik kayak zaman dulu + berharap lawannya hanya biaggi, gibernau, capirossi

    Guest
  27. Untuk mendongkrak dana, coba deh yamaha sering2 ajak mbah gathering di Indonesia, kan disini Fans militan nya banyak tuh. Syarat gathering tentu harus naik produk yamaha. Dana nya buat beli insinyur motogp deh. Mantab ora!

    Guest
  28. @semar
    Saya punya ide gila ??? amat sangat radikal

    saya beri nama teknologi ini VAR-CSMD (Variable Crankshaft Mass Distribution)

    konsepnya crankshaft dengan massa tetap tapi dengan distribusi massa yg bisa dipindah pindah, mau lebih terpusat dekat porosnya atau jauh dari porosnya

    Massa yg terpusat di porosnya akan berakibat inersia yg lebih kecil daripada massa yg terpusat jauh dari porosnya

    Jadi saat putaran rendah dan akan berakselerasi massa crankshaft dibuat terpusat jauh dari poros, jadi akselerasi lebuh jinak. Saat putaran mesin makin tinggi massa dipusatkan di dekat poros jadi bisa dapat topspeed lebih dan engine brake yg lebih bagus

    Intinya perpindahan massa yg terjadi dibuat berkebalikan dengan gaya sentrifugal (berkebalikan dengan bola2 baja pada SR-VVT yg secara alami menjauhi porosnya saat putaran makin cepat)

    kendali perpindahan massa bisa duatur dengan hidrolik atau motor listrik yg ditempatkan di masing2 bandul crankshaft. Dan konreolnya tidak butuh software, jadi gak berbenturan dengan regulasi

    Demikian ide gila saya yg super radikal, atau malah sudah ada pabrikan yg pakai ???

    Guest
  29. yup benar sdmnya perlu di gnt jg perubahan radikal termasuk rider, krna mereka kurang memberi input data yg maximal, sehingga pengembanganpun tdk maximal.vinales kurang mengerti motor hanya bs membawa motor dgn kencang. rossi sdh karatan hingga felling trhd motor sudah tmpul. kalau bs gnt v engin, v engin lbh byk keunggulannya di bandingkan kekurangannya dengan engin inline

    Guest
  30. RAV, Ide lo gokil itu
    selama belum ada konfirmasi resmi dari yamaha soal masalah crank shaft kita belum bisa simpulkan.
    Tapi ide yang lo maksud setidaknya bertujuan agar crank shaft yang di buat tidak baku ukuran berat dan masanya serta lain2
    jadi bisa menyesuaikan sesuai kecepatan motor CMIIW

    Guest
  31. Bandul diberatin.. power berkurang.. pasti kalah bejaban sama desmo rcv. Ngeluh lagi. disaat mesin v bisa speed corner yg kenceng. Bandul diperingan, ban jadi spin.
    Susah kondisinya buat inline 4

    Guest

  32. Lin Menambahkan bahwa Saat ini yang sedang dilakukan Yamaha adalah berupaya mencari Sumber daya manusia baru dengan ide ide baru yang dapat meningkatkan level dari para insinyur Yamaha”
    1. putuskan kontrak rossi demi pengembangan M1 yg lebih terarah
    2. pilih Vr46 academy yg bener2 kompetitif di bandingkan Mavrick
    3.berikan M1 spek 2018 kepada Zarco dan Syharin walapun mereka pidah team 2019 setidaknya selama 5 seri ada pengenbangan dan masukan yg berarti di segi elektonik dan mesin IMHO
    4.kurangi curcol ke media kasian tim di salahkan terus kan Together.wE.Achieve.More
    ya itu sekedar analisa cocologi sazaahhh, heeheheeheheeh maaf wak

    Guest
    • Dilema om,udah telat kasarnya,kakek legend n fans militan maha benarnya ude terlalu Super body…yamama dulu mungkin berfikir dg makin legend sentris penjualan makin Joss.

      Guest
  33. Tetiba banyak orang yang muncul dan sepertinya jago semua masalah mesin. Perlu diingat, kesalahan perhitungan massa dari bandul crankshaft pada mesin Yamaha M1 2018 ini juga hanya sebuah hipotesis oleh Mr. Neil Spalding. Bisa jadi ada masalah lainnya. Bila seandainya permasalahan ini memang benar dan sesuai dengan hipotesis tersebut, kita harus sadar kalau mesin yang dibicarakan ini ialah mesin prototipe, yang mana saya yakin semua bagian komponennya juga serba prototipe. Jadi maksud saya, bisa saja ada masalah lain yang ditimbulkan dari kesalahan perhitungan massa dari bandul crankshaft tersebut.

    Maaf saya bawa-bawa haters Rossi, memang dengan situasi sekarang kalian sepertinya sangat menikmati. Tapi perlu diingat, bukan hanya Rossi yang kesusahan melainkan Vinales juga, terbukti dari balapan paling akhir Aragon 2018 ketika Vinales mulai dari posisi 11 dan berakhir posisi 10, lalu Rossi yang bahkan mulai dari posisi 18 dan berakhir posisi 8, saya tambahkan kalau ada yang mau bilang hibah juga boleh. Jadi memang mesin M1 2018 yang ada masalah, bukan dari segi kemampuan menurut saya, apalagi ini sekaliber Rossi dan Vinales. Karena saya yakin pembalap yang bisa tembus ke MotoGP itu setidaknya bukan pembalap kemarin sore dengan kemampuan ala kadarnya.

    Ya saya harap Yamaha bisa segera menemukan solusi untuk masalah ini agar tidak berlanjut di tahun depan.

    Oo ya, kalau jadi fans boleh, tapi yang pintar sedikit ya.

    Guest
    • itu tidak mereka perhitungkan bro, maklum mungkin yang menganggap VR46 harus di ganti ya meraka sebenarnya iri dengan kemampuannya.
      Semoga ga di screen shoot bro apalagi di tandain.
      Piss

      Guest
    • keberhasilan development motor jg berasal dari input pembalap nya kan?, ya kalo motornya struggle selama ini berati ada yg yg salah entah dari input pembalapnya atau jg dari teknisi yamahanya..
      masalah rossi dan vinales kenapa rossi bisa finish didepan padahal start dari belakang, sekarang saya tanya pembalap macam vinales, zarco, syahrin berapa lama sih diyamaha? rossi berapa lama sih udah bertaon2kan? udah pasti rossi sarat pengalaman dan juga paham betul motornya karena dia udah pegang lebih lama dari pembalap muda yg saya sebut diatas.

      Guest
    • untuk apa iri dengan kemampuan kakek legend,
      wong terbukti udah ada yg setara atau bahkan lebih baik dlm hal riding skill dan develop motor,
      Vinalez ??? apakah dia udah masuk dlm kategori rider “alien” (skill luar biasa)
      bukannya yg disebut rider alien baru 5 orang saja (si kakek legend, DP, JL, CS, & MM).
      & benar kata @tahilalat, berapa lama dia nunggang M1 ?? dia baru 2 tahun di Yamaha dan aneh bila udah di sama-samakan dengan kakek legend yg udah bertahun-tahun di Yamaha
      inget kakek legend juga ikut andil dlm pemilihan mesin 2018 current
      berarti melakukan kesalahan yg sama/ nyaris sama yg dilakukan Iannone tahun lalu dlm pemilihan mesin

      Guest
    • input pembalap memang menentukan tapi lebih menentukan lagi pabrikan apakah sesaui dengan keinginan pembalap dengan segala masukan dan bisa di realisasikan tentunya kan harus dengan banyak data dan pengetesan, memamg semua berkaitan.
      Ketika di sediakan oleh pabrikan tersedia beberapa mesin dan mesin yang terbaiklah yang di pilih dengan kesepakatan bersama rossi dan vinales. Nah mesin yang terbaik itulah yang ternyata masih ada kekurangan antara mesin dan elektronik ( tapi hanya mereka yang tau sebenarnya )
      zarco 2 kali back too back juara moto 2
      vinales tau sendiri lah gimana skill nya

      Guest
    • Ampun om, saya cuma cari duit. Biar besok bisa beli nasi bungkus. Kalo ada kerjaan lain saya juga mau kerjaan yg halal

      Saya cuma disuruh bos besar om ???

      Guest
    • Untuk bung @tahilalat:

      Nah memang betul kalau development motor berasal dari input pembalap, test rider, dan faktor lain yang saya tidak tahu, itu makanya saya bilang bukan hanya Rossi yang kesulitan. Tapi jujur saya tidak tahu apakah waktu pemilihan mesin M1 2018, apakah mesinnya sudah ada 7 buah, atau setelah prototipe mesin dipilih dulu, baru habis itu dirakit sebanyak 7 buah, lalu dibekukan.

      Bisa juga mungkin permasalahan yang diakibatkan kesalahan perhitungan massa dari bandul crankshaft belum terlalu dirasakan pada tengah paruh musim, mungkin karena karakter sebagian sirkuit, who knows? Meski secara general duo Yamaha memang tidak puas dengan performa mesin M1 2018.

      Kalau masalah Rossi sudah berapa lama di Yamaha, perasaan saya tidak menyinggung apapun. Makanya saya bilang permasalahan yang ada ini murni hipotesis Mr. Neil Spalding penyebabnya, saya tidak singgung masalah skill ataupun experiences, karena keluhan Rossi dan Vinalez lebih kurang sama terhadap mesin M1 2018 ini, yakni over spinning pada ban belakang. Dan untuk Zarco serta Syahrin, saya tidak tahu mereka pakai mesin M1 tahun berapa untuk 2018 ini jadi saya tidak berani berspekulasi, takut salah nanti dibilang tidak berdasar.

      Guest
    • @tahilalat
      “sekarang saya tanya pembalap macam vinales, zarco, syahrin berapa lama sih diyamaha? rossi berapa lama sih udah bertaon2kan? udah pasti rossi sarat pengalaman dan juga paham betul motornya karena dia udah pegang lebih lama dari pembalap muda yg saya sebut diatas.”

      klo sya tanya balik itu DP26 di HRC udah bertaon2, DP udah pasti syarat pengalaman & paham betul karakter RCV dari MM karena dia udah pegang lebih lama dari MM, tapi knapa MM yang bisa jurdun sedangkan DP tidak ?

      Guest
    • Lah, kenapa seret-seret Pedrossa. Liat karakter fisiknya, paling kecil dibanding pembalap yang lain. Sampe-sampe dia harus nyiptain teknis sendiri buat nekuk tikungan dengan memanfaatkan power motor. Untuk balapan, dia harus nunggu lebih lama untuk bisa memperoleh temperatur ban yang ideal. Belum lagi karakter RC21XV series yang emang murni power brutal sampe perlu seorang Stoner dan Marquez to tamed it.

      Sementara, seorang pembalap Yamaha di tahun 2017 dengan pedenya bilang “Maverick didn’t know (how to ride a) Yamaha like I do”, dan kemudian prestasi MV25 mulai mpot-mpotan karena dia kehilangan feeling motornya setelah sebelumnya sempat jadi kontender MM93 dan digadang-gadal bakal ad battle of the year antara MV25 dg MM93 d musim 2017

      Guest
  34. Saham yamaha pa dah d beli vr 46 ???
    Hem baru tau saya
    D kasih m1 yg power full d bilang liyar vr g sanggup
    Piye karebmu mbh

    Guest
  35. Untuk bung @makimaki

    Dari kalimat anda sepertinya anda memang tidak suka Rossi, dan pernyataan anda yang bilang untuk apa iri dengan kemampuan seorang Rossi yang anda bilang kakek legend, saya tanya balik ya, apa ada di komentar saya sebelumnya bagian yang mengatakan kalau ada rider lain yang iri dengan kemampuan Rossi? Atau rider lain harus iri karena Rossi kakek legend yang hebat? Saya hanya singgung masalah yang dialami Yamaha tahun 2018 ini, tidak ada bawa-bawa rider lain, kecuali Rossi dan Vinalez.

    Masalah rider alien, ini saya rasa subjektif bagi sebagian orang. Kalau menurut saya, yang masuk kategori alien itu ya MM, VR, AD, JL, MV, DP, CS.

    Memang betul kalau development motor berasal dari input pembalap, test rider, dan faktor lain yang saya tidak tahu, tentunya Vinalez juga terlibat, itu makanya saya bilang bukan hanya Rossi yang kesulitan. Tapi jujur saya tidak tahu apakah waktu pemilihan mesin M1 2018, apakah mesinnya sudah ada 7 buah, atau setelah prototipe mesin dipilih dulu, baru habis itu dirakit sebanyak 7 buah, lalu dibekukan.

    Bisa juga mungkin permasalahan yang diakibatkan kesalahan perhitungan massa dari bandul crankshaft belum terlalu dirasakan pada tengah paruh musim, mungkin karena karakter sebagian sirkuit, who knows? Meski secara general duo Yamaha memang tidak puas dengan performa mesin M1 2018. Dan saya tidak berani bicara pengalaman, karena jelas Vinalez bakal kalah pengalaman dari Rossi, tetapi nyatanya sekarang mereka mengeluhkan masalah yang hampir sama, menandakan bahwa setidaknya mereka berdua berada pada jalur yang sama.

    Masalah pemilihan mesin untuk 2018, saya yakin bukan hanya Rossi melainkan Vinalez juga terlibat, sekarang terbukti karena mereka berdua mengeluhkan masalah yang hampir sama (lagi). Dan bila memang ada kesalahan, maka kesalahan itu milik mereka berdua, bukan hanya Rossi saja yang melakukan kesalahan, seperti penggiringan opini yang anda buat, supaya Rossi terlihat seperti kakek legend tapi dungu, wkwkwk. Tapi saya yakin orang yang netral akan mengerti kok.

    Guest
    • @david t:
      lha situ salah paham bung,
      yg pertama , saya ngomentari statement bung boigokils
      tapi ada salah saya juga sih kaga ke tag boigokils jadi situ salah paham

      next..
      masalah yg masuk kategori “alien” rider, sebaiknya jgn gunakan pendapat pribadi sebagai penilaian. selama ini yg dinilai oleh rider dan komentator (yg lebih berkompeten dibidangnya dibanding kita2 yg ga jelas ini) sebagai rider alien baru 5 aja tidak termasuk MV dan AD.

      next..
      yups MV memang ikut terlibat, wajar itu. tapi inget juga pendapat si kakek legend lebih diutamakan (klo ga salah itu kata lin jarvis). sebagai rider yg paling berpengalaman bahkan disebut sebagai “the doctor” ternyata dia bisa juga ikut andil dalam melakukan kesalahan memilih mesin (sama aja ama rider “biasa” yg lain yg lebih minim pengalaman). percuma berarti gelarnya tersebut. overrated. wkwkwk
      penggiringan opini ??? wkwkwk serius banget situ nanggepinnya klo situ bener “netral”.
      Anggap aja ini pembalasan saya buat oknum FBR yg lebih dulu melakukan penggiringan opini terhadap semua lawan2 hebat si kakek legend termasuk AD (assen taun ini) dan DP yg polos itu (baca komentar FBR pasca race aragon taun lalu)

      sudah itu dulu komen saya, ada urgent job soalnya siang ini
      ciaoo next time ya

      Guest
    • Untuk bung @makimaki

      Okay bung saya paham.

      Masing-masing kita boleh punya pendapat yang berbeda, tapi saya tidak pernah berusaha menjelekkan rider lain meski saya suka Rossi. Tapi memang pasti ada FBR lain yang terlalu mengidolakan Rossi sampai-sampai tidak peduli terhadap rider lain selain Rossi, tetapi ya mau bagaimana, saya tidak bisa melarang mereka mau berbuat atau berpendapat apa hahaha.

      Nah kalau masalah rider alien, saya juga hanya beropini dan tidak beranggapan bahwa opini saya adalah yang paling betul. Just imho kalau kata orang.

      Entah kalau memang opini Rossi lebih diutamakan kenapa kubu Vinalez tidak protes dan mengatakan kalau ini salahnya Rossi, padahal kan mereka 1 tim. Lagipula memang dalam hal yang berbau entertainment ini, namanya pro dan kontra pasti ada karena ini yang membuat rating MotoGP semakin naik haha. Kalau soal AD dan PD, seingat saya Rossi tidak pernah sampai terlalu larut dalam suatu permasalahan dengan kedua orang itu, paling hanya saling lempar statement seperti biasa.

      Guest
  36. Mav25: “jamput aku biyen ditawari Yamaho jarene dijanjeni motor juara..tibake taek”
    Brivio:”piye le..enak jamanku toh…”
    Mav25:(sesenggukan ndek pojokan)

    Guest
  37. rekan yang tau moge mo tanya nih. ada gk doch desmodromic, doch tanpa perklep turunnya klep doch naiknya klep arm. trus ada gak motor kopling mobil yg mana putaran mesin tidak langsung keroda belakang tapi diredam per yang ada di kopling untuk meminimalis hentakan ke roda belakang yang berakibat spin.

    Guest
  38. Pengembangan improve power M1 2018 lebih baik dari 2017 & 2016 dari segi kecepatan & akselerasi (yang menjadi masalah musim2 sebelumnya power2 Yamaha kalah oleh Honda & Ducati) hal ini juga di amini oleh VR & MV tetapi meninggalkan problem di spin ban belakang.

    ini mah mungkin gak jelas dari sya pribadi, para enginering Yamaha disana berpikiran bahwa masalah too much spin di ban belakang akan dapat mudah di atasi oleh ECU tapi yang jadi masalah adalah ECU MM ini mungkin tidak secanggih ECU bwatan Yamaha sendiri (atau belum menemukan settingan yang pas) yang bisa untuk mengatur TC ban belakang M1 lebih baik.

    Sangat wajar klo VR maupun Vinales mengatakan minta perbaikan di elektronik karena itu solusi tercepat di musim 2018 untuk bisa bersaing & tidak terganjal oleh regulasi tapi apa yang dirasakan oleh rider adalah Yamaha tidak gerak cepat. Seperti kita tahu di tengah musim sperti ini dengan regulasi dari Dorna sudah tidak mungkin untuk melakukan perubahan mesin.

    Dan kebiasaan Yamaha suka selalu telat, sperti hal nya Untuk riset ECU MM sendiri yamaha sudah ketinggalan jauh dari Honda & Ducati, dibuat nya Divisi Elektronik yang dipimpin oleh Michele Gadda pada bulan kemaren, memang merupakan terobosan baru & baik tetapi utk ajang GP gini Yamaha sangat2 telat seperti dulu ketika tim2 lain sudah memakai Seamless Gearbox … Yamaha baru mengembangkan 2 musim berikut nya

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.