Pict : Peter McLaren

TMCBLOG.com – Bro Sekalian seperti Kita ketahui di Sesi test resmi Catalunya, Taka Nakagami yang merupakan satu satunya pembalap pembesut Honda RC213V MY2018 di Musim 2019 ini memperoleh kesempatan menunggangi Honda RC213V tahun 2019. Seperti Kita ketahui Model 2019 dari RC213V mengalami Perubahan besar dibandingkan Medel 2018. Perubahan jalur Intake Udara ( RAM AIR) disinyalir merupakan salah satu resep Utama yang menurut pembalap Honda seperti Marc dan Cal menghasilkan Power yang lebih besar dibandingkan Model 2018.

Saat ditanya mengenai Kesannya, Nakagami mengatakan bahwa walaupun hanya beberapa Kali run dengan total di bawah 20 lap bahwa ini merupakan Pengalaman mengasyikan dimana untuk pertama kalinya ia mencoba Motor Factory terbaru. Secara umum, dengan Motor 2019 Laptime yang dibesut Nakagami lebih cepat dibanding dengan Motor 2018.

HRC Meminta Nakagami Mencoba Motor 2019 karena  ingin Cross Check pendapatnya dibandingkan pendapat Cal Crutchlow dan Jorge Lorenzo yang selama ini mengeluhkan Masalah Front end yang sulit dikendalikan. Selain menjawab dengan bukti empiris soal Laptime, Jawaban verbal Nakagami sungguh mengejutkan. Taka Mengatakan kepada Crash.net bahwa memang benar ia merasakan perbedaan handling di Motor Baru ini, Namun menuruut ia ini lebih ke konsepnya saja yang berbeda.

Taka memberikan penjelasan Lebih detail lagi bahwa perbedaannya adalah handling saat di bagian awal tikungan dan ini menurunya salah satu disebabkan karena perbedaan posisi dari Handlebar. ” Sulit bagi saya mengatakan bahwa Motor 2019 memiliki feeling yang lebih buruk di bagian Depan ( front-end) karena saya merasakan di satu titik tertentu ini tuh bagus “

Selain soal handling Taka menjadi Orang kedua setelah Marc Marquez yang mengatakan dan Merasakan bahwa dengan penambahan power bisa mengail top speed lebih tinggi dan Juga akselerasi lebih cepat yang muaranya memberikan opsi Pilihan riding style Yang lebih luas kepada Pembalap. Salah satu Keunggulannya adalah ‘ strong exit ‘ . . yap Karena akselerasi juga bertambah saat keluar tikungan.

Hal terakhir yang bikin Nakagami terngiang ngiang adalah Soal Downforce yang dihasilkan aero-winglet depan RC213V . . jujur walaupun menurut tmcblog bentuknya lebih Jelek dibandingkan aero winglet 2018, namun menurut Taka Nakagami Downforce yang dihasilkan Jauh lebih bagus. “Dan saya sangat terkejut tentang wing yang dipakai Motor pabrikan terbaru yang banyak membantu soal downforce. Sayap ini membuat perbedaan di semua bagian sirkuit. Sama sekali tanpa wheelie yang artinya cukup besar downforce sehingga kita bisa terus memuntir gas lebih dalam untuk menambah power “

Feedback Taka Nakagami ini tentu akan sangat menarik untuk dipelajari Oleh HRC. Bukan apa apa, menurut data telemetri yang dimiliki Oleh HRC mengenai Gaya riding Nakagami, ternyata style pembalap jepang ini cukup Lembut dan secara umum mirip dengan gaya Jorge Lorenzo. Data yang diberikan Nakagami nini jelas tidak akan membuat di sisa Musim pembaap jepang ini akan berganti mesin ke RC213V spek 2019 karena regulasi tidak memperbolehkannya, Namu jelas akan memberikan feedback Positif Kepada Lorenzo paling tidak bagaimana cara menaklukan Front end dari RC213V.

Dan kalau begini, Mungkin adalah sebuah keputusan bijak jika di 2020 nanti semua Pembalap Honda menggunakan Motor Factory terkini ( MY2020). Dana memang besar, Namun jelas Duit mah bisa dicari dari Jualan motor Produksi massal yes ? namun salah satu Point Positifnya adalah Upaya development Lab Berjalan Untuk tujuan terbesar RC213V yang riders Friendly bisa memperoleh tambahan tenaga dan data Karena secara data Riding style Nakagami mirip dengan Lorenzo.

Di Assen sendiri ada kemungkinan Lorenzo akan menggunakan desain aero Fairing baru, dan ini kemungkinan akan jadi titik awal dimana arah pengembangan Fairing dua motor RC213V di Repsol Honda akan berbeda. Dan Hal ini secara regulasi memang diperbolehkan.

Taufik of BuitenZorg

58 COMMENTS

    • Tetap harus ada beda setahun.. buat komparasi lebih pasti… pengembagan ke arah yg lebih baik ke arah Honda minded (persepsi selama ini) atau rider friendly…

      kalau dibilang ke arah Marc gg pas soalnya dia tipe bunglon adaptif riding style terhadap motor.. seburuk apapun motor (asal bukan power hehehe) masih bisa podium atau 5 besar bahkan jurdun (kasus musim 2016)…

      Guest
  1. Mungkin filosofinya honda tu begini.ini saya punya kuda eropa/australi yg punya tenaga besar dan agak liar.terserah jokinya bisa ngendaliin nggak.kalo mau yang jinak naik keledai aja.?

    Guest
    • Yap, tp mnimal hodna mau ngasih apa yg rider mau, minta pelana berlapis sutra pun bakal dikasih biar pembalapnya nyaman

      Guest
    • Iya.. dari kebanyakan artikel motogp.. yamaha jarang ada kabar ya wak..??
      Yg paling santer si dukati, yg paling sepi yamaha dan aprilia..

      Guest
    • Yamah gk naruh apa2 di blog ini kok minta di review.. guyon kamu
      Kecuali dia kontender jurdun 2019 gak perlu ditanya mesti di bahas..

      Gitu kali yak kira2 menurut ducati sama honda kalo di wawancarai.. wkwkwk

      Guest
  2. sip,,,nakagami jadi Labor berjalan juga,pasti bisa makin ngerecokin di depan deh kayak daijiro katoh dulu

    sekarang aja sering finish lebih baik dibanding the next Valentino Rossi yg pake motor ter-update

    Guest
  3. Dana memang besar, Namun jelas Duit mah bisa dicari dari Jualan motor Produksi massal yes…
    Suka dengan kalimat ini…

    Guest
    • Yeahhh..jual dan suplai terus sampe kiamat..
      Mereka (jepang) mah ngga peduli bodo amat dengan kemacetan dan polusi udara di negara laen…
      Kata orang jepang yang penting negara gue kaya ditambah masyarakatnya suka jalan kaki jadi aman dari macet dan polusi..
      Begitulah kayaknya pemikiran orang jepang brarti nyugihno wong jepang dong..
      Just kidding muehehhheeee…

      Guest
  4. Berarti taka bisa lebih cocok dg settingan motor ala marc. Kan performa dia juga lumayan saat nunggang rcv 2018 (yg Terbukti bisa bikin marc juara).
    Btw, apa ga mungkin kalo honda bikin mesin inline untuk motogp? Biar rider friendly gitu.

    Guest
    • Filosofi mencari jalan sulit tidak bisa diubah..ya lihat saja sejarah motor motogp honda rata2 mesinnya ekstrim..rc166 250cc i6,ns500 v4 serasa v8,rc211v v5..yg agak biasa ya nsr500 v4 meskipun menghasilkan banyak jurdun..dan motor kasta atas honda rata2 konfigurasi v…honda dr jaman jebot mainanya v f1 turbo..rc211v juga pengembangan dr honda f1 v10

      Guest
  5. Secara tersirat yang ane tangkap :
    -Lorenzo memang baru 33 tahun tapi “sensor2” di badannya sudah mulai jauh terdegradasi pasca cedera bersama Duc. Nyali-nya? Jelas sudah ikutan menurun jauh. Hanya sedikit di atas Rosidin.
    -Hondut gak berharap World Champion dari seorang Lorenzo.
    -CC35 sdh bosan berada di tim Satelit. Kenapa tidak dia saja yang dinaikkan ke Repsol kalau Hondut benar2 butuh developer rider. Hal tersebut jelas secara tidak langsung mengkonfirmasi artikel sebelumnya kalau Hondut ingin melemahkan Duc.
    -Nakagami punya kans paling besar menggantikan CC35 di LCR tergantung seberapa konsistennya dia finis 10 besar dengan RCV sekarang.

    Guest
  6. Musim depan harusnya honda mempertimbangkan taka pakai rcv spek terbaru buat jd lab berjalan… Crutchlow lab nya Marquez… Vs taka lab nya lorenzo…

    Guest
  7. Dan ketika nanti semua pembalap satelit honda pake motor terbaru, regulasi di rubah…”satelit tidak boleh new bike” ?

    Guest
  8. Berarti besar kecilnya dana yg mengalir ke garasi motogp dari “sponsor utama” signifikan terhadap cita2 juara dunia ya wak ?

    Guest
    • Gag harus kayak gitu juga Mas_Bro,,
      Talent nd lucky lebih dominan yg nentuin gelar world champion,,
      Aryton Senna da Silva gag bawa sponsor ke Mclaren,
      Schumacer ke Ferrari gag bawa sponsor,
      Vettel ke Redbull gag bawa sponsor,
      Hamilton ke Mercedes gag bawa sponsor,
      Valentino ke Yamaha 2004 gag bawa sponsor,
      MM93 ke Honda 2013 repsol udah nempel di RC213V dari jaman dulu,
      ?

      Guest
  9. artinya hadno rc213v my2020 menjadi platform basis untuk paket terbaru hadno motogp. sepertinya akan ada perubahan nama dari ‘rc213v’ ini. apakah akan berganti nama menjadi ‘hadno motogp rc214v’ ??
    menarik untuk disimak perkembangannya. hehe..

    Guest
  10. Dimas hanya batu loncatan zaza’ buat talent dari negara +62 berlaga di balap prototipe MotoGP,,
    Keseriusan itu penting agar yg nampung percaya, karena kalo jalur karbitan yg nampung gag mau ngambil, kecuali yg ngejual punya duit lebih,,

    Guest
  11. Talent Asia lebih ke pelengkap hedonisme bisnis balap prototipe, bukan kontender world champion,,
    Kalo di football (soccer), Talent Asia bolehlah jadi influence team bahkan worldwide team marketing,,
    still Japan nd Korea sih kalo football,
    dari Park Ji Sung,
    Now Son Hueng Min,
    Next Lee Kang In,
    Japan banyak,
    Indonesia,, Bambang Vamungkas, Andik Vermansyah,
    ?

    Guest
  12. Kok feeling ane bakal ada de Javu di musim 2020 besok ya Nug, Setelah 20 tahun Kenny Robert Jr, si 42ins akan melakukannya di tahun depan,,
    ?

    Guest
  13. Jangan lupa motornya yang sekarang. RC213V 2018 jauh lebih baik dibandingkan tahun 2017 yang sebelumnya digunakan Taka. Secara talent, mungkin dia masih jauh di bawah Quartarao, tapi bukan berarti g punya kemampuan, setidaknya dia bisa on par dg Morbidelli di beberapa kondisi, terlepas M1 yg masih bermasalah (Wlpun FQ membuktikan bahwa tinggal pembalapnya mau berjibaku ap g).

    Guest
    • yang terpenting, apakah menurut riset bisa ?
      kalo regulasi kayaknya Bisa, tetap mengacu pada jumah alokasi fairing dalam setahun

      Administrator
  14. mau tidak mau 2020 harus dengan konsep motor yg user friendly paling tidak mendekati lah agar tidak terlalu sulit di kendalikan, ini harus dilakukan sesegera mungkin sebelum Marq berpindah ke team lain.

    Guest
  15. Dimas itu awal aja istilahnya pendobrak …menurut saya baru generasi Gerry/Andy Gilang penjenjangan AHRT murni dari jalur tim AHRT sendiri…generasi pertama,kedua sampai kelima jgn dulu terlalu diharapkan y itung2 memperbanyak jam terbang pembalap2 Indonesia di kancah Internasional…
    Dan jika ini konsisten dilakukan saya yakin tinggal menunggu waktu saja munculnya the next Rossi,the next Marques atau kalau kejauhan y the next nakagami dari Indonesia…pembalap berbakat yg muncul dan ditempa di kompetisi berjenjang yg benar dan menghasilkan input juara mental baja

    Guest
  16. wing hrc ini untuk menghasilkan downforce yang jauh lebih bagus … tp sy lebih suka wing untuk bisa terbang tinggi, kata honda jepang kita pun tersedia wing-jet honda … trus gimana pabrikan lainnya ??

    Guest
  17. “Boleh gak kita berfikiran nakagami mampu finnish 5 besar karena, jebloknya zarwo, lorenso, Rossi, cal, . .”

    Jelas gak boleh dong,?? lain dulu, lain sekarang , dulu boleh hebat, tapi sekarang?

    Di luar itu, selalu ada kesempatan jadi lebih hebat di masa yg akan datang

    Guest
  18. Boleh gak kalo dibalik. Nakagami bisa finish top 5 karena ga jeblok seperti yang lain lain itu. Ya gima bole ga nih?

    Guest
  19. “karena jebloknya lorenzo,zarco,dan call..”
    kata” itu tak lebih dari sekedar angan” sih
    sama aja dg mungkin,apabila, seandainya

    sekarang ya Sekarang
    dulu ya dulu

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.