TMCBLOG.com – Kemunculan Yamaha XSR700 dan XSR900 seperti mengawali ‘reinkarnasi’ Universal Japanese Motorcycle (UJM) yang sempat booming pada tahun 1970-1980 dimana ketika itu The Big Four Jepang yang diprakarsai Honda, sukses menginvasi pasar Amerika dan juga Eropa lewat motor motor berdimensi kecil dan mempunyai desain yang ‘Jepang banget’. Dan sebagai bagian dari rencana UJM pabrikan Jepang, pada tahun 2019 ini Yamaha makin melebarkan sayapnya lewat varian XSR berkubikasi kecil, XSR155 yang meluncur di Thailand 16 Agustus 2019 yang tak hanya bikin heboh jagad permotoran Thailand namun juga ikut membuat kemeriahan dunia roda dua Indonesia. Bahkan makin ke sini makin dekat dengan waktu peluncuran XSR250 [XSR300 di banyak negara] yang disinyalir kuat akan mengambil tempat di EICMA atau Tokyo Motor Show 2019.

Yamaha XSR900 2016

Yamaha meluncurkan XSR pertama kali tahun 2016, diawali model XSR700 kemudian disusul oleh XSR900 beberapa bulan kemudian. Sukses broh, Yamaha bisa dikatakan sebagai first mover untuk UJM modern. Kesuksesannya ini kemudian ‘diikuti’ oleh Kawasaki yang meluncurkan Z900RS dengan strategi yang mirip dengan Yamaha, dan juga Honda lewat CB1000R Neo Sport Cafe. Meskipun secara konsep UJM Yamaha dan Honda sedikit berbeda, namun garis besar dari ide dan strategi dalam rancang bangun motor mirip, yakni model sasis dan mesin motor sport modern yang dipakaikan baju ‘ala retro’.

XSR700 Sur Les Chapeaux De Roues.

Handicap dalam membuka segmen baru seperti sport retro-modern ini memang cukup tinggi, dimana adanya dua genre yang disatukan. Kalau gak jeli maka akan sulit dalam penjualannya, coba deh lirik ke Lexam. Maka pada tahun 2016 Yamaha Eropa dan USA getol dengan iklan dan film-film pendek ‘Faster Son’ yang bermakna kelahiran motor yang punya DNA motor lawas namun dengan karakter sport modern yang agile dan kencang. Yang dimaksud sport lawas tersebut adalah Yamaha XS sedangkan ‘anak laki laki’ -nya adalah XSR series. Kemudian lewat program Yamaha Yard Built [yang telah dimulai sejak tahun 2012] dengan tema tersendiri mengambil base model XSR700 dan XSR900 pada tahun 2016. Sebuah program untuk memperkenalkan model XSR700 dan XSR900 yang diserahkan ke builder motor untuk di custom ulang dan kemudian dipamerkan di event custom culture.

Yamaha XSR700 Capêlo’s Garage

Strategi yang mirip juga dilakukan oleh PT. Kawasaki Motor Indonesia saat meluncurkan W175, menggandeng beberapa bike builder untuk menggarap W175. Pada akhirnya menjadikan Kawasaki W175 sebagai idola motor custom modifikasi karena reputasinya lekat dengan motor ‘kanvas kosong’ yang mudah diutak-atik untuk dicustom. TMCBlog tidak bermaksud menggurui pabrikan, hanya ingin memberikan gambaran jika Yamaha berniat untuk menjual XSR155 dan juga XSR250 di Indonesia tuh gak perlu khawatir. Karena selain modelnya yang keren dan unik, Yamaha sendiri sudah memiliki program Yard Built secara global dan sukses selama sekitar 7 tahun, dan alhamdulillah bersyukur banget jadi bikers Indonesia karena di negara ini memiliki ribuan Bike Builder yang karya-karyanya sudah diakui oleh custom scene internasional. Artinya modal untuk menyelenggarakan program Yard Built di Indonesia sudah ada nih, tinggal implementasinya ketika XSR155 dan XSR250 diluncurkan di Indonesia. Hehehe..

Yamaha XSR900 JvB-Moto

Saat peluncuran XSR155 di Thailand juga sudah dipajang beberapa XSR155 custom, namun menurut TMCBlog hal tersebut tak ada bedanya dengan stategi pabrikan selama ini ketika prosesi peluncuran produk baru. Lewat Yard Built, kami beropini bahwa value sebuah XSR lebih nampak karena proses custom dan modifikasi yang dilakukan akan lebih bebas dari banyak builder namun tetap bersyarat sehingga lebih menunjukkan ide-ide brilian dari bike builder yang menggarapnya terhadap Yamaha XSR. Sehingga tidak terlalu bergantung pada konsep ubahan motor yang diberikan/diminta oleh pihak pabrikan. Di atas tadi dikatakan bersyarat karena memang dalam peraturan Yard Built sendiri dilarang memotong sasis motor. Sasis motor wajib dalam kondisi standar pabrik tanpa potong atau diubah secara radikal, tapi secara desain ubahan body-nya bebas, peraturan ini diterapkan demi mempertahankan hasil motor custom yang masih terlihat motor donor-nya. Maka, jika Yamaha XSR155 launching di Indonesia dibarengi dengan Yamaha Yard Built rasanya bakalan meriah nih. Membangun sebuah motor dengan sasis Deltabox dan ‘mesin Vixion’ jadi donor untuk sebuah motor custom Scrambler, Tracker atau Cafe racer tentu punya rintangan tersendiri bagi para builder tuh.

Nugi TMCBlog

 

56 COMMENTS

    • Konsepnya emang gitu bro..
      yakni model sasis dan mesin motor sport modern yang dipakaikan baju ‘ala retro’.

      Guest
  1. Jadi secara modal sdh ada ya wak
    Soalnya yg komen di mari banyak yg kok masih pakai delta box. Kurang retro wak

    Guest
  2. Tapi kalo xsr155 keknya bakal banyak yg ngira viksen modif yg biasanya ada di Yamaha modif kontes gitu,karena deltabok dan mesin itu ya identik dgn viksen

    Guest
  3. Bagaimana pun juga yang namanya moge 4 silinder mau dibikin body model naked apapun juga tetap keren. Ibarat bodybuilder gitu lah ?

    Guest
  4. Akan lebih menarik jika sasisnya dibikin modular seperti XSR700, ditambah program Yard Built bakal makin keren.

    Guest
  5. Orang konsepnya ‘Faster Son’ lo, yg pada komplen mungkin ‘Anak Ayah’ yg terlalu lengket sama bapaknya, jadi kudu total retro-tro-tro. Gk sekalian pake karbu dan tromol…

    Guest
  6. Sukak deh liat Model retronya yamaha keren2, palagi yg udh custom.
    Buat artikel tentang neo sport honda dong om… sekalian yang udh di custom.

    Guest
  7. kalimat terakhir bro nugie bisa dimaknai dua arah nih, yang pertama sebuah tantangan buat bike builder, yang kedua bisa diartikan sebuah ‘masukan’ buat yamaha soal sasis yang kurang match dengan konsep motor secara keseluruhan. imho

    Guest
  8. Secara tidak langsung mas Nugi mencoba menjelaskan pada orang2 yang ribut soal Deltabox kurang retro. Nah… sekarang jelas kan? ini seri XSR bukan XS

    Guest
  9. cuman suz yg “dingin”
    padahal tag line nya nyalakan nyali, ato dulu sempat inovasi tiada henti
    eh, sekarang malah gak gerak

    Padahal kami pengen suz ikut nimbrung di katana 150, ato SV 150

    tapi entahlah. Maunya konsumen apa, diterjemahin (outputnya) apa. Kasus GSX-S jd Bandit. Bener-bener out of the box. sampai sampai gak bisa diterima pasar Indonesia (gak pernah ke;ihatan di jalan)

    Hehehe…

    Guest
    • Ente konsumen mainstream ya sudut pandangnya gitu. GSX-S emang tak bisa diterima mayoritas konsumen Indo. Kalau udah jadi pensboy Suzuki kek gw, bakalan paham kenapa Suzuki (baca: Hamamatsu) punya jalan sendiri dengan pasar roda dua Indo. Mereka udah pernah ngikut jualan mainstream ala Honda, tetap saja kalah. Langkah terbaik adalah mempertahankan fanbase hardcore yang jumlahnya masih banyak. Jarang-jarang keluarin produk, tapi sekalinya keluarin ya harus anti-mainstream. Daripada melakukan ekspansi pasar, lebih baik konsen ke market yang sudah ada core-nya.

      Guest
  10. Sebagai rencana UJM retro modernnya yamaha, Ada gap waktu yg cukup lama antara rilisnya XSR700-XSR900 dgn XSR155, tanya kenapa?

    Guest
  11. artikel ini sekaligus menjawab rasa penasaran saya tentang duluan mana klan xsr yamaha sama klan cb neo cafenya honda.

    Guest
  12. Kalo pun dicompare sama Vixion hasil modifan builder, XSR 155 ini desainnya paling proporsional.

    Selama ini kebanyakan Builder yang pakai vixion, tangkinya biasanya terlalu classic, sedangkan XSR ini tangkinya lumayan banyak detail lengkungannya, jadi ya tetep cakep nih XSR. Goodjob buat Yamaha

    Guest
  13. Ada ide di deltabox nya XSR155 anggap sbg kanvas kosong di kasih ukiran ukiran emas/perak dari kotagede bisa jadi ngerihh tampilan vintage retro nya.

    Guest
    • Nah,cakep juga tuh.ato main painting ala ala serat kayu kayaknya lumayan bisa ngilangin kesan ‘kaku’ pd deltaboxnya ya

      Guest
  14. Yamaha XSR900 JvB-Moto, mandangin motor ini ga ada bosenya.
    desain retro seperti ini memang bukan untuk anak alay tapi untuk mereka yang punya “jiwa” motor.. motor baginya adalah nyawa kedua.
    neo cafe racer terlalu banyak sisi desain modernya, kalau XSR benar benar benar “inilah classic”.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.