TMCBLOG.com – Dominasi Total Marc Marquez Sebenarnya sudah ia perlihatkan secara empirik semenjak FP1 dimana Ia berjarak 2 detik dari Laptime pembalap Lain di kesempatan Latihan bebas Pertama. Dan sebenarnya Sinyal kedua hadir di FP4 dimana Saat itu Marc Marquez sudah mulai melakukan Long lap selama 17 Lap. Di race Simulation ini Kita Bisa lihat Race Pace Marc diatas ban Medium – Soft memang nggak Jauh dari apa yang ia perlihatkan  saat race. Yes, Paling tidak Marc sudah Sangat Siap banget jika race dilakukan Saat Track Kering, dan ini dibuktikan saat race dimana semenjak lap Pertama Ia langsung membuka Jarak Satu detik dari pembalap yang mengejarnya. Lap Push di Lap lap awal sehingga Laptime tercepatnya pun tercipta di lap ke dua. Akan juga menarik melihat data data dan analisa Pasca Race ini, sebelum itu kita akan bahas dulu data data dan fakta hasil race MotoGP Aragon 2019.

Aplaus Juga diberikan kepada Andrea Dovizioso yang berhasil menjaga asa Championship. Dovi Start dari Posisi Grid 10 dan dengan Holeshot Devices bisa merangsek ke P7 setelah lap pertama. Lalu Satu persatu Dovi mulai Overtake pembalap di depannya sampai akhirnnya finish di Posisi P2 . Jack Miller Memupus Asa Yamaha Untuk Bisa Podium di Aragon ini sekaligus menegaskan Kedigjayaan Mesin V4 di Sirkuit Motorland Aragon Tahun ini.

Secara umum, Jarak antara Marc Marquez ke Andrea Dovizioso adalah 98 Point Sekarang. Dan dengan sisa 5 Race dengan nilai maksimum 125 point, Ini artinya pasaca Aragon Juara DUnia 2019 tinggal bersisa kemungkinan Untuk 2 pembalap saja Marquez dengan Kemungkinan Terbesar diikuti DOvizioso.

Dengan 98 Point Marc Marquez akan memasuki Seri Match Point dimana ia bisa Kunci Juara dunia Mulai di Thailand. Kuncinya adalah Marc Harus menjauh lebih dari 100 Point pasca Seri Buriram Nanti. Satu komutasinya adalah Jika ( bani andai andai dah 😀 ) Marc Juara di Buriram dan Dovi Finish P2 maka Marc Akan Bisa kunci Juara Dunia Di Thailand.

Danilo Petrucci yang finish di P12 sementara dengan Suzuki GSX-RR dengan setengah kumis Hilang Alex Rins berhasil Finish di P10 membuat Untuk semeentara Rins Bisa naik ke Posisi 3 Championship.

Pasca Aragon, Honda menjauh 5 point dari kejaran Ducati di Championship pabrikan sementara di Championship team, Ducati team masih memimpin dengan jarak 24 point dari Kejaran Repsol Honda.

Quartararo memang hanya finish P5 di Aragon, namun dengan hasil ini ia menjauh dari kejaran Joan Mir sejauh74 point di Championship Para Rookie 2019.

Bukan hanya di Klasemen Rookie, Fabio Quartararo pun sementara ini merupakan terbaik di Championship Pembalap Satelit dan mengungguli sementara beberapa Nama anma seior seperti Miller, Crucchlow, Morbidelli dan nakagami. Sementara itu Petronas Yamaha SRT mengungguli 37 Point di depan LCR Honda di Kalsemen team Satelit jelang 5 race terakhir.

Jika Menyangka Bahwa Marc Maruez mendominasi Aragon dengan Modal Top Speed mesin Hodna RC213Vnya itu kayaknya kurang tepat juga. Lebih ke karakter overall, Buktinya di soal Top Speed Maksimum, Marc Kalah 13 km/jam dari Dovizioso, dan secara rata rata Top SPeed Marc Kalah 10 km/jam Juga dari Dovizioso. Semoga berguna

Taufik of BuitenZorg

102 COMMENTS

    • Jika sampai akhir musim point f1/4 lebih besar dr rossi meskipun cmn beda 1 point, yakinlah si mbah berada dalam tekanan besar untuk mengakhiri kontrak lebih awal..

    • Sadar ada yg aneh g dg poin klasemen pmbalap?
      Kok bs y Sisusi d peringkat 3 ?, kn katany Inline4 medi*ker… Inline4 KW.
      Psti da konstrasepsirasi nih, masak yg katany dewa bs kruntelan d satelit ?

      • Podiun 1..
        dua kali beturut turut…
        Atau salam 20 detik…

        Kandang inline plus kandang ABN menang hebat…
        Kandang V4 plus kandang MM (counterclockwise) menang sekebon….

  1. Soal top speed kyanya marc ‘nahan’ gas biar ban soft nya durable,soale beda jauh sm FP1 (341 km/jam) & Untuk championsip peluang besar selain jurdun tahun ini juga marc bisa bidik rekor point terbanyak 1 musim yg masih dipegang lorenzo (383 point) di 2010

    • @TakAdaYangBisa, klo next burriram menang lagi kn udh ngunci gelar bro.
      @Jaffar, cuma nebak2 aja… Ga ada yg tau ‘isi kepalanya’ marc. Yg sy tau se joker2 nya marc,dia orang yang ambisius…?

    • siapa yg nyangka, rider yg terkenal agresif sekaliber Marc, bisa tampil konsisten dan smooth di musim ini mengunakan motor yg “tidak manusiawi”.

      bukan tidak mungkin dia bisa tembus / melewati angka psikologis 400 point diakhir musim (asalkan dia tidak jatuh) dan bikin rekor baru lagi

      • IMO, biarpun riding style alaminya Marquez agresif, tapi spektrum balap Marc Marquez emang lebih lebar. Mau agresif bisa, mau smooth monggo, adu late braking ayuk. Tapi y gitu, dia g bakalan sejago rider lain yang emang riding style alaminya di situ. Adu late braking, dia bakal kalah sama Rossi, adu smooth, dia bakal kalah dari JL99 ato AR42.

        Makanya di musim ini dia bisa konsisten posisi 1 dan 2, karena dengan kemampuannya dan ditunjang RC213V MY2019 yang memiliki power delivery lebih baik, dia bisa mengembangkan beberapa strategi balap untuk tiap track. Itu yg bikin dia jadi dominan dan bikin balap yang lebih kompetitif bisa terlihat membosankan………..

        • hmm entar dulu bung Aimin
          “…Adu late braking, dia bakal kalah sama Rossi..”

          pernyataan ini diperoleh dr data kapan dan dimana ya klo boleh tau ??

          klo dr ingatan saya (maaf2 klo salah)….

          Brembo taun lalu (2018) pernah bikin list 4 rider dgn late brake terbaik berdasarkan hasil di Mugello
          kakek legend bukan yg terbaik (tp nomor 3)

          urutan 4 Master late braker terbaik:
          1. Marc
          2. Iannone
          4. Petrux

        • IIRC, 2018 Rossi udah bukan di kondisi prime lg, dan seingat saya, race craft-nya saat itu bukan yang ngotot, push the limit untuk memperoleh hasil terbaik (krn emang motornya g bisa dibuat seperti itu), tapi lebih mengoptimalkan performa motor yg ada (malah Vinales yg lebih ngotot). G heran kalo data Brembo mencerminkan hal tersebut.

          Tapi di kondisi terbaiknya, keunggulan Rossi terhadap rider lain adalah block passnya yang muncul dari teknik late brakingnya. Teknik braking Rossi sama dengan rider jadul, mengutamakan front brake, tapi saat late braking, jarang terlihat ban belakang Rossi terangkat, seperti halnya Marquez. Kondisi ini menunjukkan kl Rossi bisa mengatur distribusi rem antara ban depan dan belakang. Teknik ini yang membantunya melakukan block pass, mengerem lebih lambat dibandingkan rider lain, tapi motornya tetap terkontrol dengan baik. Hal ini berdampak pada bike positioning yg menghalangi motor lawan untuk memperoleh apex, dan mau tidak mau lawan akan mengurangi kecepatan untuk tidak miss the apex. Beda dengan Marquez saat block pass, sering kali dia miss dan tidak bisa memposisikan dirinya untuk memblock lawan secara sempurna (beberapa kali malah block passnya mengakibatkan dia lose front/rear).

          Kondisi ini masih terlihat sampai di musim 2016, sebelum akhirnya dia mulai merubah riding craftnya saat M1 mulai g kompetitif. Kondisi ini juga yg membuat Rossi terlihat lebih baik dibandingkan rekan setimnya di 2017 dan 2018, false competitive feeling. Terlihat lebih cepat karena hasil akhir yang lebih baik, wlpun sebenarnya yg mengakibatkan hasil akhir tersebut lebih pada riding craft yang mengoptimalkan motor, bukan push the limit.

        • [email protected],soal spektrum balap marc dia emng prnah komen klo pengen bgt punya sisi kelebihan dr Rossi,dovi sm lorenzo tp ga nyebutin rins. & Late brake + block pass nya rossi ke lorenzo di last lap catalunya 2009 emng paling paling aduhai yg pernah sy lihat

      • Power dan top speed bukan segalanya. “Motor liar” adalah frasa yg harus dibayar untuk itu.

        Lebih baik Power ‘embarassing’, tapi manusawi. Katanya.

        (Lalu satu persatu pabrikan lain ngelewatin dia) ?

      • @Level7, secara matematis andai/jika/kalau (minjem kosakata ABM) sih gtu…? (Imo) marc crash di cota bukan murni kesalahan dia,tp krn ga mau nyari kambing hitam dia ‘ngalah’. Itu jg faktor timnya tim yg paling kondusif se grid motogp. Saling menghormati & tepo seliro

        • aha…ini juga yg terpikirkan oleh saya
          CotA salahsatu yg juga secara alami, merupakan sirkuitnya MM… Bisa dibayangkan betapa kecewa saat leading malahan crash, tapi ya itu : tdk mau mencari cari kesalahan ke siapapun ke apapun… Optimis di kejuaraan dan bukan mencari rekor2 setempat saja…

  2. Marquez cuma butuh curi 2 poin unggul setelah Buriram.. Jadi selisih 100 poin dengan Dovi setelah race Buriram

    Klo pun setelah Race Buriram Marquez gak pernah finish dan Dovi selalu P1 di sisa race dan jika poin mereka sama diakhir musim maka penentuan juara dilihat berdasarkan penacapaian P1 terbanyak

      • Yang mana secara data Marquez sudah 8x P1 sampai race Aragon

        Sedangkan Dovi disisa Race setelah Buriram jikalau terus finish P1 hanya akan mendapatkan 7x P1

        Dan jika penetuan juara ditentukan beedasarkan jumlah P1 karena pencapaian poin kedua rider sama maka tetaplah secara pasti Marquez sudah bisa selebrasi di Buriram mengingat jumlah P1 kedua rider tsb..

        Bener gak sih..

  3. Andai andai andai saja seri misano ada di akhir paruh kedua motogp maka markes berpeluang merayakan jurdun dimarkas ucio dan pasukannya ?

  4. I4 = 3 sector gue cepet ?

    V4= cukup 1 track lurus gue dh ninggalin lu bro ?

    I4 = racing line gue lu tutupin! Sialan ga bisa overtake ?

    V4= makanya lu cepetnya di fp dan qlpyng aja , ini moto GP bro bukan qualiyping GP,
    ??

  5. Kelasnya emang selevel hafidz zahrin bro, soal naik yamaha aja jadi keliatan kompetitif. Zahrin juga hebat waktu pake M1 satelit.

    Jika MM93 mampu menyembunyikan kelemahan motor, maka M1 mampu menyembunyikan kelemahan rider ?

    • owww. pantesan si kakek legend milih balik kucing ke yamyam, dan tetap bertahan walau 7thn “zonk”

      seringkali fansnya koar2, karena dulu bisa juara dunia pake tim “satelit” honhon.
      sekarang dibungkam karena ada fakta baru: dia sekarang bahkan tidak bisa keep-up lawan rookie di tim satelit yamyam di beberapa race,

      bahkan kemarin dia finish jauh (13 detik) dibelakang rider Aprilia. Titel “sunday rider” udah kagak relevan lagi.
      lemot di QP dan lemot pula saat race

      mengingat dia juga rider level alien (setidaknya waktu jaman dulu), ….it’s kinda embarrassing

      • @Kevin:
        yeah no doubt
        bahkan (CMIIW) catatan waktunya relatif imbang dgn Marc (yg lg pake mode “comfort”) sepanjang race
        sayang Dovi start agak jauh di belakang

      • @Aimin:
        hehehe
        kan klo kata FBR, Nasro Azzuro itu tim satelit (walau dibelakangnya ada full support mekanik pabrikan sekalipun)
        bagi mereka hanya tim Repsol aja yg tim pabrikan saat itu

        @Ghaza:
        Yups, bahkan dia udah dpt support bekas mekanik si Doohan

      • @Aimin:
        hehehe
        kan klo kata beberapa minions, Nastro Azzuro itu adalah tim satelit (walau dibelakangnya ada full support mekanik pabrikan sekalipun)

        @Ghaza:
        Yups, (cmiiw) bahkan taun itu dia udah dpt support dr mekanik Doohan

      • bedakan antara rider ‘alien’ dengan rider ‘muda’ mas. si ‘itu’ pada jamannya adalah rider ‘muda’, bukan ‘alien’.
        si ‘itu’ bisa dikatakan alien justru sekarang ini saat rider muda bermunculan. kata ‘alien’ disematkan karena rider yang bersangkutan berada di dunianya sendiri.
        markes alien karena berada di levelnya sendiri di top area, begitu pula si ‘itu’ juga alien karena berada di levelnya sendiri, top area bukan, bottom bukan, medioker juga bukan. paham bukan ?? hehe..
        padahal setahu saya, alien itu parasnya ayu loh. hehe..

        mudah-mudahan analisa race aragon nanti ada podkesnya. mata saya lelah kalau harus membaca dari atas sampai komentor terbawah. mohon maklum

    • mungkin strategi mapping-nya berjalan
      diset untuk mempertahankan kondisi ban selama mungkin

      Membuat Marc terlihat bisa tampil dominan cukup dengan “mode comfort”
      Terbukti pula sepanjang race Marc kaga cuma bermodalkan topspeed
      Speed cornernya si Marc (terutama di last corner) cukup mengerikan, layaknya lagi naik motor inline

    • Sepertinya itu mapping bro, karna tidak ada yg mendekat maka mappingx ga pernah diubah, lain cerita jika rins/dovi mendekat tim akan instruksikan perubahan mapping agar topspeed maksimal. #cmiiw

  6. Ada 2 jenis andai2 :
    1. Andai yg sudah terjadi
    2. Andai yg belum terjadi

    Masa’ yg udah terjadi masih diandai2kan, itu namanya penyesalan.

    Nah kalo yg belum terjadi diandai2kan itu namanya keinginan atau cita citata 🙂

  7. Saya coba rekap komen ya. Dengan hasil MMfeatCC,dovi feat JM dan MVfeat FQ. Sebenarnya ketiga pabrikan disini seimbang dr segi setingan sirkuit dan motor. Nah cuma ada poin yang bkin perbedaan,yaitu : MM yang memang punya skill lebih dr pembalap v4 lainnya,khususnya pembalap honda lainnya. Dimana dia bisa membelokkan motor dengan angkat ban belakang bahkan saat motor lagi dalam pengambilan corneringnya(kemampuan dirtbike keluar utk atasin mesin liar). Ducati sebenarnya punya cornering bagus dan juga topspeed tentunya dimana terlihat beberapa kali melibas duo yamaha. Yamaha disini sebenarnya sudah kompetitif cuma pendapat saya power mesin yang dikurangin gara”‘musim lalu terlalu ringan masa crank yg buat kelebihan power banyak spin yg akibatkan perubahan jeroan mesin. musim ini berakibat dr penyetabilan ini dan Meski ahli ecu dah bisa atasin problem elektronikpun kalau mesin didalam dah disegel maka ya sudahlah. Tunggu sirkuit yg umbar speed corner saja. Namun kalau dr segi bikers dan pembalap,motor idaman tentunya yang rider friendly Suzuki dan yamaha. Di dalam sirkuit, banyak faktor yang pengaruhi hasilnya. Cheers semuanya.

      • @Rian,gak ada gunanya saling bully habis”in power saja. Yg balapan sama yg digaji besar ya mereka disana. Kita cukup nikmatin balapan dari layar tv saja. @bro aimin,fbs sejati,jos markonjos. Kalau menurut saya suzuki memang powernya lbh besar dr M1,ibaratnya saat M1 wkt bandulnya ringan kyk sebelumnya. Cma sasis memang mantap,secara si DB tuh mantan di Y dlu jg. Sy rasa Rins emang gaya balapnya begitu..saat nikung dia badannya agak tegak sehingga dia bebas ambil racing line yg berbeda..dan tentunya kalau sering menemukan tikungan stop n go itu bakal cpt kikis ban n bs mudah dlosor. Cma analisis seh.

    • IMO, biarpun GSX-RR lebih cepat, dia bukan motor yang rider friendly, masih mending M1 ke mana-mana.

      GSX-RR mirip RC213V punya problem di front end, kestabilan saat braking kurang. G heran Rins beberapa kali crash (dan dia sering kali bingung kenapa bisa crash). Tapi keunggulan mesin dan Sasis GSX-RR g ada yang menyangsikan. Corner speednya gila sampe bikin Dovi frustasi di Qatar, dan motornya mudah dikendalikan saat ditikungan. Sering kali AR42 menyalip lawannya dengan cara bermanuver setelah rider yang di depan mengambil racing line di corner. Seakan-akan AR42 seperti sudah memprediksi racing line rider di depannya. Bahkan saat racing line-nya ditutup pun (seperti saat di Silverstone), proses recoverynya g terlalu lama.

      Kelemahan GSX-RR cuman satu, yaitu Alex Rins. His head is so big, his helmet hardly fit. Mknya sering bikin kesalahan yg g perlu. Mungkin ucapan Stoner paling pas emang ditujukan ke Rins. “His ambition outweigh his talent”. Kl emang beneran mau jadi title contender, he need to overcome his ego and working in a manner of a real champion. Mungkin dia butuh bimbingan Alberto Puig……………..

      • Kenyataanya sejauh yang guwa tonton, racing line Rins beda dari kebanyakan pembalap. Entah emang karena motor atau adaptasi dia yang begitu. Dibilang presisi enggak bisa juga. Dibilang konsisten juga enggak bisa. Puig ama Brivio masih terlalu lunak. Sekalian sama Daligna aja.

      • betul, rins itu ga sabaran masih hot headed mirip mirip marquez waktu debut pertama, atau franco. m. atau mungkin ada pressure dr suzuki ya?
        sering banget kelihatan lap lap pertama rins sperti kehilangan front end nya.

  8. dan ini dibuktikan saat race dimana semenjak lap Pertama Ia langsung membuka Jarak Satu detik dari pembalap yang mengejarnya.
    ~~~
    Lho bukannya kata insinyur muda tiap lap itu hanya 0,3 detik ya? ??????

    • ????
      JL race Aragon kemarin best lap ???
      dr situs Motogp, best lap si Lorenzo msh di 1:50-an

      mungkin situ salah liat data pada gambar di artikel ini ???
      itu rekor best lap JL di 2015

  9. Tumben kolom komentar Artikel Rekap Championship pasca race agak sepi… ngga kayak kemaren2 pas MM ditikung di Austin sama Silverstone, ketambahan pula kemaren sama Misano yg beda 0,0X detik… Tamparan keras kah dari MM race semalem, sampe fengsboy susah berkata-kata?

  10. yah, satu2 nya benteng terakhir di tengah terpuruknya penjualan ke level 2x,xx% ca tinggal itu, untuk campaign produknya…

    satu sisi host jg ogah diputus kontrak gegara terlalu “netral”, lihat aja gimana om Matteo, bisa dapet uang darimana??

    sebenernya gampang buat *** takeover sponshorship acara itu, tapi si 7 kayaknya keikat kontrak jangka panjang/MoU gitu… cmiiw

    • dan, sekaliber wak haji cuma dapet sesi teknik corner + kualifikasi, padahal ulasannya lebih berbobot dan “by data” bukan sekedar “by andai/jika” + FB rider tertentu….

      contoh host racing yg bagus dulu kyk om Hilbram waktu masih ada F1 di tv lokal, walau dia ngaku fans Renault tapi porsi ulasannya profesional dan imbang…

  11. memang Marc ini bocah super duper alien, untuk itu saya selaku fby sangat berharap Marc bersedia pindah ke yamaha menggantikan kakek lejen, biar bisa bawa M1 kembali juara dunia, sudah terlalu lama yamaha puasa gelar dan kemenangan, padahal M1 adalah motor paling user friendly se-motogp, dasar ridernya saja yg pada lemot
    logikanya kan pakai honda yg terkenal celeng dan liar saja Marc dengan mudahnya juara dunia apalagi dengan yamaha yang begitu smooth, mungkin ibaratnya sambil “merem” juga Marc bisa menang pakai yamaha

  12. Juru kamera motogp nakal juga ya….nampilin raut wajah kuatir para kru di garasi yamhaha…saat Dovi dan ducati semakin mendekat….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.