TMCBLOG.com – Yamaha M1 tahun 2019 ini boleh dibilang jauh lebih baik dibandingkan Dengan yamaha M1 Tahun 2018. Selain karena perkembangan riset termasuk pembentukan Divisi riset elektronik Khusus dipimpin Oleh Michele Gadda, sangat dipercaya Juga karena ada andil Ban Michelin yang menyiapkan ban Belakang michelin dengan konstruksi lebih kuat sehingga Permasalahan hancurnya Karkas Karet Ban Pada M1 sebelum race usai lumayan agak jarang terdengar di 2019 ini.Bukan hanya buat Yamaha, Secara umum Buat semua Pabrikan. Semua pembalap di 2019 ini tidak terlalu terpaku memikirkan bagaimana Membuat Karet bisa bertahan sampai Lap terakhir.

Namun begitu Tetap saja Ban Michelin itu Punya Karakter Yang lumayan Menarik terutama antara Karakter Ban belakang Soft dan Hardnya. Informasi ini tmcblog peroleh dari Tulisan terakhir Mat Oxley dimana disana disebutkan Sebenarnya Secara umum Karakter Soft dan hard dari Michelin punya Karakter dasar yang sama saja Dengan Ban Merk lain Yakni Ban Hard Lebih durable dibandingkan ban soft. namun ada yang membedakan Yakni Ban Slick Soft Michelin Punya Karakter lebih nge-grip bila dibandingkan Ban belakang slick Hard.

Karakter ini sepertinya sudah bukan lagi Rahasia Umum, dan semua pabrikan dianggap sudah mengetahui dan Mahfum akan karakter ini. Tinggal sekarang Pabrikan Mau pilih Pakai Yang mana Soft atau hard. Baru setelah itu setelah menentukan Pilhan, Mereka tinggal menyesuaikan Setup Untuk bisa memaksimalkan Kelebihan dan Meminimalkan Kekurangan dari ban yang dipilihnya.

Jika Pabrikan memilih ban Soft Maka Mereka kan memperoleh Keuntungan Grip yang luar biasa bagus dan Optimal/ Efesien ( jarang spin). Namun untuk bisa menutupi Kekurangan ban soft yang durable Pabrikan Pabrikan yang memilih Soft harus melakukan setup lain seperti contohnya secara subtansial mengurangi torsi pada 3 Gear awal serta Meminta Ridernya mencari sendiri strategi teknis di Trek untuk membuat ban Bisa durable. Bisa jadi apa yang dilakukan oleh Marc di Aragon (sesuai bocoran dari aleix Espargaro) dengan tidak melakukan hard Brake adalah salah satu upaya ini.

Jika Pabrikan Memilih Ban Hard Otomatis secara teori mereka akan memperoleh keuntungan Teoretis Bahwa Karet akan lebih durable. Namun begitu bah hard ini Punya kekurangan dimana Ia tidak ngegrip ( gripnya lebih elek dari Ban Soft) sehingga pada saat berakselerasi keluar tikungan Potensi untuk menghadirkan spin akan kuat Juga. Pabrikan yang memilih ban hard Harus sadar bahwa Dengan Ban hard walaupun Durable , Jika spin terus terusan ya tentu saja lama lama akan juga merusak Ban ..  hitung hitungannya malah mungkin bisa lebih nggak durable bila dibandingkan dengan Ban Soft . .

Biasannya yang kerap ngeluarin judgement soal Ghoibnya karakter ban Soft yang secara empiris saat dibandingkan Ban hard punya kecenderungan terlalu malas untuk menganalisa sampai hal hal sejauh ini. Yang dilihat adalah hal hal makro dimana ada pembalap yang dirugikan akan ke-ghaiban dari Karakter ban Michelin sembari memberikan tuduhan maksa tanpa bukti seperti sinyalemen pemberian perlakukan spesial dorna kepada pembalap pembalap atau pabrikan tertentu. Nah, Kan karakternya udah jelas sekarang, lagi pula Jika benar itu keanehan karakter yang sering di prasangka sebagai ‘Ghoib”, Maka ghoibnya ban Michelin sebenarnya menimpa semua Pembalap secara adil, Tinggal sekarang mereka yang di Track dan Paddock yang berlomba lomba menjadi yang paling sering riset dan smart dalam menyusun strategi dan teknik meminimalisasi kerugian dan memaksimalkan hal hal yang menguntungkan dari Ghoibnya Ban Michelin. Yang bisa menguasai karakter Michelin-lah juaranya !

Taufik of BuitenZorg

114 COMMENTS

    • Alngkah baiknya mbah lejen turut meramaikan gatot subroto bersama saudara2 kita di senayan guna menyampaikan aspirasi dengan mikrofon kuning-nya. Ketimbang mengeluh soal ban

      Guest
    • ini balap motor apa balap ban ?
      seharusnya teknologi ban itu selama balap dari awal sampe akhir bisa ngegrip dan bisa awet juga.

      Guest
      • “Selama balap dr awal sampe akhir bisa ngegrip dan awet juga”

        Mau dosa takut ketawa bacanya wkwkwkwkkwkwkwkwkwkwkw…..

        Guest
        • bs bisa ngegrip dari awal sampe akhir, tapi klo soal awet ya relatif lah tergantung dari pembalapnya

          Guest
      • balap modern itu semua dianalisa mak, makanya Marquez menang terosss, karena daya analisanya bersama tim lebih tinggi dari kak Ros, pembalap masa lalu. Itu.

        Guest
      • @mamah tua
        ada istilah latin ceteris paribus yg terjemahan bebasnya adalah all else being equal, artinya faktor temperatur, cuaca, angin, kelembaban udara, karakteristik track, bahkan ban adalah sama untuk setiap pebalap. faktor yg menentukan perbedaan hasil balap adalah skill, bakat dan metodologi riset pra race untuk setup motor (data collecting, uji data, analisis data dan kesimpulan). emang ada orang yg bisa berhasil dengan cara mengeluh terus menerus?

        Guest
      • “Selama balap dr awal sampe akhir bisa ngegrip dan awet juga”

        Jadi gini bro.. Powernya dikurangin 50hp, torsinya dikurangin 40nm. Awet tuh ban pasti

        Guest
      • kalo bannya sama semua tiap balapan tiap seri, terus riset bannya gimana? itu2 aja tipe bannya gak ada pengembangan… terus balapannya jadi adu betot2an gas doang gak pake strategi per-ban-an…

        Guest
    • kak Ros bilang salah set up kemarin, klo Marc menilai di presscon, Yamaha salah pilih ban. Dan keduanya adalah benar kan klo digabungkan jadi artikel wak haji, pilih ban lunak dengan set up yang sesuai.

      Guest
    • @mamah tua
      ada istilah latin ceteris paribus yg terjemahan bebasnya adalah all else being equal, artinya faktor temperatur, cuaca, angin, kelembaban udara, karakteristik track, bahkan ban adalah sama untuk setiap pebalap. faktor yg menentukan perbedaan hasil balap adalah skill, bakat dan metodologi riset pra race untuk setup motor (data collecting, uji data, analisis data dan kesimpulan). emang ada orang yg mengeluh terus menerus bisa berhasil?

      Guest
  1. Perlakuan khusus yg nyata itu saat rossi dimasa2 sebelum one make tire,…saat rossi bisa minta ban dgn spesifikasi khusus sesuai kondisi trek terkini, tapi kayak ga ada yg mau bahas ini, apa terlalu tabu untuk diceritakan?
    Mana tau wak haji berkenan untuk bahas, seru pasti, valeban bisa keluar semua

    Guest
    • Bagus juga sih sejarah diceritakan kepada kaum milenial jaman sekarang yg doyan moto gp.

      Saya yakin mereka belum tentu tau sejarah, kenapa vr sangat mendominasi kala itu, terlepas dari skill vr emang yg lebih dari rider lain jaman itu.

      Guest
      • saat 2007 bridgestone memang sangat spesial terhadap ducati dan memang wajar saja karena ada kompetisi manufaktur ban saat itu, jadi wajar saja kalau bridgestone menggunakan ducati sebagai ujung tombak dalam perebutan gelar juara dunia? untungnya dimana? berkali kali stoner mengatakan dia puas dengan supplier ban dia (bridgestone) bahkan stoner berkata dia senang dengan hasil gamble ducati dalam memilih bridgestone sehingga bisa menang.
        jadi bukan saja rossi yg dapat treatment spesial dlm 2007 stoner juga, beda jaman sekarang, satu ecu satu supplier ban.

        Guest
    • Itu kayaknya pas awal2 era 4 tak, Rossi di Honda. Sedangkan di 2007, kayaknya ada yang ngomong kalo Bridgestone punya ban khusus buat Ducati, jadinya Stoner bisa lumayan sering menang. Tapi kayaknya itupun belum bisa dikatakan benar kalo menurutku.

      Guest
      • Isunya rame d 2007 setelah Rossi sendiri memprotes regulasi “Tyre allocation”, dan secara g langsung mengakui memang ada overnight tyre dari Michellin.

        Bahkan Stoner sendiri menanggapi protes Rossi dengan menyatakan “Mereka bisa mengeluh dan memprotes regulasi tersebut, tapi hal tersebut menunjukkan kalau Michellin memiliki keunggulan di masa lalu, Musim ini, mereka tidak bisa menghadirkan ban khusus untuk race, (dan) ini tentang bagaimana kita mengandalkan supplier yang mensupport kita untuk memperoleh hasil yang baik”.

        Dan akhirnya, Rossi pun menyalahkan Michelin. Dia menganggap strategi Michellin dengan menghadirkan overnight tyre sebelumnya menjadi batu sandungan dalam usahanya mengalahkan Stoner (again, false competitive feeling)

        Guest
    • Ya itulah uniknya Michelin, dia HANYA bisa membuat ban untuk 1 pabrikan, gak bisa paketan semua pabrikan. dan itulah yg dituduhkan kaum ABR bahwa VR dapat jatah ban khusus. ya saat itu regulasi membolehkan. 2008 VR pindah ke Bridgestone

      Guest
    • Karena saat itu memang ada kompetisi tersendiri ya di antara pabrikan ban sehingga mereka mungkin saja menciptakan ban special, yang penting bannya Juara

      Administrator
      • Sebenarnya fans moto gp generasi old dah tau lah sapa pelopor ban goib
        Tp entah watak atau kebiasaan
        Sang pelopor sering kali jadi kacang lupa kulitnya
        G dengan pabrikan , tim mekanik , fans sendri dan juga sama pemasok ban goib kusus buat dirinya
        Menilik dr sejarah habis manis sepah d kambing hitamkan
        Ada kemungkinan g motif balas dendam kepada sang itu karena mencoreng nama besar suatu brand

        Guest
        • IMO, G ada. Emang saat itu performa Bridgestone lebih baik dibandingkan Michelin. DP26 aj di pertengahan musim 2008 juga ikutan ganti ban dari Michelin ke Bridgestone.

          AFAIK, performa Michelin waktu itu juga tertolong karena overnight tyres karena emang venue balapnya memungkinkan (sebagian besar di Eropa), beda dengan Bridgestone

          Guest
    • Kala itunya, yg mana ban masih blm one make tire.
      Pabrikan ban yg di gunakannkak ros bisa mnyediakan ban dengan cepat, dalam artian saat fp di risetlah ban itu. Sabtu sore sampe malam minggu hasil riset dibuatlah ban dan mingu pagi ban dikirim via pesawat dari pabrik pusat merk ban kenegara seri motogp hari itu.

      Sayangnya ceruta itu sudah usai dan g ada lagi pabrikan yg malam minggu lembur untuk bikin formula ban baru yg sesuai dengan riset fb kak ros…

      Guest
  2. Wak, saya kok malah berpikir bahwa di race aragon kmaren si marc dan tim sedang riset ban. Riset bagaimana memanage ban soft ut race.
    Persiapan ut menghadapi taun depan.

    Guest
  3. Makanya salah satu tim besar harus segera rekrut si insinyur muda,meng analisis power hanya lewat video aja bisa,apalagi cuma menyimpulkan karakter para ban Michelin lewat data yg sudah ada mah kecil ?

    Guest
  4. “Saya sudah memahami dari beberapa race sebelumnya, bahkan tahun kemarin, kl dengan Michelin kita herus memahami (karakter) ban. Michelin hanya memberikan (daftar) angka atau code dan tentu saja bahwa ban tersebut soft atau hard, tapi kita juga harus memahami suhu, kondisi track, kondisi aspal, dan kemudian memilih yang memberikan feel lebih baik. Itu yg selalu saya lakukan saat sesi latihan. Atas kondisi tersebut kami banyak bekerja dengan banyak lap untuk tiap ban. Itu cara terbaik untuk memahami kompon mana yang terbaik untuk motor kita” Marc Marquez di sesi after race press conference. Itu sebabnya sesi balapan bagi Marc dimulai dari hari jum’at.

    Dan Dovi pun mengamini hal tersebut, “Saya pikir, kita harus merubah mentalitas kita, pola pikir kita saat menggunakan Michelin. Ini tidak seperti merek lain sebelumnya dimana kompon yg lebih keras lebih konsisten, tapi lebih lambat. Memahami bagaimana ban bereaksi terhadap kondisi adalah kuncinya. Seperti yg Marc bilang, kondisi ban bergantung pada temperatur di lintasan, temperatur di udara, yang terkadang (perbedaan) sepuluh derajat, lima belas, dua puluh derajat bisa merubah karakter ban. Kita harus bisa memprediksi dan memahami. Tidak selamanya mudah, tapi seperti itulah bagaimana (ban) Michelin bekerja”. Bagi sebagian, melihat Dovi ganti ban beberapa saat sebelum warm up lap dimulai, mungkin akan diartikan Dovi menyontek Marc. Tapi bagi saya, itu keputusan yang diambil Dovi (mungkin timnya) setelah mempelajari kondisi track saat itu.

    Guest
      • Berarti.. Bagi mm93 dan dovi.. Sekalipun nanti seandainya micelin di ganti fdr.. Mereka tetap bisa memaksimalakan bannya selama race..
        Yg jadi pertanyaan.. Knapa swlama beberapa musim.. Yamaha masih belum menemukan kombinasi ban yg pas buat motornya saat race.. ??
        Apakah risetnya kurang.. Atau ada data yg tak tersampaikan kepada enjiner yamaha swhingga problem masih selalu sama..??

        Guest
        • IMO, karena Yamaha belum menemukan formula yang pas terkait power delivery.

          Dengan in-house ECU yg dulu awalnya dikembangkan Andrea Zugna , Christian Battaglia , dan Carlo luzzi dan kemudian projectnya diambil alih oleh tim engineer Iwata, ECU YZR-M1 dikenal memiliki algoritma yang kompleks yang bahkan dapat mengupdate electronic strategies untuk mengakomodasi fuel consumption dan tyre wear per lap berdasarkan feedback dari motor.

          Setelah ada regulasi unified ECU, Yamaha tidak bisa lagi menggunakan algoritma yang sama walaupun ECU-nya masih sama-sama Magnetti Marelli. Krn unified ECU tidak sebatas hardwarenya saja, tapi termasuk alogritma yang dikembangkan berdasarkan usulan algoritma dari masing-masing team.

          Selama engineer yamaha belum bisa menemukan solusi atas masalah ini, kecil kemungkinan rider Yamaha bisa mengeksplore tiap sesi latihan untuk mempelajari karakter ban untuk hari minggu.

          Guest
        • @jono
          Di garasi Yamaha pernah dipergoki terlihat mantan pekerja magneti marelli yg udah kerja di Yamaha juga kok di tahun ini

          Guest
        • Selain mantan pekerja magnetti marelli, semoga setelah berhasil merekreut Marco Frigerio dari Ducati, Yamaha bisa menyelesaikan masalah electronic YZR-M1

          Guest
  5. Justru saya salut pendapat MM yamaha salah besar pasang ban hard kemarin. Sedangkan honda yg justru memiliki power liar pakai ban soft. Terlepas dr gaya balapnya MM yg tak banyak pakai rem blkg, tentunya mesin i4 harusnya gak perlu sampai memakai ban keras kalau bisa dan explore speedcorner. Kecuali saat cuaca extra panas,beda crita. Apa mreka tak tak tes pace race plus ban saat FP? Ini keunggulan MM lainnya yg hrs ditiru pembalap lain. Cuma pendapat

    Guest
  6. Masuk sekali keterangannya wak haji, selain tim teknis yg jago setting juga dibutuhkan pembalap yang cerdas dalam menganalisis tiap racing linenya di sirkuit jd gak asal betot gas dan tarik rem aja.

    Guest
  7. Woo.. siapakah pembalap malas itu? Yg biasa hardbrake dan pke ban rear hard jadina spin terus. Ud gitu ga mau adaptasi pke ban rear soft. Jadinya ngeluhnya sama terus tiap balapan.
    #check

    Guest
  8. Sebenarmya ini udah kliatan superiornya rcv, riset ban ada di free practice, long run dengan jumlah lap diatas rata2 mesin lain, semakin banyak lap yg di tempuh maka akan semakin berkurang jatah kilometer yg ditempuh maksimal dalam 1 mesin.
    Kira2 mesin2 team lain selain hodna apakah berani kasib garanty jiga semakin banyak long run mesin akan tetep konpetitiv dan tanpa mengurangi jatah alokasi mesin tiap2 team pabrikan..
    Hgigigigigiigi

    Guest
    • Dih saya ko ga kepikiran ya, dengan lebih banyak long lap, otomatis waktu pemakaian sebuah mesin jadi berkurang, .
      Nice info

      Guest
    • tapi bukannya biasanya setiap rider membawa 2 alokasi mesin tiap race…?
      wak haji kadang ngasih artiker tentang pemakaian mesin tiap race, dan selama satu gelaran Grand Prix 2 mesin itu dipakai bergantian…

      misal saat free practice, rider pakai 1 mesin fresh yg dibuka untuk “running in” dan simulasi long run…
      di sesi kualifikasi/race, rider buka mesin yg lain atau bahkan pakai “used engine” dari race sebelumnya yg waktu pemakaiannya masih terhitung banyak…

      tapi untuk pabrikan yg membangun paket motor dengan pondasi mesin kyk honda, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka memang punya paket power unit yg lebih durabel…

      Guest
      • @ ramuro iyaa ngerti.. tapi ujung2nya alokasi mesin kan dijatah sama tho..??
        Toh umur mesin dipakek sekian kilometer, liat markes klo lagi fp pasti long run, dan mungkin melakukan lap paling banyak diantara pembalap pabrikan yg laen. Dan itu berbanding lurus dengan durabelnya mesin ngonda tul ga?

        Guest
  9. Mincrit di tabok artikel… pppffffftttttt ?

    Bahas juga Wak soal statement Quartararo juara karena lebih pendek dan kurus dari VR46 & Morbidelli21

    Ditunggu

    Guest
    • Berarti jaman michellin ini lebih nyudut ke rider yang bertubuh kecil dan ringan, dan akan sangan merugikan dengan rider bertubuh besar plus lebih berat.
      Karna jika sama sama make ban soft otomatis yang terberat yang lebih cepat aus??
      Cocok berarti dengan rider rider asia yang bertubuh kecil, wahahaha

      Guest
    • dari pengalam ane nih: pke bridgestone s20 evo rs10, s22
      bridgestone: pilot power rs, pilot road 5
      pirelli: diablo Rosso 2, supercorsa punya di motor teman
      Bridgestone: ban depan sangat spesial, cepat panas kompon ban balance tidak cepat habis ban belakang cuman pendukung aja, kadang sering selip yg belakang
      michelin: durablenya ga main main kalau bridgestone 13000km abis michelin bisa 25-30. 000 bahkan power rs bisa 15000an km ban belakang spesial ban depan b aja
      pirelli: harga paling mahal paling cepat habis, ban paling banyak karbon dan silika nya, 6000abis 8000km kalau awet dalam gas nya ban depan belakang sma sama bagus cepat panas tp cepat habis kalu dipakai Turing jauh bisa overheat handle nya jadi aneh.

      Guest
      • Bener nih pake Pirelli semakin lama jarak tempuh perjalanan / panas apalagi musim panas gini terasa banget jadi terasa licin gak bisa handling seperti saat dingin

        Paling nyaman pake Bridgestone, mulai dari BT 39, BT 45 sampai sekarang pakai Bridgestone Matic buat turing jauh keadaan panas atau dingin handling gak berubah signifikan

        Kalo merek M belum nyobain udah nyaman dengan B

        Guest
  10. resenya M itu ya soft tapi bukan soft…hard tapi bukan hard..
    beda ama B klo soft ya soft..hard ya hard…

    makanya si M ga pasti….jd kebanyakan riset maning….tiap menit harus cek suhu aspal…beda 2-3 derajat aja udh bikjn masalah…sampe salah pilih ban..ya udah terima disalip….

    Guest
    • @pakkindir
      apakah karakteristik M yg seperti kau sebut itu hanya berlaku untuk 1 orang pebalap, atau semua pebalap di grid?

      Guest
      • jelas semua…bukan membela pbarikan Y si H aja waktu nonton dr videopass berapa x aja teknisinya nusukin alat ke aspal depan paddock…takut sampe salah data buat kasih informasi ke tim…

        Guest
        • @apaansih : Pakkindir cuma mengungkapkan kekesalannya kalau Michelin itu bikin rese karena terlalu belibet cuma buat menentukan pembalap mau pake kompon apa saat race nanti. Jangan jadi kompor ah ente.

          Guest
    • Ya kalau cuma 1 pembalap yg menggunakan okey lah ngeles kayak gitu
      Tp kenyataan semua pembalap mengalami situasi race ( suhu , angin , karakter aspal) dan qualitas pasokan ban yg sama
      Balapan moderen g sesimpel moto gp generasi old asal dapet motor power full y juara

      Guest
    • @fbs sejati
      apa ukuran untuk menilai kualitas ban itu rese atau engga? semua pebalap tetap turun balap, yg artinya secara hukum mereka menerima, tunduk dan patuh rules of engagement dari dorna. sebutkan pebalap yg bilang ban michelin rese sampai pada taraf mengganggu! kalo dirasa resenya ban sudah sampai taraf mengganggu, mereka bisa complain, bisa boycott, bisa mengajukan tuntutan hukum, sudah adakah?

      argumen pake otak dong, masa pake kompor? give me a break!

      Guest
      • Mungkin yg dimaksud ‘rese’ pakkindir setiap tim jadi harus set up motor bukan cuma ke karakter sirkuit aja,set up nya lebih kompleks kya yg disebutin masbro @A1M1N diatas. Mungkin krn michelin juga marc jd smpet ngalamin rambut rontok, dan kyanya krn michelin jg marc skrg jd rider bunglon yg bukan cuma beda sirkuit,di 1 race pun marc bisa jadi bunglon (komentar jonas folger tentang marc selesai race motogp sachsenring 2017)

        Guest
        • @apaansih : simpelnya udah dijawab ama @Ghaza Atara. “Rese”-nya ya karena pembalap harus ganti mindset dan faktor yg menentukan performa ban ketika race jadi lebih banyak. Bisa jadi dari data yang ada, pembalap harusnya pake SOFT, tapi bisa jadi karena ada something else in mind, ketika race jadi pilih ban MEDIUM. Lihat aja lah bahasan pasca race wak haji. Di Austria aja Dovi sampe gambling bikin taktik on-the-spot habis ngeliat ban MM93. Itu baru satu contoh. Dulu apa sampai begitu? Nggak kan? Yang mau mikir pusing okelah masih bisa terima. Yang gak mau dan gak bisa mikir lagi kek si itu, nyalahin tim nya.

          Guest
  11. mantap artikel buat nabokin kaum denialis bin butthurt. jangan kasih kendor wak, kaum penggiring opini sesat memang harus diberantas di blog ini, jangan kasih napas buat menyebarkan hoax dan kesesatan. ✊?

    Guest
  12. ban ghoib cuma sering muncul di ig komenan dr kaum abm yg denial dg kedigdayaan marc skrg tanpa melihat parameter2 lain, pokok marc menang bilang aja ban ghoib wkwk

    Guest
  13. mendengarkan podkes lebih nyaman, bisa sambil tiduran. terbayang saya barusan opertaking si ‘itu’ di tikungan sambil ban belakang saya angkat-angkat sambil makan pisang goreng. hehe..

    Guest
  14. wak sebenernya apa aja tugas orang michelin klo di tiap paddock tim gt..ya salah satu contoh aja selain yg mainstream..

    Guest
    • sampean pengen tahu ??
      tugasnya yang anti-mainstream salah satunya adalah tebar pesona dan menggoda gadis payung di paddock mas. hehe..

      Guest
  15. sampean apa pelihara ayam mas Taufik ??

    ayam e tereak-tereak apa sampean buat podkes sambil kasih ayam makan kali ya ?? hehe..

    Guest
  16. mt mlm wak…salam kenal slama ini cuma liatin doang yg koment….ban ini sperti beti” laah….dari soft ke hard sy pikir itu d bagian tengah ban klo d sisi ny antara yg soft atw hard beda tipis….jd rider2 ducati/honda yg d kata besar power ny sangat d untungkan dngn plihan ban tsb!….pabrikan Y” yg mngandalkan kcepatan d tikungan ban itu akan hancur d sisi trlebih dahulu.

    Guest
  17. Ini mungkin berkaitan banget dengan artikel pasca race aragon dimana mm93 punya 2 mode. Ini berkaitan banget dengan karakter michelin. Hebat banget tuh mm93, makanya kemaren dia pake soft dan main speed corner

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.