TMCBLOG.com – Jika Fabio Quartararo bisa cepat diatas Yamaha M1 adalah salah satunya karena ia sangat percaya dengan Motor tersebut. Fabio Juga sangat percaya pada kemampuannya untuk mendeteksi limit ( dengan akurasi tinggi) dari Traksi ban. Sehingga jika ia rasakan traksi masih jauh dari limit maka ia akan terus Gas. Fabio Quartararo dari awal lebih berfokus pada diriya sendiri untuk mencari Riding style paling efesien untuk mengendalikan Yamaha M1. Hasilnya, Fabio Quartararo memang fenomenal, beberapa Kali Pole Possition, beberapa kali juga fight sekaligus di Tekan oleh Marc Marquez dari dekat. Namun secara umum Maverick Vinales lah sampai Seri ke 18 MotoGP 2019 yang tampil sebagai Pembalap Yamaha Terbaik secara perolehan angka Point dimana gelar ini disinyalir kuat akan bertahan bahkan sampai Seri Valencia 2019 nanti.

Maverick Sendiri hadir di Seat Yamaha M1 semenjak 2017 dan tmcblog melihat memang, walaupun tak secepat dan se-adaptif Marc Marquez, Maverick Vinales memiliki muyul atau kecenderungan sebagai rider-developer. Tahun 2019 ini Maverick Vinales bisa sobat lihat di beberapa race Seri terakhir sudah bisa melakukan apa yang biasa Marc Marquez lakukan Yakni seperti tidak melakukan time-attack di FP2 dan menggantikannya dengan Riset Pemakaian ban. . . ini sudah tanda tanda dimana apa yang dilakukan Maverick tidak dilakukan Oleh Rossi, Quartararo maupun Morbidelli. . . He is different !

Secara umum salah satu syarat utama dari seorang pembalap MotoGP bisa Fokus melakukan Hal hal riset seperti itu adalah karena keadaan ia , Motor, dan team sudah lebih settle. Dan boleh dibilang memang Maverick Vinaleslah Pembalap Yamaha Paling ‘ settel’ saat ini. Ia sudah menemukan Base-setup mesin-sasis semenjak Seri MotoGP Catalunya 2019 sehingga semenjak itu Maverick bisa fokus sedikit demi sedikit ke upaya menemukan riding feel lebih efesien, nyaman namun tetap bisa kencang di atas Yamaha M1 . . . atau boleh dikatakan setelah Catalunya, Fokus development Box MV12 lebih terfokus ke dirinya.

Dengan alasan di atas, Sangat Jarang Maverick mau melakukan perubahan radikal dari Motornya karena memang ia dan team sangat Yakin bahwa perubahan radikal seperti penggantian model muffler, swing-arm carbon dan lain lain akan merubah segala Feel yang telah ia bangun dan ia temukan Base-setupnya semenjak Catalunya 2019.

Kunci lain adalah soal Set-up Elektronik. Secara umum Yamaha sampai Seri ke 18 ini sepertinya telah lebih baik dalam Hal pencarian setup Software Magneti Marelli, Patut sobat catat hal ini diperoleh setelah Yamaha Mulai 2019 ini membentuk satu divisi khusus Untuk Riset Elektronik yang diketuai oleh Michele gadda. Yes baru itu, belum lagi tahun 2020 nanti mereka akan kedatangan sosok Ahli elektronik yang cukup ngerti soal Magneti Marelli yakni Marco Frigerio, Teknisi elektronik yang saat ini menangani Jack Miller di Pramac Ducati dengan Ducati Desmosedici GP19.

Yes Soal elektronik saat ini di Box Valentino Rossi adal Matteo Flamigni sementara di Box Maverick Vinales hadir jagian elektronik Italia lainnya Yakni Davide Marelli. Menurut Marelli karena secara umum riding style Maverick Berbeda dengan Vale, begitu juga postrnya, maka penanganan Elektronik Bagi Maverick Pun berbeda. Misalnya saja walaupun Maverick sudah menemukan base-setup, namun masih tetap ada permasalahan Maverick yakni di Saat Awal race. Jika persoalan Ini terleselsaikan , maka bukan Tidak mungkin Kejadian Di Awal race Sepang akan terus kejadian di sepanjang Musim kedepan dan 2020 nanti dimana Maverick tetap kuat semenjak awal race.

Davide Marelli : “ Sejauh yang diperhatikan oleh Maverick, akhir-akhir ini kami banyak fokus pada fase pengereman, karena (Ia) mengalami kesulitan di awal balapan dengan tangki penuh. Hal ini membuat ia bisa mengatasi rival, jadi kami banyak fokus pada pengaturan untuk pengereman. Jelas kami juga bekerja pada setup penyaluran torsi ke ban belakang untuk bisa bikin durable ban dan dapat menyelesaikan balapan dengan sedikit margin (tanpa membuat Kompin Grip habis). Ini adalah bagian yang penting dari pekerjaan kami, Sekarang Maverick telah membaik, tetapi kami masih memiliki beberapa margin “.

Dari apa yang dikatakan Oleh Davide Marelli, terlihat memang bahwa minimal ada dua PR Elektronik di sisi Box Maverick yakni bagaimana setup pengereman saat tangki bbm masih penuh dan mengahdirkan upaya meminimalisasi spin ban belakang yang seama ini membuat Ban Overspin/ membuang buang kompin karet yang muaranya membuat Grip ( ban belakang) tidak bersisa sampai akhir Race .

Fabio Quartararo memang memiliki kecepatan fenomenal, namun Secara umum Maverick Pembalap terkuat Yamaha adalaah Maverick Vinales. Ia seperti memiliki Modal Kuat untuk membuatnya Percaya diri dan bisa melakukan aksi aksi development apa yang selama ini bisa Marc Lakukan. Maverick Vianles secara umum tidak malu malu mengakui bahwa ia menonton ulang banyak sekali Video Marc Marquez untuk mengetahui seperti apa Ia bisa secepat itu, ia konsern terhdap Developmentnya, Ia punya kepercayaan diri dan idealisme dalam Development sampai sampai berani menolak pemakaian Part baru seperti swingarm carbon dan lain lain. Ke  depan 2020 yamaha bukan hanya berhadapan dengan tantangan Development, mereka juga akan menghadapi tantangan silly season dimana Maverick Vinaels diberitakan Lin Jarvis sedang dibidik oleh Dua pabrikan Suzuki dan Ducati untuk bisa digaet menjadi Pembalap Mereka di 2021 nanti. Oleh karena itu pasca 2021 Lin jarvis bahkan sudah mereveal skenario lain jika memang benar Maverick akan hengkang . . Yakni menandemkan Fabio Quartararo dan Valentino Rossi.

Taufik of BuitenZorg

93 COMMENTS

    • Agak tidak adil membandingkan MV12 dgn FQ20 secara performance. Ok MV top rider yamaha saat ini, tp FQ cukup menjanjikan.

      MV12 sudah tahun ke 3 diyamaha and tahun ke 5 di motogp, FQ12 rookie dengan motor satelit

      Wait and see apa yg bisa dilakukan FQ.
      Mungkin bisa seperti stoner dulu
      #mungkin

      Guest
      • Terkadang menggadai ‘hasil yg sudah ada’ dengan ‘sesuatu yg menjanjikan’ itu gak baik.

        Mirip-mirip kayak melepas Hohe ke Dukati dulu.

        Hohe sangat tajem dgn M1. Sangat disayangkan dia bisa lepas dari YFR. Selepas dia pergi versi M1 alih-alih punya horsepower lebih, yg ada malah makin kental “spinning ban”.

        Guest
      • Sekarang basis setup ‘mungkin’ YFR percayakan kepada MV12 yah…

        Hasilnya, race duo rider YFR better. Seenggaknya itu yg saya liat di Sepang kmrin.

        Ada yg ngeh gak sih kok tumben-tumbenan Mbah Rossi bisa attacking sesering itu tanpa keborosan berlebih di bannya (sampe last lap masih punya posisi lumayan P4)?
        Malah yg ada Dovi yg boros ban.

        Bisa jadi development ‘ala Vinales’ adalah jawabannya.

        Udah begini, masih yakin mau digadaikan ini Vinales? 🤣

        FQ benar fenomenal, tapi era MotoGP modern ini YFR lebih butuh developer macem Hohe untuk dapet jurdun.

        Kalo mau win-win solution. Tubuh YFR diisi oleh 1 developer handal, dan 1 pembalap fighter fenomenal.

        Guest
        • Ngomong apa bro. Fakta cuma rcv nya marques yg melesat. Rcv yg lain kedodoran melulu. Lha kalo m1 semuanya kompetitif ke empatnya.
          Jadi yg super itu rider mm93 nya.
          Paham mbah..

          Guest
  1. Hengkang atau tidaknya vinales tergantung situasi di awal musim depan, dimana yamaha akan bawa mesin baru dan mungkin vale sama vina beda pendapat lagi soal mesin. Tergantung pendapat siapa yg lebih didengar

    Guest
    • Selama rosi masih mau balapan.yamaha pasti akan mempertahankan rosi.rosi itu masih bisa untuk ikon jualan yamaha.ntar kan bisa dijadikan tagline nya yamaha.” Kakek2 41 tahun aja nyaman pake motor yamaha untuk balapan,motor lain nggak bisa.jadi yamaha motor yg nyaman untuk kakek2🤣

      Guest
    • intinya mereka butuh power lebih dan power delivery yang bagus. race sepang kemaren menunjukkan kelemahan yamaha, terutama di sirkuit yang ada track lurus sebelum finish 😅 rossi late braking sampe mencret pun, tinggal digas sama Dovi di straight pasti kesalip 😅 udah masuk area slip streamnya Desmo pun, M1 masih ditinggal jauh 😅 kasian para pembalapnya, harus bisa ngacir kalo mau menang 😅

      Guest
      • Motor inline itu kalo jambak-jambakan akselerasi versus mesin V4 bukannya menang, malah boros di ban. Karena basis mesin inline itu SMOOTH.

        Kalo mau garansi juara dgn mesin inline harus mainin race pace yg kencang namun konsisten. Metoda “turing” ala paduka Hohe dan Vinales (Sepang) itu udah paling tokcer daripada adubetot, ama Dukati pula.
        Hadeh…. 🙄

        Guest
    • Kalo kata matteo, 2021 mungkin vinales cabut ke ducati
      yamaha tetep dengan rossi, ditambah fabio naik ke factory

      Gambling pindah dari motor “mudah” ke motor yg menuntut fisik
      Yg udah2 inline ke v4 akan stragle

      Guest
  2. tahun depan langsung tambah power yg banyak, divisi ECU magneti marelli udah mantap kan? paling kalo udah kompetitif, tahun depannya ganti ECU lagi 😅 kebiasaan tukang 0prek regulasi 😅

    Guest
    • Minimal kalo ganti ECU lagi mereka udah tahu yg harus jadi prioritas adalah punya engineer yg tahu seluk beluk ECU nya

      Guest
    • seolah olah yamaha tidak ikut menikmati dengan adanya perubahan dr ECU inhouse ke single ECU+software…ingat NGM forward..#41+#5..😁😁😁😁

      Guest
      • What? 😀 baru tau yamaha yg kompetitif pake bridgestone dan software inhouse diuntungkan dengan ecu mm dan michelin 😀

        Guest
        • Lha emg semua pabrikan gak pake ecu mm dan ban michelin…
          Kayaknya juga baca artikel wak haji tiap hari…
          Tp koq ttp… 🙈

          Guest
        • Berarti ada artikel yg kamu tidak baca 😀 soalnya ducati sudah lebih dulu menggunakan magneti marelli, dan honda juga lebih awal membajak teknisinya ducati 😀

          Guest
  3. Setelah baca lagi, baru ngeh teknisi elektroniknya si vina ternyata punya nama marelli 😂
    davide marelli ini jangan jangan cucunya ercole marelli

    Guest
  4. nah itulah salah satu kerugian tim factory, yg slalu mencoba part baru lbh dulu, apes kl part nya gk bkrja dgn baik sprti yg dhrpkan..
    jk motor lbh settle emg bs pny wktu lbh untuk riset ban dsb, tp bkn brarti smbalap yg lain gk riset ban, lha yg riset ban dr jumat-sabtu aj bgitu hr minggu bs brtolak blkang hasilnya, kayak miller, taro, sm cal curut… ap lg yg gk riset ban…

    Guest
  5. Jd inget 2017 saling cemburu arah development. Tp di 2017 justru masih jadi tahun terbaik mavrik dengAn 3 kali menang. Dan 2018 jd tahun terburuk.

    Guest
      • Di warung yg biasa jas jes jos qtaro, ga ada berita vina menang di sepang. Kayanya vina juga ga dianggep oleh fby 😂

        Guest
      • Yamahah sibuk mengenang kejayaan Tino yg zoonk 10 tahun dripada melihat pembalap muda potensial.. mngkin bener kata sales yg penting marketing juara nanti2 aja. Kalo honda yg penting juara Market sma sponsor ngikutin

        Guest
  6. Dari tahun kemaren. Udh bilang Yamaha Sudah dalam Track yg benar tpi Musim Ini dari 18 seri baru 2x Yamaha Menang . Sekarang Bilang udh punya Base Set up tinggal Nunggu Perkembangan Tahun depan apakah Ada kemajuan Atau Tetep medioker ? atau Si itu Bakal Out buat diganti Yg muda ? Saya Rasa Tidak 🤣

    Guest
    • Petinggi yfr sampe minta maaf di presscon, ampe mundur jg, sungguh tau diri memang petinggi yfr ini 👏👏👏

      Guest
    • Yg jadi catatan saya, yamama masih ckup bertaji di paruh pertama sebelum seri eropa di beberapa tahun belakangan. Dan ketika Masuk ke eropa mulai kambuh nya milih milih track. Kita lihat saja 2020 apakah Akan jd lagu lama Kaset butek atau emang sudah full 1 musim tanpa problem.

      Project lead yamama Mone jg bilang tidak mudah menyeimbangkan antara power Dan kesetabilan. Cmiiw

      Guest
        • Dia mau diapain juga udah terlanjur jadi living legend 😀 kalo vinales emang udah terbukti jago 😀 tinggal konsistensi doang 😀

          Guest
  7. waktu diinterview jg kata si mav skrg dia udah lebih fokus ke menyesuaikan gaya balap dirinya ke motornya daripada mendevelop motor atau mengharapkan parts2 baru yg ternyata belum tentu menyelesaikan masalah. mencoba gayanya mm nih kayaknya dan sepertinya memang berhasil wak

    Guest
  8. Kalau untuk balapan & ngejar juara sepertinya lebih berpeluang MV & FQ
    Tapi entah apa yg dipikirkan yamaha jika lebih memilih VR dibanding MV ? 🤔

    Guest
    • Tergantung Jarvis sma Yamaha. Mau hidup mengenang Masa lalu dgn sembalap top tapi Zonk 10 tahun,penuh pengalaman tapi udh 40an tahun .apa mencoba membuat sosok Baru muda berbakat penuh gairah namun Berada di Era Emasnya MarQuez.??

      Guest
  9. Jarvis ni keliru kalo buang Vinales. Ntar nyesel Kek ducati lepas JL. Hilang arah lagi. mM dominan lagi. Jdi dulu waktu Rossi abis dri Ducati bilang kalo gak diterima Yamaha dy bakal pensiun smpe sujud2 spy diterima lagi meski yg lain nolak. Eh yg nerima si Jarvis .dibisikin Dorna.

    Guest
  10. Tergantung Jarvis sma Yamaha. Mau hidup mengenang Masa lalu dgn sembalap top tapi Zonk 10 tahun,penuh pengalaman tapi udh 40an tahun .apa mencoba membuat sosok Baru muda berbakat penuh gairah namun Berada di Era Emasnya MarQuez.??

    Guest
  11. Yamaha bnr2 tolol klo membiarkan vinales pergi. Bnr2 tolol! Bertaruh utk rider baru yg katanya ‘fenomenal’ tp blm bisa juara seri. Dan bertaruh utk rider uzur yg hampir ‘kadaluwarsa’.

    Guest
  12. Ada yg play victim. Mencoba bermuka dua 🤣😂. Mo gonta ganti akun pun tetap akan keliatan dr gaya bahasa dan cara counter attacknya 🤣😂 .. sayangnya editor disini gak mo buka kartu AS nya nih… 🤣

    Guest
  13. Pembalap developer, wak? Saya ndak setuju.
    Lebih ke sembalap ahli lego (mainan bongkar pasang).
    Sembalap developer ya kayak AR42, wak.
    Dengan gaya balapnya yg classic, ituh motor ketahuan kelemahannya dimana. Kalau MV12 ama FQ20 ya balik lagi, naik motor yang bisa nutupin aib sembalapnya.

    Guest
  14. Sang pipel cempion jangan pensiunlah…nggak ada bahan bulian lagi entar. Nggak ada lagi si kambing yang selalu…ngah ngah ngah…ngah ngah ngah…ngah ngah ngah

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.