TMCBLOG.com – Musim 2019 bagi Yamaha MotoGP adalah semua Musim Dimulainya kembali suatu tatanan Komunikasi dan SOP Kerja baru di team dimana Takahiro Sumi, project manager Baru Yamaha Factory racing dan Hang Ito General Manager Baru membawa titik balik Modus Operandi baru di Box Yamaha Baik team factory maupun Satelit juga Soal Komunikasi antara team dengan Pabrikan di Jepang. hasilnya ? Cuikup Positif dimana Fabio Quartararo melesat menjadi pembalap Satelit terbaik dan Rookie Of The year dengan 6 kali Pole Possition. Maverick Vinales berhasil menggeser Rins di akhir Musim dan menempati posisi 3 Klasemen Championship.

Namun begitu di beebrapa race Musim 2019 terlihat beberapa Kali Juga top speed yang merupakan aktulisasi fisik dari Power Maksimum yang dihasilkan daput pacu Mesin Inline 4 Yamaha M1 dengan mudah di tekuk oleh Motor motor bermesin V4 seperti Ducati Dan Honda. “Humiliate ” dan ” embarrassed “ adalah dua kosa kata yang sering dikatakan Oleh Komentator Dorna ketika memandu Race saat Baik Ducati maupun Honda dengan Mudah overtake Pembalap Yamaha di straight.

Para Pembalap Yamaha seperti misalnya Valentino Rossi sendiri kerap kali berharap Yamaha segera meningkatkan performa Power dari Motor mereka sehingga dapat berjibaku dengan Hodna dan Ducati di titik manapun sirkuit. Di test Valencia dan Jerez yang lalu pun dari segi top Speed, Motor generasi sekian dari Yamaha M1 2020 meiliki top speed masih kalah sekitar 10 km/jam dari top speed Ducati maupun Honda.

Merespon Permintaan ini Lin Jarvis berkata kepada MotoGP.com : ” Pertama tama, Kami telah memperbaiki kesalahan yang lalu dan ini telah menempatkan Kami pada Jalur yang abru. Dan menurut saya, Kita dapat melihat bahwa di paruh kedua dari Musim (2019) dmana pada dasarnya Hampir di setiap Sirkuit, Kami memiliki empat pembalap Yamaha di Posisi Grup terdepan, Dimana ini menunjukan bahwa kami semakin kompetitif “

” Kami masih kurang di suatu hal, Khususnya di Power. Kami kurang di Kecepatan Maksimum dan ini membuat hidup pembalap kami lebih sulit dibandingkan Honda dan Ducati. Di Saat race mereka dapat memanfaatkan keuntungan di area lain, Namun sulit untuk bercita-cita untuk menangΒ  “

” Level Kami sama ( dibandingkan tahun 2018) Namun kami lebih optimistis dibandingkan 12 Bulan yang lalu ( awal Musim 2019). Dan menurut saya tujuan utamanya adalah untuk memperoleh paket ( yamaha M1 ) Yang bagus secara keseluruhan, kami nggak mau memenangkan Top SPeed dan kalah di area Lain. Kami harus bekerja di area Aero dinamika dan akslerasi “

Kalo dipikir pikir, mungkin Lin ada benarnya Juga, waktu valentino Juara dunia dan waktu Jorge Lorenzo Juara dunia Yamaha M1 juga bukan merupakan Motor yang tertinggi top speednya, namun secara keseluruhan kala itu Yamaha M1 merupakan motor yang memiliki eprforma tinggi yang seimbang di segala Area . .Kalo menurutmu gimana sob ?

Taufik of BUitenZorg

71 COMMENTS

  1. Masalahnya, RCV MM powerful di tikungan dan straight juga… Masa Yamaha gamau ngimbangin top speed RCV? Ya kalah atuh

    Guest
  2. Dulu yamaha all rounded bike
    Sekarang keenakan dengan sebutan motor nyaman
    Eh sekarang malah ngejar kenyamanan(user friendlyness)
    Allrounderness nya ditinggalin

    Guest
  3. Tapi bukan berarti yamaha boleh terus”an kalah di top speed, karena usaha ridernya jadi sia” ketika disusul di trek lurus. Ingat kata om Takeo di artikel lain ada dua momen dalam balapan. “Yang pertama adalah momen dimana Skill Rider lebih dibutuhkan dan di momen kedua adalah momen dimana Rider tidak bisa mengerjakan apa apa lagi untuk Bisa lebih cepat dari Pembalap Lain.”

    Guest
  4. Masalahnya ketika Yamaha juara dulu, pabrikan lain belum siap baik motor dan pembalapnya. Dan dalam jangka waktu relatif lama regulasi tidak berubah ekstrim. Namun lain halnya dengan pabrikan lain yg baru menemukan perfoma terbaiknya terjadi perubahan regulasi lumayan besar. Misal sekian lama 800cc honda baru menemukan perfoma terbaiknya, setelah sekian tahun dibawah Yamaha (stoner 2007 juara dgn ducati 800cc, dan menutup era 800cc dengan meraih juara dgn honda 800cc di 2011), berubahlah kapasitas mesin jd 1000cc. Entah benar atau tidak…

    Guest
    • Benalu pengen ini itu tpi tenaga udah Loyo
      Yg herannya ga tau diri masih aja ngejar gelar ke 10, sebenarnya ga akan jadi masalah jika podium 2 masih bisa di capai ya minimal 4-6 podium, jika hnya 1 podium permusim ya mustahil jga
      Mayat hidup motogp ini Harus beli cermin yg bnyak, biar tau mukanya udah kriput

      Kebnyakan selfie pake hp yg memiliki AI beauty
      Jdi brasa awet muda

      Guest
  5. ” Level Kami sama ( dibandingkan tahun 2018) Namun kami lebih optimistis dibandingkan 12 Bulan yang lalu ( awal Musim 2019). ”

    hmmmm jadi keinget quote nya ro55! yg 12 bulan lebih muda atau tua itu πŸ€”

    Guest
  6. Titik masalahnya itu di top speed, dan jalan menuju kearah itu memang sangat banyak, bukan hanya power motor saja, kalo soal power motor sih mirip mirip antar pabrikan, hanya sebaran dan grafik torsi di setiap putaran mesinlah yang membedakannya.
    Kalo ingin power motor tinggi, gedein aja torsi di putaran tinggi, tapi konsekuensinya ada yang dikorbankan biasanya, misal torsi di putaran rendah tidak besar, kecuali aplikasi variabel valve, itupun perpindahan derajat dan tinggi bukaannya nggak mulus mulus banget, makanya dikurva torsinya suka ada lendutan ke bawah dulu, baru naek lagi. Atau dengan gedein tekanan kompresi setingginya, putaran bawahnya masih bisa bejaban.
    Yang penting sih torsi di putaran bawah jangan sampe jadi senjata makan tuan (over slide) dan baru umbar power di putaran tengah-atas, baru pikiran sasis yang cocok untuk gaya tekan yang dibutuhkan ke jalan, sudah itu baru deh aerodinamika, semua itu dicover sama sistem elektronik yang dibutuhkan. Plus input sembalapnya

    Guest
  7. btw soal akselerasi, bukankah pemilihan Crossplane crankshaft itu bisa meningkatkan torsi ya? yg muaranya ke akselerasi, coba deh baca artikel yanana berbulu domba beberapa bulan lalu. kalau iya kenapa g top speed saja yang di kejar? atau memang dengan Crossplane crankshaft susah mengkail top speed?

    apakah memang Crossplane crankshaft sudah mentok g mampu menandingi akselerasi motor v4?

    menurut saya yg hanya penonton awam motojipang, yanana harusnya berkutat dengan masalah spin ban belakang dulu dh
    lawong dari jaman kepergian jolor tu penyakit kagak sembuh2
    baru pikirkan masalah penambahan torsi dan hp
    karena kalau terus mengkail torsi atau hp tapi masalah spin ban belakang masih ada terus, menurut saya percuma, karena ban belakang sudah habis duluan akibat spin berlebih

    masa kalah cepat pengembangannya dengan Suzuki yg terus naik tanpa gembar-gembor abcdefg

    Guest
    • nah ini apakah mungkin crossplane uda versi final dari inline yg mendekati V4, sdgkan V4 masih bisa bnyak di explore dikembangkan #hanya angan angan pribadi.

      klo penambahan power torsi n hp ada konsekuensi yg harus diterima yaitu motor jadi tidak nyaman, tidak sesuai dg filosofi mbah darmo yg mengagungkan motor nyaman yg penting podium tp juara kagak wkwk

      Guest
    • menurut saya akselerasi M1 sudah habis bila di bandingkan dengan v4 (ngondah n Ductia) saya lupa pas di race mana tapi hampir setiap keluar tikungan pasti kalah, kecuali tikungan kanan yang selalu jadi kesukaan ro55!
      saya setuju dengan -> ban lebih ngegrip = akselerasi bagus
      tapi menurut rider pabrikan mereka selama jolor tidak ada, yg di keluhkan spin ban belakang berlebih

      saya tidak setuju kalau top speed beda sedikit, sedangkan di artikel di cantumkan perkiraan top speed emwan kalah Sampai 10km/h
      itu cukup kritis Lo
      sekalipun mereka bisa slipstream di straight, pasti mereka akan ketinggalan saat masuk mulut tikungan, apalagi beda i4 vs v4 saat memasuki tikungan
      pasti gap akan bertambah lagi bila bukan tikungan bertipe speed corner

      1 advantage yg mungkin tidak bisa di samai mesin v4 terhadap i4, yaitu kecepatan di mid corner
      mungkin hanya rider gila yg mampu menyamai atau bahkan melampaui kecepatan saat di mid corner, you know lah what i mean siapa rider-nya

      kembali lagi, menurut saya lebih baik benahi dulu spin ban belakang lalu tingkatkan aspek lainnya dengan jangan mengorbankan DNA asli emwan

      Guest
      • Kicep dah minyak beku dikasih fakta. Eh, tapikan dia kan enjiner PAK EKO RESING, jadi dia pasti tahu segalanya dong…

        Guest
    • Memperbaiki akselerasi ini lebih ke memaksimalkan di bagian penyaluran tenaga, yg kaitannya lebih ke distribusi berat dan elektronik (plus sensitifitas tangan kanan pembalap tentunya).
      Di motogp era 1000cc kayaknya gak ada lagi motor yg kurang torsi atau power buat akselerasi keluar tikungan, terutama di gear 1-4, masalahnya gimana mereka bisa menyalurkan tenaga sebanyak banyaknya ke roda belakang tanpa terjadi spin dan wheelie.

      Guest
    • @onaniMUSE
      nah saya lebih setuju pendapat anda, di Motojipang 1000cc itu pasti punya torsi yang sangat kuat, balik lagi sebagus apa motor masing-masing pabrikan bisa memanfaatkannya, tapi saya yakin, ngondah dan Ductia punya penyaluran torsi yang lebih baik dan punya torsi yang lebih besar dari i4 manapun, lagi pula saat memasuki tikungan i4 vs v4 itu berbeda yg 1 mengkotak yg 1 lagi seperti huruf U, jadi disini bila ada spin berlebih untuk v4 malah bisa di maksimalkan lagi dengan rear wheel Drive

      @mentega
      Motojipang Winners :
      2017 – Dovi,jl, Zarco
      2018 – mm,rins, Zarco
      2019 – Vina,mm, Dovi

      sepertinya di Sepang, yanana punya kans yg baik deh dari tahun ke tahun walaupun punya straight yg lumayan panjang

      saya tidak setuju ada motor lemot, gak ada tenaga, dll
      menurut saya motor yang bisa top 7 atau bahkan top 5 itu adalah motor yang cukup baik, cuma bila salah satu motor yang bisa menang, menurut saya itu adalah punya balance yang lebih bagus ketimbang motor lainnya + tipe sirkuit + riding style dll

      Guest
    • Ganti sama pembalap yg punya determinasi tinggi dan agak ‘gila’ supaya bisa menutupi kekurangan pd motor, emg klo semua udh seimbang apalagi yg jd faktor? Itu yg kurang dari tim satu ini, yg msh mengandalkan nostalgia pembalap veteran.ya memang beliau msh konsisten di top 10 tapi utk ukuran tim pabrikan dan tanpa handicap konsesi usahanya masih kurang lah. Andai kata tim lain udh lari ini msh jalan kaki

      Pembalap seperti itu udh didepan mata, tp msh menunda 1 tahun lagi ya berharap datang keberuntungan aja deh

      Guest
  8. Simpel sih sebenar nya, titik masalah mereka ada di MM
    Selama MM ada di HRC selama itu pula Yamaha dan pabrikan lain puasa gelar

    Catet!

    Guest
  9. Top speed tetap hrs bisa menyamai Honda dan Ducati jika Yamaha tetap ingin bersaing podium satu terus….yg kedua pembalapnya setidaknya bermental baja… spirit nya tinggi … buat apa bisa nyalip ditikungantapi sebentar kemudian selepas tikungan sdh ditekuk lagi krn power dan speed nya lbh lambat…..jadi ke unggulan ditikungan akan sia sia saja….kecuali untuk menghibur penonton, itu sich ok ok saja….

    Guest
    • Ane bisa dibilang sependapat sama ente bro.

      Kalo menurut ane , delivery power dari mesin hingga roda belakang kurang halus sehingga menyebabkan powerloss besar. Efeknya? Ban jadi sering spin dan malah menguras daya tahan ban belakang.

      Efek lainnya adalah tenaga yang memutar roda belakang tentu jadi berkurang banyak.

      Contohnya Power on the cranknya 200hp, tapi karena delivery powernya kurang smooth maka di roda belakang hanya 180hp. Sedangkan mungkin tetangganya dengan power on the cranknya sama2 200hp tapi karena delivery powernya lebih smooth maka power di roda belakangnya 190hp. Lebih tinggi punya tetangga kan?

      Guest
  10. kalau menurut saya wak, yamaha ingin memenangi gp series dengan caranya sendiri (speed corner, good chassis), bukan dengan cara ducati atau pun honda. it’s a matter of company signature

    Guest
    • tapi sirkuit gk belok2 doang ada track lurusnya, sedangkan rival yg dulu cuma menang di track lurus skrg jg improve di cornering speed

      Guest
  11. PR YFR adalah gimana caranya mecat Sugiono dan memutus koneksi VR46 academy di tim satelitnya tanpa kehilangan sponsor.

    Guest
  12. Nah ini, saya juga nangkepnya gitu, mereka mau nambah topspeed dengang cara memperbaiki aerodinamika dan memperbaiki akselerasi keluar tikungan. Kayaknya dengan nambah power bakal bikin masalah baru lagi, setidaknya untuk saat ini

    Guest
    • Tahun 2006 kalo tidak salah pernah kejadian seperti itu ya? Kalo ga salah mereka coba nambah putaran mesin 1000rpm tapi hasilnya malah strugle.

      Guest
  13. Klo di sirkuit itu mengandalkan braking… speed corner… akselarasi dan top speed…
    Tdk ada motor yg unggul d semua lini…
    Khusus top speed itu di luar kuasa dr pembalap…
    Jd aspek yg lainnya itu btuh pembalap yg bsa memaksimalkan bagian kelebihan dr mtor untuk menutupi kekurangan mtor di aspek lain…
    Kalo yamaha hanya kalah top speed… hrusnya yamaha bsa ngalahin ducati dan honda… krna keunggulan yamaha sngat bnyak di sektor sirkuit khususnya menikung…

    Guest
    • Setuju, masalah mereka cuma di rider sebenarnya. Sekarang muncul taro…tapi liatlah nanti. Pasti disia siakan lagi demi si anu…

      Catet

      Guest
  14. lain ladang lain belalang lin dulu lain sekarang, dahulu masih pake Electronic official, dan sensor macam2, makanya msh bisa di setup sesuai keinginan untuk performa maximal, sekarang sudah paket eletronic magneli semua paket setara antar pabrikan.
    mau performa M1 seperti dahulu ya agak berat namaya udah beda paket electronic.
    seharusnya develop sekarang adalah menetupi kekurangan yang ada, seperti pabrikan lain. klo yamaha mau performa seperti dahulu gak mungkin disitu ada limit dari electronic magneli sendiri. jika benar lim jarvis kekeh arah developmentnya begitu yaudah wasalam yamaha utk beberapa th kedepan.

    Guest
  15. Tidak ada motor yang sempurna! Yamaha kalah saing karena rider nya. Itu saja kok susah nerimo….sekarang mata mereka mungkin baru terbuka, kalo M1 hanya bisa bersaing buat juara dunia dengan pembalap yang bisa menyesuaikan diri dengan karakter motor. Mampu memanfaatkan kelebihan motor, bukan banyak menuntut ini dan itu. Rider milienial, seperti stoner, markes, lorenzo dan sekarang taro. Sayang, mereka dibutakan oleh si anu…mempertahankan si anu, itulah letak kebodohan Y. Sudah banyak pembalap hebat yang mereka sia-siakan demi si anu. Mulai dari cal, zarco, dan bahkan lorenzo sendiri mereka rela melepaskan. Sekarang muncul taro….kalo sampai taro pergi, selesai sudah. Mau rekrut markes? Nggak kuat bayar gaji…

    Kasihan Y, selama mereka punya manajer seperti jarvis si muka sombong dan si anu. Jangan mimpi juara dunia..

    Catet

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.