TMCBLOG.com – Sobat Sekalian, saat pertama Kali race ATC di Losail dan ARRC di Sepang Squad AHM yang dikenal dengan Nama Astra Honda Racing team (AHRT) tidak turut serta turun. Baik di ATC, SS600, maupun AP250 AHRT merelakan 50 point maksimum. Saat itu tmcblog dengar ada hubungannya dengan Upaya Pencegahan terhadap COVID-19. Namun apa sebenarnya Alasan AHRT, Tak ada orang lain yang paling kompeten menjawabnya kalau bukan Pak Rizki Christianto – Manager Astra Honda Racing Team yang juga sekaligus Manager Motor Sport Astra Honda Motor . . Simak deh sob

Apa alasan di balik keputusan Astra Honda Motor untuk tidak mengirimkan pebalap pada putaran pertama ATC dan ARRC?

“Putaran pertama ATC maupun ARRC merupakan hal penting bagi AHRT. Dengan modal berbagai persiapan yang sudah dilakukan, serta semangat dan tekad kuat untuk memanfaatkan kesempatan, pebalap Astra Honda Racing Team siap mengharumkan nama bangsa di ajang balap internasional. Namun, keputusan sulit ini harus kami ambil dengan pertimbangan demi kebaikan bersama.”

Astra Honda Racing Team tidak turun pada putaran pertama ARRC dan ATC tahun ini. Bagaimana hal tersebut akan memengaruhi rencana tim di kompetisi ini?

“Memang, kami harus melupakan poin awal yang cukup penting. Tetapi, itu bukan akhir segalanya. Kami akan berusaha untuk meraih hasil terbaik di semua sisa putaran yang ada. Semakin banyak kami memenangi balapan, semakin meningkat pula kemampuan pebalap AHRT, dan semakin besar peluang untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Semakin banyak podium yang kami raih, semakin sering pula kami mengharumkan nama Indonesia. Itu yang terpenting.”

Bagaimana AHM membantu para pebalap untuk menghadapi situasi seperti ini?

“Sebenarnya, di hari biasa pun, ketika jeda atau tidak ada balapan, pebalap AHRT sudah terbiasa mengontrol kondisi masing-masing, dan harus selalu update. Menghadapi kondisi saat ini, kami lebih menekankan agar mereka selalu waspada. Di sisi lain, kami juga tetap menekankan kepada seluruh pebalap untuk tetap menjaga kebugaran, termasuk tetap latihan fisik di rumah masing-masing.”

Apa fokus AHRT pada situasi ini?

“Situasi ini dihadapi oleh banyak pihak, termasuk kami. Tentu saja kami harus melakukan penyesuaian dengan rencana kami sebelumnya. Ini merupakan salah satu konsekuensi yang harus dihadapi dan sudah kami perhitungkan. Perusahaan, dalam hal ini PT Astra Honda Motor, mendukung penuh AHRT dengan segala kebijakannya. Saat ini, fokus utama kami adalah menjaga kondisi seluruh tim dan melewati semua ini dengan baik. Pada saatnya nanti, tim akan kembali berjuang untuk mewujudkan mimpi anak bangsa di arena balap internasional.”

Bagaimanan Astra Honda Motor menghadapi tantangan baru di Asia maupun Eropa ketika kompetisi bergulir kembali? Apa yang menjadi target utama tim?

“Setelah melewati masalah ini dengan baik, kami akan kembali menghadapi tantangan untuk mewujudkan mimpi anak bangsa di arena balap internasional. Kami akan kembali berjuang untuk mengharumkan nama Indonesia. Target kami adalah menjalani balapan yang dihadapi dengan semaksimal mungkin, dan meraih hasil terbaik di semua kejuaraan yang kami ikuti.”

Di persaingan Asia Road Racing Championship, Rheza Dhanica Ahrens akan kembali membalap di kelas SS600, dan Irfan Ardiansyah akan mendampingi. Apa target bagi kedua pebalap ini?

“Rheza memasuki tahun kedua di kelas SS600, sementara Irfan yang sebelumnya tampil kompetitif di AP250 juga sudah punya pengalaman di SS600. Harapannya, Rheza dan Irfan bisa menunjukkan prestasi yang bagus pada musim 2020. Melihat persaingan yang ketat di kelas ini, kami berharap paling tidak mereka bisa bersaing di lima besar.”

Sejak turut bersaing di kelas AP250 pada 2017, pebalap Astra Honda Racing Team keluar sebagai juara pada 2017 dan 2018, lalu berada di urutan kedua, ketiga, dan kelima pada 2019. Apa yang menjadi target Lucky Hendriansya, M Adenanta Putra, dan Herjun Atna Firdaus pada AP250 musim ini?

“Dengan modal motor yang sangat mendukung penampilan di kelas AP250, tentu kami ingin mempertahankan dominasi Honda CBR250RR sekaligus AHRT di kelas ini. Tiga pebalap muda potensial ini diharapkan bisa meneruskan sukses Gerry Salim yang menjadi juara pada 2017 dan Rheza Danica pada 2018, serta meneruskan tradisi AHRT sebagai juara umum tim sejak 2017 hingga 2019.”

Adenanta dan Herjun akan bergabung di kelas AP250 setelah sebelumnya bersaing di Asia Talent Cup. Seberapa penting bagi AHM bahwa para pebalap baru yang bergabung di kompetisi ini sudah lebih dulu mendapatkan pengalaman bersaing di ATC?

“Tentu kami sangat berharap pengalaman Adenanta dan Herjun di ATC bisa membantu mereka untuk bisa meraih hasil terbaik di kelas AP250. Mereka sudah terbiasa balapan di berbagai sirkuit internasional, sekaligus merasakan ketatnya atmosfir balapan di ATC. Kami berharap, pengalaman itu bisa meningkatkan kesiapan skill maupun mental, yang akan membantu mereka bersinar di kelas AP250 musim 2020.”

Bicara soal ATC 2020, Herjun Atna Firdaus akan kembali bersaing di kompetisi ini, bersama Azryan Dheyo Wahyumaniadi, Herlian Dandi, dan Fadillah Arbi Aditama. Apa yang Anda harapkan dari mereka pada musim ini?

“ATC adalah ajang pembinaan yang bagus. Itu sebabnya Astra Honda sudah mengirimkan pebalap ke ajang tersebut sejak awal adanya ATC, yaitu 2014. Tentu saja kami berharap anak-anak binaan kami bisa memaksimalkan peluang yang terbuka di ATC, yang akan memudahkan mereka menembus pintu balap dunia. Setidaknya, mereka bisa mengambil banyak pelajaran yang berharga bagi perkembangan mereka di masa depan. Begitu juga pada ATC 2020. Kami berharap mereka bisa beradaptasi dengan cepat, bisa menyerap ilmu dengan baik, dan bisa memberikan penampilan terbaik juga. Selain bagus untuk masa depan mereka di dunia balap, prestasi yang bagus juga akan membawa nama baik Indonesia di mata internasional.”

Tahun 2020 akan menjadi musim kedua bagi Mario Suryo Aji bersaing di FIM CEV yang penuh tantangan. Apa target untuk Mario musim ini?

“Setelah masa adaptasi pada tahun pertama, Mario diharapkan mulai memasuki tahun prestasi di CEV pada musim ini. Prestasi yang bagus akan memudahkannya untuk sesegera mungkin memasuki arena Kejuaraan Dunia yang dicita-citakannya. Memang tidak akan mudah, mengingat persaingan di CEV sangatlah ketat. Tetapi, ini tantangan yang harus dihadapi Mario.”

Dimas Ekky Pratama dan Andi Gilang akhirnya bersaing di World Championship, masing-masing pada 2019 dan 2020, setelah bergabung dengan Astra Honda dan bersaing di FIM CEV. Apakah ini merupakan jalan terbaik untuk sampai ke MotoGP?

“Sampai saat ini, kami masih meyakini bahwa CEV merupakan salah satu pintu gerbang terbaik untuk masuk ke Kejuaraan Dunia. Langkah itulah yang masih akan kami tempuh dalam proses pembinaan pebalap sebelum memasuki arena Grand Prix, seperti yang sudah dijalani Dimas dan Andi Gilang. Dari CEV, mereka bisa belajar mengenai banyak hal, seperti sirkuit, motor, persaingan ketat, serta suasana dan atmosfir balap yang sangat dekat dengan MotoGP. Dengan tumbuh dan kuat di CEV, pebalap diharapkan bisa siap bersaing di Grand Prix, seperti pebalap-pebalap dari negara lain yang bisa kompetitif.”

Bagaimana perasaan Anda ketika melihat para pebalap muda Indonesia yang berkembang bersama Astra Honda Motor akhirnya berhasil menembus Kejuaraan Dunia?

“Tentu menjadi kebanggaan bagi saya pribadi maupun untuk Astra Honda, saat usaha keras kami untuk mewujudkan mimpi anak bangsa bisa terwujud. Di sisi lain, kami juga senang bisa turut berkontribusi dengan mengantarkan putra bangsa berjuang untuk mengharumkan nama negara di arena internasional.”

Apa yang Anda harapkan dengan Andi Gilang, yang bersaing di Kejuaraan Dunia Moto2 musim ini?

“Kami berharap Andi Gilang bisa memanfaatkan kesempatan dengan memberikan penampilan terbaik. Usaha keras untuk meraih mimpi dijalani Andi Gilang sejak berumur 12 tahun bersama Astra Honda. Mimpi itu kini sudah ada di depan mata. Saatnya menunjukkan potensi dan kemampuan, untuk dirinya, orangtua, penggemar, dan bangsa Indonesia.”

Based on AHRT Info

27 COMMENTS

  1. Apa alasan di balik keputusan Astra Honda Motor untuk tidak mengirimkan pebalap pada putaran pertama ATC dan ARRC?
    “Putaran pertama ATC maupun ARRC merupakan hal penting bagi AHRT. Dengan modal berbagai persiapan yang sudah dilakukan, serta semangat dan tekad kuat untuk memanfaatkan kesempatan, pebalap Astra Honda Racing Team siap mengharumkan nama bangsa di ajang balap internasional. Namun, keputusan sulit ini harus kami ambil dengan pertimbangan demi kebaikan bersama.”
    Ehhh demi kepentingan bersama itu apa?
    Bersama siapa?
    Apa hubungannya?

    Guest
    • Demi kebaikan pembalap tim dan keluarga. Yg artinya untuk menghindari timny dri wabah yg saat itu hingga saat ini ‘menghantui’ banyak negara

      Guest
  2. Bukan perintah dr hodna pusat ya?lha APHond bahkan Hodna team Asia yg ada akamsi zaqwan zaidi ngga turun

    Guest
  3. AHM sudah punya tim racing di AHRT, kenapa ga sekalian bikin divisi racing di sisi teknisnya sekalian ya? HRC versi AHM gitu. Supaya data segudang yg didapat dari balapan ga hanya berhenti di balapan aja. Khususnya buat motor <250cc.
    Bakal top banget suatu saat AHM menjual CBR250RR atau CBR150 misalnya dengan spek balap ARRC AP250 secara limited, semacam homologasi SBK tapi versi mininya. Trs jual apparel (udah sih), racing kit, sponsorin tim privater, dll gitu.
    Membayangkan AHRC vs HRC duel di lintasan balap, wow.

    Mengingat saham AHM 50:50 (ada yg bilang 51:49) antara Astra dan Honda bisa dong bikin kebijakan seperti ini.

    Guest
    • Jenius..
      Dana kayanya mampu. Cuma kalau bikin mesin dari nol apa udah bisa bikin moldingnya?
      Apa sekdar porting polis bikin jalur lagi?
      Mengenai <250 pas banget. Iya ngapain juga turun 600 – 1000cc. Menurut saya engg perlu, ga akan mendongkrak apa apa.
      Kalau perjenjangan ke moto3-2-GP saja.
      ARRC 250 cukup, malah kalau bisa usulin sport150, ub125 itu lebih mewakili permotoran kita.

      Guest
    • Agak sulit karena sebenarnya HRC asia tenggara itu thailand karena AP Honda 100% HMC…dg penjualan 70% pasar indonesia dan gelontoran dana untuk Repsol Honda…AHM tidak dipandang sebelah oleh HMC meskipun status 50:50…jd sangat sulit untuk mengharapkan lebih dr thailand..

      Guest
      • Oleh karena itu lah sy bilang bikin sendiri di bawah AHM, bukan di bawah Honda Motor Corp.

        SND Racing aja bisa bikin motor race oriented masak perusahaan segede AHM yg menguasai hampir 75% market share sepeda motor di Indonesia ga bisa. Itu keuntungannya dipake apa aja? 😀

        Lebih2 kalo bisa bikinin sirkuit kelas dunia kek, atau ambil alih Sentul aja yg gampang, renov jadiin selevel Motogp. Supaya hasil jual kampas mbit tambah berjasa buat tanah air.

        Guest
        • Anyway, ga harus sampai bikin motor baru prototype khusus balap kali. Tunning motor yg udah ada aja. Kan tujuannya supaya data segudang hasil balapan bisa lebih berguna, ga hanya berhenti di tim internal AHRT aja.
          Begitu teman-teman.

          Guest
      • mungkin mereka kapok takut kasus kayak Hero India yg pisah dr Hodna setelah menyerap ilmunya,mereka bikin brand dan motor sendiri dan sukses di pasar lokal bahkan bisa beli brand Erik Buell

        Guest
  4. Halah ngomong aj ada virus corona ,susah amat,ato menghindari resiko tertular corona,pake bahasa selangit alias persuasif mulu,gengsi nya ketinggian

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.