TMCBLOG.com – Jika helm digunakan sebagai proteksi pengendara sepeda motor sudah ditemukan semenjak 50 tahunan yang lalu, berbeda lagi untuk teknologi Airbag pada wearpack balap yang baru ditemukan sekitar tahun 1995, ketika Dainese mengembangkan sistem Airbag pada Racing suit dengan nama sistem D-Air. Kita pernah membahas mengenai jasa dari Airbag di wearpack balap pembalap MotoGP ketika terjadi crash karena memang untuk beberapa kasus crash, pabrikan werpak/racing suit seperti Alpinestars mengeluarkan data-data. Pada dasarnya data tersebut merupakan data yang menunjukan bahwa sistem Airbag pada wearpack mengembang SEBELUM pembalap terjatuh menghantam daratan/aspal.

Enam tahun setelah Dainese menghadirkan D-Air, tepatnya pada tahun 2001 Alpinestars menghadirkan project serupa dengan nama Tech-Air project. Semeenjak itu pula kedua perusahaan terus bersaing, mengumpulkan data dan mengembangkan sistem Airbag pada wearpack/vest sampai kemudian tahun 2009 keduanya memiliki sistem prototipe yang berfungsi penuh untuk digunakan oleh pembalap di MotoGP.

Butuh sekitar dua tahun semenjak kehadiran seri prototipe MotoGP pertama, atau tepatnya di tahun 2011, baik Alpinestars maupun Dainese berhasil menghadirkan teknologi keselamatan yang selama ini hanya dapat dinikmati para pembalap MotoGP untuk konsumen lebih Luas. Untuk dapat melakukan proteksi keselamatan ini sistem Airbag ini memiliki semacam CPU sendiri yang merupakan otak dari sistem.

Pada produk Dainese D-Air terbaru misalnya hadir Intelligent Protection System yang menggunakan tujuh sensor, termasuk tiga akselerometer, tiga sensor giroskopik, dan satu unit GPS. Dalam sistem saat ini, Dainese mengklaim sensor dapat memindai secara otomatis untuk mendeteksi potensi kecelakaan yang bisa terjadi dalam 1.000 kali pindaian per detik.

Jika sistem mendeteksi bahwa kerusakan akan segera terjadi, sistem akan mengembangkan balon Bladder sistem Airbag dalam waktu beberapa milidetik – Alpinestars mengatakan waktunya antara 20-40 milidetik– dengan tujuan agar bagian badan terproteksi dari hantaman ketika terjatuh.

Setelah tanda tanda crash terdeteksi seperti G besar yang terjadi akibat terpelanting atau semacamnya. Untuk versi Airbag yang dijual umum seperti Dainese D-Air Road menurut yang tertulis di cycleworld, aliran gas (biasanya gas argon) dari katrid tekanan tinggi akan memenuhi area di sekitar bahu, dada, tulang rusuk dengan jumlah volume sebesar 11 liter.

Seberapa besar daya proteksinya? Dainese mengatakan dengan D-Air Airbag, hantaman yang seharusnya ditransmisikan ke tubuh akan berkurang 90%. Atau seperti yang diungkapkan oleh Alpinestars untuk sistem Tech-Air: Sistem Airbag memiliki tingkat perlindungan yang sama dengan mengenakan 18 unit back protector. Jaket ini masih mahal sih kalau di Indoensia -harganya masih jutaan Rupiah kalo nggak salah- namun daya proteksinya juga sesuai dengan harganya ya ~ Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

23 COMMENTS

    • Sama pertanyaan kalau sudah dipakai jatuh & sukses mengembang setelahnya gimana? Kempes hilang? Kantungnya bisa diisi ulang? Atau ganti airbag? Atau udah hanya ‘sekali pake’ sekeseluruhan?

      Guest
      • Bisa dikempesin dilipat tinggal ganti catridge co2 nya (yg versi non sensor) sama yg versi sensor juga kecuali airbagnya bocor

        Guest
    • Yg pahe nya ga pake sensor tapi pake cantolan ke motor..apabila crash cantolannya narik penahan catrige co2 buat niup airbag nya

      Guest
    • Kenapa pakai CO2 ya kan termasuk gas berbahaya jika terhirup manusia. Pertimbangannya apa? Kenapa ga pakai nitrogen

      Guest
  1. Busa dipake offroad gak sih?kan kalo lewatin obstacle kadang pake acara backflip apa bakal dideteksi sebagai high side?

    Guest
  2. Kalo dilihat lihat cara kerjanya mirip airbag di mobil, apabila terjadi laka maka akan mengembang & hanya sekali pakai..

    Keselamatan emang mehong..

    Guest
  3. apakah airbagnya bisa di isi ulang anginnya? apa sekali pakai?
    btw, sensornya hanya di bahu? yg di deteksi apa wak? klo tiba” rem mendadak tp ga nabrak apakah ttp nyala itu airbag? apakah ada gyro sensornya jg,, trus klo lgi pgn miring” apakah nyala?

    Guest
  4. Modul dng lampu led yg ada di lengan kiri rider itu apa termasuk teknologi ini? Fungsi & pengoperasiannya?

    Guest
  5. wak..maaf oot nih, nanya nih wak, kenapa sih wak ngga ada yg review cara bayar pajak motor online, kan siapatau bermanfaat wak ditengah pandemi kaya gini..
    ya sebenernya untuk beberapa wilayah udh mulai terbiasa sih dg sistem online (misal jawa tengah), tapi kayanya masih banyak nih wak yang masih pada bingung..
    sekali lagi maaf ya wak klo oot..

    Guest
    • Soalnya setiap daerah beda. Jateng sakpole lainnya tau deh.
      Kedua kayanya ga usah direview jg udah pada tau..

      Guest
    • Buka Tokopedia. Wilayah Jawa sudah biasa bayar online. Nanti pembayaran bisa dipilih pakai cashless (ovo, linkaja) atau dr Alfamart/indomart

      Guest
  6. sebelom ada airbag, kalo jatoh apa masih terasa agak sakit gitu….??
    secara udah jatoh jumpalitan masih pada sante aja tuh jalan

    Guest
  7. mantap.. keren ya motogp.. manusia jadi terinspirasi lebih untuk membuat produk2 keselamatan..

    klo saya masih wondering.. mungkin ga yah.. helm juga bisa disematkan air bag yg bisa muncul mengembang ketika crash.?? atau malahan bakal berbahaya klo helm pake air bag..

    Guest
  8. Kayaknya lebih guna kayak gini dari pada di taruh di motornya langsung, karena umum nya kalau kecelakaan pengendara kepelanting dari motor kalau di taruh di motornya mungkin bisa selamat dari benturan dari depan tapi kita tau segitu banyak nya “variasi” Jatuh dari motor kek gimana.

    Guest
  9. Jadi penasaran data pengembangan berdasarkan crash seperti ap, crash highside didunia balap,atau crash di jalan raya,yang resiko nya lebih besar dari dunia balap☹️maklum masih awam☹️

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.