TMCBLOG.com – MotoGP adalah balapan kasta tertinggi dimana se-per-sekian detik keunggulan benar-benar secara serius diperhatikan. Salah satu keunggulan yang bisa dicari dan dikembangkan adalah bagaimana secepat-cepatnya ngacir saat start dilakukan. Kita bisa melihat bagaimana semenjak 2019 Ducati mengembangkan Holeshot Devices yang menurut Gigi Dall’igna merupakan salah satu dari tujuh solusi teknis terbaik MotoGP, alat ini digunakan Ducati untuk membuat keunggulan Desmosedici saat melakukan start. Nah sebelum Holeshot Device dihadirkan oleh pabrikan, set-up elektronik Launch Control-lah yang secara umum dan meluas dipakai oleh pembalap untuk membantu mereka saat melakukan start balapan.

Bayangkan sobat sekalian sedang start balap pakai motor transmisi manual, tekan tuas kopling, masukkan Gear 1, bejek gas dalam dalam sampai RPM meraung tinggi, lalu ketika lampu start padam -yang artinya race dimulai- dan sobat sekalian ujug ujug melepas tuas kopling secara full dan tiba-tiba . . Apa yang bakal terjadi? Minimal bencana instan yang namanya dead-cert loop-the-loop dimana mesin motor bisa stall atau mati mendadak atau kalaupun masuk gear, motor bisa wheelie parah dan sulit bisa di kendalikan.

Baca juga :

Nah dengan setup elektronik bernama Launch Control (LC) , software cukup pintar untuk mengendalikan situasi ini, ia akan mengatur agar pasokan tenaga ke ban hadir dalam jumlah yang tepat sehingga pengendara dapat membejek throttle gas penuh (gass poll) dan melepas kopling penuh seketika saat lampu start padam sehingga pembalap dapat melakukan start menuju tikungan pertama sepenuhnya dalam kendali dengan roda depan tidak wheelie lebih dari beberapa inci dari aspal. Yang jadi pertanyaan, apa yang sebenarnya terjadi pada elektronik ketika launch control diaktifkan saat start. Berikut ini TMCBlog coba sajikan informasi lama dari Mat Oxley yang berdasarkan rekaman data telemetri MotoGP.

Kurva berbentuk persegi panjang warna putih nomor 1 adalah kurva saat LC diaktifkan dengan cara menekan sebuah tombol yang biasanya diletakkan pada handlebar kiri dari motor. LC juga menyesuaikan rev limiter, sehingga pembalap dapat sepenuhnya membuka throttle tanpa bahaya over-revving, dan bisa berkonsentrasi hanya pada keseimbangan bukaan throttle – bukaan kopling.

Sobat bisa lihat juga bahwa gas dipentokin sampai atas, gak perlu ngurut-ngurut gas segala, sementara kurva riplle merah nomor 2 adalah tanda saat pembalap melakukan semacam bliping yang sebenarnya tidak banyak berarti apa-apa, mungkin hanya kebiasaan.

Pada kurva speed merahhijau -putih pada kotak kedua nomor 3 terlihat ada perbedaan speed pada roda depan (merah) dan roda belakang (hijau), dimana ada tanda bahwa speed roda depan (hijau) sedikit turun. Itu mengartikan bahwa roda depan sedang terangkat sedikit (wheelie) dan pembalap mengatur masalah ini dengan cara sedikit menurunkan/menutup throttle (lihat kotak pertama) sehingga roda depan menyentuh aspal kembali, walau akhirnya memang wheelie terjadi lebih besar lagi pasca perpindahan gear dari 1 ke 2 dan ke 3 (ada ripple kecil di kurva merah).

Flashback ke kejadian Fabio

Mengenai ripple kurva merah, ini adalah gejala skid (sedikit spin) yang terjadi saat pembalap melakukan perpindahan gear. Dan ini terjadi karena saat LC diaktifkan maka Traction Control (TC) yang mengendalikan gejala spin ban belakang tidak aktif. Kebanyakan programer software elektronik MotoGP tidak terlalu menganggap bahaya wheel spin yang terjadi saat motor tegak lurus di straight. -Walau akhirnya di ajang GP Inggris 2019 terjadi kejadian seperti yang dialami oleh Fabio Quartararo di straight jelang tikungan pertama yang saat itu membawa serta Andrea Dovizioso mampir ke gravel kiri sirkuit Silverstone.

Yap Traction Control (TC) Yamaha M1 (dan umumnya semua motor MotoGP) memang tidak bekerja di saat Fabio mengalami crash di T1 Silverstone ini. Karena saat berada di tikungan pembalap sedang berada di gear ke-2. Sementara TC hanya di-mapping pada gear ke-3 pada tikungan pertama. Artinya, baru bekerja saat pembalap mulai membuka throttle gas untuk berakselerasi keluar tikungan.

Pedrosa emoh pakai LC

Nahh, fakta ini lah yang membuat beberapa pembalap, atau boleh dibilang sebagian kecil pembalap, atau secara ekstrim boleh dibilang satu-satunya pembalap MotoGP yakni Dani Pedrosa tidak mau menggunakan LC saat start. Kepada Dazn baru-baru ini Dani mengungkapkan opininya mengenai kenapa ia emoh (tidak mau) pakai LC.

“Saya pikir saya adalah satu-satunya pembalap yang tidak memiliki (sistem) start otomatis, sekarang mereka semua menggunakannya, LAUNCH CONTROL . . . .  Saya selalu melakukannya secara manual, gas dan kopling. Saya mencoba untuk mendapatkan poin setiap kali (start), saya suka seperti itu, saya telah mencobanya dengan cara lain dan sepertinya lebih cepat, lebih aman.

Setiap start yang saya buat akan sama saja, tetapi dengan cara saya kadang-kadang bisa mendapatkan tambahan (time), atau kehilangan (time) jika salah (melakukannya). Di masa lalu saya selalu memiliki kopling yang lebih agresif yang memungkinkan saya untuk melakukannya dengan baik, tetapi pada akhir lomba jadi lebih sulit untuk menggunakan kopling dengan ban bekas, rodanya slip lebih banyak. Dalam beberapa tahun terakhir saya beralih ke kopling yang lebih lembut, dimana start tidak lebih cepat tetapi membuat ban tidak terlalu aus pada akhir lomba.”

Yap seperti kita ingat dahulu Dani Pedrosa terkenal cepat sekali saat start di atas Honda RC212V dan RC213V. Awalnya kita sangka ada hubungan kuat dengan postur tubuh mungil Dani, namun ternyata menurut Dani itu dikarenakan ia memperoleh clucth (kopling) spesial yang lebih agresif.

Resep rahasia Dani terbongkar?

Fakta bahwa Dani tidak menggunakan LC, mengartikan bahwa raungan RPM mesin benar-benar berada dalam kendali tangan kanannya secara manual, namun menurut TMCBlog ini akan membuat sistem elektronik motornya berada pada setup normal dan logikanya ia bisa memanfaatkan Traction Control dan Wheelie Control saat start. Itu pula sebabnya ia emoh pake aerowing di fairing yang terlalu heboh sepanjang bertandem dengan Marc Marquez, winglet Dani selalu minimalis atau bahkan seringnya bahkan tanpa winglet . . Terungkap juga kan akhirnya rahasia Dani? Silahkan dikunyah kunyah dan semoga berguna sob.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

55 COMMENTS

  1. “melepas tuas kopling secara full dan tiba tiba”
    yaa gak gitu juga masbro 😆 startnya ya setengah atau seperempat kopling, diukur pake feel. klo lepas tiba2 ya terbang lah

    Guest
    • Iya biasanya ga dilepas langsung,ditahan dikit

      Kalo dilepas langsung mungkin koplingnya jg bisa kebakar kayak Rossi yg dnf setelah melewati beberapa tikungan setelah start,lupa dimana

      Guest
    • Ya kalo tanpa lc, gunanya lc kn buat ambil alih fungsi setengah kopling ya? 🤔
      Lc nya dani ya manual di tangan kanan kirinya seperti kita pas pake mtor kopling manual aja plus tc mngkin

      Guest
      • @valhalla yoii lepas pake feeling (klo tanpa LC)
        @margarin klo pake LC kan tinggal lepas aja. klo tanpa LC ya pake feel lepas koplingnya, klo dilepas gitu aja terbang heheh…

        Guest
    • kalau langsung lepas kopling full buat apa vinales latihan start berkali-kali, harusnya cuma masalah set up LC saja kan?

      Guest
  2. Penasaran dengan Jorge Lorenzo…start dia adalah start paling bagus kalo menurut ane…
    Bisa langsung melesat setelah lampu padam…

    Guest
  3. clucth (kopling) spesial yang lebih agresif

    Ini ada tertanam teknologi tertentu ? Atau hanya kaya semacam setingan kopling atau elektronik aja wak ?
    Kayanya menarik diulas nih kopling spesial dan apakah ada dimotor pabrikan lain juga atau hanya pabrikan tertentu ?

    Guest
    • maksudnya per nya lebih keras gitu, jadi pas dilepas jeda waktu buat slipnya lebih sedikit. contohnya kopling f1zr dan scorpio yang lebih “lembek” daripada megapro-tiger

      Guest
  4. Kalo waktu pake kopling agresif sudah ada seat high adjuster/holeshot mungkin bisa lebih ngacir lagi bikin gap lebih jauh kali

    Guest
  5. Old skool bgt nih
    Tp setau ane DP pun kalo start nggk kalah melesar sih sewaktu masa jaya2nya dlu

    Emang elektronik nggak bisa kalahin perasaan dimana kita yang handle langsung

    Imho

    Guest
    • Itulah kenapa Stoner bisa kenceng di Ducati. Tangan kanannya gak bisa ditandingi elektronik yang sesuai permintaan Rossi sekalipun di jamannya.

      Guest
  6. Karakter rider oldschool emang gak bohong dari dani, casey, jorge, vale, mereka bener2 paham betul gimana ngendaliin motor dengan bakat dan feeling alami, seakan2 elektronik ada di badan, tangan, dan kaki mereka, salut sama mereka yang bisa adaptasi di GP selama 10 taun terkahir dengan perubahan elektronik yang signifikan, bener2 generasi emas GP era modern semenjak mesin 4tak
    Gak merendahkan rider muda, balapan era semi elektronik dan full elektronik perlu skill berbeda dan rider modern kekinian yang mampu memaksimalkan peran elektronik salah satunya marc marquez, lihat nanti setelah semua rider lahiran 80an pensiun pasti bakal beda atmosfirnya

    Guest
    • Tidak sesederhana itu….
      Rider-rider yang berkecimpung dalam dunia balap motor apapun itu dan menduduki papan atas jelas-jelas adalah seorang rider yg skillful dan memiliki bakat hebat.
      Rider-rider bukan papan atas saja terbukti juga punya skill balap yang hebat.
      Tidak mudah mengendalikan motor dengan berbagai manuver dan atraksi yang makin mendekati limit dari cara berkendara orang biasa.

      Bakat, ketrampilan, skill, feeling, intuisi maupun kecerdasan pembalap tersebutlah yang harus beradaptasi dan merespon dengan kemajuan teknologi serta aturan-aturan yang dibuat.
      Hal ini berlaku secara umum dari jaman pembalap dahulu kala dari jaman Giacomo Agostini, Doohan, Rossi, hingga kini Marc Marquez.

      Jaman dulu yang berkembang adalah piranti perangkat keras dan sekarang merambah perangkat lunak.
      Pembalap era Agostini pasti menggunakan semua skill, bakat dan kecerdasan mereka dengan semua perangkat yg masih serba sederhana. Baik itu mesinnya, fairing, transmisi, kopling, rem, suspensi, knalpot, dll.
      Lalu pembalap era sesudahnya tentu akan menyikapi semua perkembangan teknologi pada eranya masing-masing, hingga sekarang era Marc Marquez.

      Guest
    • Marquez non elektronik juga jago, marc rider yg cepat beradaptasi, jadi apapun perubahan di motogp harus cepat beradaptasi… Ban lah, penyetaraan ecu lahdari segi teknisnya, ataupun Termasuk non teknis juga harus cepat adptive.

      Guest
    • Ketika rider lahiran 80 an dah balik kanan.
      Perlu setidaknya 6 tahun penantian bagi rider lahiran 90 an utk bisa mulai ikut di kancah perebutan gelar menyaingi jumlah raihan si engkez.

      Guest
  7. epic.. cm gegara spin pas start dikit doang (*kali), keteteran d akhir lomba,.
    mknya kdng suka gemes liat daped drop pas d akhir lomba, trnyata ini slh satu penyebab nya..

    level motogp memang beda bgt yaa, hal remeh bgtu bs brprngruh besar bgt.

    Guest
      • Memang ada ya orang yang sengaja mencelakakan diri seperti itu, cuma agar nama rivalnya rusak? Taruhannya nyawa bro.

        Guest
    • Hubungi shuhei nakamoto..pasti pegang data telemetri…pasti lgsg ada yg kejang2..dan start dr belakang belumlah cukup…(ini bukan balapan moto2,inilah balapan)..😁😁😁😁

      Guest
    • Tenang aja, setelah Vale seumuran Opa Ago atau sudah seperti John Surtees pasti data itu bocor. Ga ada yang abadi apalagi Rossi cuma manusia, serapat2nya rahasia lebih mudah menguak rahasia personal ketimbang korporat.

      Guest
  8. mencari posisi rpm yg ideal saat lepas kopling di kala lampu start padam, sehingga traksi ban belakang dan laju motor bisa maksimal dan mengendalikan posisi ban agar minim wheelie, memang saat statr adalah moment yg sangat2 krusial untuk mencari posisi dan kemudian bersiap2 menghadapi tikungan pertama.
    Dengan kopling yg lebih agresif mungkin tujuan lainnya agar saat lepas kopling memiliki sedikit lebih gaya dorong di banding kopling yg biasa. CMIWW

    Guest
  9. Selamat siang admin, Bagi kalian yang hobi membaca berita bola kini,INFO BOLA98 telah menghadirkanya untuk anda semua diudpate setiap harinya, dan mempunyai konten-konten unik agar pembaca tidak merasa bosan terima kasih selamat membaca^_^

    BERITA BOLA DUNIA

    Guest
  10. pantesan beberapa tahun terakhir sebelum pensiun start dia nggak terlalu spesial lagi bahkan beberapa kali kalah bagus dibanding start Marquez

    tapi beberapa kali diakhir akhir race doi memang lebih nyodok nyodok sih kayak di Aragon vs rossi,menang di Misano lawan Rossi,menang di Valencia lawan Zarco

    Guest
  11. Ya ada kelebihan dan kekurangan tersendiri sih pembalap pakek LC, ketergantungan juga kalau ada kegagalan juga repot ngendaliin motor dan kalau gk pakek ya kurang konsisten saat star

    Guest
  12. Lah dulu waktu rossi baru start yg katanya koplingnya mengeluh panas sehingga harus mengendurkan gas sbentar d awal lap buat dinginin brarti itu koplingnya ga agresif ya wak?
    Katanya sih memang buat durabilitas ban sepanjang race tp ya itu startnya kedodoran
    Lupa itu tahun kmrn apa ya?

    Guest
  13. Pantes motor KTM yg di tes sama dp26 kemarin g macem2 seperti yg dipake pol espargaro. Dengan begitu maka diperoleh setup dasar motor yg bisa dikembangkan oleh pembalap KTM sesuai karakter masing2. Mungkin Ini juga menjelaskan kenapa HRC buru2 menawari dp26 sebagai test rider begitu muncul isu bahwa KTM bakal merekrut dp26 sebagai test rider.

    Guest
  14. Wa gaji, dibuat artikel juga mengenai inovasi dari masing masing merk yang akhirnya diikuti pabrikan lain.
    dan apakah inovasi tsb ada hak patennya.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.