TMCBLOG.com – Seperti kita ketahui ketahui bersama team Formula 1 Scuderia Ferrari mengumumkan bahwa salah satu pembalap mereka, Sebastian Vettel tidak akan menjadi Pembalap Jet Darat dengan warna Khas Merah ini pasca Musim 2020. Ferrari menyatakan bahwa keputusan ini merupakan kesepakatan bersama antara Mereka dan Vettel. hal ini spontan menjadi perbincangan publik dan salah satu yang dikepoin adalah apa yang menyebabkan ketidak sepahaman antara kedua Fihak. Secara umum Ferrari memang akan menurunkan rate gaji mereka ke Vettel, walaupun Vettel menyangkal bahwa soal gaji yang menjadi penyebab utama keputusannya. Akankah kasus Vettel-Ferrari akan ‘nular’ ke Dovi-Ducati

Keputusan Vettel ini akan menyebabkan Secara umum ia akan kehilangan Hot Seat di Hot team Formula 1. Mercedez ataupun Red-Bull sepertinya masih belum memperlihatkan adanya lowongan Seat kosong. Akan kah Vettel masuk di team papan tengah atau Bahkan Pensiun balap? Walaupun berat untuk dikatakan namun sepertinya sampai saat ini dua opsi itu menjadi Cukup mungkin terjadi.

Vettel ini punya beberapa Karakter Casey Stoner dalam dirinya, ia adalah seorang ‘family man’ yang mungkin dalam beberapa bulan winter Break yang diperpanjang akibat pandemi ini menemukan satu sisi kehidupan yang menurutnya berharga dan telah lepas dari dirinya semenjak ia menapaki Karir di race kart.

Tmcblog melihat Walaupun mungkin berbeda penyebab, hal ini bisa saja terjadi Buat pembalap motoGP , Andrea Dovizioso yang saat ini sedang dalam Upaya negosiasi dengan Ducati.  Berkali kali Manager Pribadi Dovi, Simone Battistella mengungkapkan dan menyinggung nyinggung soal Value dari seorang Andrea Dovizioso.

Buat tmcblog melihat dari objek apa yang selalu di sodorkan Oleh Simone ini memperlihatkan bahwa mungkin salah satu handicap kesepahaman kedua fihak ada di soal materi – (dan ini agak beda dengan Kasus Ferrari – Vettel). Paolo Ciabatti sering mengungkapkan Bahwa untuk bisa se-frekuensi dengan resesi ekonomi yang terjadi akibat Pandemi, logikanya Ducati akan memotong budget untuk 2021.

Yap Ducati dan Ferarri . . sama sama Pabrikan yang menjadi Wajah Utama Italia di masing masing Disiplin balap, sama sama  merah, dan sama sama di back-up Kuat Oleh Perusahaan Tembakau Phillip Moris. Sebastian Vettel 33 tahun, Andrea Dovizioso 34 tahun . . sama sama berada pada usia yang memposisikan keduanya sebagai pembalap yang sudah cukup mature.

Keadaan Dovi saat ini mirip keadaan Vettel beberapa Bulan yang lalu walaupun agak berbeda. Vettel sepertinya telah melihat sisi lain kehidupan, sementara Dovizioso masih memiliki passion tinggi untuk membalap dan Bahkan rumornya sudah memiliki Rencana kedua sebagai Sebuah exit Strategy dari Ducati . . KTM. Kita tunggu eskalasi selanjutnya bro

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

62 COMMENTS

    • Tanpa ente katakan pun sdh sangat jelas kebencian efbenyek sebangsa ente pada warung sebelah.
      Namanya jg kirik ?

    • Warung sebelah artikelnya cuma gosip “seolah2 motor baru” yg diulang2 terus pdhal gak ada update info cm beda bahasa aja sm artikel BC yg judulnya provokatif buat slh 1 pabrikan,yg ngomen jg isinya sales gk jelas
      Cara jualannya skrg ky gt, kyk gk ada niatan mencerdaskan pembacanya yg ada malah sengaja mancing2 kegaduhan…

      TMC Blog tetep No.1

      • @awan.. lah ini berita wak haji juga bukan suatu yang pasti kan? Yang namanya berita itu ga hanya hal² yg pasti terjadi, ada rumor,gosip fakta dll yg perlu juga di beritakan.. apa yg km mksd warung sebelah itu iwanbanaran?
        Kl iya berarti km fby akut,krn cm fby akut yang benci setengah mati sama iwb..

      • Setuju bgt, blok sebelah cuma khusus utk fansboy dia yg seneng eforia palsu yg dibuat si pemilik blog utk merk tertentu.
        Dan bila dikritik, si pemilik blog lgs baper dan bikin artikel “pembenaran”….wkwkwkwk

      • Sekarang warung sebelah merangkap sales mas, sakit hati sama pabrik suling, diapikir lebih besar blog nya dr pda pabrik suling, ekekekek

    • gak juga Bang Udin… saya masih yakin Dovi will stay with Ducati for the next season..
      but, who knows?..

  1. disatu sisi, Vettel memiliki pride yg tinggi, mirip jurdun2 F1 yg lainnya
    tidak mau di nomor duakan dan minta ditawar tinggi

    disisi lain, performa Vettel makin inkonsisten belakangan ini (beberapa kali terlihat melakukan kesalahan saat race lg genting),
    apalagi semenjak kedatangan rookie fenomenal di tim-nya, dia jadi makin terlihat “labil”

    • Vettel itu ga pernah bagus lawan teammate yang lebih muda, menangnya selalu lawan teammate yang lebih tua (Webber, Raikkonen, ama jaman di Toro Rosso dulu).

      Keliatan Vettel itu gampang bikin kesalahan ketika di bawah tekanan, kalo engga gitu harusnya udah jadi Jurdun lagi di 2017 dan/atau 2018.

  2. Dengan tekanan udara lebih tinggi, suhu udara juga akan turun, sehingga kerapatan oksigen lebih bagus.. Mungkin gitu kali ya wak.

  3. Yg jualan motor dan mobil eksotis berada banget ya kerugian kena imbas ini dibanding yg masih jualan produk2 entry level

    Karena keuntungan sparepart jg gak seberapa walaupun mahal kayak kampas rem Berlinetta atau multistrada pemilik nya gak sebanyak entry level

    • Volume maker kaya Toyota mungkin terjun ke dunia balap seperti opsi saja
      Kalau turun bagus kalau enggak juga gapapa.
      selama penjualan masih moncer dan mereka ga ngejar tagline performance. Kenapa harus turun? Kecuali mereka punya sub brand untuk performance kali ya

    • Mitsubishi mah pemain ‘kecil’ bro, liat tuh yg tebesar sejagat VW dan turunannya yg ga mau terjun. Padahal punya Lambo, Bugatti, Porsche, Audi, Bentley, dan VW nya sendiri. Belum termasuk Scania, SEAT, dll.

      Dan BMW pun, dengan Mini, Rolls-Royce, Rovers.

      Toyota udah nyerah sejak 2009.

    • Kalo gak salah pernah baca BMW punya alasan sama ky Kawasaki, sekalipun ikut balap prototype (F1&MotoGP) yg notabene gengsinya paling tinggi, ternyata gak berpengaruh signifikan ke penjualan produk mereka, tp disisi lain mereka lebih memilih balapan yg berbasis produk massal yg mrka jual (DTM,BTCC) sprti halnya Kawasaki di WSBK…
      Kalau VW 3-4 th kmrn ada gosip mau menerjunkan Porsche ke F1 tp kena skandal Dieselgate yg nguras kantong buat bayar dendanya…
      cmiw

      • Menurut sy ini lebih ke passion saja ya, Ferrari lahir dari dunia balap ketika dulu Enzo mengambil alih tim Alfa Romeo lalu diberi nama Ferrari.
        Ikut atau ngga ikut balapan kyknya Ferrari tetep bakal sold out terus.
        Cukup menyayangkan engineering Jerman yg terkenal jenius cuma diwakili Merc, kalah sama Italian-passionnya SF dan Alfa (FIAT).

    • Mitsubishi dulu sih lebih fokus di offroad kayak WRC rally dan Dakar,tapi sekarang kayaknya udah dibantai sama hatchback semacam Citroen
      Mungkin sekarang lebih fokus di heavy industries nya dibanding main balapan

    • @lunavry
      sudut pandang dan standar “keputusan ikut atau tidak ikut” toyota sangat berbeda dengan pabrikan lain, toyota adalah raksasa konglomerasi otomotif terbesar (200 milyar dollar ++) di dunia, bandingkan, audi-vw 85an milyar dollar, mercedes benz di 60an milyar dollar, bmw di 60an milyar dollar, honda di 58an milyar dollar,

      jikapun turun di balap f1, toyota ibarat mike tyson (prime) yang bertarung di kelas ringan melawan the likes of: pacquiao, mayweather, lomachenko, naoya inoue, tyson harus menang, jika draw atau apalagi kalah, akan sangat memalukan dan menghancurkan nama baik toyota, faktanya teknologi f1 toyota tertinggal 3-4 tahun di belakang mercedes, ferrari dsb. dengan semua sumberdaya yang dimilikinya toyota pasti bisa mengalahkan mercedes cs, TAPI, itu butuh dana yang sangat besar, yang tidak sebanding dengan apa yang hendak diperoleh, juara dunia pasti dicapai dengan tidak adanya peningkatan penjualan yg signifikan. daripada membalap, akan lebih baik untuk “memelihara” penjualan +/- 12 juta unit mobil per tahun.

      bukan bermaksud memuji, toyota adalah pabrik otomotif on it’s own league, satu satunya pabrik otomotif yang melampaui barrier “race today, sell tomorrow”

      toyota be like: “why would you race when you have already won?”

    • Mitsubishi ikut koq, tp lewat tangan renault
      Toyota, project F1 nya kurang sukses mungkin krna waktu itu konsentrasi nya terpecah dengan balap ketahanan
      Honda, sukses bikin mesin tapi kalau menurunkan tim langsung malahan kacau

  4. Vettel gak mau di nomor 2 kan
    Sedangkan musim lalu sempet brp x dia diminta ngikut strategi tim agar leclerc bisa menang (krn pd saat itu leclerc punya peluang lebih besar untuk bersaing dibanding vettel)
    Krn vettelnya gak mau ikut, akhirnya strategi kandas total

    Kalo dovi gak tau deh,
    Tetep ngotot mau jd ace rider atw mau nrimo kalo dijadikan wing man
    Gw sih nangkepnya kasus dovi lebih terkait fee dibanding peran
    Soalnya siapapun ridernya, pengembangan lebih ditentukan oleh gigi

    • Peran manajer kalau dalam hal fee kok cenderung negatif ya jatuhnya, manajer ngejar tim yg mampu bayar plg tinggi tp belum tentu tim yg kompetitif. Misal dovi jadi pindah ke KTM dg alasan fee lebih tinggi drpd Ducati tp di KTM tetep saja dovi gak bisa jurdun krn motor yg gak lebih baik dr Ducati, yg ada malah karirnya mentok cenderung menurun…
      Smntra sang manajer mungkin “gak peduli” dgn ms depan dovi,yg penting dia dapat fee tinggi dr deal kontrak dovi-KTM,contoh kasus Zarco…

  5. Kok hebatmen artikelle wak.. mbanding2in kok pas..

  6. kok Vettel gak pernah di bac0tin ya sama fanboy lain? dia juara cuma sama kratingdaeng doang padahal.
    “gAk beRaNi PindAh pAbRIkan”

    oh iya, btw gaji pembalap top tier di F1 jauuuuh banget ya dibanding dengan pembalap top tier motogp. Gaji marc yang saat ini pembalap termahal aja mepet sama gaji Max atau Riciardo (kalau Vettel sama Lewis udah parah, nggilani mahalnya)

    • Fans Formula 1 mayoritas usia matang, dan lebih tertarik ke dunia teknis selain prestige F1 nya sendiri.
      Balapannya sudah ‘tidak’ menarik.

  7. Man management yang kacau di pabrikan Italy itu nyata. Mental Vettel ancur di akhir 2018, Ferrari di 2018 cuma unggul di paruh pertama, paruh kedua udah ketinggalan lagi sama Mercy, over pressure lah si Vettel sampe sering buat kesalahan sendiri, selain emang strategi Ferrari yang dari jakan Alonso juga sering nglawak, tapi di 3 tahun ini lawaknya keterlaluan, udah gitu para petingginya kurang ngasih support mental (mirip kasusnya seperti Ducati), beda ketika dia di RB Helmu marko & Horner ttep support supaya mental gak down. Apalagi semnjak pra musim 2019 dia udah bilang driving stylenya kurang cocok sama mobil Ferrari 2019 yang kurang stabl di tikungan, dari pra musim 2019 pun udah keliatan gimana timpangnya performa antara Mercy-Ferrari, Ferrari cuma kenceng single hot lap, sementara Mercy pace konsisten, semakin menjadi-jadi sudah kombinasi masalahnya. Menurut saya Vettel masih layak untuk dapet tim-mobil yang lebih baik dari pada Ferrari saat ini.

    • Di musim 2019 mesin Ferrari kalo di amati kenceng waktu straight, begitu masuk tikungan ato lintasan berkelok keliatan kelemahanny. Kangen era Ferrari jaman Ros Brawn dan Jean Todt, strateginya bagus

      • Yup cuma unggul di straight, itupun rumornya karena less downforce. Tapi setelah kasus fuel cheating menyeruak di akhir 2019, mobil Ferrari di straight keliatan biasa aja. Beda sebelum kasus tersebut muncul, kenceng banget di straight.

      • Gw yakin kalau petinggu Ferrari saat ini selevel Todt, Brawn, Vettel bakalan bisa se sukses Schumi waktu itu. La di 2019 malah Binotto ngemban tugas double, jadilah musim 2019 Ferrari banyak ngelawaknya mobil gak bagus² amat + tim yang makin kacau, Binotto itu orang teknik murni kurang tepat kalau ngurusi management tim segala, malah kontra produktif hasilnya.

    • Ferrari emg krisis orang bener sih, sepeninggal Jean Todt dan Ross Brawn emg kacau. Terakhir, James Alisson yg cukup sukses di Merc.
      Bosnya juga kurang ok, sy pribadi menyukai pribadi berkarakter macam Luca di Montezemolo atau Arivabene dengan Marlboro-nya lah, haha. Bahkan sempet berharap Flavio Briatore mau merapat di usia senjanya.

      • Nahh orang bener yang terakhir di Ferrari yaa Alisson yang sekarang di Mercy, sama Arrivabene. Binotto kurang ok dalam urusan manajemen tim. Semoga Ferrari belajar dari kasus Alonso & Vettel. Gw ngarepnya sih Hamilton yang ngisi kursi Ferrari, penasaran apa Hammi bisa ttep juara dengan mobil yang gak lebih baik dari Mercy + tim yang manajemennya bisa dikatakan buruk.

  8. Dovi sudah tidak punya nilai,setelah media menganggap dia pembalap kelas 2, track record di gp 250 plus level motogp terlihat hebat hanya 3 tahun terakhir,mungkin itu jadi acuan petinggi ducati

  9. Tapi pilihan apa sekarang yg dimiliki Ducati?, Miller yg hanya jadi runner-up Moto3 tidak lebih baik dr capaian Dovi waktu kadet, Bagnaia juara Moto2 sih tapi masih belum selesai mempelajari Desmosedici nya,pilot mvp lainnya udah disegel pabrikan masing2

    Jadi pilihannya cuma 2,cari aman dgn tetap menggaji tinggi Dovi dgn hasil yg sudah pasti tapi tekor di keuangan,atau lepas Dovi dgn pembalap yg lebih nrimo dan murah meriah tapi hasil mungkin adem panas untuk tim Ducati

    • Mental Ducati itu overproud ama mesin sendiri.
      Dimana kalo ada kekalahan championship, maka masalah ada di “rider” nya.

      Thus… Melahirkan perilaku ‘mencari pembalap ace rider yang mampu menjuarai dengan mesin kami’.

      Lepas dari Stoner, gaet Rossi (gagal), gaet Hohe (gagal), coba ke Marc (gagal gaet).

      Terus aja gitu ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here