TMCBLOG.com – Pasca kecelakaan yang dialami Maverick Vinales pada Styrian GP kemarin, pihak Brembo yang diwakili oleh Brembo MotoGP Engineer -Andrea Pellegrini- menjelaskan kepada Mat Oxley (yang juga tertuang pada artikel blognya) mengenai penyebab para rider Yamaha bermasalah dengan pengereman. Yup, karena insiden Vinales merupakan yang terparah namun sejak Austrian GP (Austria 1) dua pekan lalu, Fabio Quartararo juga mengalami hal serupa. Bahkan Fabio sering melebar keluar trek dan sempat bertanya mengenai rem depan kepada Valentino Rossi sesaat setelah red flag dikibarkan. Pertanyaannya, mengapa justru motor paling lambat di Red Bull Ring bisa punya masalah besar pada pengereman?

Musim kompetisi yang lalu, pihak Brembo menilai sirkuit Red Bull Ring merupakan satu dari empat sirkuit MotoGP yang benar-benar menuntut pengereman ekstrem, bersama dengan sirkuit Twin Ring Motegi, Sepang, dan Catalunya (Barcelona). Kini tidak lagi demikian. “Setelah dua akhir pekan terakhir, bisa Saya katakan Red Bull Ring sekarang menjadi sirkuit terburuk untuk sektor pengereman, bahkan sudah melebihi Motegi,” kata Andrea Pellegrini, engineer untuk MotoGP dari Brembo, yang memasok peranti pengereman seluruh pembalap di grid.

Bisa dijelaskan dengan sangat sederhana sob. Rider dengan motor yang lebih kencang dan power lebih besar, tahu bahwa mereka memiliki keuntungan speed yang lebih tinggi pada saat di straight, mereka dapat memasuki tikungan dengan cara mengerem atau memperlakukan rem dengan lebih tenang dan juga lebih terkontrol. Istilahnya gak ngoyo/memaksa kinerja rem secara berlebih. Sedangkan bagi rider dengan motor yang lebih lambat, mereka perlu ‘menebus’ waktu yang hilang saat trek lurus, sehingga berusaha mengejar dengan cara mengerem secara agresif dan ini dilakukan terus-menerus tiap lap, oleh karena itu penggunaan rem akan lebih ekstrem lagi ketimbang rider yang bisa keluar tikungan lebih cepat dan juga lebih kencang pada straight.

Itulah mengapa Maverick Vinales harus menjatuhkan diri dari motornya ketika dia kehabisan rem pada race day kemarin di Turn1. Itu juga mengapa pemimpin klasemen sementara Fabio Quartararo juga ikut struggling terkait masalah rem sepanjang waktu di Red Bull Ring yang dinobatkan sebagai trek tercepat MotoGP. Keduanya mengerem dengan sangat sangat keras untuk mengimbangi kurangnya kecepatan Yamaha M1 mereka di straight. Sayangnya masalah baru muncul yakni pengereman yang terlalu ‘nge-push‘ membuat cakram rem depan mereka bekerja di atas limitnya.

Masalah pengereman mereka diperbesar lagi ketika menghadapi kondisi balapan. Sobat sekalian pasti paham ketika kondisi race akan melakoni beberapa lap dan rem akan terus-terusan dipaksa bekerja secara ekstrem pada ambang batasnya, sementara itu kondisi yang juga tidak bisa dihindari saat race ketika sering slipstreaming dengan pembalap lain yang membatasi aliran udara dari depan untuk masuk ke sistem pendingin rem baik cakram maupun kaliper remnya. Setelah rem karbon melampaui suhu pengoperasian maksimumnya – sekitar 1.000 derajat Celcius – karbon teroksidasi, keausan cakram dan kampas rem (pad) meningkat secara dramatis dan akhirnya, materialnya hancur. Karenanya, Vinales tidak lagi memiliki pad saat mengerem pada T1 di lap 17 karena sudah hancur. Senada dengan apa yang Alex Marquez tuturkan ketika ia menyaksikan ada benda hitam yang terlepas dari motor Vinales.

Brembo Caliper MotoGP 2020

Tetapi mengapa Quartararo dan Vinales memiliki masalah sistem pengereman yang jauh lebih besar daripada pembalap lain? Karena tampaknya Yamaha membuat kesalahan serius dengan set-up rem mereka di Red Bull Ring. Yamaha justru memilih kombinasi awal setup pengereman yang lebih cocok untuk karakter sirkuit dimana pengereman tidak terlalu menjadi tuntutan. Faktanya semua pembalap mengalami kesulitan pada sektor pengereman di Red Bull Ring. Tidak mengherankan jika sirkuit ini meminta lebih banyak kinerja dari sistem pengereman daripada trek MotoGP lainnya. Tetapi mereka berhasil bertahan dalam kondisi kritis di 2 kali seri Red Bull Ring dalam 2 pekan kemarin.

“Kami benar-benar berada pada batasnya, seperti semua orang,” kata Andrea Dovizioso. “Ini sedikit lebih banyak daripada di musim lalu, karena pasti ada langkah kecil dalam pengembangan di motor, jadi kami mengerem lebih keras dan lebih keras lagi setiap tahunnya.”

Kaliper spek 2019 Vinales di Styrian GP

Brembo yakin ada dua alasan utama meningkatnya kebutuhan rem tahun ini: aerodinamika yang lebih baik dan juga faktor ban belakang Michelin terbaru di tahun 2020. “Aero motor memberikan lebih banyak downforce saat rider mengerem, sehingga mereka bisa mengerem lebih keras,” tambah Pellegrini. “Ban belakang baru dari Michelin juga memiliki grip yang lebih baik, sehingga mendorong bagian depan motor lebih kuat dari sebelumnya, sehingga rider harus lebih banyak menggunakan rem depan.”

Semua tim memiliki variasi spesifikasi Brembo yang sama, sesuai dengan layout dan kondisi trek. Ada empat cakram depan berbeda yang tersedia: standar 320mm high mass, ditambah standar 340mm high mass. Dan ada tiga jenis kaliper rem yakni: kaliper GP4 2020 dan dua varian kaliper 2019, dalam standar dan tipe Heavy duty, yang tipe terakhir dilengkapi dengan pad yang sedikit lebih besar untuk tenaga lebih besar dan pembuangan panas yang lebih baik. Semua rider menggunakan cakram 340mm high mass di Red Bull Ring dan hampir semua pembalap di rombongan barisan depan memilih kaliper heavy duty spek 2019 ataupun kaliper rem spek 2020, yang diperhalus untuk meningkatkan pembuangan panas dan memiliki lebih sedikit fluida untuk meningkatkan konsistensi dan mengurangi kekenyalan di tuas rem.

Namun, di Austrian GP (Austria 1) Fabio Quartararo menggunakan kaliper standar 2019, yang menyebabkan ia keluar trek di Turn4 dan struggle selama balapan, membuat posisinya terdegradasi. Tidak mengherankan jika Quartararo beralih ke kaliper spek 2020 untuk Styrian GP akhir pekan lalu, tetapi karena sifat alami dari M1-lah penyebab dia masih berjuang untuk mengendalikan suhu rem.

Kaliper spek 2020 Quartararo di Styrian GP

Nah di lain sisi garasi Yamaha nih, Vinales melanjutkan dengan tetap memakai kaliper spek 2019 di Styrian GP. Hal tersebut ia lakukan dengan alasan dirinya tidak mengalami masalah dalam sesi latihan, jadi dia lanjut race dengan setup seperti itu, meskipun sesama pembalap Yamaha lainnya yaitu Valentino Rossi dan Franco Morbidelli mengganti kaliper 2019 ke kaliper 2020 untuk akhir pekan kedua mereka di Red Bull Ring. Alasan Vinales tetap menggunakan kaliper spek tahun lalu karena dia lebih menyukai feeling dari spek itu, tetapi sebenarnya sudah ada sedikit keraguan bahwa dia membuat kesalahan besar.

Kaliper spek 2019 Quartararo di Austrian GP

Pellegrini menyatakan bahwa; “Kami menyarankan kepada team agar mereka menjaga suhu kaliper di bawah 200 derajat, karena jika tidak fluida pada rem menjadi terlalu panas, maka Anda memiliki lebih banyak jarak travel pada tuas rem, sehingga Anda tidak dapat menghasilkan tekanan yang cukup untuk pengereman yang baik. Jika team menggunakan kaliper 2020 kami dan menggunakan solusi saluran udara pendinginan yang baik, suhunya harus sekitar 150 hingga 160 derajat.”

Yamaha tentu meninggalkan Spielberg dengan perasaan campur aduk, bersyukur mimpi buruk mereka di 2 kali balap Red Bull Ring sudah berakhir dan juga bersyukur karena hanya satu sirkuit dari sisa sembilan seri MotoGP 2020 mendatang, hanya Catalunya yang merupakan satu-satunya sirkuit yang menuntut pengereman ekstrem. Brembo menggolongkan setiap trek ke dalam beberapa tingkatan pengereman motor; Very Hard, Hard, Medium, Easy atau Very Easy. Sirkuit seperti Misano, Le Mans, dan Valencia masuk ke tingkatan Medium, sedangkan trek Aragon masuk ke tingkatan Hard. Sedangkan sirkuit yang baru masuk ke kalender MotoGP yaitu Algarve (Portimao), tempat berlangsungnya seri pamungkas MotoGP 2020 terlihat masuk ke tingkatan Medium. Maka boleh dibilang Yamaha bisa bernafas lega menyongsong 9 seri berikutnya. So, sudah paham yah kenapa 4 rider Yamaha keteteran banget di Red Bull Ring setiap tahunnya terlebih-lebih lagi musim 2020 ini, masalah power mesin yang berimbas kepada pengereman. -Nugi-

 

113 COMMENTS

    • Pantes Vinales dapet julukan Top Gun. Seperti feeling pilot pesawat tempur yang tau pesawatnya ada masalah, dan saat pesawat mau jatuh dia aktifin kursi lontar buat menyelamatkan diri, karena emang udah ga da yg bisa dilakukan lagi selain loncat.

      Guest
    • Karena mugello special nya cuman di straightnya panjang bener. Tapi ga kaya motegi yang stop and go
      Nyiksa rem tapi ga se serem motegi, yang lurus lalu ngerem keras, lurus lagi rem keras lagi tikungan parabolik mugello lumayan banyak tapi klo motegi belokan ya low speed semua.

      Guest
    • kalau gak bisa bertahan
      penyuplai seharusnya gak ngasih stock produk tersebut di paddock ….
      masa bisa jebol gitu…

      skarang juga harus pintar mengatur suhu rem saat dan maintance sebelum balap …

      Guest
      • kalau gak bisa bertahan
        penyuplai seharusnya gak ngasih stock produk tersebut di paddock ….

        Mengapa disediakan beberapa paket,karena satu paket belum tentu cocok dengan motor 1 dengan yg lainnya..contoh ban..ada Hard,Medium,Soft..kalo mengikuti logikamu,soft atau medium gk bisa bertahan,harusnya gk usah dijadikan pilihan..balapan sepanjang musim pake hard terus…pemikiran yg sangat sempit…

        Guest
    • Emang dikasi pilihan bro sesuai setup yang mau dipake tiap team. Kalo gak salah ada pilihan high mas dan low mass buat cakram karbonya, yang high mas otomatis luas area kontak dengan kampas rem lebih lebar dari yang low mass, kelemahanya ya lebih berat, efeknya ke unsprung weight dan efek giroskopik yang nambah juga

      Guest
  1. jadi boleh dibilang mesin M1 kurang tenaga (lelet), trs pembalapnya berusaha ngejar ke-leletan td dgn ‘late brake’ dan keras, yg akhirnya membebani rem.. ditambah ga pke spek heavyduty kyak pembalap front row.. dan hasilnya kampasnya kebakar..
    bgtu ya ?

    Guest
  2. bukan mesin paling lambat kali om nug…akselerasinya terendah…eh…kurang agresiv…eh..apa yah…yang tidak memancing…

    coba bang bedjo mungkin punya istilah yang paling sopan…

    Guest
  3. Pas baca “Sedangkan rider dengan motor yang lebih lambat, mereka perlu ‘menebus’ waktu yang hilang saat trek lurus” sedih rasanya 🤣🤣 can relate

    Guest
    • F1 carbon disk brake kan super high mass, tebel nya tebel banget lalu air duct vent nya segeda gaban disamping.
      kalau disck brake kanan kiri motogp ditempel juga masih lebih tebel setengah bagian discbrake nya f1. Coba aja liat belum lagi ada air vent di tengah

      Guest
  4. Ini juga penyebab morbidelli nyundul zarco di austria 1 tpi yg d hukum zarco…..

    Sama2 spanyol sama2 rider factory ktm dan sponsor utamany pun sama dan sama2 melewati track limit di tikungan terakhir lastlap dan juga main di sirkuit yg sama yg merupakan sirkuit punya sponsor utama mereka dan dinegara pabrikan mereka bedany satu d moto2 dan satunya lgi di motogp tpi mengapa jorge martin kena penalty turun satu posisi sedangkan pol espargaro tidak?? Mafioso ala italiano kah? Soalny d blkg jorge ada brider italia anakdidik rossi sdangkan di motogp d blkg pol masih juga spanyol… Di moto3 juga tony arbolino juga nginjak track limit tpi aman2 aja.

    Guest
  5. Tp ini tidak berlaku buat marc marquez karena doi lebih menitik beratkan ban belakang sekaligus cakram rem yg mirip dengan mobil..

    Guest
    • Iyaya, rider M1selalu gak dikombinasikan dgn rem belakang ya kalo hard braking? Stress di rem depannya jadi parah banget,,, mengingat Lorenzo aja harus menyesuaikan diri dgn penggunaan rem belakang saat pindah ke ducita

      Guest
      • Rossi udah dikenal dengan kemampuannya modulating front and rear brake. Mknya jago late brake, block pass dan defense. Menurut Mat Oxley pun Quartararo juga jago bagi front and rear load. Cm, IMO, Redbull Ring emang track yg menyiksa mesin M1 MY2020. Saya sendiri sebenernya masih curiga kl Yamaha ngutak-atik engine brake mapping sehingga untuk bs mengurangi kecepatan akhirnya ride Yamaha harus overused it’s brake, wlpun saat dikonfirmasi Oxley bilang kl menuru MV Yamaha g melakukan itu.

        Guest
  6. ….ada pernyataan ‘sesedikit mungkin penggunaan fluida cairan rem’, apa diameter selang rem lbh kecil lg protype atau menguap sedikit tersisa hingga bagel mirip cairan masuk angin … cairan rem dot brapa hingga titik didihnya 1200°C ……baru blong dgn carbon disk lg…….wajib didinginkan turun hingga dibawah 1000°C …. PR buat ya_maha utk mengejar setingkat mesin sejenis ….hanya satu Si_Zuki …. rahasia dapur teknologi mesin inline …. secara ngk langsung pembuktian pembalap yamaha terlalu dimudahkan apa dgn motor yg easy handelnya krn keseimbangannya mengalahkan mesin (mesin lbh lemot?) Krn beda prinsip honda n ducati yg dibangun dr mesin lebih dahulu , mirip sinetron dunia terbalik ducati dan honda belajar dr ktm juga utk kesimbangan paket mesin dan chasis …..mnarik sekali saling intip kelebihan masing2x motor protype.

    Guest
    • 1000-1200c° itu batas disc brake sama kampas karbon nya bro
      200c° itu batas cairan rem nya, bukan “menguap” tp mendidih. Kalau mendidih terjadi brake fade. Namanya kalau bentuknya cairan bagaimanapun ttp mendidih. Walaupun oli,
      Ga ada cairan titik didihnya 1200° begitu bro

      Guest
  7. Seharusnya bisa belajar dari pengalaman orang lain, tapi emang kita kadang gak bisa kalau gak ngalamin sendiri.

    Guest
  8. Yamaha tiap taon ada aja ya masalahnya,,
    Ga kelar2..
    Ky spinning ban, suzuki uda ga..
    Masalah crank, suzuki blg salah pilih..
    Yamaha jg gt.. tp suzuki kelar, trs skrg bagus..
    Tp yamaha gt ja tiap taon..
    Tambal satu bolong laen..
    Ya kl pabrikan kecil oke lah..
    Ini sekelas yamaha,, ms ga kelar2?

    Guest
    • Input antar ridernya kadang suka beda, ditambah mungkin test ridernya kurang bagus juga. Jadinya masalah ga kelar2.

      Guest
    • Jangan lupa faktor aerodinamis dan grip ban Michelin tahun ini. Dovi aja struggle braking di Jerez. Baca deh… Situs luar.

      Jadi balapan prototype ini terus berkembang di tiap aspek yg membutuhkan update di aspek lain.

      Sebagian baru ketahuan di saat balapan. Gak ketauan saat FP atau qualifikasi.

      Hon-da juga ketemu masalah di Austin saat Marc crash. Jadi ini jamak dialami pabrikan manapun.

      Dengan persaingan ultra kompetitif seperti sekarang, rider terus menerus menaikkan limit balapan.

      2015 Marc menang atau crash, 2016 mentalitasnya berubah. Mau tegakin motor start lagi cuma demi satu dua poin.

      Apa yg dilakukan Marc ya ditiru rider lain karena dia contoh sukses.

      Persaingan tahun ini masih terbuka, satu poin pun dikejar Vinales. Beda sama Philip Island 2019. Vinales cuma mau menang, ga mikir duit hadiah kalo finish runner up. Ya dia push sampai crash.

      Guest
  9. Prinsip jangan terlalu banyak ubah setingan vinales jadi buah simalakama.

    Btw harusnya di sirkuit yang flowing M1 bakal berjaya dong ya 😆

    Guest
        • Topman Suzuki DNS di seri pertama yg tracknya sesuai dengan motor inline, di seri selanjutnya he still race with a wonky shoulder.

          Di Austria, yang tracknya banyak mengumbar akselerasi, GSX-RR masih bisa bertarung dengan motor V4. Saat start, holesot GSX-RR bahkan lebih cepat dibandingkan Ducati dan KTM.

          bike wise (IMO), GSX-RR masih lebih baik dibandingkan Yamaha M1.

          Guest
  10. Komponen rem yang disuply brembo ini free atau tiap tim bayar.? Kalau ban kan free..
    Rem tercanggih bisa seperti ini. Seharusnya bisa menangani setiap karakter pembalap, tidak peduli gaya halus atau kasar.

    Guest
    • Bayar om,pernah dulu dovi waktu masih di tech3 ngeluarin duit sendiri untuk membeli perangkat pengereman yg lbh baik dari yg di sediakan pihak team tech3,koreksi klo salah.

      Guest
    • Rem nya udah canggih…tapi pembalapnya aja yang ngeyel…

      Udah dijelaskan kalo mayoritas pembalap pakai versi 2020..sedangkan Vinales ngeyel pake versi 2019…ya begitulah jadinya…

      Guest
  11. Setelah styria masalahnya lain lagi, jadi pada dasarnya masalah rem pekan ini lahir dari karakter mesin 2020 yamaha. Termasuk masalah valve di dalamnya. MV paling menderita karna alokasi mesinnya tinggal 3, dan yg hancur kemarin itu yg paling fresh, jadi melewati sisa musim dgn mesin yg kurang optimal.

    Guest
  12. Klo boleh saran neh, pake Konfigurasi V4 aja deh. Masak jaman GP500 aja bisa bikin skrg engga.
    YZR dulu di straight juga gila gilaan top speednya gak sperti inline skrg. Letoy.

    Guest
    • ya beda dong om dulu sama sekarang, bobot mesin 2 tak 500cc sama 4tak 1000cc beda jauh, mereka juga milih konfigurasi inline dengan tujuan memperoleh COG yang pas buat ngebut di tikungan.

      Guest
      • Intinya insinyur yamaha harus bikin motor M1 full power lg..kasian rider ymh hrs late brake trs..d lurus lgsg dlibas lawan..blm mslh klep dan kopling..kl sampe btal jurdun bisa2 harakiri tu insinyur ymh’harga diri jepun borr..
        Kenapa gk bikin M2 mission two aja ya spek edan lg..apa ecu skrg mentok..perlukan ecu inhouse dbalikin lg.??

        Guest
        • Saya sudah cukup tersiksa ketika curva cornernya yamaha gak jalan. Wkwkwk…
          Mending V4 aja sekalian. Bengis akslerasinya.

          Di Brno entry corner kalah, Akselerasi setelah Parabolica kalah malah beda 9 kmj.

          Belum lagi ntar di Aragon diiihh…gak tega liatnya di backstraight…gigi 3 lsg dilibas Ducati n KTM. Yg ada rider M1 kipas kanan kiri nutupin jalur dibelakangnya.

          Guest
      • Mereka tidak pakai filosofi Takeo HRC ya, urusan lurus itu urusan mesin, akselerasi. Urusan tikunganan itu kembalikan kemampuan pembalap. Jadi dari sini sudah jelas beda ya filosofi Honhon dan yamama

        Guest
  13. Maaf guys sy tringat saat menerbangkan pesawat tempur,lompat dr kokpit. Next misano,you can bet on me again.

    Guest
    • Kok saiki sampean komen ora ndagel to mbah…malah kur wadulan…mbok koyo biasane wae…telo kok sampean mbah…

      Guest
  14. bukannya masih ada rem belakang? saya masih gak mudeng, kenapa… harusnya masuk ke Pit ..pas balapan berlangsung

    Guest
  15. Ini di sosmed rame komentar komentar pedes soal aksi maverik kemarin, bahkan nyumpahin dia mati aja di kejadian terahir itu. Yang penting kedepan gk Da kejadian serem lagi

    Guest
    • Mungkin mereka kesel bro. Vinales ngeyel, udah disaranin pake spek rem terbaru ttp gamau padahal udah ragu pake spek rem yg lama. Udah remnya sempet gak berfungsi maksimal tp masih kekeuh balapan sampe akhirnya remnya bener bener gak fungsi.

      Guest
  16. Mungkin ada yang nyalahin ha er ce jadi biang kerok M1 mbledooss ,,,gara gara mm ga ikuutt wk wk wk…. .,.

    apa technisine kudu sekolah manehhh

    Guest
    • SR zaman batu urun komen 🙈🤭✌️

      setuju @0m Jhon 👍
      perihal konteks kalimat Bro Nugie ini memang lbh dpt mudah dipahami dibanding Wak Haji TMC sndiri, mengingat beliau (Wak Haji) dlm tehnik penulisan msh sering typo, ataw bhkan terjadi perulangan kata di sana-sini, tanda baca yg krg tepat/ terlewat, yg terkadang membingungkan pola kalimatnya itu sndiri, endingnya.. yaa Bisa Salah Tafsir (jika tdk dibaca/ pahami dgn seksama).

      sy pribadi bs sangat memaklumi, krn.. ada hal yg lbh besar dari itu smua, yakni: ISI (muatan artikel yg terkandung di dlm nya), ILMU (caring & sharing wawasan sgala teknik motorcycling).

      sy haturkan sembah trima kasih yg sedalam²nya bagi Wak Haji TMC & sgenap jajarannya yg sudah sudi membagi wawasan ilmu, belajar & berbagi slama ini di jagad per-blogging-an nusantara tercinta.

      akhirul kalam,
      maaf jika sy ada salah kata,
      lanjutkan Wak Haji & Bro Nugie..👍
      truslah.. ttp smangad berkarya,
      dibanding sy yg hingga usia senja blm dpt menghasilkan karya apa² bagi bangsa lan semesta.. 🙏salam — Jaya NKRI🇮🇩

      Guest
  17. Sayang di MGP gak ada VSC maupun SC ditengah race. Karena penggantian ban, menambah bahan bakar dan cara restart race sangat tidak fair.

    Guest
    • Klo lihat kmrin, cukup yellow flag. Kurangi kecepatan dan no overtaking.

      Tapi udah aturan sih. Tinggal klo masih bs diperbaiki aturanx

      Guest
  18. Jujur aja masalah pengereman itu bisa membuat feeling menjadi beragam. Pernah pakai motor yang remnya itu ngga banget alias ga tau apakah ini bener2 ngerem atau ngga. Jadinya kurang pede untuk bisa membawa motor ke tingkat optimalnya. Tapi kalo pengeremannya oke, kita bisa lebih pede untuk membawa motor hingga limitnya. Sumpah ga enak coy kalo bawa motor dengan pengereman yang bisa bikin deg2 seeerrr

    Guest
  19. Rossi belum komen yak ? Minggu lalu teriak teriak safety ketika muridnya berurusan sama crash. Ini rekan setimnya berurusan sama safety tumben belum muncul di mikropon.

    Guest
  20. BTW itu mesinnya selamat gak ya kang … misalkan crak dikit aja udah gak bisa dipakai … atau kabel ke magnet mesin masih bisa dibuka gak ya kalo kebakar.

    Guest
    • Mesin kykny masih. Bagian komponen yg g boleh dignti kan spring valve, valve, noken as, piston dll. Klau soal kelistrikan masih bisa dignti karena diluar komponen mesin utama.

      Guest
  21. Intinya, udah tau rem rusak, pake acara dadah dadah, tapi masih maksain race. Ya “untung” cuma terjun bebas, kalo nabrak rider lain bisa banned permanen tuh!

    Guest
  22. Jadi yg saya tangkep salah satu intinya gini:
    1. mesin yamaha kalah kencang -> pembalap kudu late braking untuk memangkas waktu -> rem di bejek habis2an -> rem ga kuat bisa ambroll..
    2. saran brembo soal rem -> tim vina cuekin sarannya -> salah setup rem -> rem ga kuat, ambroll

    Guest
  23. Intinya neng vina salah pilih perangkat rem depan yg sudah disediakan oleh brembo. Karena power M1 2020 lebih besar dari M1 2019. Neng vina pke caliper 2019 padhl yg lainnya pke caliper 2020.

    I

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.