TMCBLOG.com – Sobat Sekalian, memperoleh pinjaman satu unit Motor TVS i-Qube membuat tmcblog cukup puas menyelami bagaimana dan seperti apa kegiatan yang dilakukan Oleh Pemilik Sepeda motor listrik pada kesehariannya. Boleh dibilang saat memakai Motor listrik sepeti TVS i-Qube di jalan, yang tmcblog rasakan adalah, otak kita harus lebih putar lagi menyangkut Strategi apa yang akan dijalankan . .

Yes Strategi ini dalam artian mau pakai Mode Kecepatan apa saat berkendara . . . Mode Eco Riding dengan Top Speed 45-50 km/jam dan bisa merengkuh sekitar jarak 75 km atau Mode Power riding dengan maksimum Speed sekitar 75 km/jam namun jarak tempuh turun jadi sekitar 45 km. Seteah itu kita pun harus mempersiapkan strategi kapan waktu yang bisa dimanfaatkan untuk Me-Recharge kembali baterai dari Motor ini.

Dan benar saja, Kebiasaan beli bensin di SPBU itu Butuh rata rata sekitar 5 menit saja untuk Full tank, Namun pengisian baterai sampai 100% di TVS i-Qube butuh waktu 5 sampai 6 jam jam, Terlebih lagi Baterai iQube tidak bisa dicopot secara portable . . .sehingga mau nggak mau kita akan sangat bergantung pada strategi kombinasi pemakaian dan proses Recharge Ulang . . . Yap berevolusi di daerah sana saja . .

Jelas menunggu 6 jam itu Tidak Praktis. Dan lagi lagi mungkin Paling Ideal adalah bahwa Untuk Sepeda motor listrik itu agar kita bisa lebih dapat mengakselerasi Penetrasi maka dibutuhkan solusi dari permasalahan ketidak-efektifan menunggu waktu pengecharge-an Ulang . . menggunakan Fast Charging ? entah 3 atau 5-10 tahun lagi . . namun saat artikel ini ditulis, teknologi itu belum sampai ke tataran akar rumput.

Dan lagi lagi, Opini tmcblog adalah Solusi dari Swap Baterai adalah salah satu Solusi paling Masuk akal dan Bisa dilakukan dalam waktu cepat kedepan . . . Metoda ini lah yang menurut tmcblog dapat membuat Penetrasi Sepeda motor listrik berpotensi bisa lebih cepat dibanding penetrasi Mobil Listrik !.

Swab baterai yang tmcblog maksud adalah produses sepeda motor listri mengikuti satu platform desain, spesifikasi electric dan dimensi yang sama sehingga Misalnya ada baterai yang kehabisan simpanan listriknya, maka pengguna motor bisa melepas Baterai yang ada di Motor untuk ditukar di pusat penukaran Baterai yang tentunya sudah siap terisi Listrik sepenuhnya. Setelah ditukar dan membayar Muatan listrik di dalam baterai, Maka konsumenbisa lansgung kembali menggunakan motornya tanpa harus menunggu baterai di-charge kembali penuh yang tentunya akan memakan waktu yang lumayan lama.

Seperti kita ketahui, sampai saat ini baterai terbesar yang tmcblog ketahui  di sepeda motor Listrik adalah baterai pada MotoE. Dimana Baterainya sangat besar sekali, namun jika dilihat beberapa varian skuter Listrik, baterai yang digunakan cenderung memiliki dimensi yang ‘ reachable ‘ bisa di jinjing, bisa ditentang pakai satu tangan . . . silahkan simak Baterai dari kendaraan Roda empat . . . Boleh dibilang memenuhi hampir seluas dek bawah dari Mobil. Dan tentunya kalau di Mobil benar segini, maka akan sangat tidak memungkinkan untuk menggunakan metoda swap baterai . . Karena jelas repot melepas baterai dengan luasan satu dek bawah dari Mobil. . . Nah jadi Gimana ? Kalu menurut hemat kami, mungkin lebih baik perusahaan Sepeda motor duduk bersama membuat platform baterai swap-able yang sama ini

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

46 COMMENTS

  1. Yes, swap batere seperti kita beli gas LPG atau Aqua galon. Tinggal bawa tabung n galon kosong trus tuker beli dgn tabung n galon full tank

    Guest
    • Bisa dibuat swapable parsial misal hanya tukar batre 1cell-2cell-3cell dst tidak perlu harus di swab semua. Mirip orang beli bensin 1liter-2liter tidak harus full tank. Harganya juga bisa disesuaikan kantong.

      Guest
    • emangnya dari segi industri sudah mendukung ? industri manufaktur saja kalau import spare-part itu kena bea cukai gila2an lho bahkan lebih murah dan mudah import barang jadi. sepeda listrik diimport tanpa bea cukai dlm bentuk CKD dalam 3 jam sudah ready jadi duit.

      Guest
  2. Swap baterai emang yg paling masuk akal, tapi mungkin untuk starter awal harusnya perusahaan kasih 2 baterai dalam paket penjualan sembari nunggu infrastruktur swap baterai umum terbangun.

    Guest
    • Annu, mau tanya. Motor listrik harusnya lebih awet atau rechargeless karena energi gerak yg dihasilkan rotor untuk memutar ban dapat dipakai juga buat isi ulang aki atau batrei kan. Kok knp harus ngecharge ulang? Kan bisa ngecharge sambil jalan…

      Guest
  3. mobil juga mgkn bisa swap, tp perlu sejak awal desain dan tool khusus, biar proses pencopotan lebih mudah cepat, dan mgkn spt media angkut (misal spt gerobak sorong, forklift, sampe robot pembawa batere) biar proses penggantian lebih mudah dan cepat

    Guest
    • untuk mobil sudah ada yg bikin di luar negeri. coba cari dengan kata kunci : Nio Power Swap Station.
      tapi kayanya terlalu mahal kalau mau di diaplikasikan ke sini.

      Guest
  4. Harus ada campur tangan pemerintah untuk mewajibkan keseragaman jenis, ukuran dan desain baterai dari motor listrik. Hanya kapasitas daya baterainya saja berbeda tergantung spesifikasi dari tiap motor listrik tersebut. Supaya konsumen tidak bingung saat memilih swap baterai.

    Guest
    • Biasanya standar beginian justru dtg dari asosiasi perusahaan yg bikin. Contoh kyk colokan USB, itu kan hasil konsorsium besar perusahaan yg bikin standar USB sama semua. Dgn standar yg sama otomatis mengurangi biaya riset dan produksi. Trus tinggal di lisensikan saja

      Guest
  5. Ngomong-ngomong soal motor listrik, motor listrik lokal yg build quality bagus baru Viar, Gesit masih perlu banyak improve dibagian build quality, apalagi dibagian motor listriknya yg keluar suara-suara aneh setelah nerjang hujan

    Guest
  6. Mengingat indonesia adalah salah satu market besar sepeda motor di dunia,kenapa pemerintah sbg stake holder tdk berani membuat homologasi type batre.???jngn mau jd pasar jualan doank hrs punya kuasa mengatur standarisasi.kalo nuggu produsen motor,ujung”ny pemain besar yg dominan dan pemain kecil mau gk mau ngikutin doank.

    Guest
    • Swap adalah sebuah langkah awal, langkah selanjutnya adalah menyamakan suara pabrikan untuk menyamakan platform baterai agar swap bisa dilakukan masif . . Mumpung Baterai Motor kecil dan Portable, nggak kayak baterai tesla yang selantai mobil

      Administrator
  7. Berita Duka : Fausto Gressini dinyatakan meninggal dunia
    Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan

    Guest
  8. Tapi kenyataannya sekarang sebaliknya. Di Jakarta sendiri mobil listrik sudah seliweran, biarpun baru di kawasan elit. Motor listrik sudah ada dari dulu tapi ya gitu doang cuma di sekitaran perumahan, dan dominasi matic injeksi di masyarakat luas butuh waktu buat digeser ke matic listrik. Mobil sendiri ga sampai setengah hari ngecasnya dan jarak tempuhnya lebih jauh, juga pemakai mobil gak seperti pemakai motor yang sulit merubah kebiasaan.

    Guest
  9. Itu mudah klo HYSK mau kok mas..
    Mereka punya semua teknologi dan sumber dayanya…
    Kita orang RI akan seperti biasa sebagai user dn penyedia bahan mentah saja..

    Guest
  10. peluang buat resto, warteg atau warung kopi nih buat nyediain fasilitas charging. Untuk motor sih rata2 ukuran batre ga gede ya. ngecas dari 0 sampe full kira2 butuh 2 kwh yang ngabisin duit Rp 2000 – 3000. Jadi buat yang mau numpang ngecas bayar 2000 – 3000 ke pemilik warung.

    Guest
  11. Harus standarisasi dulu ukuran baterainya, biasanya bakal ada konsorium internasional antar perusahaan terkait biar ada persetujuan standar baterai yg bakal dipake secara global

    Guest
  12. jadi inget hasil test drive Hyundai Kona , BISA PERGI TAPI GAK BISA PULANG KARENA DI REST AREA TOL TIDAK ADA TEMPAT CHARGE BATERAI MOBIL LISTRIK hahahahaha…

    Guest
    • sekarang iya seperti itu karena didominasi minyak dino
      nanti nya minyak dino ga ada. karena regulasi climate control sedunia.

      beli bensin bisa 100rb perliter nanti.

      sama dengan orang yang ngetawain orang pake mesin pertama kali dibanding ditarik kuda. lah kok mogok? kuda gw cukup kasi rumput sama air yang ada dimana2

      Guest
  13. kalo baterenya gak universal, minimal konektornya universal kayak HP, jadi nanti ada yg bisa jual “powerbank” nya…
    orang Indonesia itu kreatif Bang Haji, jangan remehkan kreatifitas orang Indonesia, nanti liat deh… heheheee…

    Guest
  14. Gak harus satu platform juga, kasusnya mirip seperti galon, ada merk [email protected] ada merk cle0 ada merk v1t, semuanya beda2.
    Nah nanti di pom bensin disesuaikan mau beli batre apa, yang honda, yang yamaha, yang suzuki, dan lain2

    Soalnya kalau bikin agreement untuk satu type batre rasanya susah sebab ada unsur persaingan bisnis, ada unsur Rnd yang harus duduk satu meja untuk menyamakan kapasitas dan jenis motor dan tentunya ini rahasia dapur masing2

    Nantinya produsen motor listrik pasti berlomba2 untuk bikin batre yang long life, siapa yang punya jaringan dan RnD kuat akan menguasai pasar dan tentu kita yang di untungkan karena dapet produk yang makin lama makin bagus

    Guest
  15. Di negara maju ketepatan waktu kedatangan dan pergi transportasi umumnya hampir 100%,bahkan kalo ada kendala teknis dan telat 5 menit aja dipersilahkan sama stasiunnya buat bikin surat bahwa alasan karena telat ke kantor/sekolah karena ada kendala di kendaraan,jadi warganya jg lebih percaya menggunakan transportasi umum,,disini busway aja jalurnya sering diserobot yg bikin macet

    Guest
  16. kayaknya di taiwan sudah pada pakai sistem swap battery di minimarket terdekat deh, pernah liat di discovery channel ato apa gitu

    Guest
  17. Tuker batere lama (agak rusak) dengan batere baru (fresh), lalu keep dan usahakan charge sendiri terus. Agak susah nerapin sistem swap komponen (batere) untuk kendaraan pribadi di Indo.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.