TMCBLOG.com – Walaupun dokter menyatakan bahwa mereka telah menemukan respon klinis yang baik pada cedera humerus Marc Marquez setelah intensifikasi pelatihan, namun Marc Marquez telah memutuskan untuk absen di dua seri pembuka back-to-back MotoGP Qatar 1 dan Qatar 2. Salah satu alasan dari keputusan ini adalah karena dokter sempat mengingatkan mengenai masih terlalu singkatnya periode waktu dan terlalu dininya kondisi proses konsolidasi tulang.

Yes secara umum memang menurut kami keputusan ini sudah cukup tepat, Marc sendiri sudah merasakan seperti apa feedback yang dirasakan lengan kanannya saat melibas dua sirkuit dengan motor yang ‘hampir MotoGP’ yakni Honda RC213V-S dan TMCBlog yakin ia sudah dapat memperkirakan akan seperti apa struggle-nya lengan kanan saat memberikan aksi – reaksi tekanan pengereman depan dengan cakram karbon plus speed yang jauh lebih tinggi lagi ataupun menahan gempuran G-force pengeremannya sendiri. So, hal pertama jelas bersudut pandang kesiapan dan fitnya tangan Marc sendiri yang belum 100%.

Hal kedua yang menurut TMCBlog cukup tepat adalah karena mungkin Marc merasa nggak cukup worthy mempertaruhkan masa depan di dua kali race pada sirkuit ini terlebih lagi di awal musim dimana semuanya masih baru mulai berjalan. Kenapa secara umum mempertaruhkan masa depan di dua seri pertama Losail ini jadi nggak terlalu worthy? Balik ke statistik . . entah apa sebabnya, namun Marc tergolong ‘sulit’ untuk menang di sirkuit ini.

Di kalender MotoGP sejak 2004, GP Qatar 2021 sebenarnya adalah GP ke-18 di Losail, ke-14 di bawah sorotan lampu sorot, dan ke-15 kali menjadi tuan rumah pembuka musim. Namun sobat perlu ingat kembali bahwa musim 2020 yang lalu kelas MotoGP tidak jadi dipertandingan di sini sejalan dengan awal pandemi Covid-19. Sehingga pada dasarnya MotoGP tetap baru 16 kali diselenggarakan di Losail.

Dari 17 kali tersebut secara statistik Yamaha adalah yang terbanyak juara di Losail dengan catatan 8 kali juara (2005, 2006, 2010, 2012, 2013, 2015, 2016, dan 2017). Lalu diikuti oleh Ducati sebanyak 5 kali (2007-2009, 2018 & 2019). Sementara Honda hanya 3 kali -(2004, 2011 & 2014). Patut dicatat bahwa saat Marc Marquez naik ke kelas primer ia hanya menang sekali disini yakni tahun 2014 dan setelah itu ia sulit sekali bisa menembus podium tertinggi di Losail. Juara dunia 6 kali dalam 8 tahun terakhir cuma menang sekali doang di Losail?

See, Marc itu sulit menang di Losail Qatar bahkan dalam kondisi 100% fit. Dan bahkan jika kita lihat lebih dalam lagi di Honda sendiri ada sekitar 10 kali pembalap Honda menyelesaikan race dengan DNF. Ini banyak sekali dan dalam dunia racing itu tidak ada crash yang terjadi karena sesuatu yang tidak diketahui alasannya. Secara statistik Honda sulit sekali menang di Losail.

Pol Espargaro sendiri pasca test Qatar mengatakan impresi pertamanya mengenai kombinasi Honda RC213V dan Losail; “Ketika saya melihat data (telemetri) Bradl dan juga data Marc, maka kuncinya adalah memberikan penekanan lebih pada bagian front end dari motor sampai ke limit.” Sesuatu yang menurut Pol berkebalikan dengan KTM RC16 dimana menurut Pol, KTM adalah motor dengan karakter cocok dikendarai lebih banyak menggunakan roda belakang.

Di Qatar, layoutnya membuat gaya berkendara saat mendekati tikungan terutama di banyak tikungan dua sektor terakhir adalah kita melakukan late braking, turun gear seperlunya, cepat melepas pressure dari rem depan dan setelah itu melakukan rolling speed, menyapu tikungan (speed corner). Kita harus membuat motor itu seperti menyapu tikungan dengan menggantung dengan Rpm yang siap untuk menyalak hebat menjelang akhir tikungan untuk berakselerasi.

Losail adalah trek yang memiliki badan trek yang lebar, Yamaha dengan kombinasi sasis dan karakter inersia dari 4 silinder segaris adalah motor yang memiliki gaya menikung dimana motor akan menggunakan hampir seluruh lebar badan sirkuit. Semakin lebar badan sirkuit mereka akan jauh lebih bisa mengunakan corner speed mereka secara efektif.

Dan jika kita mau lebih analitik melihat layout sirkuit, boleh dibilang hampir dua sektor terakhir sirkuit Losail ini dapat dipastikan 100% isinya tikungan berkakter Yamaha . . tikungannya lebar, flowing dan cepat.

Nahh jadi ngelantur kemana-mana. Namun pada dasarnya, dilihat dari karakter dan morfologi sirkuit, memang agak sulit bagi Honda untuk bisa tampil superior di sini. Soal top speed kalah sama Ducati, soal corner speed kalah dari Yamaha dan kini juga ada Suzuki. Sifat dari seorang pembalap bagus adalah ketika ia merasa inferior maka ia akan mengeluarkan lebih dari 100% kemampuan dan ini tuh sekmakin mendekati limit, baik limit diri pembalap maupun limit dari motor. Dan itu lah yang ditakutkan semua fihak bila Marc Marquez memaksa ikut di double header race Qatar.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

44 COMMENTS

  1. berarti akan sangat menarik untuk melihat debut nya Pol di Qatar nanti. apakah bisa memberikan warna baru buat honda di Qatar. nuhun wak Haji

    Guest
  2. Kalau dilihat lihat rcv ini bukan motor yang se-dewa itu ya.. topspeed bukan dewanya, corner speed juga dewanya.. terus unggul di mana ? tapi kok bisa sering jurdun..

    Guest
    • Kalau impresi pol waktu test diqatar kemaren tenaga rcv lebih bringas banding ktm kata doi,dan agak susah dibelokkan ketimbang dia waktu nunggang rc16… intinya balik ke siridernya sih mau dimaksimalkan kemana setup motornya,contoh marc lebih utamain ban depan,sedangkan stoner lebih maksimalkan ban belakang… nah kalau saya liat sih gaya pol waktu test rcv diqatar kemaren gayanya lebih ke stylenya marc,utamain ban depan…

      Guest
    • Rcv dr gen 211 ya terkenal kuat dalam hard brake nya,mau dipake siapapun itu
      Tapi ya jadinya harus dibawa to the limit sampe banyak yg bergelimpangan

      Guest
    • rc212v, rc213v itu tipe motor yang kuat ngerem dan akselerasi, plus juga lincah atau gampang buat ngerubah arah, jadi cocok buat sirkuit sejenis motegi dan assen, kelemahannya di tikungan tikungan panjang yang banyak ada di losail atau mugello

      desmo kuat ngerem, akselerasi, topspeed, tapi kurang lincah,
      bagus di qatar, mugello yang lurusnya panjang dan gak banyak nerubah arah, bagus juga di sirkuit stop n go seperti motegi atau di austria,
      tapi kesulitan di jenis sirkuit seperti assen atau texas yang banyak tikungan flip flop

      m1 motor lincah dan mengalir, lemah di akselerasi dan topspeed, bagus di tikungan tikungan panjang seperti mugello atau losail dan tikungan flip flop seperti assen dan texas, tapi begitu ketemu jenis stop n go, apalagi tikunganya tajam dan sempit pasti langsung ambyar

      gsx rr mirip m1 dengan topspeed lebih bagus

      rc16 dan rs gp belum keliatan jelas kekuatannya ? kemungkinan akan ikut karakternya desmo

      itu karakter dasar motornya, lain ceritanya kalo yang bawa marc marquez ya, kelemahan motornya bisa ditutupi

      Guest
    • Coba kalo kita balik gini gimana RCV Corner speed nya lebih baik dari Ducati dan Top speed nya lebih baik dari Yamaha jadi wajar kalau menjadi Motor paling Sukses di Motogp gimana?

      Guest
  3. Hmm karena alasan itu Rider H sering.menggunakan ban depan slick hard ya,karena lebih ke front end penekanannya.. udah hardpun komponnya masih terasa lunak itu ban micelin kata marc.. dan micelin sampai sekarang masih belum mampu buat kompon yg lebih keras lagi alias extra hard seperti yg pernah dipakai rossi waktu gpargentina 2015 yakni bridgestone

    Guest
  4. sepertinya Marc ga mau lagi kalah dgn Emosi,, adrenalin boleh tinggi, tapi kalo udh dikuasai emosi ya kejadiannya bisa libur selama 1 musim,,

    Guest
  5. Konsolidasi sempurna tulang kita butuh 12 – 24 bulan.
    Marc masih 3 bln.

    Tulang kita yg paling besar tidak mampu menahan gaya axial benturan pada kecepatan melebihi 50km/jam. Sudah pasti patah sekalipun tulang nya Arnold atau the Rock.

    Kalo Marc crash, high side misalnya, gaya axial bisa membentur humerusnya. Dan kembali ke nol lagi.
    Poor Marc

    Guest
  6. Konsolidasi sempurna tulang kita butuh 12 – 24 bulan.
    Marc masih 3 bln.

    Tulang kita yg paling besar tidak mampu menahan gaya axial benturan pada kecepatan melebihi 50km/jam. Sudah pasti patah sekalipun tulang nya Arnold atau the Rock.

    Kalo Marc crash, high side misalnya, gaya axial bisa membentur humerusnya. Dan kembali ke nol lagi.
    Poor Marc.

    Pilihan terbaik ya jadi atlet renang saja

    Guest
    • Ahirnya bisa seperti lorenzo, mental udah down karena tulang belakang dipaksa pun kalau terjadi crash bisa berakibat fatal, ahirnya pensiun dini

      Guest
      • lorenzo lebih ngeri kondisinya, tulang belakang soalnya, itu pusat saraf tepi yang mengatur refleks, insting udah langsung tumpul, udah gak bisa jadi atlet olah raga extrim lagi itu.
        jangankan olah raga ekstrim, salah gerak di tempat fitness bisa bikin dia kayak pit beirer kondisinya

        Guest
  7. Losail dan Spielberg adalah sirkuit yg agak kurang cocok dgn Marc, walaupun sering finish 2nd

    Kecuali cota,Aragon, Sachsenring baru Marquez go brrrrrrrrrr

    Guest
  8. Ini motogp, ngerem dari 350 – 100 ,beh orang dengan tangan normal aja bisa terkilir kali,memang sangat beresiko, jika dulu udah bodoh maksakan diri race, setidaknya jangan diulang lagi,mbuk yo sabar marc, lepas tahun ini, ikut 3 seri terakhir buat latihan untuk juara musim 2022 disaat sambungan tulang jauh lebih kuat

    Guest
  9. lebih bijak nunggu 2 tahun lagi untuk pemulihan sehingga fisiknya kembali seperti bayi..
    “alien tidak mengenal rasa takut dan sakit”

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.