TMCBLOG.com – Jika kita melihat secara lebih mendalam jajaran laptime yang dibukukan oleh Fabio Quartararo pada race MotoGP Mugello 2021 kemarin memang sudah seperti metronom/Metronome. Oh iya buat rekan-rekan yang belum tahu, metronome sendiri adalah perangkat yang menghasilkan bunyi klik atau suara lain pada interval reguler yang dapat diatur oleh pengguna, biasanya dalam detak per menit. Metronom mungkin termasuk gerakan visual tersinkronisasi. Dan ilustrasi inilah yang sepetinya memang tepat untuk menggambarkan apa yang di lakukan oleh Fabio Quartararo kemarin dengan menggunakan kombinasi ban slick Medium-Medium terutama pada setengah sesi pertama race atau sekitar 12 lap pertama. Sobat bisa lihat di grafik pertama di bawah ini dimana Quartararo seperti menyeting metronomis race pacenya dengan dua mode. Dimana satu ‘mode kencang’ hadir di 12 lap pertama yang mana sobat bisa melihat bahwa Fabio adalah satu-satunya pembalap di trek Mugello yang sanggup menorehkan lebih dari dua kali laptime dengan pace 1:46-an. Tidak ada lagi pembalap selain dia yang melakukan hal tersebut kemarin saat balapan. Sementara mode kedua adalah ‘Mode yang sedikit lebih Konservatif’ dengan tujuan menjaga keausan ban yang sedikit agak diforsir pada 12 lap pertama.

Peribahasa Melayu bilang Alah Bisa Karena Biasa. Dan jika sobat sekalian mau sedikit detail melihat data riset yang dilakukan oleh Fabio, maka sobat sekalian akan menemukan sebuah fakta yang cukup membuat ‘cengok’ yakni bahwa sebelum start race Fabio Quartararo telah melakukan riset terhadap ban Medium-Medium slick ini sebanyak 46 Lap terdiri dari: 12 Lap di FP2, 10 Lap di FP3, 13 Lap di FP4, dan 11 Lap pada sesi Warm-up. Dan incredible-nya, semua sesi yang dilahap oleh Fabio ini menghasilkan laptime yang cukup teratur dan settle di angka 1:47 dan beberapa kali 1:46 ketika pembalap Perancis mau mencari potensi Time Attack.

Tercatat hanya di sesi FP1 saja Fabio dan team masih seperti mencari-cari ban apa yang sesuai. Namun pada sesi FP2, Ia dan team seperti juga yang pernah dilakukan oleh Marc Marquez ketika fit di 2018-2019 maka FP2 ia dan team seperti sudah menemukan keputusan kombinasi ban terbaik untuk race nanti yakni slick Medium-Medium. Setelah itu, mau sesi pagi atau sesi siang semua disikat oleh Fabio Quartararo dengan fokus hanya di satu jenis ban yakni kombinasi Medium-Medium. Dan ini juga bisa dilihat bahwa karena ia tahu bahwa kombinasi kompon ban Medium-Medium bukan merupakan kombinasi terbaik di sesi pagi (FP3 dan Warm-up), maka sobat akan lihat betapa sepertinya Fabio tidak mau memaksakan time attack pace di kedua sesi ini: P2 di FP3 dan bahkan P11 di sesi Warm-up.

Boleh dibilang semenjak hari Jumat, Fabio dan team sudah tidak lagi terganggu oleh godaan kombinasi kompon karet lain untuk dipakai di sesi race hari Ahad-nya. Hal ini berbeda dengan beberapa pembalap lain yang bahkan akhirnya di menit menit terakhir sebelum start melakukan keputusan pergantian penggunaan kompon ban. Jelas data yang digunakan oleh Quartararo sangat solid. MotoGP jaman modern yang sangat ketat seperti saat ini sepertinya sudah tidak lagi relevan adanya titel Sunday Warrior dimana ujug-ujug hari Ahad pembalap yang struggle di hari Jumat dan Sabtu seperti membalikan telapak tangan dan bisa memenangkan dan bahkan mendominasi balapan.

Terlepas dari Fabio Quartararo, TMCBlog mau juga agak fokus ke Mugello sendiri. Mugello ini memiliki mindset Top Speed yang terkuat karena memang memiliki karakter menjadi salah satu sirkuit dengan straight terpanjang di kalender MotoGP. Dan berbicara soal Top speed memang dari dulu dan mungkin memang merupakan karakternya, mesin V4 lebih berjaya dari mesin Inline 4 dalam keadaan setup yang sama sama seimbang. Terlebih lagi Ducati tahun 2021 ini, walaupun secara umum mereka menggunakan mesin yang sama seperti tahun 2020, namun paket perangkat aerodinamika mereka termasuk downwash duct baru menurut pengakuan beberapa pembalap Ducati membuat motor jauh lebih mudah dikendalikan setelah pembalap menorehkan Top Speed 350-an km/jam jelang tikungan San Donato.

Johan Zarco pada Zoom meeting Pramac Ducati malam Sabtu kepada para jurnalis MotoGP mengatakan bahwa “(Awalnya) Karena dengan semua aerodinamika, bagian depan tetap stabil, tapi kemudian bagian belakang sedikit berputar. Biasanya (untuk mengatasi) Anda mencoba mulai memiringkan motor di area itu, yang merupakan cara untuk menjaganya tetap stabil, tapi saya cukup terkejut hari ini bahwa motor benar-benar terkendali dan di semua area rem, motor melambat dengan baik. Paket aerodinamika pada motor MotoGP modern benar-benar membuat melaju di straight menjadi lebih aman. Jadi itu penting, seperti yang saya katakan kemarin, kami bisa melaju kencang, tapi dengan cara yang sama, kami juga bisa memperlambat motor dengan sangat baik dengan semua hal aerodinamika di bagian fairing.”

Okey, walaupun begitu Ducati gagal mematahkan Top Speed Qatar sebagai top speed tertinggi di kesempatan Mugello ini. Malah pembalap KTM -Brad Binder- yang berhasil menyamai torehan top speed 346,2 km/jam di speed trap ini pada sesi FP3. Bicara mengenai motor KTM, salah satu yang sangat mungkin mengambil peranan utama meningkatkan performa dari RC16 di Mugello termasuk moncernya penampilan Miguel Olivera adalah pada update dua hal yakni kehadiran sasis baru dan penggunaan racing fuel baru yang bisa jadi sanggup mengubah power hasil pembakaran di mesin V4 90º mereka.

Menurut Brad Binder, frame baru KTM RC16 yang jelas memiliki tingkat kekakuan/kelenturan yang mengakibatkan meningkatnya feel front end dari motor “Sejauh ini saya pikir frame baru memberikan perasaan yang sedikit lebih baik dari depan, yang akan selalu membantu Anda terutama ketika keadaan semakin sulit. Dengan Frame ini saya memiliki ide bahwa hal ini akan memberi perasaan yang cukup untuk mengetahui arah mana yang Anda tuju. Itu satu hal positif. Secara umum kita hanya perlu menjelajahinya karena ini baru. . . . Untuk jangka panjang saya pikir frame baru membantu kami untuk menjalani trek sedikit lebih mudah, lebih tenang dan menjadi lebih efektif.”

Suzuki pun juga demikian, ada peningkatan di Mugello ini dimana para insinyur Hamamatsu membawa setup algoritma baru elektronik khususnya untuk anti wheelie buat Suzuki GSX-RR. Hal ini membuat fenomena wheelie terutama di tikungan terakhir T15 Bucine yang banyak membuat pembalap Suzuki kehilangan banyak waktu di straight dan tentunya membuat top speed lebih rendah lagi karena initial speed ketika berada di straight lebih rendah dari motor lain. Sobat bisa lihat betapa berkali kali baik Rins dan Mir masih berani adu speed di straight dengan Johann Zarco yang menggunakan Desmosedici GP21. Yes, semua bicara soal top speed karena memang secara umum itu topik yang cukup seksi terutama dibicarakan ketika MotoGP berada di panggung Mugello. Namun boleh dibilang mungkin antara 60-80% dari Mugello ini tidak ditentukan dari margin top speed . . .

Jika soba sekalian tutup bagian straight dari Mugello, sobat sekalian akan melihat betapa sirkuit Mugello dipenuhi oleh banyak tikungan yang hampir sebagian besar bukan merupakan tikungan mati atau tikungan stop and go seperti layaknya tikungan di Red Bull Ring. Cek di infografis Mugello diatas. Praktis hanya tikungan 1 ‘San Donato’ saja dimana pembalap akan turun ke bawah 100 km/jam. Selebihnya mereka menyapu ke-14 tikungan sisanya pada kecepatan di atas 100 km/jam. Di 14 sisa tikungan lainnya kebanyakan dari pembalap akan melakukan rolling speed, tidak banyak momen dimana pembalap menurunkan gear atau Rpm mesin sampai sangat radikal di Mugello ini. Mayoritas dibutuhkan gaya membalap khususnya gaya menikungan yang ‘menyapu’ speed corner dengan sangat cepat. Dan ini suka tidak suka memang makanan empuk bagi motor-motor dengan mesin inline 4.

Secara platform empat crankshaft yang diletakkan berjajar lebar dari sisi kanan ke kiri dari motor akan menyebabkan karakter fisika kelembamam/inersia dari motor bermesin inline 4 lebih tinggi dari motor-motor dengan mesin V4 yang memiliki desain crankshaft lebih sempit/narrow. Ini artinya inersia menikung yang lebih besar maka membuat jika motor sedang menikung maka seakan akan soul dari motor itu sendiri semakin membuat pembalap merasa inginnya terus menerus menikung dan ini jelas membuat sapuan cornering pembalap menjadi lebih cepat. Pembalap seperti memperoleh ‘dorongan menikung  tambahan’ yang diperoleh dari hanya dari karakter fisika dari bentuk fisik konfigurasi mesin. Sayang Mugello termasuk trek sirkuit klasik Eropa yang berbadan sempit. Jika saja badan sirkuitnya lebih lebar seperti layaknya Sepang atau Losail, maka dipastikan superioritas inline 4 di Mugello akan lebih sadis.

Pertanyaan nakalnya adalah, kenapa tiga tahun sebelum ini Ducati merajalela? Analisa pribadi Kami TMCBlog adalah mungkin karena pada saat itu Yamaha dan motor dengan mesin inline 4 lainnya sedang tidak efektif memanfaatkan keuntungan platform mesin mereka di 14 tikungan lain di Mugello selain tikungan 1.

Terlepas dari itu Rebound Bounch Back yang dilakukan oleh pabrikan asal Iwata pada tahun 2021 ini terlihat cukup terasa. Dengan bermodal mesin 2020 dan Ace Rider baru yang bisa lebih konsisten seperti Fabio Quartararo mereka terlihat berusaha mati-matian membayar berantakannya mereka di 2020 dengan segala permasalahan baik teknis maupun politis saat itu. Yamaha dan Quartararo kini mulai terlihat seperti kombinasi yang membentuk sosok momok berkonsistensi mengerikan yang telah memiliki base setup yang diperkirakan akan cukup sesuai dengan apapun jenis trek yang akan mereka sambangi di musim ini dan apapun perubahan cuaca yang akan menghinggapi mereka, hujan, kering ataupun kondisi intermediate di antara keduanya seperti yang sempat di rasakan di Le Mans dua pekan sebelumnya.

Walaupun jelas terlihat agak awut-awutan, dari grafik Top-5 finisher MotoGP Mugello 2021 di atas sobat bisa melihat bahwa Fabio Quartarro merupakan pace setter terbaik di setengah sesi awal race Mugello. Ini adalah kunci utama dari Quartararo. Ia berusaha menjadi yang terbaik dalam 12 Laps awal dengan gap yang ia set jauh dari para pesaingnya terutama dengan Pecco Bagnaia yang semenjak awal ia perkirakan merupakan satu-satunya pembalap yang memiliki race pace kompetitif dengan dirinya. Sayang juga Pecco alami crash semenjak awal sehingga kita tidak bisa melihat evolusi dari race pace Pecco di race Mugello tahun ini.

Dari grafik Top-3 diatas sebenarnya bisa dilihat betapa Oliveira cukup capable untuk mengganggu Fabio Quartararo degan pace yang mungkin secara umum memiliki pola yang mirip, namun entah karena Miguel begitu sibuk di awal megurusi Zarco atau alasan lain memang pace Miguel agak drop di lap ke 7 sampai 12. Sementara itu Mir memperlihatkan potensi yang juga luar biasa terutama di bagian paruh kedua dari balapan dimana secara rata-rata pada sekitar 12 lap terakhir pacenya lebih cepat dari Fabio. Dan kalau sudah gini tentu analisa permasalahan untuk Mir kembali ke performa start dan performa kualifikasi dari Suzuki sendiri yang masih harus ditingkatkan.

Kalau saja bani andai-andai diperbolehkan nimbrung, kalimat pertama nya pasti adalah “Andai Mir dan Suzuki bisa start dari posisi front row bla bla blaaaaaa…” Yaaaa, kita harus selalu ingat bahwa di MotoGP semuanya tidak bisa ujug-ujug, butuh sebuah proses yang berjalan serius. Bukan artinya juga bahwa Suzuki tidak atau kurang serius, namun sepertinya memang ada perbedaan platform dari mesin antara Suzuki dan kompatriot mereka sesama Jepang yang memiliki konfigurasi mesin yang sama yakni Yamaha. Suzuki lebih didesain untuk race pace sementara Yamaha sudah berhasil memperoleh balance setup mereka yang bisa diandalkan saat motor butuh laptime terbaik untuk Time attack.

Yamaha sendiri menurut TMCBlog saat memiliki Quartararo sebagai salah satu pembalap developer baru di 2021 ini kembali memasuki jalur mereka kembali yang benar dimana gak peduli lagi soal kekalahan top speed, karena sedari awal memang kemenangan mereka dimasa masa lalu adalah kebanyakan dikarenakan kesuperioritasan mereka menyapu tikungan dan akselerasi biadab YZR-M1 saat keluar tikungan. Dan untuk sementara kombinasi M1-F1/4 bisa mengawalnya dengan baik. Silahkan dikunyah-kunyah deh sob.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

76 COMMENTS

    • Sepertinya terlalu prematur pernyataan ini:
      “memiliki base setup yang diperkirakan akan cukup sesuai dengan apapun jenis trek yang akan mereka sambangi di musim ini dan apapun perubahan cuaca yang akan menghinggapi mereka, hujan, kering ataupun kondisi intermediate”

      Dalam kondisi hujan/licin, kelebihan Yamaha (mesin inline 4) langsung terkebiri dengan sendirinya, check saja faktanya.
      Di faktor lain, Yamaha (mesin inline 4) masih berjaya itu karena mayoritas sirkuit masih didominasi tikungan cepat bertipe flowing/ rolling speed, dengan kecepatan rerata lebih dari 70 km/jam.
      Semakin tinggi kecepatan di tikungan, maka gap/ jarak antar pembalap akan makin jauh (dalam meter) sehingga tidak terjadi penumpukan pembalap dalam area yang sama yg berpotensi mengganggu racing line ideal.
      Selama Yamaha bisa tetap berada di racing line idealnya, maka keunggulannya dalam menyapu tikungan akan terus terjaga.

      Berbeda jika berada dalam tikungan lambat atau stop and go, maka akan terjadi penumpukan pembalap di tikungan dengan jarak yg berhimpitan pula, sehingga susah untuk tetap bisa berada di racing line ideal-nya.

      Guest
    • Tetap rosi yg berjasa..karena rosi legowo posisinya di gantikan taro,kalau tidak taro ttp jd pembalap cadangan selamanya

      Guest
      • Atas gue valeban sakit hati.. Ya klo Rossi ga turun ke pabrikan ya Taro jd pembalap utama di Petronas dan akan disupport penuh oleh Yamaha.. Beda dgn si Morbi yg msh pke mtr lawas.. Seolah2 buta ketika di Petronas aja si Taro bs ngasapi duo pabrikan Yamaha..

        Guest
  1. manteb KTM sejak update sasis baru dan top speed nya jg bejaban vs Ducita.. Hodna ayo berbenah, sepertinya salah satu problem mereka adalah stabilisasi, ridernya banyak yg crash.. rada penasaran jg waktu tes dimana itu bawa macam2 aero fairing tp gak dipake satupun saat balap..

    Guest
    • Senang Kalo lihat KTM podium,
      WP’nya sanggup mematahkan hegemoni ohlins di kejuaraan motogp

      Guest
  2. Mantap, Taro sudah 6 kemenangan. Dia hanya butuh 50 kemenangan lagi untuk menyamai marq, itu artinya dia hanya butuh 3 musim untuk meraih 50 kemenangan lagi

    Guest
  3. Di kandang sendiri malah kayak ayam sayur ini Duketek. HRC nyesel kan melepas baby angel Pedrosa. Dikiranya juara dunia gak butuh teammate pintar development. Buang PUIG !!!

    Guest
    • Tapi kalo dirunut ke belakang, HRC sempet dapet developer rider yg lebih baik dari Pedrosa, cuma dia apes aja dapet cidera tulang belakang. Selebihnya memang ego Puig yg memperparah keadaan, Zarco ditolak, malah masukin Alex Markus, Alex Markus belum tunjukin performa malah nunjuk Espargaro. Giliran akhir musim 2020 malah nunjukin Alex Markus udah mulai perform dan Espargaro ternyata ga sehebat rider KTM lain alias performanya cuma ketolong motor konsesi.

      Jadi buang Pedrosa dan diganti Lorenzo udah langkah tepat dan brilian, cuma antisipasi kejadian tak terduganya yg keliatan buruk. Ga sekalian aja tuh tarik Toni Elias kalo Puig ngotot cuma masukin KTP Spanyol ke HRC Repsol.

      Guest
    • 1 thn menuju 2 thn gagal langsung “buang”
      Gmn yg udah gak juara bertahun2

      Imho dibanding daped, hrc lebih butuh seorang cal yg fit

      Guest
  4. Dorna dikritik pecco, rossi dan petrux tuh gara gara motogp italia tetap digelar dan tidak memikirkan rasa kemanusiaan. Btw ternyata tidak semua pembalap tau yak kenapa FP4 kemarin ditunda, cuma mereka tau ada pembalap crash dan dibawa dengan helikopter

    Guest
    • klo mereka menang/kompetitif y pasti ga protes ..

      mnurut gw udah bagus ada tribute buat Jason dan ga ada masalah buat balapan tetap di adakan kecuali kejadian itu pas race weekend pasti baru dibatalkan race nya.

      hal yg sama pernah dilakukan untuk almarhum Munandar di berikan tribute dan race tetap dijalankan 🙏

      Guest
      • bener, berduka boleh2 aja, tapi fight harus tetep jalan terus, ga adil bagi yg lain udah mati2an riset mengeluarkan segala kemampuan kok di hari H mau dibatalin, menurut gw salah satu cara ritual berkabung dgn baik di MotoGP ya harus terus fight dan balapan dgn baik utk penghormatan terakhir kpd mendiang,

        Guest
        • betul lain cerita kalo batal race pasti timbul gara2 si ini crash gagal race dah.

          Guest
    • D detik peco sama petrux yg kritik
      Vale dukung keputusan dorna

      Tp yg sudah2
      Shoya crash pas race, race tetap jalan
      Salom crash pas fp, race tetap jalan
      Simoncelli crash pas race, race dihentikan krn pihak penyelenggara gak punya resource medis untuk melanjutkan race

      Guest
  5. sbenar ny kliatan yamaha cukup mudah untuk mnang d jenis sirkuit apapun?!…pa kah cdera taro di lemans hanya bohongan demi kliatan ga bosan d motogp supaya ada drama dulu..hmm

    Guest
    • Jerez mksdnya? Mana ada bohong2an wong dia jurdul aja blm pernah pst ngotot bgt ngumpulin poin semaksimal mgkn krn thn lalu dia gagal krn problem mesin motor.

      Guest
  6. El diablo ini pembalap cerdas semoga bisa jurdun tahun ini , tahun depan Vinales ganti joan Mir pasti solid yamaha M1

    Guest
  7. jgn lupa wak, holeshot device barunya M1 sangat2 membantu Fabio bejaban dgn Desmo di awal start meskipun ujung2nya kesalip juga,
    😅

    Guest
    • dan juga sepertinya penyakit ban spinning udah mulai sembuh di M1, apakah ini ada andil Crutchlow ??

      Guest
      • Kalo kata Lorenzo sih kroco cuma ngetes kekerasan motor, dan emang terbukti M1 skrg ga seringkih 2020 kan wkwkwkwk

        Guest
  8. wa haji jadi nyindir penunggang yamaha yang beberapa tahun belakang selalu mengeluhkan top speed hehehe

    Guest
  9. Analisis spt ini yg membedakan dng warung lain yg cenderung click bait. Setiap selesai seri motogp sll pantengin warungnya wak haji, tp saya bertanya2 kenapa.setelah seri perancis kemarin tdk ada analisis spt ini wak?

    Guest
    • Boleh dibilang Yamaha itu i4 terkuat di motogp, tapi management mesin merekalah yang nyebapin tidak bisa memaksimalkan traksi keluar tikungan secara halus, dan itu dari dulu, diperparah lagi sama komputer mesin satu merk, itulah kenapa hasil quartararo sama pembalap yamaha lainnya bisa beda, sensivitasnya bisa mendekati lorenzo kalo ga mau dibilang sama, tinggal jaga konsistensi sama mental pembalapnya aja sebenarnya

      Guest
  10. setelah di kunyah kunyah ternyata ada peran pramac ducati di balik kesuksesan yamaha tahun ini🤭🤭🤭

    terimakasih pramac yg udah ngasih ahli ECU (Marco Frigerio) pada yamaha🤭

    Guest
  11. dibalik analisa diatas yang jelas sejak mulai dari Portimao, Jerez, Le Mans dan Mugelo memang sirkuit yang favorit jg untuk Yamaha selain Ducati krn dr ketiga sirkuit ini selain langsam cepat jg Stop And Go (Jerez&Le Mans) tp sikuit seri berikutnya Yamaha sepertinya keulitan.

    Guest
  12. Iya betul, wak. Perlu disinggung nih holeshot Yamaha yg bikin Taro lebih pede saat start. Tetap terkejar ama saingan sih, tapi gak melorot parah kayak dulu2.

    Guest
  13. Fabio = metronom
    Mm = metromini yg identik dg ugal2an dan lecet penyok sana-sini
    Fakta loh ini
    Ekekeke

    Guest
  14. tenang saudara saudara.. Austria akan gelar 2 kali balapan, itu kesempatan untuk V4 (kecuali merk H) jadi juara, bhahahahahaha…

    Guest
  15. M1R akan nunggang R1M replace Vinales,benarkah atau hoax? Tergantung nanti pengumuman VR|46 retire.

    Guest
  16. Wow , ha er ce akankah jadi tim konsesi tahun depan? Hal y memalukan jika benar. Dan ternyata, MV tetep melempem, dan simbah tim y didowngrade tambah hancur. Sedang Taro ada peningkatan, mungkin memang tahun2 kebelakang Yamaha gagal jurdun krn salah pilih Ace Rider

    Guest
    • Bisa jd.. soalnya MV hny pernah jurdu Moto3.. Blm pernah juara Moto2..

      Walau blm jaminan jg yg pernah juara Moto2 jg bakal jago di MotoGP.. Tp setidaknya kekonsistenan itu diperlukan utk bs mnjd seorg juara dunia.. Bukan angin2an.. Ga hny setelah pny baby aja di gtu.. Udh dari musim2 sblmnya..

      Guest
  17. MV buang aja. mo ngomong apalagi dia? temennya bocah baru lantas juara mulu konsisten pula didepan.

    Guest
  18. Yaa kita liat aja nanti yamaha gimana endingnya, masih terbayang tahun lalu kayaknya jos banget dari awal, makin ke akhir malah makin ga karuan sampe disalip suzuki. inget lho, ducati kalo ga ada masalah jatoh bisa nyalip sewaktu waktu

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.