TMCBLOG.com – Angel Vinales, ayah dari Maverick Vinales blak-blakan menjelaskan latar belakang yang menjadi penyebab keputusan berpisahnya Maverick Vinales dengan Yamaha. “[buat Yamaha] Ini adalah gangguan yang didasari sebuah kesepakatan bersama,” kata Angel untuk memulai sebelum menjelaskan secara rinci: “Awalnya Yamaha tidak mau. Lin (Jarvis) [mencoba] membendungnya dan melakukan segalanya. Dia tidak percaya, tapi keputusan ini hadir dari belakang. [M1 adalah] Sepeda motor untuk dikendarai Lorenzo atau Quartararo. Motor ini layaknya sebuah mentega. Maverick membutuhkan lebih banyak kekakuan. Mengapa? Karena Maverick seperti Marc, mereka menyerang dengan keras untuk memanfaatkan potensi motor.

“[sementara] M1 memiliki limit dan tidak akan membiarkan Anda pergi dari sana. Manajemen mekanis belum dilakukan dengan baik. Mereka [Yamaha] tidak mengerti bagaimana caranya memberikan apa yang Mack inginkan dan Dia tidak tahu bagaimana mengendarai sepeda motor itu 100%. Ini adalah akumulasi dari hal-hal”.

Lalu kenapa Maverick tidak mau bersabar menunggu sampai kontraknya habis di akhir musim 2022? Maverick pergi karena Dia tidak bahagia. Ada saatnya ketika dia sangat bahagia di rumah, dengan putrinya dan tinggal di Spanyol, dan dia menyadari bahwa dia tidak lagi bahagia di dalam team-nya. Dia datang setiap akhir pekan balap sambil berpikir: ‘Masalah apa yang akan saya hadapi hari ini?’, Media akan menyerangnya, mengatakan bahwa semua itu adalah karena Dia, bahwa masalah itu adalah dia, masalah itu adalah dia, dan ada saatnya Dia meledak dan mengatakan cukup. ‘Hari ini saya tidak terlalu buruk dan besok saya sangat baik’.”

“Jadi hati-hati, Maverick pergi bukan karena motornya jelek, tapi karena Yamaha belum memberinya motor yang seharusnya untuknya dan Dia belum tahu bagaimana beradaptasi dengan motor yang dimiliki Yamaha. Dia mengatakan kepada mereka bahwa Dia mempercayai motornya, tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi dengan manajemen pada motor, dia tidak percaya ini bisa terjadi. Dan hanya itu.”

Angel Vinales pun memberikan gambaran mengenai apa yang akan terjadi pada 10 seri sisa musim 2021 ke depan “Ini rumit, karena Dia tampil kompetitif. Kemarin [GP Assen] di podium dia kesal karena kegagalan start akibat kopling, karena dia selalu mendapatkan sesuatu dan karena dia tahu dia punya potensi untuk lebih cepat dari Fabio dan memenangkan balapan. Namun sesuatu yang kurang baik kerap terjadi.”

“Podium dalam balapan ini telah merugikan Yamaha. Ya, saya mengonfirmasinya. Mereka mencoba membuatnya untuk tetap tinggal dan mereka berbicara dengannya dan Dia [Mack] mengatakan kepada mereka bahwa ini bukan tentang tetap tinggal, ini tentang keinginan untuk menikmati dirinya sendiri dan bahwa Yamaha tidak lagi bisa memberikannya kepadanya”.

“Maverick sekarang telah menemukan stabilitas dirinya di rumah. Dia bisa menjadi lebih dewasa dan sejak gadis kecil itu [ Anak Maverick ] lahir, hal itu telah membuatnya berpikir bahwa tidak mungkin satu tempat begitu bahagia dan di tempat lain dia menangis. hal itu tidak akan memberi Anda kompensasi. Saya sudah memberitahunya sejak lama.’Kamu sudah punya uang, apa yang akan kamu lakukan, menjalani hidup yang pahit?’ Tidak. Dan bahwa Dia adalah salah satu yang paling mampu mengubah sejarah dari satu akhir pekan ke akhir pekan lainnya”.

Jadi begitu sob, penjelasan dari seseorang yang mungkin mengerti benar apa yang dirasakan oleh Maverick Vinales. Ada yang menarik dari penjelasan Angel Vinales kepada AS di atas mengenai sifat dari Motor Yamaha M1 yang lembut seperti mentega. Kami rasa itu memang karakter genuine dari motor Yamaha M1. Motor ini sebenarnya telah terbukti gagal dibesut oleh pembalap-pembalap yang memiliki karakter riding agresif seperti misalnya Pol Espargaro. Dan kalau sudah menjadi karakter signature begini, menurut TMCBlog pada era dimana regulasi hanya memperbolehkan satu spek mesin untuk team factory untuk kedua pembalapnya, akan sulit bagi Yamaha membuat satu motor berkarakter seperti mentega dan satu spek motor lagi yang berkarakter lebih agresif.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

93 COMMENTS

    • dari tahun ke 2 di yamaha juga agak gregetan sama mv
      kenceng kl sendirian, begitu race acak2an
      susah nyalip
      ada masa yamaha cb menyesuaikan dgn riding mv, hasilnya yamaha jeblok
      ga sengaja nemu FQ dan cocok

      yo wis, goodbye MV

      Guest
    • Masa udah mau 6 tahun baru nyadar kalau belum bener2 ngerti cara bawa M1?
      Apa di tahun2 sebelumnya masih tertutupi dg gajinya yg gede?
      Mungkin mack mikrnya: gapapa masih sering kedodoran yg penting kontrak per 2 tahun gaji gede…masih ada tahun2 depan, masih bisa lebih baik lagi…
      Gitu mungkin ya…
      Tapi ujung2nya nyerah juga si mack.
      Tapi daripada ke aprilia yg masih belum settle ya mending coba cari peluang ke aramco, kali aja sama pangeran al saud dikasih seat, biar beliaunya bisa nongkrong sama rossi nontonin balap.

      Guest
    • woooow….
      jelas pilihan sulit bagi Yamaha maupun Mack sendiri, itu semua pilihan dan Mack salah melangkah ke pabrikan yg tidak memiliki karakter seperti yang dia inginkan
      mudah² belum terlambat menemukan karakter motor dan team yang pas sesuai yang dia inginkan, artinya kalaupun kembali ke suzukipun, bisa jadi bukan pilihan yang pas bagi Mack

      Guest
    • @bioracun,
      Lah yg pindah langsung juara seri 2 kali siapa ya?, klu mental nya sama ya jelas separoh kalah

      Guest
    • omongan orang mmdem, lha seri kemarin kena pepet si taro juga langaung mundur kebelakang🤣🤣🤣🤣

      Guest
      • Emangnya pedrosa gimana ? Kurang perhatian apalagi HRC sama dani sampai² ngubah regulasi demi anak emasnya, yg ada tuh si morbi sama petronas yg dianaktirikan demi si mbah

        #pura_puralupa

        Guest
        • so tau ente jelas jelas biarpun dipetronas rossi dikontrak sama yamaha factory, petronas yang terpaksa harus nerima rossi

          Guest
  1. jadi inget beberapa tahun lalu ada pembalap yang pernah nunggang M1 bilang,
    kalo push lebih dari limit di motor lain bekerja (faster laptime), sedangkan di M1 ketika di push laptime malah jadi turun.

    The gentler you ride the faster it can be.

    Guest
  2. kalo masih netap disuzuki waktu itu mungkin akan jurdun dan ditandemkan sama joan mir bisa jadi rivalitas yang kuat namun tetap bersahabat seperti MM-DP

    Guest
  3. Jadi kangen gaya riding getok palunya paduka hohe
    yang smooth like butter, rhythmic like a hammer

    walaupun sekarang sepertinya sudah turun ke fabio

    Guest
    • Bener juga nih, kangen liat JL balap lg. Walaupun gw gedeg sama sifat orangnya tapi gaya balapnya selalu ada aja yg mencengangkan dan penasaran liat rekaman berulang2 mau tau gmn cara dia melakukannya.

      Guest
  4. padahal dulu muja2 MV12 sebelum fabio bersinar di motogp, sekarang habis manis sepah dibuang, emang dasarnya bocil karbit doi hahahaha

    Guest
  5. Fix nyalahin motor dong ya….alias 4.5 tahun gak bisa adaptasi dgn kelembutan mentega.

    Lorenzo yg smooth aja bisa jinakin buas nya Desmosedici.

    Yah semoga stylenya cocok di motor V4 deh biar keluar potensi 200% nya Maverick.

    Guest
  6. Mulai bisa dimengerti dgn penjelasannya. Ayah yg baik mengarahkan dia untuk bahagia di rumah dan di trek, udah cukup uang jd bisa berfikir uang bukan segalanya lg tp prestasi dan bahagia lebih penting. Ntah di Aprilia ataupun di Aramco, harapannya klop dgn motornya dan gw masih penasaran dia fight dgn Marc di level tertinggi siapa ‘pembalap agresif’ terbaik sebelum mereka berdua tua dan fisik-mental-agresifitas sudah tidak ada disana lg dan sudah mulai banyak pertimbangan.

    Guest
  7. tapi kalau kayak Pol kenapa dg RCV malah biasa yah? apa terlalu liar? kalau KTM udh mulai friendly user sih

    tapi memang 2020-2021 ini tahun yang seru. bukan karena ketidak kompetitifan MM, tapi karena Motor Ducati udah user friendly, KTM juga sekrang bisa bersaing d papan tengah dan atas, Suzuki meningkat kstabilannya (meski 2021 ini sudah termakan kebringasan Pasukan Ducati)

    dan buat Yamaha kalau masih berpuas diri karena pernah jaya saat Rossi dan Lorenzo ya bisa2 dsikat sama Pasukan Ducati

    ngeri sih memang Ducati, jaman dulu cuman CS27 yang bisa memanfaatkan kebringasan Ducati. Sekarang, ya beringas tapi terkontrol dan yang bisa pegang lebih dari 2 pembalap. apa gak ngeri tuh team lain

    Guest
  8. Yamaha memegang prinsip Kando, mau sampe tujuh turunan juga Vinales di Yamaha ya dia gak akan mendapatkan motor yg dia inginkan,,

    Guest
  9. 2 mesin inline udah dijajal.
    masih ada 4 mesin V yg mungkin mau dia jajal ?
    (dani pedrosa kalo disuruh nunggang mesin inline motogp kira2 kayak gimana ya ?)

    Guest
    • Ya mungkin lebih ngeri. Naik motor berkarakter liar aj bisa dibawa lembut kok. Apalagi naik motor yang karakter lembut. …
      Mungkin…

      Guest
    • bukan terbang malah jumpalitan. Kakek Rossi aja bilang past pengtesan powerny terlalu liar. Iya kenceng di lurus tapi buat mutarin satu sirkuit kek lemot banget laptime nyaris ga berubah. akhirnya di kasih CP inline4. walaupun lemot di lintasan lurus tapi buat mutarin satu sirkuit laptimenya bagus.

      ya gitulah. apa mau dikasih Inline 6V ? auto jumpalitan lagi :v

      Guest
  10. Nah berarti otw ke Aprilia, udah pasti beringas tuh mesin V4. Kalo masih kurang, otak atik aja sampai stop konsensi.

    Guest
  11. “Maverick pergi bukan karena motornya jelek, tapi karena Ymha belum memberinya motor yang seharusnya untuknya”
    Motor ymha bagus, hnya sj neng vina butuh motor jelek.
    Begitu kira kira intinya

    Guest
  12. bukannya dulu2 disebut MV gaya balapnya gabungan VR dan JL, bapaknya mengada2 deh, btw kalo perbandingannya sama Pol kayaknya kok gak masuk wak, itu CC dan trutama JZ pembalap agresif, di motor M1 KW Tech3 mereka bisa podium dan sering di barisan depan, kalo si Pol secara level masih dibawah 2 pembalap itu, pengalaman dari RC16 seperti gak berpengaruh apa2 waktu naek RCV

    Guest
  13. kemarin aja bilang saat star kopling bermasalah dan tidak tau knapa.
    pdhal seperti biasanya starnya sellu buruk si mv12..
    entah yg bermasah motor apa ridernya ini.

    Guest
  14. Mental nya perlu di perbaiki kawan,Fabio aja kalau gak salah pernah ke psikiater buat konsultasi (Cmiiw) dan kaya nya jadi lebih pede tanpa banyak keluhan.kalau seandainya gagal di v4 mau alesan apalagi?

    Guest
  15. Ternyata sudah gak bisa lagi menikmati membalap bersama Yam factory spec?
    Aprilia mungkin cocok buatnya

    Guest
  16. Bukti kuat bahwa selain Vinales ini ga sabaran dan kutu loncat, jg merupakan pembalap yg ga adaptif. Dulu naik nsf250r aja motornya dia injek2 dan sampe mogok balapan karena ngerengek naik KTM. Udah jadi bapak harusnya bisa lebih dewasa, eh ternyata tetep kekanak2an. Dalam kasus ini gw rasa malah Yamaha yg untung karena pembalap mental begini keluar sendiri tanpa susah2 main belakang buat ngeluarin kaya setaun lalu.

    Guest
  17. ah sudahlah memang faktor orangnya aja lgi ini

    fabio perform morbidelli jg bisa perform dgn motor jadul mw alasan aplg?

    rossi datang membuat yamaha juara, marquez datang membuat honda juara

    anda siapa sekonyong konyong datang minta motor bagus terus pengen juara tapi gmw dikerjain gmn caranya jdi bagus tu motor dan bisa juara

    pembalap kek gini ga pantas di motogp utk tim manapun itu

    Guest
  18. Dalam waktu 4,5 tahun harusnya udah lebih dari cukup buat adaptasi, padahal JL yang udah 9 musim naik M1 aja bisa beradaptasi make Desmo yang katanya lebih liar hanya dalam waktu 2 tahun. Vinales aja yang manja plus egonya gede. Pake yang nyaman aja gak mau adaptasi gimana nanti pake yang lebih liar ?

    Guest
  19. Entahlah, kita liat aja berlabuh ke motor mana vinales musim depan.
    Kalau pake motor lain masih begitu juga, ya fix mentalnya doi yang bermasalah.

    Guest
  20. Aku jadi teringan jagoanku BEN SPIES, dia super2 power membalap dengan Presure kuat ke motor, lawan dan lintasan, tapi saat itu M1 racikan Dokter, jadi dia gak bisa 100% karena keterbatasan motor, dan Pensiun

    Guest
    • Ben spies gabung Yamaha tahun 2011 tandem sama Lorenzo dan di tahun 2010 Lorenzo jurdun jelas motor yg di pakai Ben spies hasil pengembangan Lorenzo cmiiww

      Guest
  21. Pengennya 4 motor finis barengan terus sepanjang musim, entah ridernya siapa saja. Jadi ke4nya bisa juara dunia semua.

    Guest
  22. aneh juga kalau alasannya seperti yg disampaikan bapaknya MV, kalau tidak salah ingat pernah dibahas di blog wak haji tentang MV sendiri yg terbang ke Iwata untuk melobi petinggi Yamaha agar dia bisa jadi ace rider dan ujung tombak developmen M1 yg kala itu masih dipegang VR, sepertinya biang ketidaknyamanan MV lebih karena tekanan moncernya prestasi FQ setidaknya di paruh pertama musim ini

    Guest
  23. Jika M1 seperti mentega, maka RCV apakah minyak jelantah?
    Jika MV seperti MM, HRC rekrut aja MV, tendang Pol dengan alasan kurang bersinar, kompensasi bisa diganti, kan HND kaya raya 🤣
    Toprak jg aga agresif bawa motor, tapi patut dicoba biar pembalap MotoGP ga dari Moto2 terus..

    Guest
  24. Maverick Vinalez itu tipikal pembalap yg BAPER dan masalahnya dia juga tipe orang yg tidak bisa/ susah sekali untuk menyembunyikan ke-BAPER-annya itu.
    Klop banget dah….

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.