TMCBLOG.com – Baik di klasemen pembalap, konstruktor maupun team, Ducati masuk di posisi dua setelah Yamaha pada paruh pertama musim 2021. Johann Zarco berada di posisi dua, Ducati tertinggal 17 point dari Yamaha di posisi dua serta Ducati Lenovo berbeda 42 point dari Monster Energy Yamaha MotoGP. Namun bicara Ducati maka kita bicara soal trend setter dimana mereka berhasil menghadirkan banyak inovasi yang tidak jarang dicopy oleh pabrikan lain di MotoGP. Namun kenapa masih kurang? Kenapa masih nomor dua, terlebih lagi melihat sumber daya pembalap mereka yang termasuk paling banyak di grid yakni sebanyak 6 pembalap. Ducati Corse General Manager Gigi Dall’Igna mencoba membeberkan evaluasinya via MotoGP.com . .

Di awal Gigi menceritakan evaluasinya mengenai perubahan paradigma line-up pembalap Ducati yang berubah mulai 2021 ini; “Setelah bertahun-tahun kami selalu bersama pembalap yang sama di motor Ducati, tahun ini kami menggunakan jalur lain dan memulai dengan pembalap pembalap muda ini. Ini penting karena anak muda memiliki spirit yang berbeda, jadi mereka menekan saya untuk berbuat lebih baik lagi.”

“Saya sangat senang dengan pekerjaan yang dilakukan teknisi saya selama musim dingin. Kami juga berhasil meningkatkan mesin, meskipun pengembangan mesin terhenti. Namun, kami dapat menemukan beberapa area yang dapat dikembangkan namun masih diperbolehkan regulasi.”

“Kami juga melakukan pekerjaan yang cukup baik pada sasis dan hasil di Jerez adalah buktinya. Namun cara motor menikung masih belum bekerja seperti yang kita inginkan. Kami harus meningkatkan lebih dan lebih lagi dan tidak hanya di sasis, tetapi juga di mesin, jika memungkinkan.”

Gigi Dall’Igna berkomentar bahwa perangkat start (holeshot devices) menawarkan hasil yang lebih baik dari yang diperkirakan, meskipun peraturan membatasi evolusi dan pengembangan mereka: “Start kadang-kadang adalah kunci balapan,” tegas Dall’Igna “Ketika berada di depan, jauh lebih mudah untuk mengembangkan strategi yang baik. untuk balapan. Kami bekerja sangat keras untuk menemukan cara untuk melakukan start dengan baik. Kami memulai dengan ide sederhana dua tahun lalu dan kami menghadirkan sesuatu yang baru setiap enam bulan untuk meningkatkan sistem kami.”

“Ride-height devices jelas merupakan keuntungan, jika tidak, pengendara kami tidak akan menggunakannya. Ada sirkuit yang sangat penting dan ada sirkuit yang tidak begitu penting. Satu-satunya masalah adalah bahwa peraturan di daerah itu sangat ketat. Kami hanya diperbolehkan menggunakan sistem mekanis, tidak ada elektronik. Jadi pada awalnya tidak mudah untuk menemukan jalannya.”

Di akhir evaluasi, Direktur Umum Ducati Corse malah sedikit membocorkan bahwa Ducati sudah bekerja untuk mengembangkan motor musim 2022 dan prototipe awalnya mungkin akan dikenalkan di bulan Oktober 2021 nanti: “Sekarang adalah waktunya untuk memikirkan masa depan, kita harus berpikir pada tahun 2022.

Kami sedang mengerjakannya di departemen karir kami di Borgo Panigale. Kemudian pada bulan Oktober [2021], kami akan mulai menerapkannya. Tentu saja saya tidak bisa mengatakan apa yang akan kita lihat di 2022. Sangat penting untuk terus mengembangkan motor, berpikir secara berbeda, untuk menciptakan sesuatu yang baru. Saya pikir itu hal terbaik yang bisa kita lakukan dalam hidup kita.”

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

29 COMMENTS

  1. Tidak ada yang salah dengan GP21.
    Motornya kuenceng.
    Cuma belum dapet pebalap yang bisa konsisten memaksimalkan potensinya saza.
    #Letsgo Lek Jarwo.

    Guest
  2. Hambok motoreki digawe sing apik…
    Kalo dukati motore masih dengan motor bentuk aneh koyo ngono kui…susah jurdun lah…hambog arep bianter koyo ngopo…paling yo kur nmer 2 wes pol mentok…

    Guest
  3. Semangat inovasinya ketika sudah ada mandatory ecu
    Kalo ecu kompetitor pakai in house masing2, mau pake inovasi aneh2 tetep ketinggalan sekebon sama honda dan yamaha

    Guest
  4. Desmo GP udah menjelma menjadi motor user friendly dan kompetitif, sayangnya semua itu belum cukup hebat kalo belum mengantarkan pembalap nya juara dunia, mudah2an ga dilangkahi KTM, soalnya Suzuki udah melangkahi mereka,

    Guest
      • bukan itu. karena inovasi elektronik akan jauh lebih dahsyat hasilnya sampai2 ridernya bakal ga perlu skill kalo elektronik nya perfect.

        buka tutup gas otomatis, kemiringan otomatis, pindah persneling selalu perfect, start perfect, mungkin braking juga otomatis.

        terus gunanya pembalap apa? lebih baik rektur artis yang ganteng/ cantik.

        Guest
  5. “Start kadang kadang adalah kunci” ~gigi dall’Igna~
    .
    “shock adalah koentji” ~mboh’sopo~

    Guest
  6. Wkwk seakan akan ducati mau melakukan inovasi tapi terhalang oleh peraturan gitu yak ?
    Mbah gigi mbah gigi

    Yahama dan hadno paling lagi ketawa dipojokan tuh wkwk

    Guest
  7. Terlalu banyak perangkat yg disematkan oleh DUcati menjadikan motornya kencang di trek lurus tp susah dibelokan.

    Guest
  8. Yg paling minim perangkat Suzuki terlihat di trek lurus jg paling lemot tp di tikungan paling kencang mungkin krn minim embel-embel jd beloknya enak, tp trek lurusnya kurang kebantu SIstem Aero dan Downforce

    Guest
      • Kipas Angin, mesin tak selalu menjadi kendala meskipun ada, misalkan Yamaha setelah pake Holeshot Front & Rear dia masih bisa jabanin Ducati, Honda yg sama-sama mesin V saja ga bisa jabanin DUcati, jd mesin bukan faktor utama, Fairing dgn Full Aero Dinamis bisa membuat objek melaju dgn kencang jika lurus krn ada efek angin yg seimbang dan lurus tp sebaliknya jika menikung Fairing Full Aero Dinamis pasti limbung. Lihat Aero F16 dan Sukhoi beda F16 Aeronya besar makanya kencang lurus tp susah nikung sementara Shukoi Aeronya lebih kecil kalah kencang tp lincah nikung. ini mirip Fairing Aeronya Suzuki vs Ducati.

        Guest
        • Ducati tanpa seperangkat aeronya atau seminimal mungkin ky suzuki gmna jadinya nya

          terbang2 kali

          Guest
  9. Mesin Desmo 2019, 2020,2021 ini sama, tp knp yg 2020 dan 2021 Desmo lebih kencang krn di topang Sistem Fiaring Aero Dianamis yg rumit, sebaliknya nikungnya Desmo rata-rata limbung (ga lincah)

    Guest
  10. Ducati klo balapan di Qatar, Mugelo ngacir krn kenceng, krn memang motor didesign fairingnya untuk kencang di trek lurus efeknya belok limbung, coba klo di tes balapan di Sentul Karting yakin Ducati bisa ketinggalan se-kecamatan.

    Guest
  11. Tim lain mengcopy temuan Ducati, tp Ducati tak ada waktu untuk menspionase keunggulan yg dirahasiakan tim lain krn Ducati terlalu sibuk dgn teknologinya sendiri. Makanya sampe sekarang Ducati tetap masih Zonk Jurdun walau pakai 6 pembalap sekalipun.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.