TMCBLOG.com – Tidak diragukan Lagi, Jelang 10 Seri (atau 9 seri karena Thailand dibatalkan ) terakhir Musim 2021, Fabio Quartararo adalah Favorit terkuat untuk merengkuh gelar Juara Dunia MotoGP 2021 ini. Memasuki Paruh kedua Musim, Pembalap Pabrikan Yamaha ini memimpin 34 point dari saingan terdekatnya Johann Zarco Di Klasemen Championship dan ini 20 point lebih besar dibandingkan posisi yang sama di 2020 yang lalu.

Namun begitu bicara Soal Fabio, Masih banyak yang belum terlalu Yakin dengan kemampuan Fabio merengkuh gelar tahun 2021 ini. Keraguan ini didasari oleh Labilnya performa pembalap Perancis ini di 2020 yang lalu di mana ia Kuat di awal Musim, dan berubah ‘Loyo’ di paruh kedua Musim. Banyak analisa mengatakan Mentalitas Fabio menghadapi tekanan belum Kuat di 2020 tahun yang lalu dan dengan Fakta posisinya di 2021 sebagai pengganti Rossi yang logikanya menanggung ‘beban ‘ lebih berat, menghadirkan perkiraan bahwa tekanan di 2021 bahkan lebih berat lagi.

Apakah Fabio Sanggup menanggungnya? terlebih lagi boleh dibilang bahwa praktis di paruh kedua 2021, Fabio adalah Satu satunya ‘Pembalap Murni Yamaha’ di mana semua upgrade sepanjang koridor yang dibutuhkan akan difokuskan ke dia. Valentino Rossi masih berjibaku menemukan kembali ‘ feeling terbaiknya ‘ sehingga logikanya ia belum akan banyak mencoba hal hal baru di Paruh kedua musim.  Sementara itu menurut tmcblog sepertinya Yamaha tidak akan lagi mensupport sesuatu Yang penting,  terlebih lagi sesuatu yang krusial dan rahasia dari Yamaha M1 untuk pembalap yang pasti akan hengkang Tahun depan  yakni Maverick Vinales. Fabio Quartararo ada  Episentrum Absolut development Yamaha M1 di paruh kedua Musim 2021 ini, apakah Fabio Sanggup memanggul semua beban ini ?

Adalah Crew Chiefnya, Diego Gubellini – yang mengatakan kepada Jurnalis Mat Oxley sebuah Kisah yang mungkin dapat membuka wawasan Kita bersama mengenai Keadaan mental Fabio yang terlihat dari Luar Box seperti ‘rapuh’ di 2020 yang lalu. Diego menafikan permasalahan Mental sebagai masalah Utama yang mendera Quartararo di 2020 yang lalu. “Banyak orang mulai berbicara tentang tekanan pada pikiran Fabio – sebenarnya masalah terbesar adalah situasi teknis dengan motornya,” kata Gubellini, yang bekerja dengan Quartararo sejak pembalap Prancis itu dipromosikan naik ke MotoGP dengan PYSRT pada 2019.

“Tahun lalu dia sangat bagus di beberapa trek dan banyak mengalami kesulitan di trek lainnya dengan masalah pengereman dan kecepatan di tikungan. Meski dari luar motor 2020 terlihat sangat mirip dengan motor 2019 namun banyak bagian yang berbeda, jadi rasanya jauh berbeda dari motor 2019. “

“Fabio tidak pernah benar-benar terbiasa dengan motor 2020, sementara tahun ini [Yamaha M1 2021] jauh lebih mirip dengan 2019 dan itulah mengapa dia merasa perlu konsisten. Pada dasarnya dia berjuang untuk podium di setiap balapan, yang merupakan poin penting untuk memperebutkan gelar.”

Yes Pernyataan Gubellini sebagai salah seorang Yang paling tahu mengenai kondisi Fabio Quartararo memang cukup Logis terutama jika kita juga menghubungkan dengan Skandal Klep Ilegal yang mendera Yamaha Tahun 2020, sulit menentukan konsistensi Strategi terbaik saat itu. Pernyataan Gubellini mengenai M1 2021 yang mirip M1 2019 sepertinya lebih dikarenakan Yamaha mengubah beberapa Aspek selain Mesin ( Karena harus sama dengan mesin 2020 ) untuk membuat Karakter handling dan efeknya terhadap Load ( pembebanan)  Ban pada M1 2021 menjadi sama seperti M1 2019. Efeknya jelas membuat Quartararo merasa Bahwa M1 2021 seperti M1 2019 dimana Fabio tampil Fantastis kala tahun Rookienya itu.

Dan Gubellini pun menyatakan bahwa dengan Karater yang sudah menyamai M1 2019, Ia dan team tidak akan mengubah banyak karakter ini sampai akhir Musim 2021 ini  “Kami mencoba menjaga motor tetap sama seperti sebelumnya. Kami mencoba bekerja di area yang berbeda – sangat penting untuk memperbaiki dan mengelola elektronik. Juga poin kuncinya, terutama dengan Michelin, adalah membiarkan ban bekerja dalam rentang yang benar.” Dan menurut tmcblog, Secara umum Yamaha Juga akan membawa Platform karakter ini di Motor Yamaha M1 2022 nanti Walaupun secara umum Yamaha dapat mengubah spek mesin untuk musim tahun depan dibandingkan Mesin 2021/2020 ini.

Selain kestabilan dari sisi Teknis dimana Motor 2021 lebih stabil dan memiliki kembali Karakter 2019, Gaya membalap Fabio Quarataro juga lah yang disinyalir kuat memberikan perbedaan terhadap semua ini. Yamaha mengunakan Mesin Inline 4 yang secara alami akan memberikan Efek Inersia lebih baik saat menikung, dan di tahun tahun terdahulu Jorge Lorenzo adalah yang terbaik soal Mengemulasi kelebihan Yamaha M1 ini dengan Cornering speednya. Banyak yang beropini bahwa Gaya menikung Quartararo mirip seperti Butter-hammer Jorge Lorenzo. Pada dasarnya Quartararo memang ia memiliki Cornering speed yang bagus , namun secara umum lebih baik dari Cornering speed Jorge Lorenzo. Kembali Diego Gubellinilah yang mengkonfirmasi hal ini . . .

“Lorenzo sangat mulus dan sangat cepat melewati tikungan. [Gaya] Ini sangat bagus untuk Yamaha, terutama dengan ban Bridgestone. Fabio [melakukan hal yang] mirip karena dia bisa membawa banyak kecepatan [saat] melalui tikungan tetapi gayanya berbeda. “

“Apa yang menjadi ciri khas Fabio dan pembalap generasi baru adalah mereka banyak bermain dengan [kombinasi] tubuh mereka untuk mengimbanginya, jadi mereka melakukan banyak perpindahan berat untuk mengatur pengereman dan akselerasi. Lorenzo banyak bergerak di atas motornya, tapi secara menyamping – kiri dan kanan – karena targetnya adalah meningkatkan kecepatan di tikungan. Fabio bergerak sedikit lebih sedikit dengan cara ini [ kiri kanan] tetapi jauh lebih maju dan mundur. ”

Jelas menarik melihat apa yang dipaparkan Gubellini di atas, pada dasarnya selain memiliki kemampuan Braking ( pengereman) yang baik, Fabio Quartararo dapat ‘ menari ‘ lebih dinamis dibandingkan dengan Jorge Lorenzo di atas M1. Secara umum menurut tmcblog – terlepas dari perbedaan Jenis Motor yang dipakai – Gaya membalap ini adalaah Gaya berkendara Pembalap Modern saat ini yang sangat dipraktekan Oleh Marc Marquez sebelumnya.

Marc mengeksploitasi semua arah ‘tarian’ tubuhnya Untuk menjinakkan keliaran dari Honda RC213V ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang, pokoknya semua arah, pokoknya heboh banget. Dan memang sepertinya memang gaya ini lah yang menjadi referensi utama Jika mau menjinakkan Motor motor prototipe apapun di era MotoGP Modern seperti saat ini.

Dengan dinamisnya pembalap di atas Motor pembalap dengan talenta yang sanggup menggerakkan tubuhnya ke segala arah akan bisa menemukan cara cara terbaik dan paling efesien untuk mengekspoitasi kemampuan  serta menemukan limit maksimum Ban Michelin. Ban yang tahun tahun terakhir ini memang menjadi salah satu faktor pembeda menang dan kalah, finish Posisi Podium dan finish Posisi di luar Top-10 dari balapan yang kian ketat ini. Secara umum walaupun fabio Quartararo itu mengidolakan Valentino Rossi, Namun secara umum Kita melihat sosok Marc Marquez versi Inline 4 saat melihat dirinya, kita tidak tahu apakah diam diam Fabio mempelajari dan mengemulasi dari Style Marc Marquez, Namun Yang pasti jika di sisa Musim ini Baik M1 dan Fabio Bisa konsisten Plus Ducati belum bisa meningkatkan Konsistensi performanya,  maka Gelar Juara dunia 2021 memang sangat besar dimungkinkan Jatuh ke tangan Fabio Quartararo.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

62 COMMENTS

  1. apakah paduka panas membaca opini Gubellini? lalu ketika disenggol2 via medsos kontan berang dan bawa2 titel jurdun nya (gw lupa berapa kali)..

    Guest
      • Menurut lo apple to apple itu gmn??? Standarnya ngga jelas.

        Fabio awal karier ngga beruntung aja. Coba kalo full support kaya MM.

        Ngga usahlah liat masa lalu. Yg skrg aja cukup untuk duel versus kalo mau.

        Guest
        • ai beye nih banyak dak terimo, memang dak pacak di kompare. Beda level jelas, masa lalu itu bukti nyato, kalo kau suruh duel tahun ini kau gilo, orang baru sembuh motor jugo bermasalah kau suruh duel. Gilo namonyo tuh, plerr

          Guest
  2. Quartararo kaya nampar rider average bajing loncat dan ayam tua yg suka nuduh M1 atas performa buruk mereka, taunya itu masih motor papan atas dan ga ada masalah. Berarti selama ini YFR salah melihara pembalap, lebih tepatnya belom nemu jodohnya. Saat Zarco nunjukin dia layak malah dicuekin. Nah konyolnya setelah terbukti M1 masih motor kompetitif, yg suka ngeluh kabur padahal kontrak taun ini dan taun depan dia sendiri yg minta segera teken ampe kirim email ke Yamaha Jepang disaat Jin Larvis timbang2 apa dia layak diperpanjang ato diganti Quartararo krn Jin masih berat buat ‘buang’ Rossi saat itu. Itu jg dgn nominal yg terlalu besar buat skill sekelas dia, mungkin karena malu kabur lagi deh. Gw bilang apa, kutu loncat. Tapi dia kabur skrg menurut gw ga kaya kaburnya dia dari H ke KTM, tapi bakal lebih buruk dari kaburnya dia dari Suzuki ke Yamaha. Gw agak dejavu, Vinales mentalnya agak mirip Biaggi. Bedanya Biaggi juara dunia 4 kali, Vinales cuma juara dunia kelas capung sekali. Quartararo bener2 angin segar Yamaha, dia bikin Yamaha dapetin Morbidelli pula. Morbidelli biarpun masih dibawah Quartararo, tapi pelapis yg bagus. Bisa kaya duet Stoner-Pedrosa ato Gibernau-Melandri ala Yamaha.

    Guest
    • Tentang Maverick yg mirip Biaggi ini membangkitkan ingatan lalu saat Max begitu memandang rendah Yamaha M1 tahun 2002. Sering berkoar-koar, “Kalo aku naik motor yang sama dengan Vale aku juga pasti bisa juara.”
      Well, tahun-tahun berikutnya semua orang tahu apa yang terjadi. Terlebih 2004 justru situasi berubah, Max naik Rcv, Vale naik M1. Tetep aja.
      Runner up pun tidak.

      Menarik, Kang.

      Guest
      • Jika Anda melihat strategi bedol desa adalah sebuah kecacatan dalam penulisan sejarah motorsport, lebih baik saat ini Anda mulai memikirkan untuk berhenti nonton semua cabang olahraga ataupun dunia professional lainnya.

        Guest
      • Biaggi berkelakar sambil lupa umur, saat itu Biaggi udah mulai memasuki usia yg bisa dibilang mulai membatasi fisik. Mungkin dia bener kalo naik RCV bisa juara dunia, asal taun 2002. Dia naik RCV kalo ga salah 2003 ato 2004, di usia yg kalo pembalap sekarang udah memasuki usia pensiun. Alias telat. Kalo ngomongin orang berkelakar sambil lupa umur, gw malah jadi inget Dovizioso wkwkwk punya tabiat sama, cuma bedanya Dovizioso skill B aja, dan lebih tua dari Biaggi kala itu.

        Guest
      • Inget nih.
        User f1z pada sakit hati sama biaggi sampe dijulukin max bego.
        Malah nyanjung2 motor tetangga, pas kalah di 2004 pada bilang sokoor

        Guest
    • yap bener, yahaha salah ambil pembalap di tahun 2017, harusnya zarco yang naik. terlihat zarco di 2016 bisa cepat dengan M1

      Guest
  3. Yg bikin saya kepo ada rahasia apa yg sepertinya Yamaha tahun ini sangat baik hampir di semua sirkuit diparuh musim pertamanya tidak seperti tahun lalu yg banyak bermasalah. Bukankah paket mesin 2021 sama dengan paket 2020?

    Guest
  4. berharap tahun ini taro yg jurdun
    nah 2022 dogfight dah tuh MM vs Taro, kalo bisa sampe grand finale kayak rosi lorenzo 2015

    Guest
    • Tahun ini ngarepin FQ juara, jadi tahun depan kita bisa lihat clash of titan antara FQ dan MM dg level yg seimbang (baik skill maupun title yg sama).
      Kebayang taun depan serunya gimana, serasa lihat JL pas baru ditandemin sama VR, bedanya ini lebih heboh krn beda pabrikan.
      Tapi kalaupun MM bisa pulih akhir tahun 2021 ini gak masalah juga, tetep seru, hanya saja nilainya udah ketinggalan agak jauh.

      Guest
  5. beda karakter cara berkendara Jorge dengan FQ mungkin saja karena perbedaan mendasar pada Software ECU Inhouse dan Bridgestone di era JL dan Software seragam ECu dan Michelin di era FQ, menjadikan behaviour motor berbeda

    Guest
    • Lebih oke dari skillnya ya mungkin, tapi bukan pencapaian. Kalo pencapaian kan fq20 sedang berusaha, masih anak muda. Ya kalo dibandingin dari segi pencapaian nanti kalo fq20 udah pensi jugalah.

      Guest
  6. meskipun begitu ga bisa dipungkiri kalo peran mental yg lebih dewasa dari FQ musim ini juga sangat berperan besar, bahkan dia sendiri mengakui di bbrp debrief pasca race,,
    skrg dia ga terlalu ngoyo juara atau podium, yg penting dapat poin semampunya,,,
    mengenai motor berarti ada persamaan karakter dgn motor Morbidelli di musim ini donk ya ? ya langkah pengembangan yg tepat sih, krn motor 2019 udah terbukti bisa runner up bersama Morbidelli di musim kemaren, dan juga untunglah Yamaha bisa lepas dgn Maverick, kyknya itu anak ga bisa mengenal motor dgn baik alih2 mengembangkannya,,

    Guest
    • Sorry ikut komen, crew chief punya data dimana dia tau setiap sektor yang dilewati pembalap.
      Bisa mengkompare dengan pembalap lain meskipun beda tahun.
      Sedangkan kita cuma penikmat tv, bagaimanapun yang bisa diterima itu data, bukan katanya apalagi fanatisme terhadap salah satu rider atau tim.
      Misal contohnya, crew chief tau ridernya melewati T1 sirkuit aragon berapa detik, dari mulai lepas throttle, tekan rem, rebah berapa derajat, tarik throttle dll.
      Apa kita punya?

      Guest
    • Apakah Anda tahu, Repsol Honda sengaja menaruh kamera di salah satu tikungan di Sepang hanya untuk mengamati perilaku motor+riding style MM yang mungkin nantinya akan dibandingkan dengan hasil laptime?
      Ya, sedetail itu dunia Motogp saat ini.

      Guest
  7. Anak muda prancis ini sudah bisa menyatu dengan M1 nya sekarang.
    Menarilah kedepan belakang kekiri ke kanan

    Guest
  8. Di grid Motogp saat ini, gap antar pembalap hanyalah sepersekian detik. Hal kecil apapun akan sangat berpengaruh.
    Jika satu pembalap terdepan setiap 1 lapnya pada sebuah tikungan yang sama mulai ngerem 5 meter sebelum titik yang seharusnya, dikalikan 20an lap. Di akhir balapan bisa jadi dia berada di luar 3 besar.

    Di luar atribut hal teknis, mentalitas dan konsistensi amat sangat menentukan.

    Guest
  9. klo kondisinya spt ini sirkuit austria sepertinya bakalan cocok dengan M1😁😜
    dan sepertinya Marco Frigerio sudah bisa tersenyum dgn kamajuan M1 sekarang😊 karana ban M1 dah ga muter di tempat lagi😁😁🤭

    Guest
  10. ya sudah 80% lah kira2 gelar di tangan FQ utk 2021 ini, selisih poin nya sudah 1 kejuaraan lebih, apalagi nanti berpotensi jadi selisih 50 poin, kalo sudah diatas itu, FQ tinggal konsisten aja, pasti semua mulus

    Guest
  11. sudah lah gk usah bahas si mbah vale masanya sudah berubah, motogp modern tersukses saat ini yg jadi panutan para rider dunia adlah marc , dan para pembalap bocil yg hebat bertalenta percayalah pasti fans dgn marquez spt marquez dlu ngefans dfn rossi, dan klo sdh juara dunia pasti nongol ja foto masa kecilnya swlfie dgn marc spt yg udh2 hehehe

    Guest
  12. Ntar kalo udah keluar dari yamaha juga bilangnya si x lebih baik dari Fabio Blak-blakan, apalagi kalo ntar opini fans dan media mengenai fabio shifted setelah dia menua dan melambat bakal kaya jorge seolah pencapaiannya hanya karena luck, motornya lebih mudah, si x lagi cedera, bla2. Udah apal.

    Guest
  13. Mamakes salto , terjungkal , patah tulang saat duel ngejar fabio di 2020

    Dah gausah dibahas lagi duel antara mereka

    Guest
    • duel? bigal kau ni, mm tuh jatuh sangko kau grogi samo taro? mm tuh jatuh kareno melambat pas.debelakang taro, kareno ban nyo la abis, dio idak nginjak kreb akhirnyo.jatuh. Jangan buyan kalo komen, kagek kau diketawoin wong, fans buto campur buyan pulo kau ni

      Guest
  14. tapi inget Jl pernah ngelawan legend yang saat itu masih muda dan gahar selama bertahun2…… dengan motor yang sama…. skrg lawannya sakit dgn motor yg kacaw…

    Guest
  15. Kata kunci kata-kata untuk mengunci FQ20 agar tidak ikut kabur seperti Vina, Y tau FQ20 pembalap bertalenta, Y ngeri klo FQ20 di lirik D atau H buat gantiin Pol. E, mirip seperti S yg khawatir kehilangan Mir dan H yg jg khawatir kehilangan Marq, bahasa bisa mengunci pembalap melebihi kunci di kontrak.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.