TMCBLOG.com – Jika kita melihat apa yang dilakukan Formula 1 di 2022 nanti dengan menghadirkan perubahan mayor regulasi teknis mobil baru guna menghadirkan balapan yang dekat dan rapat, faktanya MotoGP sampai pertengahan pertama musim 2021 ini boleh dibilang kian sukses menghadirkan balapan yang rapat tiap tahunnya.

Kita bisa lihat di daftar yang disusun oleh Speedweek di bawah ini mengenai 10 besar top 15 finisher terdekat dalam sejarah “kelas primer” Grand Prix sepeda motor sampai seri terakhir (sebelum jeda libur musim panas) di sirkuit Assen 2021.

NoTahunEventPemenangJarak P1 Ke P15
1.2021Doha-2Quartararo8,928 sec
2.2019DohaDovizioso15,093 sec
3.2020Aragón-1Rins15,941 sec
4.2018AssenMarc Márquez16,043 sec
5.2021Doha-1Viñales16,422 sec
6.2020Misano-1Morbidelli20,152 sec
7.2021JerezMiller20,277 sec
8.2018BrünnDovizioso23,159 sec
9.2018DohaDovizioso23,287 sec
10.2021SachsenringMarc Márquez23,615 sec

 

Grand Prix of Doha, seri ke dua dari seri ganda Qatar pada awal musim 2021, menempati urutan pertama dalam daftar jarak Top-15 terdekat ini. Hanya 8,928 detik memisahkan pemenang race Fabio Quartararo dari pembalap yang meraih poin terakhir setelah 22 lap atau sekitar 118 km di Sirkuit Internasional Losail.

Sementara itu balapan MotoGP di Motorrad Grand Prix Deutschland (Jerman) 2021, dimana Marc Márquez merayakan kemenangan comeback-nya, adalah balapan keempat musim ini yang bertengger di posisi ke sepuluh dari daftar finiser Top-15 terketat dalam sejarah kelas Grand Prix sepeda motor kelas primer.

Balapan yang kian rapat dapat disebabkan banyak hal dan bisa jadi ini bisa dikaitkan dengan berbagai pembatasan pembatasan yang telah dilakukan Dorna sebagai promotor dalam regulasi MotoGP. Pembatasan membuat pabrikan bisa secara semena-mena dan jor- joran melakukan pengembangan mesin bergantung pada kekuatan finansial mereka. Ada sesuatu yang dikendalikan di sisi ini oleh Dorna Sports.

Dan sebaliknya pembatasan di sektor teknis ini selain membuat masing-masing pabrikan berusaha melakukan inovasi teknis dalam koridor yang diperbolehkan (kehadiran winglet, mechanical holeshot devices/shape shifter dll) dan satu lagi yang tidak dapat dinafikan adalah kemampuan pembalap dalam berasimilasi dan berevolusi dalam mengembangkan gaya riding mereka agar dapat mengeksploatasi lebih maksimum potensi motor.

Oleh karena itu tidaklah heran jika Diego Gubelini mengakui pada artikel sebelumnya bahwa Fabio Quartararo memiliki karakter dan gaya berkendaranya sendiri dalam bentuk ‘tarian’ body positioning dan ini pula lah yang kemungkinan menyebabkan kenapa di satu seri tertentu Fabio ini bisa menjadi satu-satunya pembalap Yamaha yang bisa bertahan di depan selagi pembalap Yamaha lainnya struggle. Yap, ada peran signifikan pembalap di era moden MotoGP sekarang ini, bukan hanya sekedar perang ‘robot’ dan elektronik seperti yang banyak digaungkan selama ini.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

9 COMMENTS

  1. Dorna cukup agile menyesuaikan regulasi begitu melihat indikasi tontonan sirkus menjadi kurang menarik.
    Di sisi lain, Liberty salah fokus ke broadcasting dan tidak begitu memedulikan hiburan di track itu sendiri. Semoga tahun depan jadi awal baru F1 lebih menarik.

    Guest
  2. berarti musim ini seperti awal era 2000 an dimana masih ada peran penting pembalap dibanding motor itu sendiri, bukti 2021 ini seperti Marq dengan Onda dan FQ dengan Yahama, sesuatu hal yang dulu ingin dibuktikan rossi ketika pindah pabrikan tahun 2004

    Guest
    • Balap motoGP itu adalah perpaduan antara kemampuan motor, pembalap, dan tim.
      HANYA SAJA ada oknum-oknum tertentu yg ingin diakui terlihat paling menonjol/ punya peran lebih, dan tentunya sifat seperti itu hal yg manusiawi juga.

      Guest
  3. yup,, tak bisa dipungkiri, Dorna sukses membuat level antar pabrikan relatif setara, yg menentukan hasil akhirnya hanya tinggal kerjasama tim dan pembalap,
    meskipun banyak yg ga suka regulasi2 perubahan itu ada juga yg menganggap memfavoritkan salah satu pabrikan,

    bayangkan aja, siapa yg mengira Suzuki bisa merengkuh Juara Dunia ga lama setelah comeback-nya,,

    Guest
  4. Semakin membuktikan Rossi hebat di jamannya karena sedikit banyak ketolong oleh keunggulan teknis. Makanya sejak semakin seragam terutama ECU, Rossi kaya ga punya taring lagi.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.