TMCBLOG.com – Motor bermesin V2 itu mindsetnya Harley Davidson atau adapun Merek jepang saat ini hanya hadir di Suzuki dengan mesin V2 650 cc nya, namun di masa lalu dunia sepeda motor pernah mengecap satu masa dimana Mesin V2 pun hadir di cc kecil seperti 125 cc, salah satunya adalah Honda Varadero XL125V yang hadir di 2001-2009

Varadero 125 adalah kendaraan Genre tourer yang dirancang untuk knyamanan turing yang maksimal walaupun hadir dengan meisn yang nggak terlalu besar, kapasitas 125cc yang sangat terbatas. Mesinnya adalah mesin V-twin 90 derajat berpendingin udara 125cc. dimensi dapur pacu ( Bore x Stronenya ) 42mm x 45mm dengan rasio kompresi adalah 11,8:1. Mesin 125cc adalah mesin dengan kubikasi yang sangat kecil, umumnya mesin dengan kapasitas segini merupakan mesin satu silinder, tetapi Varaderi 125 menggunakan mesin V-twin Longstroke. Nggak banyak kita bisa menemukan melihat mesin multi silinder di kelas ini.

Output maksimum mesin dua silindernya adalah 15 tenaga kuda / 11000 rpm, dan torsi maksimum 1,1 kg f m / 8500 rpm, yang memberikan kesan bahwa mesin ini punya karkater Hi-rpm rpm tinggi. Pasokan bahan bakarnya menggunakan PGM-FI dan juga sudah memenuhi standar Euro 3. Transmisinya Manual 5-percepatan. Rangkanya merupakan kombinasi rangka rangka baja dual beam dan lengan ayun aluminium.

Dengan panjang total 2.145 mm, lebar total 847 mm, dan tinggi total 1.250 mm, memperlihatkan Bahwa varadero 125 cukup besar untuk kelas ini, telepas dari mesinnya yang hanya 125 cc dengan Berat kendaraan adalah 169 kg. Saat ini Motor ini sudah tidak diproduksi, namun maksud tmcblog infokan kembali varian Motor ini dengan tujuan bahwa secara umum ada market Adventure yang Nggak harus punya kapasitas 250 cc ke atas untuk bisa memilikinya . .

Balik lagi, Kalau saja Pabrikan Lokal di Sini bisa buat Motor Adventure seperti ini dengan kubikasi Kecil 150 cc atau 160 cc, Maka Konsumen Nggak perlu harus banyak melakukan customisasi yang belum tentu memiliki tingkat safety merata untuk hanya bisa memiliki Motor bergenre Adventure seperti ini.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

25 COMMENTS

  1. Vtwin berpendingin udara klihatannya cocok banget untuk bahan modif retro.
    Klihatannya mau ada verza adventure nih,dari kemaren wak haji bikin artikel adventure mesin 150 cc mulu.pasti dah ada bocor alus.

    Guest
  2. Masa d mana pabrikan leluasa n bebas berkreasi dan “idealis”
    Beda dg sskarang yg cenderung realistis, main aman…ikut pasar yg didasari efisiensi sehingga kadang jenuh

    Guest
  3. 125 CC tapi kampas koplingnya mungkin seukuran motor 200 CC , keliatan dari lingkaran bak kopling nya yg gede,

    Guest
  4. Dulu aku pikir motor ini diciptakan terlalu overkill. Bagaimana tidak, mesinnya saja 125cc vtwin, yang bahkan bobot mesinnya saja sudah lebih berat dari mesin CBR125

    Apa dari dulu gak paham bahwa 125cc itu dbatasi dengan power 15hp? Dan juga bisa diraih dengan mesin 125cc kompresi tinggi pendingin cairan? Belum lagi perawatannya, kalau harus turun mesin. Tidak bisa dibayangkan bila harus nanggung biaya yang hampir sama dengan motor 250cc di eranya.

    Tapi kayaknya rekan senegaranya yaitu Yamaha juga bkin spesifikasi motor overkill juga lewat produk FZR150. 150cc tapi Vtwin.

    Ntah lah, emang jaman dulu pabrikan lebih bebas berekspresi daripada sekarang. Sekarang untuk market 250-300 di Eropa dan Amerika, mau reborn mesin 4 silinder mikirnya setengah mati. Bisa realisasi tapi, apa ya laku? Karena jiwa biker disana sepertinya terlalu santuy, hanya menikmati roda dua secara santuy. Touring dengam 650cc 2 silinder, skuy skuy aja

    Beda dengan Asia Tenggara ini, 4 silinder 250cc? Gasss, kondisi ramai macet, tetap gasss, apalah arti kata sunmori bila tidak dipraktekkan. Dan juga budaya “share” (atau bisa dikatakan pamer secara halus)

    Guest
  5. Setuju pisan sama paragraf terakhir, sbnernya bnyak bikers yg pngin punya motor touring kaya gini versi 150an cc, bnyak yg modif tapi safetynya gak dapet banget…

    Guest
  6. Bener bgt.
    Kayakna mesin cb150 juga bagus.
    Yg terpenting fitur cukup ga perlu mewah2 amat tp performa mantap.
    Kadang banyak motor mahal karena terlalu banyak fitur yg justru belum banyak bermanfaat langsung.
    Lihat motor petualang diluar sana,banyak yg dari platform 90an.

    Guest
  7. Salah satu yg ta demen selain transalp, xre pas masih kuliah taun 2004 dulu.
    Sayang aja model yg ta demen cuma dijual dibeberapa negara doang, dan gak disini.
    Sekarang udah tuir cuma punya xmax sama vario aja cukup, gakuat naik motor laki

    Guest
  8. Final paragrafnya bener banget.
    Sering lihat motor yg gede2, di Combo misal, saat diamati bener ternyata cuma bebek atau matic.
    Salut dengan jiwa GT mereka, tapi mungkin memang mampunya cuma itu. Andai Versys atau CRF Rally lebih terjangkau, pasti juga pengen switch ke motor yg proper sesuai dengan jiwa mereka.

    Andai saja ada motor semacam ini yg ga perlu spek tinggi2. Basis dari Verza misal, atau Byson, dengan harga 20jutaan kecil, pasti akan sangat menarik.

    Guest
  9. Saya sebenarnya demen adventure. Namun menyadari ini hanya mainan, rasanya sayang untuk membeli versys250.
    Kini tertarik untuk meminang WR155, hanya karena memiliki suspensi offroad dan kata reviewer adalah motor trail kelas 150 yg paling road oriented. Yups, saya sadari mayoritas pemakaian akan di jalan aspal dan sesekali lewat jalan rusak.
    Motor trail memiliki kekurangan di ukuran tangki dan tempat duduk.
    Honda adv-150 waktu awal-awal keluar kan luar biasa hype nya. Ini menandakan besarnya pasar untuk motor adventure. Coba pabrikan seriusin deh

    Guest
  10. Jalanan dan pemandangan di Indonesia terlalu indah kalau hanya dinikmati dengan perjalanan turing dengan motor matik 150 cc an atau sport dengan modifikasi identitas turing yg ‘kurang’safety. walaupun bisa dan sudah banyak dilakukan.
    perjalan jadi terlalu mahal jika harus menggunakan motor adventure 250 cc Up, pajak dan kebutuhan part dijalan ‘jika … jika …”.
    150 cc – 200cc dengan genre adventure, cukup untuk lari 80-100 dijalan kosong, menikmati macet dengan senda gurau jalan desa dengan kecepatan 40-50 tanpa takut mesin overheat dan pasang hazzrds apalagi pegawalan, sambil menyapa biker seperjalanan.
    sesekali perlu berjuang dijalan gravel aspal tidak layak mutu yg sisa kerikil, atau jalan tanah yg perlu sedikit torsi.
    jadi deh Yamaha 155 Tracer, atau Yamaha 155 Tenere, Honda juga bikin 150 Rally atau Varadero 150, Suzuki bikin G Strom 150, Kawasaki lanjut versys 150.
    ah khayal … kok belum ada modifikator bikin massal produk aksesoris semi fairing adventure ya?
    ah sama halnya kebutuhan para petani keladang era 1978 – 1986 dengan Yamaha DT, Binter KE, Honda XL. kalau mesiin CRF 150, WR155, KLX150 dikonversi ke ala farmernya Aussie kayaknya lebih worth it, dengan penyesuaian harga dan spek yg bukan enduro, untuk jadi Honda CT 150 Verza, Yamaha AG155, atau mesin Suzuki Thunder di reborn di jadikan Suzuki TF150, gak perlu berlebihan seperti Kawasaki Stockman 230 eh 250 juga.
    biar perkebunan dan sawah di INdonesia bisa swasembada, dan anak anak muda nya mau jadi petani.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.