TMCBLOG.com – Dikotomisasi secara bebas dapat diartikan sebagai proses pembagian sesuatu menjadi dua atau lebih kelompok dengan sifat sifat dan karakter yang berbeda beda satu sama lain. Dua seri yang akan jadi pembuka paruh kedua musim MotoGP 2021 adalah Red Bull Ring yang kerap dijuluki sebagai treknya Ducati karena secara fakta lapangan, Ducati memang mayoritas menjuarai event balap MotoGP yang diadakan di sirkuit ini. Namun menurut pimpinan championship sementara 2021, Fabio Quartararo saat ini sudah tidak relevan lagi pendikotomisasian trek seperti itu.

Tahun 2020 yang lalu Fabio Quartararo ketika masih di Petronas Yamaha finish di urutan ke-8 dan ke-13 di Austria. Fabio memperkirakan masalaah tahun lalu bukan karena Red Bull Ring bukan trek dengan karakter untuk motor Yamaha, melainkan karena permasalahan teknis yang menerpa mereka. Kepada Crash.net Fabio berkata “Sejujurnya, Austria adalah trek yang tahun lalu menjadi bencana bagi kami, tetapi saya pikir lebih karena semua masalah yang kami alami tahun lalu dalam pengereman.”

“Bagi saya, motor [saat ini] telah banyak berkembang di area pengereman. Perangkat holeshot kami juga bekerja lebih baik. Elektronik… Jadi saya pikir Austria bukan trek yang buruk bagi kami. Saya pikir akan baik-baik saja. Tentu saja, kami kalah di top speed, tetapi pada 2019 saya bisa finis di podium dan Maverick dan Vale finis di urutan ke-4 dan ke-5. Jadi itu bukan trek yang buruk untuk Yamaha, hanya bukanlah trek yang paling mudah.”

“Saya sedikit melupakan [ide] tentang trek Yamaha, trek Ducati … Qatar dan Mugello adalah ‘trek Ducati’, tetapi di Qatar dua Yamaha menang dan di Mugello saya bisa berjuang untuk kemenangan [dan menang], Saya pikir tidak ada lagi trek Ducati, trek Yamaha, trek Suzuki … Saya pikir semuanya semakin dekat dan saya pikir itu cukup bagus.”

Berbekal kemenangan Yamaha di Losail dan Mugello yang kerap dilabelkan sebagai treknya Ducati sampai saat ini, Fabio Quartararo terlihat cukup percaya diri menatap dua seri Austria ke depan dengan Yamaha M1 yang menurutnya lebih stabil dari masalah isu teknis di paruh pertama tahun ini.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

33 COMMENTS

  1. Orang kalo lagi di atas angin enak mau bicara apa saja tapi jangan lupakan tahun lalu jumawa pas jelang akhir musim frustasi.

    Guest
    • tetapi pada 2019 saya bisa finis di podium dan Maverick dan Vale finis di urutan ke-4 dan ke-5

      bener nih si mbah ? berarti memang bukan masalah jumawa di atas angin

      Guest
  2. masuk akal, secara waktu itu RPM diturunin karena isu Klep, kemudian belum ada rider yahaha yang pake brembo versi terbaru waktu itu

    Guest
    • Pemakaian kata “kalau” jika d pskai untuk hal yg belum terjadi memang sah2 saja, lain halnya untuk peristiwa yg udah terjadi itu namanya halu, contohnya andai marq tidak cidera, andai marq 100%?

      Guest
      • Berusaha bijak tetapi ternyata sangat tendensius….
        Ketidaksukaannya kelihatan sekali.

        Saya jadi teringat teman 1 WA group, serang jurnalis otomotif senior media cukup ternama di Jawa, dengan bangganya menge-share video dirinya saat selfie sambil terus teriak memaki-maki MM93 saat melewati tikungan di sirkuit Sepang.

        Guest
  3. ya emg udah terbukti di motor RC 16 yg relatif cocok di semua trek,
    tapi perasaan Quartararo udah pernah mengeluarkan statement yg kurang lebih sama deh dulunya,,

    Guest
  4. Ngomongin austria, ngomongin KTM juga nih,,,, kira” dengan diluncurkannya RC-8C, apakah ada keinginan KTM untuk jadi pemasok tunggal mesin moto2 di tahun mendatang?

    Guest
    • KTM pernah nawarin 2 silinder 500cc, tapi ditolak karena si botak pengennya motor harus segembrot motor MotoGP kalo perlu lebih gede bannya, sama jumlah silinder harus lebih dari 2 tapi ga lebih dari motogp.

      Guest
  5. Wkwkwk gw masih inget bahan bullyan fans garis keras nganu nih, yg cuma muncul disaat ada artikel yg bahas Quartararo terpuruk tapi ngumpet saat Quartararo kembali menang.

    Guest
  6. Semoga marq ga merusak tatanan kejuaraan dan posisi yg kini dipegang yamaha-Quartararo.
    Jika saja fabio satu kali saja terkena SNF/CRASH mungkin jadi lebih rame,?
    Bukan mendoakan tapi sekuat apa mentalnya nanti setelah DNF.

    Guest
  7. Hmmm, kok masih ragu y? Bukankah top speed adlah segalanya di Austria,ibarat motor di posisi straight tinggal bejeg sekencang2nya????,masak ngandelin akselerasi dan kecepatan keluar tikungan mulu

    Guest
  8. Uda mulai main psywar nih fabio….hmm apakah mentalnya udah bner2 brubah,msih blom teruji sih bgmn bangkit dr kekalahan dn tekanan…klo msih di atas awan ngomong apapun seh sah sah aja

    Guest
  9. Halah tahun kemarin juga gini dan paruh kedua mlempem, palingan nanti juga sama paruh kedua balik mlempem

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.