TMCBLOG.com – Ride Height Device adalah Part pengembangan dari Holeshot Devices yang bisa digunakan tidak hanya saat start dilakukan namun bisa diaktifkan saat Motor MotoGP membutuhkan Grip maksimal salah satu contohnya ketika Motor sedang berakselerasi maksimal keluar dari tikungan. Di gelaran Silverstone 2021 ini ada beberapa Isu Hot mengenai Ride height Device / Shape shifter ini. Yang pertama adalah fakta bahwa beberapa pembalap tidak menggunakannya dengan berbagai alasan dan Yang kedua jelas Update pengembangan dimana alat ini sudah lebih naik lagi levelnya menjadi bisa diaktifkan secara ‘otomatis‘ . . wah nggak melanggar regulasi tuh? Kita diskusikan dulu  . .

Valentino Rossi mengaku tidak terlalu sering menggunakan Ride Height Devices di Silverstone dan menjelasakan penyebabnya kepada Jurnalis semalam pada Zoom Meeting “Saya tidak banyak menggunakan perangkat [ride-height] di sini karena tata letak trek. Kami tidak mendapatkan banyak [keuntungan] ” 

Sementara itu Dua Pembalap Suzuki Mir dan Rins Juga tidak menggunakan Alat yang bisa bikin suspensi belakang terkompres dan membuat posisi bagian belakang Motor turun ini. Joan Mir mewakili Suzuki mengatakan soal hal ini : “Seperti yang saya katakan di Austria, perangkat ini hanya evolusi pertama dan butuh dikembangkan[lagi]. Di sini, di Silverstone, tidak banyak keuntungan untuk menggunakannya. Kami lebih banyak kehilangan [time]. Saya tidak menggunakannya karena ini. Di Austria kami mengalami beberapa masalah [untuk membuatnya bekerja dengan benar] tetapi saya masih mendapatkan sesuatu dalam akselerasi. Di sini tidak banyak area [yang butuh] akselerasi keras “

Saat tmcblog coba cek ulang ke tataletak Trek silverstone, apa Yang dikatakan Oleh Para Pembalap ada benarnya Juga dimana pada sirkuit silverstone ini tidak terlalu banyak spot tikungan dimana butuh akselerasi biadab seperti pada trek stp and Go seperti Red Bull Ring – Spielberg. Cek saja T1, T6, T10, T15, dan T18 semuanya berjenis tikungan flowing dimana umumnya tidak butuh akselerasi ‘biadab’ di tikungan jenis ini.

Walaupun Karakter Silverstone adalah Flowing circuit yang memang banyak menguntungkan Motor motor Inline 4 dari masa ke masa dan tidak banyak butuh Ride height Devices . . Ada isu Hot menarik mengenai alat ini . . Yakni Ride Height Devices yang bekerja ‘Otomatis’ . . .

Sebelum Otak kita mengawang awang secara liar mencoba mencerna arti kata Otomatis tmcblog mau share dulu sob regulasi yang berkenaan atau yang bisa dijadikan rujukan untuk pengembangan alat yang bisa memberikan perlakuan terhadap suspensi seperti Ride Height Devices ini :

Dalam Regulasi di atas disebutkan bahwa Penyetelan pada sistem suspensi  hanya dapat dilakukan oleh input manusia secara manual dan penyetel mekanis/hidraulik, atau secara pasif yang ditentukan oleh gaya/perpindahan yang langsung ditransmisikan oleh sambungan mekanis/hidraulik misalnya posisi suspensi, beban, akselerasi, pitch yang digunakan sebagai pemicu mekanis dari penyesuaian pasif

Jadi secara umum yang pasti kata kata ‘ otomatis’ tidak boleh dikembangkan secara elektronik/ menggunakan perangkat Listrik termasuk sensor elektronik dan aktuator elektronik. Lalu bagaimana Bisa ? Jadi  gini sob, dalam fisika ada juga yang namanya sensor yang bekerja dan mengahsilkan data mekanis seperti misalnya ketika suspensi mulai terkompres atau mengalami perubahan Travel/ Lendutan dari Spring maka perubahan (jarak) ini bisa dideteksi secara Mekanis dan tentunya bisa diamplifikasi secara Mekanis menggunakan sistem tertentu seperti penggunaan tuas, Hidrolik, ataupun gearing . .

Masih bingung ? Gini deh sebagai gambaran silahkan lihat Dongkrak mobil di rumah . . alat itu bisa ‘ mengamplifikasi’ force / tenaga kita  kita yang paling cuma keluar 100 Newton mengguankan sistem hidrolik menjadi bisa mengangkat Mobil yang massanya 1 Ton ( memiliki berat 10.000 Newton)  . . . untuk lebih lengkapnya silahkan baca tulisan singkat di wikipedia mengenai Mechanical Amplifier deh

Dan tmcblog yakin proses Mechanical Amplifier yang bisa di gunakan sebagai pemicu (trigger) dari sistem Mekanik Ride Height Devices ini sudah ditemukan Oleh Pabrikan Pabrikan semenjak lama dengan ide untuk membuat para Pembalap tidak perlu sulit sulit menentukan titik mana saja mereka butuh men-deploy/ mengaktifkan sistem yang bisa membuat Bagian belakang dari Motor jadi ‘ambles’ ini.

Dan yang cukup mengejutkan buat tmcblog adalah Bukan Hanya Ducati yang merupakan Pionir alat beginian . . . Pabrikan ‘ kecil ‘ Kayak Aprilia pun teryata bahkan sudah dari beberapa Pekan yang lalu menggunakannya

Aleix Espargaro yang mengakui hal ini sob “Aprilia melakukan kerja yang sangat bagus pada pekan pekan terakhir dengan mengembangkan automatic rear device, yang sudah saya gunakan di Austria. Tapi di sini, karena tata letak trek, saya tidak bisa menggunakannya. Jadi saya bilang ke kru saya ingin yang standar, manual, yang diaktifkan manual di setiap [kebutuhan] akselerasi. Dan saya menggunakannya di trek lurus dan itu cukup bagus.”

Terakhir Kita sempat melihat sistem Ride height Devices dari Motor Enea bastianini yang tidak sengaja terbuka side Fairing DesmosediciGP19nya dan membuka Tabir sistem yang bisa memaksa dan menahan suspensi melendut. Namun Sekarang ahdir tabirlain yakni sistem Otomatisasi Mekanisnya yang jelas bikin kepo berkelanjutan . . .

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

34 COMMENTS

    • Cvt vario itu otomatis, tapi mekanis (manual)
      Cvt honda jazz itu otomatis dan elektris

      Kopling bebek itu otomatis mekanis
      Kopling X-ADV itu otomatis elektris

      Guest
  1. mgkin bs jadi sensor nya di suspensi blkang atau throtle, saat pmbalap brakselerasi keras shg suspensi blkang mulai trkompres pada tingkatan/hntakan trtntu akn mmicu aktuator/hidrolik untuk mngunci suspensi.. atau saat throtle d putar dgn kecepatan trtentu mnjadi pemicu shape shifter…

    Guest
  2. Otomatis yg g elektrik, brarti sensor dan aktuatornya mekanikal ya wak.ji.
    Mungkin sensor nya ditaruh di shock ya.
    Msh blm kebayang bentuknya

    Guest
  3. engineer dilawan, selalu ada cara keluar dari setiap tantangan, selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. bisa jadi bukaan throtle juga otomatis karena ada ECU dan berbagai sensor, pergelangan tangan rider tidak banyak berpengaruh

    Guest
    • Bisa jadi. Lama2 rider cuma buat jaga motor biar ga jatuh doank. Sementara gas-rem diatur ECU, disetting sesuai layout sirkuit. Wkwkwkw..

      Guest
  4. Bisa jadi untuk menentukan kapan aktifnya masih pembalap yang atur, kalo gak gitu setiap ada akselerasi keras tapi lurusnya pendek kan malah ngeganggu dan gak banyak manfaatnya

    Misal, saat baru mau masuk tikungan terakhir di austria, sebelum pembalap ngerem mereka udah mencet tombol atau tuas dulu, nanti begitu keluar tikungan, begitu motor udah cukup tegak, alatnya aktif sendiri di kondisi yang dirasa paling optimum sesuai setupnya.

    Pemicunya bisa dari suspensi yang terkompres karena beban mulai pindah ke belakang semua, tentu harus ada tambahan sejenis stroke sensor di suspensi, plus ada semacam giroskop yang mungkin jadi acuan berapa derajat kemiring motornya (dan tentunya harus giroskop yang mekanis) beda dengan giroskop yang ada di IMU

    Stroke sensor dan giroskopnya kemudian cuma membuka sejenis valve di sistem hidroliknya, dan aktiflah alatnya, gitu kira kira dugaan saya

    Guest
  5. Yang menarik pabrikan yang paling intens mengembangkan teknologi begini justru yang tak ikut MXGP. Padahal basisnya dari motorcross

    Guest
  6. Kalau mengembangkan penjelasan wak haji, otomatis nya itu kabel kompres disekaliankan di puntiran gas sehingga jika bukaan gas di putar maka Devicenya juga terkompres. #sok tau

    Guest
  7. Saatnya nanti RHD terbagi jd beberapa mode mengikuti karakter sirkuit, gaya pembalap, cuaca…. Jadi ada tombol mode MANUAL, AUTO, RAIN, WET….. Device Makin kompleks, makin banyak tombol dashboard/setir, makin terbagi konsentrasi pembalap…..
    Dan…. Lahir alien2 yg gak cuma jago diatas motor tp juga jago manajemen perangkat motor plus jago manajemen ban, jago juga kendalikan emosi n psikologi yg mumpuni

    Benar2 pembalap bertalenta yg didukung kecerdasan dan mentalbaja yg akan juara

    Guest
  8. Kebayang motogp 2022..insinyur pabrikan jepang pasti bkln bikin part2 spektakuler..pabrikan eropa jual diborong ama jepun.. kebayang kl ecu inhouse dibalikin lagi plus ban jembatan batu,.asimo dan motobot bkln edan lagee

    Guest
  9. kalau lihat gambar GP19 Bastianini, ride height devices ini mirip lowering kit (penghubung swingarm ke prolink monoshock) tapi dalam bentuk hidrolik ya, Wak?

    Guest
  10. Jd teringat pulpen waktu masa sekolah..yg ujung atas ditekan sekali,,,tinta keluar tekanan kedua kembali masuk. ???

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.