TMCBLOG.com – HRC perbarui kontrak Test Rider Buat Stefan Bradl 1 tahun lagi ( Hingga akhir 2022). ” Dengan senang hati kami umumkan bahwa Stefan Bradl akan lanjut sebagai test rider bagi Honda HRC. Mantan Juara Dunia ini terus menunjukkan kemampuannya di atas motor dan merupakan bagian berharga dari pengembangan Honda RC213V. “

Yap begitu lah Isi dari informasi yang sempat dibagikan HRC Di hari Balapan Misano Kemarin. Bagi tmcblog, Ini strategis juga untuk meningkatkan Moral Bradl juga menjelang Test Misano yang akan dimulai pada hari selasa ini di sirkuit yang sama. Test Misano sendiri Buat HRC dirumorkan memiliki Tingkat Urgensi yang tidak kalah penting dibandingkan dengan race Misano 1 dan Misano 2 nanti secara di test ini rencananya Honda akan mulai menghadirkan prototipe RC213V 2022 yang juga akan dicoba Oleh Marc Marquez dan Pol Espargaro.

Bradl : “Saya sangat senang dan juga bangga bisa melanjutkan Honda HRC sebagai test driver mereka. Bersama dengan Tim Uji, kami telah mampu meraih prestasi besar dan membangun sesuatu yang sukses. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Honda HRC karena terus mempercayai saya dan saya menantikan untuk lebih mengembangkan Honda RC213V bersama mereka.”

Selain itu Juga Pengumuman Diperpanjangnya Kontrak Bradl 1 tahun ini cukup menghentikan spekulasi yang berkembang di race weekend Misano bahwa HRC memiliki niat Untuk menggunakan Jasa Cal Crutchlow sebagai test Rider mereka di 2022 nanti ( Kontrak Cal Dengan Yamaha durasinya per tahun ).

Rumor ini banyak ‘digoreng’ dengan bumbu bumbu yang menyebutkan bahwa saat Cal masih bergabung dengan LCR Honda ia sering menjadi ‘ test Rider bayangan ‘ yang kerap mencoba suatu Part baru bahkan sebelum Marc Mencobanya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi lagi di kubu HRC semenjak duo Nakagami – Alex Marquez di LCR Honda.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

48 COMMENTS

  1. bahkan slogan Satu Hati tetap nempel di livery corporate HRC,, gw jadi bertanya-tanya, seistimewa itukah Astra Honda di mata Honda Jepang ?? kalo emg iya, sebenarnya bisa lah pihak Astra Honda melobi Honda Jepang agar mengutamakan talenta pembalap muda Indonesia,,

    Guest
    • Jujur saja , pembalap luar negeri talenta nagus bagus karena olahraga menjadi mata pencahatian, jadi mereke bener bener mengasah skil secara maksimal. Tidak kuliah pun ndak masalah.

      Saya sendiri ngak tau, macam MM, JL, CS daped sempat kuliah ngak yach?

      Beda di mari, msh mikir setelah ngak balap mau makan apa. Berkaca kepada olahragawan yg tuanya hidup susah, padahal sdh harumkan nama bangsa.

      Guest
      • Di sini olahraga belum menjadi mata pencaharian karena industri olah raga belum terbentuk.
        Pertandingan olah raga masih sangat tergantung dari ada tidaknya sponsor.
        Karena budaya kita belum menjadikan tontonan olah raga adalah kebutuhan mendasar sebagai sarana rekreasi.
        Saat berlibur di akhir pekan kita lebih suka menghamburkan duit untuk belanja ke mall, ke wahana permainan, kumpul2 di kafe, dll.
        Orang2 barat lebih suka berkumpul bersama menonton pertandingan olah raga. Tentu saja dgn mengeluarkan duit untuk membeli tiket masuk.

        Semua kegiatan bisnis punya dasar yg sama yaitu follow the money.
        Kalau tdk ada uang di tontonan olah raga, siapa yg akan menyelenggarakan pertandingannya kalau tdk mendapatkan back up sponsor?
        Kalau animo penonton kurang besar, sponsor jg akan berpikir ulang untik mendukung kejuaraan olah raga.
        Ini belm bicara sponsorship untuk masing2 peserta yg tentunya lebih susah lagi.

        Guest
      • @bdt ini pendapat saya yak, para atlit itu rata2 suka memposting dailylife mereka, jika mereka kuliah setidaknya ada 1 atau 2 foto mereka tentang perkuliahan, dan saya lihat di instastory mereka ngk ada tuh mereka posting lagi kuliah atau semacam terkait didunia perkuliahan,sepertinya dieropa sana bakat lebih diutamakan entah itu balapan atau olahraga lainnya, setau saya sih kalau ngk salah yg sarjana di motogp cuma karel abraham…

        Guest
    • Satu hati nempel di livery HRC soalnya Astra bayar Bang, sebagai sponsor. Bukan karena HRC menghormati astra. Itu duit hasil milking konsumen indonesia. Dan sudut pandang orang indonesia rata2 terbalik.

      Guest
    • Astra bikin logo satu hati dan bayar sponsor ke HRC biar logo satu hati ini terpasang di livery. Niatnya agar masyarakat menganggap motor pasaran astra ini identik dengan motor motogp honda, menganggap kalau motor pasarannya itu menandung DNA RCV. Padahal aslinya jauuuh banget. Hasilnya bisa dilihat, FBH makin menggila. Makin fanatik dengan brand tersebut. Sama halnya dengan istilah Semakin di depan, sampai ada lagunya juga. Luar biasa memang marketingnya. wk kw wk

      Guest
    • Berarti ahem kerjasama kontrak soal sponsornya ke HRC langsung,bukan RHT

      Makanya mencakup RHT,test team,dan HTA sesuai persetujuan,cmiiw

      Guest
    • itu hanya sponsorship aja, sama pentingnya dengan YIMM nempel revs your heart di yamaha motogp
      tp kalau dibilang istimewa, ya jelas. indonesia dalam hal ini AHM itu lumbung uang yang sangat besar bagi honda. sudah jumlah penduduknya banyak, penjualan motor honda juga mendominasi. bargain AHM di mata honda itu besar

      lihat aja bagaimana AHM mengeluarkan pcx & cbr150 cbr250r, padahal waktu itu thailand belum lama launching pcx & cbr150. kalau tanpa persetujuan honda pusat ya ga bakal bisa

      tapi kalau untuk lobi mengutamakan talenta lokal ya nanti dulu, setidaknya mario aji dkk sudah di support AHM ke jalurnya motogp lewat cev

      Guest
  2. komentator yang Budiman, ada gaduh apa sih di kejuaraan moto-e?
    yang pinalti 38 detik lah
    yg g terima siapa yang juara lah
    yg dibilang drona mendukung Spain lah

    Guest
    • Itu gara gara agerter vs jordi tores pak ferry maryadi.
      Perebutan juara umum antara agerter sama tores, penentuannya di race 2 seri misano kemarin dan sebelum race 2 tores memimpin klasemen.
      Pas race 2 tores memimpin dan di last lap datang lah agerter mengovertake dengan gaya rear wheel stering atau menggeser roda belakang ditikungan. Bagian belakang motor ageter nyenggol tores sampe tores nyungsep dan agerter juara.
      Nah take over itu yg dipermasalahkan, agerter kena penalti. kalo itu take over dianggap bersih, harusnya agerter yg jadi juara umum bukan tores.
      Videonya kemarin sempet ada di postingan instagram motogp

      Guest
      • Walaupun gak bersih2 amat cara ngambilnya, ane rasa itu termasuk racing accident yg terjadi di last lap,yaah dikurangi 5 detik lah karena reckless ridingnya

        Rossi dan Marquez yg dorong lawannya sampe mental di Jerez aja ga dapat hukuman

        Guest
        • Itu Aegerter teori nya harus wide karena ambil dari dalam, dan mengerem kuat seperti rem mendadak. Jordi sudah seperti menghadapi tembok gak bisa menghindar. Ini balap penentuan, wajar donk dihukum seperti itu. MM aja mencoba ambil FB di Aragon dari dalam tetap wide kok, bukan ngerem habis seperti Aegerter yang menjadi seperti tembok buat lawannya.

          Guest
  3. Btw wak kesesuaian riding Bradl sebagai test rider dengan MM sebagai ace rider ini seberapa ya ?

    Maksud saya masbro Bradl ini udah jadi test rider honda selama bermusimmusim, tapi selama ngegantiin MM jadi serasa official rider kok dia sendiri kendor sekali ya seperi tidak ada tandatanda sudah memakai motor hasil test nya sendiri padahal sudah cukup banyak race dia menggunakannya ?

    Guest
    • Ane rasa Dia gak mau make sampe limit yg bikin dlosor dan rusak parah padahal race baru dimulai kayak Pedrosa kemarin,atau Pirro yg kadang2 DNF

      Setelah kena nyinyir cruclo soal insiden dia dlosor sejak t1 Brno dan ngerusak swingarm karbon pertama,karena dinilai terlalu menggebu-gebu cara kerja dia berubah

      Guest
      • oh mungkin dia hanya ngetest dan ngerjain improve-an yang koridornya udah ditekenin MM kali ya ?

        “ku mau kalau lagi diginiin, respon motor kurang lebih begini” kalau dah tercapai, yaudah, kelar misi nya.

        Guest
        • ya, test rider kan gitu, ngetest brgyg diminta oleh pembalap rujukan pabrikan, klo HRC ya marc. cuma ribetnya, test rider itu kudu org yg presisi, butuh org yg ngerti persis apa dampak yg dinginkan dari sebuah part, atau efek part ke motor. HRC dulu punya Daped pembalap Reguler, sayang milih KTM

          Guest
        • Knapa gak paduka hohe aja ya ? apa karna paduka hohe lebih ke m1 m1 an gaya ridingnya di atas mesin apapun dia berada ya ?

          Guest
    • pernah di bahas kok di artikel, riset ban, elektronik,kualifikasi dll sangat beda saat race dengan test
      test rider tidak punya/minim pengalaman kompetitif faktor diatas, karena fokusnya beda. cmiiw

      Guest
      • btw bradl waktu gantiin marq, masuk zona poin itungannya sudah hebat
        bisa bagi tenaga pikiran antara race dengan test
        itu sangat berat

        Guest
        • Yoi di portimao jg finish P8 cmiiw, meskipun ada unsur dia udah cobain duluan sirkuitnya dibanding yg lain tapi tetap saja capaiannya cukup impresif

          Guest
        • Btw kalo bradl udah gantiin si MM sebanyak itu serinya, harusnya dia bisa lebih “OHHH INI MAKSUDNYA SI MM”

          Guest
    • Sepertinya tidak hanya bradl tp juga test rider kebanyakan
      Ada bbrp faktor,
      Pertama mereka test rider bukan developer, inget keluhan casey.
      Enginer develop motor berdasarkan kebutuhan rider reguler bukan test rider
      Dgn kata lain… memang bukan motor untuk test rider
      N kemungkinan daped diluar kategori ini

      Kedua
      Tidak jarang yg di test hanya item tertentu bukan whole package
      Ya kaya puzzle aja

      Ketiga
      Ketika jadi replacement rider
      Sering kali motor di setup “default”
      Untuk menghindari kerusakan mesin yg bisa ngerugiin rider reguler

      N mungkin ada faktor lainnya

      Guest
  4. Kasihan ya joan mir, gaya balapnya keras tetapi dapat motor lemot, ditikungan udah ngeri zig zag tetapi di lurusan selalu gagal nyalip, coba pakai ducati atau rcv pasti sempurna itu…

    Guest
    • ya gimana, saya ngelihatnya Suzuki ini motor yang mengedepankan sekali perihal balance.

      Jadi saat 2020 motor lain prepare biar bisa digunakan sampai 2021 karna pembekuan mesin, eh malah jadi pada labil. Suzuki bisa nyelip ampe jurdun karna memang motor dia udah stabil.

      2021 pabrikan lain udah ketemu 1 2 solusi buat labilnya motor 2020 mereka (di luar mesin), Suzuki yaudah. Bingung mau diarahin kemana lagi karna udah stabil motornya.

      Makanya kmren awal awal 2021 pabrikan lain sibuk ngurusi motor buat musim 2021, Suzuki udah sempat jajal improve buat musim 2022 toh, ya memang harus ada rancang ulang. Tapi semoga untuk 2022 rnd dah kelar ya, dan planning nya harus lompat jauh dari motor 2020/21 nya. Karna keknya pabrikan lain udah siapsiapin motor 2022 nya lebih serius dari sebelumnya setelah di 2021 ini ketahan regulasi. Selama 2020/21 ada 2 musim lah untuk ngumpulin data motornya jadi bahan evaluasinya udah banyak di tiap pabrikan. Kalau gak ya.. one hit wonder aja itu jurdun 2020

      Tanpa mengecilkan Joan Mir/Suzuki ya ini, just my 2 cents hehehe

      Guest
  5. Kemarin pas selesai race dan marquez masuk garasi baru sadar kalo presiden HRC sekarang udah ganti bukan tetsuhiro kuwata lagi. Yang sekarang wakabyashi siapa gitu namanya kalo gak salah, orangnya pake kacamata. Pantesan kuwata san gak pernah terlihat lagi.

    Guest
  6. Tahun ini parts update terbaru bahkan langsung dijejali ke motor marwoto buat race weekend, tanpa lebih dulu dijajal test rider heheheh

    Guest
    • Kalo ini sebuah pendekatan optional lah,… :
      Keberadaan Bradl di perpanjang sama Honda (menurut ku) banyak pertimbangan. Selain sudah lama secara historis yg me-build RCV ada sedikit campur tangan si Bradl disitu, tentu saja diperlukan sebagai input dalam membangun sebuah motor untuk common-rider juga. Ada juga pertimbangan sisi lain, yaitu masih dipertahankan takut nya diambil oleh pabrikan lain dalam rangka ‘mencuri’ informasi ttg RCV. Hingga fenomena ‘dani pedrosa’ tidak jadi bahan gorengan selanjutnya.

      Kalo ttg Marc kenapa diawal awal sudah diberikan ‘previeleg’ untuk memakai part2 baru. (Menurut ku) Ya tentu saja dikembalikan pada klausul awal lah…. Semenjak dominasi Marc dalam menghandle RCV dengan berbuah 6kali juara dikelas MotoGP dan (yg paling utama) bahwa si Marc diberikan kontrak langsung 4tahun adalah sebuah ukuran/indikator bagi Honda sebuah ‘valuable rider’ yg harus dijaga.
      Hal inilah yg memberikan semua kesan menempel pada Mark spt ‘marqsentris’ dll.
      Yg secara alamiah secara ilmu manajemen dirangkai dalam sebuah kalimat bahwa “memang si Marq yg mampu memberikan lebih kenapa tidak dia diperlakukan lebih juga”
      IMHO…

      Guest
      • Yha seperti pabrikan sebelah yang ridernya banyak jurdun. Pasti inputan dia paling di denger, termasuk walau hiatus championship dah lama, tapi tbtb minta knalpot double barrel ikutan sijuki tibatiba diturutin.

        CUma ya kalau beliau, style nya di motor itu masi bisa banyak diekstraksi sama pembalap lain, jadi ga ketahuan banget ehehhe

        Guest
    • Tujuannya sudah beda
      Mereka lebih fokus ke musim depan
      Sedangkan kalo diuji sama test rider dulu kan supaya materialnya gak “mentah2” amat
      Jd rider reguler tidak terlalu keganggu fokus di championshipnya

      Guest
  7. Bukannya mengecilkan bradl, tp musim 2020 dan 2021 ini hasil dari develop Bradl ini kurang cocok dg marc. Beda dengan saat peninggalan pedrosa dan stoner jaman dulu. Marquez yg baru pindah dari moto 2 langsung bisa kompetitif dan mendominasi. Jangan2 hasil develop stoner & pedrosa itu malah lebih cocok dengan karakter marquez. Tapi memang sih, jaman stoner dulu dan sekarang beda, baik dari segi teknologi, ban, dll. Dan realitanya, honda sekarang lebih memilih bradl daripada stoner sbg test rider.

    Guest
    • 2013 dan 2014 ASIMO msh ada di RCV, jadi MM mudah beradapyasi.

      Mungkin kalu asimo msh ada, bisa jurdun 7 kali betturut.

      Daped pun kalu asimo msh ada msh bisa podium dan kandidat jurdun

      Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.