TMCBLOG.com – Walaupun terkesan maih belum Stabil di awal Musim 2021, namun pasca Rehat Musim Panas, Francesco ‘Pecco’ Bagnaia Menunjukan Kapabilitas dan performanya di atas Ducati Desmosedici GP21. Selain Mir, Zarco dan Miller Sampai jelang GP Austin Texas di sirkuit CoTA nanti, Pecco adalah salah seorang pembalap Yang masih bisa menjegal Asa Quartararo meraih Trofi Juara Dunia MotoGP 2021 ini walaupun ombak yang ia akan hadang sangatlah besar dan tinggi, setinggi Gap 48 point antara dirinya dan Fabio. Namun Bukan hanya soal hasil di dua seri terakhir yang menjadi sorotan Ke Bagnaia, melainkan transformasi apa yang ia hadirkan selama membalap bersama Ducati sampai akhirnnya bisa memperoleh dua kali Juara seri secara back To back.

Pecco Bagnaia menjelaskan bahwa Permasalahan utama yang menjadi penyebab Inkonsistensinya di MotoGP saat awal Karir adalah Di pengereman. “Saya bekerja keras untuk itu karena di tahun pertama saya di MotoGP, saya mengalami banyak masalah dalam fase pengereman,” kenang Pecco. “Saya mulai fokus di area ini menjelang akhir musim 2019. Tahun 2020 saya maju selangkah.” . Lalu dengan Cara dan Media apa ia berlatih secara jeda rehat pembalap motoGP bahkan dilarang latihan menggunakan Motor prototipe dan bahkan Superbike dengan spek Balap ? Jawabannya adalah Ducati Panigale V4S

“Saya juga banyak bekerja menggunakan streetbike untuk meningkatkan penanganan ban depan. Satu hal bagus tentang Panigale (V4S) kami adalah, dalam hal gaya berkendara dan ban, Juga perilaku Front end-nya mendekati motor MotoGP. Kami menggunakan ban [spek balap] endurance dari Michelin karena konstruksinya mirip. Jadi saya banyak bekerja dengan ban dan motor – Juga dengan data Jorge Lorenzo

Menarik melihat Pecco lebih memilih data Jorge Lorenzo ketimbang Data Andrea Dovizioso misalnya yang tiga kali menjadi Runner Up dengan Ducati Desmosedici. Cukup Logis jika kita memikirkannya setelah melihat seperti apa Perlakuan Pecco saat ini ketika di Tikungan, sangat smooth dan sangat cepat Khususnya ditikungan Cepat. Banyak yang bilang ia berkendara seolah naik Yamaha M1 diatas Ducati Desmosedici . . “Saya mengerem dengan keras dan sekuat mungkin, tapi saya pikir saya membuat perbedaan lebih banyak saat memasuki tikungan.”

“yang bagusnya  adalah sepeda motor kami sangat stabil. Jadi kami bisa berbelok ke tikungan dengan kecepatan tinggi. Saya merasa kuat di tikungan cepat, di semua trek. Dan saya memiliki perasaan yang sangat baik tentang Front end sejak musim ini. Kami belum mengubah apa pun di motor, set-upnya hampir sama seperti tahun lalu, tapi feelingnya telah meningkat pesat dan saya juga lebih baik dalam menangani ban depan. Perasaan ini membantu saya untuk menyerang tikungan cepat seperti itu. ”

Davide Tardozzi, team Manager Ducati Factory Mengiyakan hal ini ” Kami menempatkan gambar [Pecco] di beberapa titik di sepanjang rute dan melihat Jorge Lorenzo dari 2018 lagi. Jika helm dan setelan kulit tidak berbeda, tidak akan ada perbedaan. Mereka ( Pecco dan Jorge ) mirip dalam hal gaya mengemudi dan posisi mereka di atas motor.”

Ketika di cek silang ke Jorge Lorenzo, Pensiunan Pembalap MotoGP ini pun tidak menafikan hal ini “Pecco lebih besar dari saya, tapi saya setuju, Ada dua pembalap yang memiliki gaya mengemudi mirip saya: satu adalah Quartararo, yang lain Bagnaia. Keduanya duduk di atas sepeda motor yang saya kendarai selama beberapa tahun terakhir.”

Taufik of BuitenZorg | @tmblog

72 COMMENTS

  1. Bisa dibilang title contender musim ini Jorge Lorenzo vs Jorge Lorenzo 😅
    sygnya Quartararo ga suka latihan dgn R1, berbanding terbalik dgn Pecco yg suka latihan pake Panigale,,

    Guest
    • Gunanya VRacademy untuk mendapatkan tiket menuju motogp.

      Meskipun ilmu terapan yg digunakan justru punya JL99, mantan teammate sekaligus rival Mbah Ross.

      Guest
  2. Sepertinya yang rugi hrc

    Dihampirin ama lord hohe tapi keknya ga sebegitu kepakenya sisa kehadirannya 🙁

    Balapan cuma sebentar, dan mungkin rider di sana kurang ada yg mirip paduka hohe

    Guest
    • mm dan stoner adlh pembalap2 terbaik namun gaya balapnya susah untuk dijadikan referensi karena gaya mreka sangat agresif, berbeda dengan jorge

      Guest
  3. Hehe berarti yg dilakukan duc2 sudah benar mendepak dovizong,dan memilih peco😄😁
    kalo cm sekedar runner up gampanglah, Dovizong terlihat bagus juga sejak ada lord hohe, yg apes yamama dapat rider tuir,tujuannya buat ap cb, lainnya fokus regenerasi,malah ambil pembalap bangkotan

    Guest
  4. crutclow,dovi,hayden awet2 bener diducati
    jorge yg jelas2 jurdun beberapa biji..malah lama bener mikirnya buat memperpanjang jasa balapnya..ini ducati
    andai sabar dikit aja sama jorge langsung kasih kontrak gitu 2 thn kemudian
    ah tapi ya andai andai

    Guest
    • Krn gaji hohe besar, mungkin hampir 2 kali lipat dari total gaji ketiga pembalap tsb. Makanya petinggi ducati jd ga sabaran.
      Coba aja dovi ga ngerengek minta naik gaji, gw rasa doi akan pensiun di ducati, dan bukan ga mungkin akhirnya malah ngerasain jurdun.

      Guest
  5. Lord Lorenzo walaupun ngeselin, tapi ilmunya sangat berguna. Kalo gak cedera punggung, mungkin bisa dijinakkan tuh RC213V.

    Guest
  6. Bagiono ini memang dikenal telaten dan betah duduk berjam2 menganalisa semua data kecepatannya. Semua hal dia periksa teliti dan bandingkan. Dia jago mengolah software telemetri menyaingi race engineernya heheheh.
    Beda banget dengan Jack Ngiler yang cenderung lebih suka ngebir dan having fun.
    Pernah disuatu sesi wawancara (jaman mereka masih di pramac), jack ngiler bilang bagiono mirip kutu buku, nerd, dan kurang bersenang-senang heheheh.

    Guest
  7. Yg cuma ndekem 2 tahun datanya masih sangat berguna sampe sekarang,gimana kabarnya yg ndekem dr 2013-2020 datanya siapa yg make?
    Marini?

    Guest
    • yg ngendog 8 musim aja kadang nyontek datanya lorenzo juga wkwkwk padahal dia “the professor” kata fansnya

      professor abal abal iye wkwkw

      Guest
    • Lucunya ketika kita menyebut nama marquez rosi lorenzo, ringan 2 aj tp kenapa nybut dovi kalian gak enak😆😆😆😆,dah lah jd orang apa adanya jujur gt kenapa

      Guest
  8. Menurut saya seh, Bagnaiya memang pembalap top kan juara moto2 bahkan dlu dia terlihat seperti JL99. Andai yamaha cepat ambil bagnaiya yamaha akan punya saingan fabio. Eh diawal bagnaiya aplikasikan gaya smooth dr berlatih dr VR46 pke V4 ya srg dlosor dan cedera. Kini dia mrasa menemukan kestabilan dgn ducati. Namun perlu dicatat…fabio belum melakukan pertarungan dengan bagnaiya karena main amankan gelar. Jika sudah aman…kita akan bisa melihat bagnaiya vs fabio ditrek dogfight. Balapan misano memperlihatkan bagaimana fabio mendekati bagnaiya,dan tentunya fabio mikir kalau tidak konsisten akan buyar. Pengalaman musim lalu yang digdaya eh malah Mir yang jurdun kan.

    Guest
  9. bila melihat Peco+ducati di beberapa race terakhir ini memang seperti dejavu dengan JL99 saat nyemplak desmo, sedangkan saat melihat Taro dengan m1-nya seperti dejavu saat JL99 bersama M1.

    Sebetulnya memang JL99 ini pembalap developer yang sangat presisi dan sangat teksbook, sayang saja saat nyemplak RCV dia tidak dalam kondisi terbaik dan kebetulan sebagai referensi pengembangan RCV adalah ace ridernya yang juara dunia motogp 5x saat itu.

    VR46, CS27, MM93 adalah salah satu contoh pembalap spesial dengan gaya balap mereka sendiri yang cukup susah ditiru oleh pembalap lain. Oleh karena itu tidak semua pembalap cocok dengan data telemetri dari mereka ber3.

    Guest
  10. Menurut ku kelemahan ducati saat ini bukan pada paket motor, namun pada konsistensi dari pembalapnya
    Contohnya tahun 2020 kemarin, banyak yang bilang AD04 gak bisa jurdun karen MM93 factor, tapi ketika MM93 absen di 2020 yang jurdun JM36 yang runer up FM21

    Guest
  11. Yg patut disayangkan dari Lorenzo adalah terlalu buru2. Saat pilihan dia masih ada Petronas buat cadangan, dia buru2 minta seat ke HRC saat merasa terancam kegusur Petrucci dan takut kalo2 ga dapet seat di Ducati ato HRC bakal berakhir di tim satelit baru, dia pasti paham gimana Yamaha perlakuin Tech3 dan takut dia bakal jadi anak tiri di calon tim satelit itu. Singkatnya setelah masuk HRC, dia malah dapet cidera tulang belakang, entah apa yg terjadi di belakang layar (kesampingkan isu dia dipecat halus oleh HRC dan disuruh umumin pensiun), tapi keputusan dia buat keluar dari HRC bukannya mempertahankan seatnya, kemudian saat publik masih heboh ama berita press conference pensiun dia dari HRC dan motogp malah langsung mendarat di Yamaha yg terindikasi ada niatan balik balap keliatan dari beberapa minggu kemudian umumin wildcard, tapi malah ada corona dan semua rencana dia ambyar. Ditaun gabutnya bukannya fokus jaga fisik dan berupaya dapetin perpanjangan kontrak tes Yamaha malah nyoba speak2 ke Ducati dan ada indikasi dia bakal ditaruh ke Pramac, Miller yg kala itu belon dapet kontrak Ducati Corse maupun perpanjangan Pramac meradang karena posisinya terancam akhirnya bocorin ke media. Bubrah dah rencana balik Ducati diam2, Yamaha pun berang dan ga mau perpanjangan kontrak tes rider, dilain sisi opsi satu2nya cuma Aprilia yg mana motornya masih raw. Alhasil dia yg tadinya cuma pensiun bentaran sambil cari2 kesempatan balik akhirnya cuma berakhir jadi tukang endorse dan ngoceh sendiri di kanal YT pribadi.

    3 kata, terlalu buru-buru.

    Guest
    • Dia terlalu buru2 nyari juru selamat di hrc, kemudian buru2 ‘pensiun’, abis itu buru2 teken kontrak Yamaha, dan terlalu buru2 negosiasi dibelakang pintu dgn Ducati karena merasa di Yamaha dia bakal jadi tes selamanya (padahal 2021 malah hectic dan harusnya momen Vinales out bisa jadi jalan keluar Lorenzo dari pensiun) . Semua keterburu2anya malah bawa dia ke pensiun sesungguhnya.

      Guest
      • harga diri bro yg membuatnya buru2!
        saya ingat rossi setelah balik ke ymaha menceritakan klo dia pernah membungkuk(memohon) ke yamaha untuk kembali dan ymh dasarnya memng “butuh” rossi maka kembalilah

        Guest
      • Pinginnya sih dia jadi komentator seperti mateo, dengan sudut pandangnya lebih luas, dari sisi tecnikal, maupun gosip2 bumbu motogp.

        Guest
  12. Yang mampu juara dunia di zaman marquez ini ya Lorenzo, walau dengan segudang kontroversi. Dia bisa memanfaatkan konflik Rossi vs Marquez. Dari yg sebelumnya tertinggal poinnya, naik sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Jurdun. Mungkin kalau dia tetap di Yamaha, dia bisa menambah jurdun lagi.

    Guest
    • 2016 jg dia hampir juara dunia, tapi sejak Rossi teken perpanjangan kontrak performa dia menurun kayanya efek sakit hati ke Yamaha.

      Guest
      • ya susah sih memang, miara 2 raja di 1 kandang. Saat lorenzo jurdun, perhatian fans motogp masih di konflik rossi-marquez saat itu, jadi jurdunnya Lorenzo tidak menjadi pusat perhatian. Tapi aku salut juga sama lorenzo, mentalnya benar2 kuat, dia juga berani nyobain Ducati dan pernah menang, yang mana Rossi dah pernah nyobain Ducati sebelumnya (Rossi belum pernah menang pakai ducati). Waktu itu aku ga suka Lorenzo, tp sekarang lebih ke respect sama Lorenzo.

        Guest
  13. Rossi: Bastianini rode like a devil! Italy's future looks good

    Mungkin ini alasan rossi baru mau pensi, 1 dekade di kuasain sama talenta2 spain

    “ɪ ᴛʜɪɴᴋ ᴛʜᴀᴛ ɪᴛᴀʟʏ ɪɴ ᴍᴏᴛᴏɢᴘ ɪꜱ ɪɴ ᴀ ɢᴏᴏᴅ ꜱɪᴛᴜᴀᴛɪᴏɴ. ᴀʟꜱᴏ ᴡɪᴛʜᴏᴜᴛ ᴍᴇ. ᴀɴᴅ ᴛʜɪꜱ ᴘᴏꜱɪᴛɪᴠᴇ,” ʀᴏꜱꜱɪ ꜱᴀɪᴅ.

    Guest
  14. Wak bahas juga donk kenapa akun twitter nya motogp kok nge tweet bagnaia kyk gini

    @PeccoBagnaia leads, but did he move before the lights?

    Makasih

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.