TMCBLOG.com – Umumnya dari masa ke masa rem utama dalam penggunaan balap sepeda motor adalah rem depan dan bahkan di beberapa kasus ekstrim rem belakang sama sekali tidak pernah digunakan dalam 1 lap. Namun begitu di tengah ‘penyederhanaan’ elektronik dengan pengaplikasian single ECU dan elektroniknya di MotoGP, pengunaan rem belakang menjadi semakin penting. Yes, paling tidak begitu yang disampaikan oleh Rookie MotoGP 2021 Jorge Martin dan crew chiefnya Daniele Romagnoli yang via video Di MotoGP.com menganalisis cara memaksimalkan kecepatan dan stabilitas melalui mekanisme pengereman belakang.

Pada awal penjelasannya Daniele Romagnoli menjelaskan bahwa salah satu fungsi awal dari rem belakang adalah sebagai strategi pengereman darurat jika misalnya rem depan bermasalah sehingga ekstrimnya tidak bisa mengerem dengan rem depan. Namun terkadang juga menurut Daniele rem depan tidak cukup untuk menghentikan motor sehingga kita membutuhkan rem belakang dan memanfaatkan rear-back-torque. Dan yang juga penting menurutnya adalah rem belakang digunakan untuk mengendalikan posisi dari motor.

Penjelasan terakhir ini sebenarnya sudah sering terlihat semenjak lama di lintas kelas bahwa banyak pembalap yang lihai melakukan slide roda belakang untuk mengubah arah dari sepeda motor. Untuk menghadirkan powerslide ini biasanya mereka menggunakan rem belakang. Dan ini banyak terjadi di motor-motor dengan konfigurasi mesin yang membutuhkan gaya menikung V-Shape. Dengan fungsi ini tidak jarang kita bisa melihat bahwa pembalap tetap butuh menekan tuas rem belakang di kaki kanan saat rebah menikung ke kiri atau ke kanan.

Jorge Martin menjelaskan bahwa mengerem dengan rem belakang akan memberikan feel keseimbangan yang berbeda, salah satunya adalah ketika sedang melakukan akselerasi dimana pengunaan rem belakang akan membuat CoG (Center of Gravity) dari motor sedikit lebih rendah lagi.

Saat ini penempatan alat untuk mengendalikan rem belakang di MotoGP tidak lagi hanya diletakkan di tuas kaki kanan seperti sepeda motor pada umumnya. Beberapa yang paling banyak dilihat adalah menambahkan atau memparalelkan juga dengan cara mengoperasikan via tuas thumb brake‘ di handlebar kiri. Dinamakan thumb brake karena memang dioperasikan menggunakan jempol tangan kiri.

Alasan awal penggunaan thumb brake punya hubungannya dengan penampakan peranti ini pertama kali di Grand Prix ketika Mick Doohan cedera kaki kanan sehingga oleh HRC dibuatkan peranti pengoperasian rem belakang dengan jempol kiri di handlebar.

Yes ketika pembalap khususnya menikung ke arah kanan, maka derajat kebebasan ujung tumit depan dari boot kanan sangat kecil sehingga agak sulit untuk melakukan pengereman dengan menginjak tuas rem di footpeg kanan. Oleh karena itu posisi tuas rem belakang di jempol kiri handlebar sangat membantu karena tidak terhalangi sangat posisi motor menikung miring ke kiri ataupun ke kanan.

Di luar dari fungsi di atas, Daniele Romagnoli pun menjelaskan lebih detail lagi mengenai thumb-brake. Ia mengatakan bahwa thumb-brake sangat penting dalam hal menghadirkan stabilitas saat melakukan pengereman. Menurutnya gaya menekan yang dilakukan oleh jempol tangan kiri walaupun tidak sekuat gaya menekan yang bisa dilakukan oleh kaki kanan, namun pressure yang disalurkan jempol lewat thumb-Brake lebih teratur dibandingkan yang dilakukan oleh kaki kanan.

Menurut Daniele lagi, gaya menekan dari kaki juga akan sangat terpengaruh oleh keadaan trek yang tidak rata. Sehingga saat permukaan bumpy hadir, maka gaya menekan dari kaki kanan akan sangat tidak stabil. Namun bumpy di trek saat menikung tidak akan banyak mempengaruhi gaya menekan thumb-brake yang dilakukan oleh jempol tangan kiri.

Hal ini pun diiyakan oleh Jorge Martin dimana ia bercerita bagaimana ketika ia sedang menikung ke kiri dan melakukan pengereman belakang via tuas rem di footpeg kanan maka ia merasakan agak kesulitan untuk memberikan ‘pressure’ yang tepat pada penekanan tuas rem tersebut karena kondisinya tidak beraturan (mungkin karena kondisi trek yang bumpy) . . Semoga berguna.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

43 COMMENTS

    • di setang kiri’kan ada juga tuas kopling ntar pengoperasiannya pas barengan gimana’tuh yahhh,,ehhehe,,emang gila’sih pembalap2 itu.

      Guest
  1. Nah kan wkwk penyeragaman ecu dan software jadi biang keladi repot di banyak hal

    Kalo mau membatasi budget, ecu nya aja disamain, softwarenya urusan masingmasing. Hilang 1 lagi drama bajak membajak engineer elektronik karna software nya aja beda hehehe

    Guest
    • tujuan penyeragaman dan pembekuan pengembangan itu biar hemat biaya, biar team dengan biaya minim gak terlalu ketinggalan jauh dengan team sultan

      berhubung pengembangan software dianggap berbiaya tinggi, jadi gak mungkin mau dibikin open software lagi biarpun hardware seragam

      Guest
      • Tapi pembatasan dari segi hardware, harusnya berefek banget sih, engineer mau kasi software sama codingan bagus juga kalao hardwarenya limit cuma di situ, yauda sayonara akwkakw

        etapi ah balasan anak emas di bawah aja deh wkwk

        Guest
      • Kurang setuju ya kalau tujuan penyeragaman dan pembekuan pengembangan apalagi ecu itu biar hemat biaya, karena kalau memang tujuannya begitu kenapa ga terapin cost cap macam di f1 aja langsung?

        Gua sih liatnya pembekuan gitu biar ga itu itu aja yg menang, bukan biar hemat biaya. Buktinya pengembangan aerodinamika macam sayap sayap yg gak kalah mahal biayanya itu masih cukup bebas

        Guest
    • eh lupa, tapi ada pengembangan yang mahal dibiarin aja berhubung si anak emas yang minta, yang sering main di terowongan itu ?

      Guest
      • Tapi katanya sekarang pake software doang udah bisa ?
        (Mungkin jg cuma alibi,ga mungkin lah kalo barangnya udah jadi ga ditest di terowongan dulu buat dapatin data real nya)

        Guest
        • Software simulasi wind tunnel, ujungnya software juga toh akwkakw dan ini spec nya gaada di urusin, lebih gila lagi

          dan anak emasnya masi susah jurdun hahaha

          Guest
        • Di dunia riset pasti ada verifikasi formula dari software dgn data pengujian (wind tunel) di lab

          Guest
    • Jalan pikiran Dorna:
      Ptofit-Penonton-hiburan-kompetitif- penyeragaman.
      Kebayang klo ga ada “sunat” sana sini pabrikan dengan kapital besar macam Honda akan melesat sendirian dan akhirnya balapan ga lagi seru, siapa yang mau nonton motor konvoi?
      Pabrikan lain juga pasti akan mikir buat apa ikut kompetisi dimana peluang menang mereka kecil bahkan hampir nol.
      Hal yang sama pernah terjadi di F1, medio 2000an Ferrari dengan Schumy terlalu mendominasi, akibatnya penonton F1 drop. Tapi sekarang mulai bangkit salah satunya dengan “sunat” budget, development dll..

      Guest
  2. sebuah solusi yg diciptakan secara tidak sengaja, alias seperti yg udah ditulis di atas, awalnya thumb brake untuk mengakomodir keterbatasan Doohan dalam menekan pedal rem belakang akibat cedera..

    Guest
  3. teknologi ini sudah biasa di motor matic di tanah air, bedanya bukan pake jempol tapi pake jari dan posisi tuasnya di depan.

    wooow

    Guest
  4. di motor-motor wsbk tuasnya keliatan lebih jelas. dioperasikannya persis skutik. secara estetika bikin jelek, kayak ada tuas nongol gitu heheheheh

    Guest
    • Karena motor wsbk masih butuh porsi rem belakang yg lebih gede ketimbang motogp. Motogp karena pure motor balap bisa ngerem 99% pake rem depan doang dan rem belakang cuma buat bantu rubah arah sementara motor wsbk karakternya ya sama kaya motor yg dipake orang normal, butuh kombinasi rem depan-belakang. Thumb brake tekanannya kecil ketimbang tuas ala matic, mungkin kepake di wsbk tapi ga Efektif kecuali rider wsbk jempolnya sekuat jempol kingkong.

      Guest
  5. Harusnya tuas kopling ya diganti rearbrake aja, sedangkan thumb brake buat kopling,toh penggunaan kopling cuma buat start dan masuk pitlane doang selebihnya nganggur

    Guest
  6. Thumb brake skrg jg fungsinya ga cuma utk ngerem tapi jg mencegah wheelie terutama sejak ECU in-house dibanned. Marquez adalah yg paling berhasil make rem belakang buat kurangi wheelie, Ducati butuh sayap, HRC dgn Marquez cuma butuh piringan yg lebih lebar dan lebih cepat melepas panas. Maka disaat skill Marquez ga lagi tajam tapi masih tajam tapi ga setajam dulu tapi bukan tumpul HRC kaya kehilangan arah pengembangan sasis karena salah satu faktor stabilitas RC213V saat akselerasi adalah manusianya sendiri, saat pelakunya ga bisa melakukan itu sebaik dulu ya udeh, pilihan terbaik mengM1kan RC213V.

    Guest
    • @si akang
      meng M1 kan RCV? mimpi basah ya gan?
      apa ga kebalik, motor yg dalam 10 tahun terakhir meraih gelar lebih banyak malah diduga/diexpect berkiblat ke motor yg gelarnya lebih sedikit.
      ibarat dosen bergelar profesor disuruh belajar agar memperoleh gelar Sarjana S1 atau Diploma

      Guest
      • Ini lebih ke karakter maksud si akang. m1 dan rcv mesin beda filosofi sasis beda, karakternya fix beda. Punya pros cons masingmasing

        meng m1 kan rcv itu cuma istilah biar lebih singkat aja

        Guest
  7. Thumb brake ini dari jamannya istirahat sekolah gak balik kelas gara² nonton Mahabarata dan di-akhiri jaman gw terkaget-kaget harga soto ayam berubah drastis dari Rp.300 menjadi Rp.1500

    Guest
  8. @kantil, ku coba sepenangkapan ku ya, eh sepengertian ku biar lebih mudah dimengerti. Mungkin maksudnya Si Akang dalam hal motor mudah dikendalikan. Betul sekali RCV dalam 1 dekade lebih banyak meraih kesuksesan tapi lebih banyak kombinasi RCV dengan Marques. Sedangkan rider Honda lainnya jarang ada yang bisa mengimbangi. Sesekali pasti ada tapi jarang konsisten. Paling terlihat kan di tahun 2020 dan 2021 ini, ga perlu ku bilang pasti tau kan maksudnya? Makanya Si Akang bilang meng M1 kan RCV, mungkin lebih ke motor jadi lebih proper dipake untuk semua rider Honda. Bukan hanya satu orang (Marques) saja. Selebihnya lebih baik tunggu komentar dari Si Akang ya. Diriku hanya bantu analisa aja

    Guest
    • @Telolet gw kasih nilai 100, karena bisa nangkep kalimat simpel ‘mengM1kan RC213V’ dan menjabarkannya secara tersurat yg harusnya lebih mudah dipahami oleh epbeha dan epbeem yg lagi kebakaran jenglot. Masalah RC213V adalah handling, dan upaya mereka adalah memperbaiki handling. Titik. Kalo soal kalimat gw mengM1kan RC213V, kalo jeli pasti ngeh kalo rangka RC213V skrg semakin meniru style M1 dan motor inline lain (motor wsbk maupun GSXRR) yaitu make bongkahan aluminium yg kalo diliat dari samping lebih tebel. Itu secara kasat mata dan secara sederhana bisa di bilang merupakan salah satu dari sekian banyak ikhtiar HRC memperbaiki handling (kalo gaboleh dibilang mengM1kan RC213V oleh segelintir komentator).

      @Anak Dajjal alasannya ya rider Yamaha lain bermasalah semua, tapi rider HRC malah kebalikannya rider terbaik udah ga tajam tapi masih tajam tapi ga setajam dulu tapi jangan dibilang tumpul sementara rider lain justru sehat semua. Kebalikannya kan? Tapi kenapa baik Quartararo dan Marquez tetep terbaik di pabrikan masing2? Karena Quartararo selain bakatnya bagus dia secara usia, kematangan mental, maupun fisik lebih baik dari semua rider Yamaha lain. Sementara H? Ya karena itu motor cuna Marquez yg bisa make dgn bener yg mengindikasikan marcsentris. Silahkan dikunyah 33 kali dulu, jangan langsung ditelen mentah2 kaya ayam makan karet kolor.

      Guest
  9. Udah tipikal epbeha, sesembahannya dilarang dibahas yg jelek2. Tapi kalo komen selalu muncul disaat ada kesempatan ngatain Yamaha ato Ducati. Gw sih mending bales sekali duakali aja, abis itu gw anggap dagelan. Lagipula komen ga berkualitas kalo diladenin selain memperparah yg mentalnya agak sakit jg buang2 waktu dan tenaga karena sewaktu-waktu komen sampah mereka diberangus komen kita jg ikutan dihapus biar ga sama2 ngotorin. Kan buang waktu tenaga dan pikiran buat ngetik. Jadi cukup liat mereka kelojotan aja dari jauh????

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.