TMCBLOG.com – Seheboh hebohnya Ducati membicarakan soal Inovasi teknologi aerodinamika, elektronik, namun secara umum semua itu belum bisa menutup fakta Bahwa Mereka baru sekali menjadi Juara dunia yakni di tahun 2007 ketika Casey Stoner boleh dibilang menghegemoni Trek, merebut gelar Juara Dunia dan bahkan membuat Valentino Rosi takjub Kala itu. Dari 2007 sampai 2021 terbentang sekitar 13 tahun dan orang awam bilang Ducati Nggak pernah Juara Lagi. Hanya ada Nama Honda, yamaha dan bahkan Sekali Suzuki. Kenapa ini terjadi, Adalah kembali Casey Stoner menjelaskan Kepada media dari sudut pandangnya sendiri.

“Untuk waktu yang lama sekarang mereka sudah hampir memiliki,  paket [motor yang] lengkap dan hampir menyelesaikan pekerjaan. Tapi sayangnya, lagi lagi pembalap Ducati mana yang akan cepat di akhir pekan. Kita perlu melihat sedikit lebih banyak konsistensi [yang hadir], mungkin [dengan cara membuat] motor yang cocok untuk semua trek.”

” Kita selalu memiliki masalah itu, semua pabrikan memiliki trek yang bagus dan trek yang buruk. Jadi mereka hanya perlu membuat sedikit lebih banyak konsistensi dan – katakanlah – paket yang sedikit lebih mudah pada waktu-waktu tertentu. Tapi mereka selalu sangat, sangat dekat [dengan keberhasilan] “

“Saya pikir Anda tahu, jika semuanya berjalan sesuai dengan cara mereka ya, mereka (Ducati) bisa memenangkan Kejuaraan. Tetapi ketika Mendapati Yamaha yang menghasilkan paket bagus dari tahun ke tahun dan juga maksud saya tahun hebat yang telah dimiliki Yamaha di banyak tempat dengan berbagai bentuk motorsport tahun ini. [Lalu] Anda memiliki [Marc] Marquez yang ketika Anda tahu dia bugar dan sehat di Honda, Mereka akan sangat sulit dikalahkan . Jadi, Anda tahu, itu menyulitkan mereka (Ducati). Ini bukan hanya persoalan menempatkan beberapa motor ke trek dengan pengendara di atasnya, Anda membutuhkan seluruh paket untuk bekerja sama. Dan itu terkadang sulit.”

Yap Secara umum menurut Casey Stoner, Ducati memang belum Lagi Juara Dunia, namun mereka telah bekerja menghasilkan Paket yang sangat bagus, kompetitif di MotoGP dan Bahkan Sangat dekat dengan Kemenangan. Sedikit lagi tambahan konsistensi adalah hal yang menurut Casey dibutuhkan Oleh Ducati saat ini, terlebih lagi di era dimana MotoGP sebegitu ketat seperti sekarang ini.

Bicara Mengenai ketatnya Era MotoGP saat ini, Stoner Punya sudut pandang sendiri. Ia melihat bahwa MotoGP saat ini seperti layaknya roller coaster. Ada Pembalap / Pabrikan yang awalnya Bagus di satu Trek, Tiba tiba terlihat Struggle di trek lain. Lalu Kita Bisa melihat hadirnya Pembalap pembalap yang awalnya tidak dilirik, namun akhir Akhir ini menjadi sorotan karena Performanya bagus sekali dan Bahkan Bisa memenangkan Balapan.

“Jadi sulit dan hampir sedikit membingungkan untuk menontonnya tahun ini [jikalau] hanya untuk melihat beberapa hasil yang terjadi. Dan seperti yang saya katakan, bahwa hal itu sangat tidak terduga. Jadi dalamsudut pandang tontonan hal itu fantastis.”

” Saya pribadi ingin melihat sedikit lebih banyak konsistensi dari beberapa pebalap, tetapi pada saat yang sama, saya kira format saat ini memberi beberapa pebalap yang umumnya mungkin tidak akan berada di depan, kepercayaan diri selama akhir pekan tertentu untuk kemudian pergi dan raih sesuatu yang Anda tahu di masa lalu tidak mungkin[ terjadi].

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

29 COMMENTS

    • Faktor terbesar yg menyebabkan Ducati gagal juara dunia adalah adanya Marc Marquez saat dalam kondisi normal (tidak cedera) serta tidak konsistennya pembalap Ducati.
      Pada saat jaman Dovi runner up motoGP, terlihat bagaimana superiornya motor Ducati melibas trek lurus, semua motor dilahap dan dilibas semua di trek lurus termasuk motor yg dikendarai MM93.
      Tahun 2021 saja Quartararo baru mengalami DNF setelah mengunci gelar juara dunia, tetapi Peco, Miller, Zarco saling bergantian mengalami DNF beberapa kali.

      Motor mesin konfigurasi V-4 dengan tata letak mesin pada saat ini, lebih besar peluang jatuhnya dibanding mesin inline-4.
      Coba mesin konfigurasi V-4 nya, tata letak posisinya diputar dan dibuat mirip seperti tata letak mesin inline-4, mungkin kestabilannya saat ditikungan bisa mirip mesin inline-4 saat ini.

      Guest
  1. Masalah Ducati lebih ke konsistensi pembalapnya, dulu Q pernah bilang kalau YFR mo jurdun tendang VR46 ganti dengan Fabio dan terbukti.
    Jadi Ducati mesti tendang Miller karena konsistensinya awut-awutan banyak DNF, tendang Zarco juga karena gak bisa kedepan malah menghambat rider Ducati yang dibelaiangnya
    Jadi konstelasi yang terbaik menurutku adalah Tim factory Martin dan Peco, Bastianini diberikan full factory support
    Insya Allah lebih baik

    Guest
  2. Kenapa? ducati ga punya pembalap super yg dulunya di bilang ALLIEN
    saya rasa KTM akan lebih dulu jurdun, karena punya acosta dan fernandez

    Guest
  3. Ducati spesialis Runner up,
    yg paling mengherankan Dovi sih, giliran ada Marc dia perform sampe 3x runner up, mungkin kalo Marc ga se-alien itu doi udah juara dunia 3x, eh giliran Marc ga ada satu musim(2020) malah Dovi angin2an,, ga habis pikir sama si Dovi sih,,
    mudah2an Pecco ga ngikutin jejak Dovi, meskipun kyknya ini org punya attitude mirip Dovi, kalem dan punya citra anak baik di media,,

    Guest
  4. Mungkin marq marquez bagi dovi adalah tantangan sebenarnya. Dan emang bener sih marquez itu levelnya jolor, rossi, stoner pada saat kondisi terbaiknya. Untuk taro mir ya mohon maaf yo mungkin ga ketemu sama kondisi terbaiknya marquez atau rossi. Mungkin yang masuk rins karena emang pernah duel berdua ama marquez pada kondisi terbaiknya.
    Mungkin karena ga ada marquez dovi juga kurang semangat.

    Guest
  5. yang ngeklop banget emang Dovi si, setelah Stoner. tapi benchmarknya Dovi mungkin Marc. ditambah ada beberapa konflik internal. akhirnya angin2an kemaren

    pembalap di kubu merah seakan cuma pembalap, kek kurang menyatu si. beda ama Yamaha, Honda, Suzuki, bahkan KTM.

    tp Peco makin ngeri, kalau konsisten sejak awal tahun 2022 nanti, bakal ketat banget pasti. tapi yang lain jg semakin menguat 😀

    Guest
  6. terlepas dari tahun depan Ducati ada 8 motor di grid. ane pikir tahun depan (2022) juga sulit buat Ducati jurdun. but never say never.
    melihat tahun depan Marc sudah pulih 100% dengan all new RCV212V bakal strong lagi, ada Fabio yg tahun ini super duper konsisten di atas M1, mungkin Mir tahun depan konsisten bila dapat paket new GSXRR

    Guest
  7. Ada 6 motor ducati dengan 6 pembalap,namun dari 6 pembalap tidak ada yg konsisten di minimal 5 besar di separuh sirkuit du kalender.
    Kalau ada satu yg seperti itu dipastikan dia mendominasi.
    Kalo bangga ada 6 pembalap 5 masuk podium dan masing2 satu kemenangan,akhir musim berjarak 70 poin lagi dr juara

    Guest
  8. Karena sombongnya offside hingga gak pernah raih gelar jurdun lagi, 1x tok.
    Biji aja ada dua

    Itupun jurdun karena peran stoner yang alien 11/12 marquez dengan Rcv

    Guest
  9. Kalo dari sudut pandang saya pribadi, hanya faktor keberuntungan belum berpihak. Justru karena mereka terlalu banyak memiliki pembalap hebat dan tim dengan motor yang paketnya sama dengan pabrikan. Ini menyebabkan persaingan internal, akibatnya tidak ada yang begitu rider yang terlalu mendominasi. Saya rasa, seandainya mereka hanya punya dua tim, mereka sudah juara dunia dari tahun-tahun kemarin

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.