TMCBLOG.com – ‘Kabel Setan’ , atau ‘Jimat Kabel’, Accent Wire, Maxxwire atau berbagai penamaan penamaan lain adalah salah satu penamaaan bisnis dari sebuah kabel ‘ajaib’ yang menurut banyak reviewer secara empiris baik data faktual maupun feeling berkendara menunjukan beberapa adanya perbaikan/peningkatan dibandingkan ketika sepeda motor belum menggunakan kabel tersebut. Efeknya yang sempat di kisahkan adalah sepeda motor jadi lebih ringan berakselerasi, bisa tambah irit, mengurangi gejala nembak nembak dan lain-lainnya. So cuma seutas kabel bisa memberikan banyak perubahan performa ini, jadi siapa sebenarnya jati diri sang kabel ajaib ini?

Melalui beberapa studi literatur yang TMCBlog coba lakukan selama ini secara umum kabel ajaib ini cara kerjanya memaksimalkan fungsi koil motor dan membuat api di ruang mesin lebih besar. Bicara koil artinya bicara aliran listrik, memaksimalkan di sini artinya kabel ini memberikan perlakukan tertentu agar aliran listrik yang mengalir di koil untuk selanjutnya dilanjutkan ke percikan pengapian di busi jadi lebih maksimal.

Cuma masalah dari banyak review, jarang TMCBlog bisa membaca kupasan apa sebenarnya resep yang dihadirkan di kabel kabel ajaib ini? Ahh mungkin ini adalah sebuah rahasia dapur perusahaan. Namun begitu jelas TMCBlog nggak puas. Harus ketemu ini pokoknya!!

Dan akhirnya melalui berbagai studi literatur dan diskusi dengan beberapa rekan termasuk Nugie, akhirnya hipotesis sementara mengarahkan pada sosok kabel yang sebenarnya sudah lama banget digunakan oleh para enthusiast audio mobil. Yes di kalangan pemain audio mobil, kabel dengan kualitas terbaik adalah harga mati. Selain soal resistansi, kapasitansi, dan induktansinya seutas kabel di industri audio itu harus banget terjaga dan jelas nilai konduktasi/konduktor dan kemurnian kandungan tembaganya (purity)-nya.

Bicara kabel . . Secara umum kabel yang biasa kita temukan di perkabelan rumah tangga atau kabel di kelistrikan motor/mobil menggunakan material tembaga/Cooper. Nah cooper yang dipakai di perkabelan rumah tangga/kabel listrik kendaraan itu umumnya adalah tipe kabel tembaga Tough Pitch Copper (TPC).

TPC dibuat dengan cara memanaskan tembaga sampai meleleh. Kemudian tembaga cair dimasukan ke dalam wadah pencetakan. Wadah pencetakan berfungsi sebagai pendingin. Tembaga yang keluar dari wadah ditarik berulang kali sampai didapatkan ukuran yang diinginkan. Proses ini dikerjakan dalam suhu normal. Karena semua proses di kerjakan di ruangan biasa, maka dalam proses pembuatannya tembaga terkontaminasi dengan udara sekitar seperti oksigen dan hydrogen. Umumnya tembaga jenis ini mengandung 300 500 PPM (Parts Per Millions) oksigen.

Nahhh, kontaminasi oksigen dan hidrogen dalam kabel tembaga jenis TPC tersebut menyebabkan adanya distorsi sinyal dan juga distorsi konduktansi yang mengganggu khususnya bila kita memerlukan detail penyaluran arus yang baik. So idenya mereka butuh kabel dengan kontaminasi oksigen dan hidrogen yang sebisa mungkin diperkecil.

Karena tuntutan permintaan kabel dengan kualitas konduktansi yang tinggi akhirnya di tahun 1975 hadir proses pembuatan kabel tembaga baru di Jepang yang dinamakan Oxigen Free Cooper (OFC). Proses OFC sebenarnya mirip dengan proses TPC. Dalam proses ini, tembaga cair dimasukkan dalam wadah cetak dan kemudian ditarik. Yang membuat OFC lebih baik adalah OFC diproses dalam ruangan hampa udara. Sehingga proses tersebut tidak dipengaruhi oleh udara-udara yang mengandung oksigen maupun hydrogen. Hasilnya, tembaga yang dihasilkan mengandung sekitar 10 PPM oksigen. Jauh lebih rendah dibandingkan dengan TPC. Selain itu, daya hantar OFC meningkat antara 0,5 – 2% lebih baik dari TPC.

Dalam perkembangannya OFC ini mengalami banyak perbaikan seperti misalnya yang dilakukan oleh raksasa Jepang Hitachi yang juga semenjak 1975 sebenarnya sudah mengembangkan sistem pembuatan kabel konduktor terbaik dengan cara yang mereka sebut dengan linear Crystal-Oxygen Free Copper (LC-OFC).

Jika pada proses TPC dan OFC lelehan logam tembaga langsung didinginkan untuk dibentuk menjadi kabel. Maka pada LC-OFC lelehan kawat tembaga dipanaskan kembali sebelum didinginkan untuk dibentuk menjadi kawat kabel. Hal ini dilakukan untuk mempertinggi tingkat kemurnian tembaga.

Di atas LC-OFC ternyata ada lagi sob. Namanya adalah Ohno Continuous Casting Copper (OCC Copper). Sebuah metoda yang dikembangkan oleh profesor Ohno dari Jepang tahun 1985 dimana sang profesor bermain dengan ariasi pemanasan sehingga diperoleh struktur kristal dari tembaga yang membuat kabel tembaga jauh lebih murni bahkan dari proses LC-OFC. . . Kalau dibuatkan tabel kira-kira begini sob;

Perbandingan Kemurnian Tembaga (diameter 0,3 mm)

TPCOFCOCC
Kemurnian>99.9%>99.99%>99.999%
Berat jenis8.758.9268.938
Kandungan gas (ppm)O2200~500<10<5
H2<0.5<0.5<0.3
Ukuran rata-rata kristal  (mm)0.0070.02125.00
kristal per meter150500.008

 

Sebenarnya selain TPC, OFC, LC OFC dan OCC ada lagi jenis kabel lain seperti kabel tembaga yang dilapisi perak atau bahkan kabel dengan logam perak sendiri. Namun untuk sementara hipotesis TMCBlog mengarahkan pada penggunaan kabel tembaga yang lebih tinggi dari sekedar kabel TPC pada penggunaan kabel kabel ajaib ini. Mungkin OFC, LC-OFC atau bahkan OCC.

Hmmm, jujur jadi tambah penasaran, saat sobat membaca artikel ini TMCBlog Insya Allah lagi mencoba membuktikan secara empiris perbedaan yang diberikan kabel ajaib ini pada performa motor. Nantikan reportasenya nanti yaaa . . .Semoga berguna.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

96 COMMENTS

    • Penghantar menurut ilmu fisika (wak haji paling paham nih) yang paling bagus itu perak. Tapi lebih banyak dipakai yg tembaga karena memenuhi kebutuhan komersial. Klo perak kan mahal. Nah klo beli kabel kabel khusus yg mahal biasanya warna putih perak. Conectornya pakai gold

      Guest
      • yoi, kabel audio yg mahal biasanya ada yg warna perak ,,, mungkin teknologi pelapisan perak saja, dalemnya/inti pakai tembaga

        Guest
        • Yup, sama halnya yg dipakai untuk batang grounding. Harusnya pakai tembaga murni biar tersalurkan dengan baik. Tapi pasti akan mahal mengingat kedalam untuk mencari nilai ohm yg tepat bisa dari 5meter sampai 20 meter. Pasti akan sangat mahal. Jadi dibuatlah dari batang besi tetapi di coating cairan tembaga murni yg cukup.

          Guest
      • Ditunggu artikel/pembahas lengkapnya Wak Haji👍.Apkh kbl ini bs dgunakan untuk smua jenis mtr atau jenis mtr trtentu (karbu/injeksi)?, Apakh ada rsiko/klemahan jk mnggunakn kbl tsb?,dll.Terima kasih🙏

        Guest
  1. apa sudah ada yg memakai tembaga campur emas atau istulahnya Gold Plated???
    biasanya di dunia per-Komputeran istilah GOLD plated itu sudah sangat lumrah untuk part-part komputer dengan spesifikasi tinggi

    Guest
      • Emang ada emasnya beneran kok. Tapi skrg nilai koleksinya malah jauh lebih tinggi dari kandungan emas itu sendiri. Di Ebay harganya bisa diatas seribu USD.

        Guest
    • Sejak 90an udah ada jasa rakit kabel bodi balap pelanggannya mulai dari SE, grasstrack, ampe roadrace. kalo buat beli kabel setan cuma dapet 2 potong tapi rakit di dia dapet sepaket ya biarpun kabel bodi balap cuma sebatas massa – aki – pulser – cdi – kiprok.

      Guest
  2. Kayaknya baru signifkan berasa bedanya kalo emg ada setup pendukung lainnya wak daripada sekedar ganti kabel doang. Kayak busi jg kan gitu, mau pake iridium pun kalo yg lain masih bener2 standar ya gak terlalu berasa jg bedanya.

    Guest
    • Saya pake iridium d motor standar gak ngerti bedanya apaan
      Akhirnya setelah 1 – 2 tahun iridium matot saya balik ke busi standart pabrikan yg harganya 10x lebih murah dan sepertinya lebih awet
      Aneh juga sih, padahal klaim busi iridium itu masa pakainya lebih lama dari busi biasa
      Dan iridium yg saya pake pun bukan abal²

      Guest
      • sy pakai iridium di motor standar. tdk berharap performa tapi lebh ke keawetan. dan memang benar di matic karbu sy 5 tahun pakai tidak pernah ada masalah. kemarin baru sy ganti itupun karena lebih ke prefentif. businya sendiri masih berfungsi baik

        Guest
        • ane pake busi platinum bang, sdh hampir 5 tahun masih bagus.
          busi standart vs platinum tarikan nya beda, klo busi standart, umur 2 tahun sdh susah di starter, ujung busi sdh meleleh (pemakaian 50km/hari)

          Guest
  3. y itu lapisan luar kabel jg sngat d prhatikan yg bagus wak…supaya listrik yg mengalir ga byk k buang k ground kla melewati body palagi hujan ya

    Guest
  4. Saya sudah coba tp bukan d motor tp d earphone/headset.. Cuma ganti kabelnya saja earphone seharga puluhan ribu suaranya berubah drastis jd sperti earphone mahal

    Guest
  5. selama produk dapat dibuktikan secara metric bukan katanya, kayanya, rasanya itu bisa dibilang produk bagus. Karena kadang walau produk otomotif tapi cuma testimoni setelah pake kayanya, merasa yang ga ada tolak ukur jelas.

    Guest
  6. pasangi osiloskop aja wak haji, biar lebih jelas

    kami pengunjung warung nanti tinggal liat grafiknya aja 😁

    Guest
    • Besar kemungkinan bahannya pakai tipe tipe kabel yang di artikel ini.
      Di pasar balap bebek tanah air aja banyak mekanik yg udah mulai paham ganti wiring harness (kabel body. red) khusus balap dengan spek khusus.

      Editor
      • Motor prototipe produk massal macam Yamaha TZ125 maupun 250 dan Honda RS125 maupun 250 masih pake TPC, kalo Aprilia RS125R udah pake OFC sejak rilisan 97 aa 98 gitu lupa. Yg udah pake OCC justru motor2 superbike sejak 2000an awal, terutama sejak beralih ke injeksi. Itu kabel2 kecil mirip kabel CPU tapi harganya mehong bgt. Di balap lokalan jg sejak dulu banyak yg rubah pake OFC yg harga permeter saat itu 150ribuan kualitas lumayan, kalo rakit pake jasa biasa 350rb terima jadi. 1 motor Bebek balap yg kelistrikannya DC cuma butuh 80sentian, kalo yg masih pake pengapian AC alias CDI SE pas semeter.

        Guest
        • Sepertinya sebentar lagi bakal ada yang salah paham soal “motor prototipe produksi massal” nih.
          Pengalaman ogut di IG soalnya, banyak yg masih awam soal narasi model begini. Xixixixi..

          Editor
        • Bahasa aslinya sih production racer, cuma gw jg bingung terjemahin yg pas pake kata apa. Nulis bahasa aslinya ntar rancu jg krn orang sini ngira racer = pembalap. Kaya aliran modif caferacer pada ngira itu pembalap cafe ampe ada yg ngarang sejarahnya dulu ada balapan kafe ke kafe, tiap masuk kafe masukin koin lanjut lagi ke kafe lain. Padahal caferacer secara harfiah berarti ‘motor balap cafe’ buat merujuk ke kaum poser jaman 60an yg dandani motornya seolah jadi kaya motor balap tapi cuma dibawa nongkrong ke kafe, motornya cuma ditaruh di parkiran kafe.

          Guest
  7. di dunia audio pun nyata hasilnya, kalau pakai kabel yang bagus bener-bener bisa memaksimalkan potensi asli perangkat audionya

    Guest
  8. Saya sudah menggunakan produk ini 3 tahunan terakhir. Beli saat acara Tumplek Blek 2018 lalu, eh apa 2019 ya. Awalnya sih saya coba-coba, iseng aja mumpung lagi promo. Beli yg kabel koil dan negatif sekalian.
    Pertama pasang yg kabel koil, lah kok enak…
    Lalu saya pasang combo sama yg kabel negatif, lah kok makin enak…

    Setelah jalan 1-2 tahun kemudian, aki overcharge. Kegedean arus mereun. Hahaha

    Ganti kiprok deh, kelar.

    Guest
    • Bentar, gw lagi menganalisis siapa dibalik nick ini, oh langsung ketemu ternyata si preman online yg nick2 lamanya udah di kick🤣🤭🤭🤭🤭

      Guest
        • Biasa yg nyeran personal komentator lain cuma mentega dan si preman, tapi kalo mentega baru nyerang kalo ada sesembahannya yg disentil, kalo si preman dateng tiap waktu. Ya krn komentator miskin akhlak di blog ini cuma itu2 doang, jadi mudah nebaknya. Lain kalo di blog botak sariawan.

          Guest
    • Wkwkw iya ya, si akang.. tukang komentator serba bisa.
      Ntah kenapa dia gajadi petinggi di bidang otomotif, kyknya smua nya kena kritik Ama dia :v

      Guest
  9. para pembaca setia blog ini sudah banyak yg mencoba kah ?
    penasaran dari dulu – tp masih senang yg standar ting-ting

    nunggu motor oprekan deh

    Guest
  10. saya masi belum paham si kabel dipanjangin gedein api,kayak ga masuk akal aja..,bukannya malah memperbesar hambatan ya?kalo gedein api kan banyak produk kayak hurricane dll

    Guest
      • Kalo yang paling mendekati membypass itu diparallel (akan mengurangi hambatan), kalo disambung seperti itu, itu seri (akan menambah hambatan).

        Anggep saja kabel bawaan kendaraan sebagai R1 dan kabel ini sebagai R2:

        Kalo seri:
        R total = R1 + R2

        Kalo parallel:
        R total = (R1 * R2) / (R1 + R2)

        Belum lagi penambahan hambatan di bagian penyambung (socket / skun).

        Terus kalo hambatan bertambah dan lain2 tetap maka akan ada penurunan voltase:

        Untuk steady DC:

        Voltase drop = arus yang mengalir * hambatan pengantar

        Untuk AC atau pulsed DC:

        Ganti hambatan dengan impedansi, soalnya selain hambatan untuk DC, kabel punya reaktansi (kapasitansi dan induktansi) yang berpengaruh terhadap AC dan pulsed DC, yang mana impedansi jadi tergantung dari frekuensi.

        Reaktansi kapasitor = 1 / (2 * π * frekuansi × kapasitansi)

        Reaktansi induktor = 2 * π * frekuansi × induktansi

        Belum lagi effect phase shift dari perubahan induktansi dan kapasitansi karena penambahan panjang kabel, jadi timing pengapian akan bergser (walopun sepertinya sangat sedikit) bergantung dari frekuensi arus yang melewati total kabel (dalam hal ini perubahan frekuensi berbanding lurus dengan perubahan RPM).

        Mungkin effect dari phase shift yang menggeser timing pengapian yang menjadi terasa sebagai perubahan karakter mesin? Karena telah membeli kabel yang relatif mahal, secara psikologis, perubahan karakter mesin akan dirasa sebagai perubahan yang positif.

        Guest
      • Kalo yang paling mendekati membypass itu diparallel (akan mengurangi hambatan), kalo disambung seperti itu, itu seri (akan menambah hambatan).

        Anggep saja kabel bawaan kendaraan sebagai R1 dan kabel ini sebagai R2:

        Kalo seri:
        R total = R1 + R2

        Kalo parallel:
        R total = (R1 * R2) / (R1 + R2)

        Belum lagi penambahan hambatan di bagian penyambung (socket / skun).

        Terus kalo hambatan bertambah dan lain2 tetap maka akan ada penurunan voltase:

        Untuk steady DC:

        Voltase drop = arus yang mengalir * hambatan pengantar

        Untuk AC atau pulsed DC:

        Ganti hambatan dengan impedansi, soalnya selain hambatan untuk DC, kabel punya reaktansi (kapasitansi dan induktansi) yang berpengaruh terhadap AC dan pulsed DC, yang mana impedansi jadi tergantung dari frekuensi.

        Reaktansi kapasitor = 1 / (2 * π * frekuansi × kapasitansi)

        Reaktansi induktor = 2 * π * frekuansi × induktansi

        Belum lagi effect phase shift dari perubahan induktansi dan kapasitansi karena penambahan panjang kabel, jadi timing pengapian akan bergser dari yang sudah ditentukan ECU/CDI (walopun sepertinya sangat sedikit) bergantung dari frekuensi arus yang melewati total kabel (dalam hal ini perubahan frekuensi berbanding lurus dengan perubahan RPM).

        Mungkin effect dari phase shift yang menggeser timing pengapian yang menjadi terasa sebagai perubahan karakter mesin? Karena telah membeli kabel yang relatif mahal, secara psikologis, perubahan karakter mesin akan dirasa sebagai perubahan yang positif (saya tidak menguasai tentang psikologis manusia, jadi tidak bisa lebih dari berspekulasi tentang pengaruh psikologis).

        Guest
  11. Gak ngaruh tanpa perubahan di komponen lainnya wak, malah mungkin jd degrade (jika settingan sebelumnya sudah optimal).
    Pada dasarnya api di busi itu memercik dan membakar uap bahan bakar dg cara merambat, jadi peak ledakannya yg digunakan sebagai patokan setting dari timing maju mundurnya pengapian.
    Jika kemudian api diperbesar maka kemungkinan peak ledakan di ruang bakar juga akan lebih maju, terutama di RPM rendah akan terasa tidak maksimal.

    Guest
  12. banyak yg make, terutama di kalangan 2tak
    rpm jadi lebih cepet naeknya, setingan juga jadi kering, jadi wajib seting karbu lagi

    Guest
  13. Kl di dunia audio yg udah nerapin kabel jenis2 ofc, occ, 5n, 7n, crystal cable, pure copper, gold plated, silver plated, rhodium plated, platinum plated, paladium plated, hanya kuping2 emas yg bisa membedakan antara kabel audio standar & premium jenis2 diatas (selebihnya “mengaku” bisa membedakan)
    Nah kl diterapin di motor dgn cuma sepanjang itu berbanding kompleksnya mesin motor, ane rasa ga mungkin terasa bedanya,
    Btw gold plated & plated2 lainnya itu bkn tembaga dicampur bahan2 tsb, tapi tembaga istilahnya di sepuh/dilapisi emas/silver/rhodium dll,

    Guest
    • Di audio,,kalo source, dac,amp, atau speakernya abal2.. juga ga bakal kerasa..
      Mungkin sama juga di motor,,kalo speknya standar,, ga bakal kerasa bedanya

      Guest
    • Untuk menguji hipotesis ada banyak langkah. Dalam kasus ini sederhana aja, tinggal kita tunggu nilai kuantitatif hasil dyno before-after nanti.
      Sy sendiri makai itu produk, tp ya bener, ga bener2 bisa membedakan efeknya. Banyak hal yg bikin performa mesin berubah, walau hanya sesederhana kepadatan udara saat siang dan sore. Atau macet dan lengang.

      Untuk sekedar nyalip motor2 dengan kubikasi sepantaran atau sedikit lebih gede di jalan raya sih ini bukan lagi soal kabel setan, tapi nyali.

      Guest
      • Bener. Motor yg udah dinaikin sejam aja pasti performa turun dibanding yg baru aja dipanasin kok. Banyak variabel penentu dan kalo cuma rubah kabel, impossible langsung kerasa bedanya kecuali efek sugesti. Jalan eksaknya ya tes dyno, kalo ga punya ya tes konsumsi bbm.

        Guest
  14. MAntap. Menguak mitos yg ada. Dbuktikan dengan data yg bisa dipertanggung jawabkan. Jd tidak hanya rasanya, katanya, sepertinya.

    Mantap mantap

    Guest
  15. ralat: seharusnya “massa jenis” bukan “berat jenis”

    btw udah pernah pasang ni kabel, ga berasa efek apa². makin ngacir? kaga tuh, makin irit? kaga juga tuh, api makin gede? ga perhatiin, dyno? ga kerajinan dyno karena kabelnya aja uda mahal. udah cobain di 2 motor dan hasilnya sama aja, mungkin efek placebo aja. btw kabelnya masih nempel karena males copotnya (musti buka body etc).

    secara pemahaman awam saya, kalau kabel negatif “eksisting” diperpanjang dengan kabel ini ya harusnya resistansi bertambah, dan tetap saja tu listrik lewat kabel “biasa” dulu baru ketemu si kabel “special” ini. kecuali ya memang wiringnya diganti kabel lebih baik. ini ceritanya kayak earphone yang ganti kabel bagus vs earphone yang kabelnya di extend pake kabel bagus.

    Guest
  16. udah pernah pasang ni kabel, ga berasa efek apa². makin ngacir? kaga tuh, makin irit? kaga juga tuh, api makin gede? ga perhatiin, dyno? ga kerajinan dyno karena kabelnya aja uda mahal. udah cobain di 2 motor dan hasilnya sama aja, mungkin efek placebo aja. btw kabelnya masih nempel karena males copotnya (musti buka body etc).

    secara pemahaman awam saya, kalau kabel negatif “eksisting” diperpanjang dengan kabel ini ya harusnya resistansi bertambah, dan tetap saja tu listrik lewat kabel “biasa” dulu baru ketemu si kabel “special” ini. kecuali ya memang wiringnya diganti kabel lebih baik. ini ceritanya kayak earphone yang ganti kabel bagus vs earphone yang kabelnya di extend pake kabel bagus.

    Guest
  17. Wak haji, itu kabel sebagus apapun kalo dipake untuk nyambung kabel biasa ya malah cuma menambah total impedansi kabel (walaupun 0,0000x ohm), kalo niatnya memperbaiki penghantaran arus ke dan dari coil, perlu ganti kabel sekalian dari ECU/CDU ke coil, dari coil ke spark plug (intinya semua yang dari dan ke coil), disini juga perlu diperhatikan impedansi kabel pada rentang frekuensi pulse arus dari dan ke coil (0,5 * rentang RPM), itu terpengaruh dari capacitance dan inductance.
    Untul coil yang groundnya ke frame, kalo frame besi, itu jadi bottle neck untuk return arus ke source.

    Guest
    • 0,5 * rentang RPM untuk 4 stroke (dengan asumsi bukan type wasted spark), untuk 2 stroke 1 * rentang RPM.
      Untuk convert dari RPM ke Hz: 1RPM = 0,016667Hz

      Guest
    • boleh donk dijelasin kenapa bottleneck kalau grounding ke chassis. penasaran juga kenapa motor sekarang kabel negatif koilnya uda ga baut ke chassis lagi.

      Guest
        • Yups, anda benar, steel punya hambatan yang relatif cukup besar (jika dibadingkan dengan copper, gold, atau silver).

          Guest
        • Selain itu, coba cek juga kabel ground ECU, wajarnya minimum ada 2, yang “digital” ke sensor2, dan yang “analog” dari source, biar tidak terjadi ground loop, yaitu arus kembali dari sensor (masuk ke ECU) gak masuk ke jalur arus kembali dari power supply (keluar dari ECU).

          Idealnya dari sudut pandang electronic engineering, satu sensor satu ground, sehingga perubahan arus yang melewati satu sensor tidak berpengaruh ke pembacaan sensor lain, karena sekecil apapun arus, dikalikan sekecil apapun hambatan, akan selalu ada tegangan drop di penghantar, misal ADC 16bit dengan spesifikasi +/- 1LSB menggunakan tegangan reverensi 3V3, 50 micro Volt sudah bisa terbaca bisa terbaca 0, 1, atau 2, (rentang pembacaan 2^16 = 65536 tingkatan, karena 0 adalah nilai juga, maka value maksimum 65535).

          Tapi hal2 ideal seperti itu, pada kenyataan sering gak practical diterapkan pada kendaraan roda 2 produksi massal saat ini.

          Guest
  18. Kalau metode pemasangannya di sambung gitu kok rasanya kurang ya, karena menambah panjang kabel yang otomatis menambah waktu hantar. Beda kalau misal kabelnya di potong dan diganti itu.

    Guest
  19. Sudah pakai maxwire yg kabel2nya bercabanga , memang berefek terutama di throttle response. Ganti kabel negatif dan kabel koilnya saja udh kedengeran di suara knalpot saat di balyer ataupun idle dan juga suara hisapan di TB

    Terdengan lebih treble suaranya

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.