TMCBLOG.com – Crashnya Bagnaia yang merenggut potensi Jorge Martin pulang membawa poin di balapan pertama musim 2022 dan bermasalahnya setup elektronik Jack Miller yang membuat pembalap Autralia itu melipir ke pit box sebelum balapan usai sehingga membuat juara dunia team manufaktur 2021 itu pulang dengan nol poin di trek yang biasanya mereka tampil sangat kuat mungkin hanya ujung gunung es yang menyembul kepermukaan dari permasalahan Ducati yang hadir semenjak diperkenalkannya GP22 versi terbaru (spek terbaru) di test pra-musim dan akhirnya tidak dipilih oleh Baganaia.

Dengan lima pole position berturut-turut dan empat kemenangan dari enam balapan terakhir musim 2021, serta catatan waktu terbaik di tes Jerez, Francesco “Pecco” Bagnaia menaikkan standar untuk 2022. Ketika harapan Ducati tidak pernah berada di puncak timesheets dalam tes musim dingin di Sepang dan Mandalika, dia dengan tenang merujuk pekerjaan yang dilakukan oleh tim pabrikan pada GP22 baru. Pembalap Italia yang biasanya pendiam ini untuk pertama kalinya secara terbuka mengkritik pendekatan pabrikan tempat ia bernaung dan terikat kontrak sampai akhir 2024.

Pecco mengatakan bahwa pada dasarnya sampai dengan balapan malam di Qatar, Ducati masih bekerja serabutan mengetes banyak hal dan belum memiliki satu arah jelas agar bisa fokus untuk balapan. “Dalam pandangan saya, saya bekerja terlalu banyak. Sejak hari pertama pengujian, saya tidak pernah mengendarai motor yang sama untuk dua sesi berturut-turut,” begitu keluh Pecco.

“Dari hari pertama test pra-musim hingga FP3 [di Qatar], kami tidak pernah fokus bekerja untuk mengadaptasi gaya berkendara saya ke trek atau menyesuaikan ke motor. Itu bukan cara kita bersiap untuk balapan, dan memang begitu adanya. Saya harus lebih fokus pada gaya mengendarai saya.”

Menurut Pecco, hanya di FP4 dia bisa berkonsentrasi untuk penyesuaian gaya balapnya di GP22 yang ia gunakan “Tapi saya belum siap untuk balapan karena set-up tidak tepat untuk trek ini dan karena elektronik tidak tepat untuk trek ini, kami tertinggal. Saya tahu bahwa bekerja [sebagai developer] adalah bagian dari pekerjaan pembalap pabrikan, tetapi jika kami ingin menang, kami harus lebih fokus pada diri saya sendiri di akhir pekan balapan.”

Pada dasarnya Pecco menegatakan bahwa ada perubahan policy di mana saat ini team factory Ducati banyak kelimpahan tugas untuk mencoba part part baru yang bahkan tugas pengetesan ini dilakukan sampai di race weekend Qatar “Dulu tidak seperti itu. Anda memiliki tim satelit yang bekerja lebih banyak dalam hal ini. Kami hanya memiliki lima hari pengujian, tetapi saya pikir kami seharusnya hanya menguji selama pengujian, bukan selama akhir pekan balapan. Tetapi jika kami memutuskan untuk bekerja seperti ini, jelas lebih sulit untuk mencapai hasil seperti tahun sebelumnya.”

Bahkan dengan blak-blakkan, Pecco mengatakan kritik yang cukup bernada keras ditujukan pada pendekatan Ducati di race weekend Qatar; Saya bukan pembalap penguji (test rider) , saya di sini untuk menang dan fokus membalap sebaik mungkin. Saya benar-benar harus fokus menyesuaikan gaya berkendara saya dengan motor. Saya suka membantu semua pembalap Ducati, tetapi balapan akhir pekan bukanlah momen yang tepat untuk itu.”

“Saya meminta Gigi untuk bekerja seperti tahun lalu. [Saat itu] kami telah memutuskan setup di Austria dan kami tidak menyentuh motor sejak saat itu di mana saya hanya fokus pada diri saya sendiri. Anda dapat memberi kami sesuatu yang baru yang lebih kuat, lebih cepat, lebih baik, tetapi jika Anda tidak punya waktu untuk beradaptasi dengannya maka Anda tidak dapat lebih cepat dengannya karena itu adalah sesuatu yang baru.”

Tanpa bermaksud meremehkan kapabiltas dan talenta dari Enea Bastianini – Pecco juga menyatakan bahwa motor yang digunakan Enea memenangkan balapan di Qatar adalah motor yang ‘sudah jadi’. Saya tidak ingin meremehkan penampilannya. Tentu saja, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa siapa pun bisa menang dengan motor ini. Dia benar-benar sangat baik. Enea hanya perlu mengisi bensin dan membalap sejak hari pertama tes. [Sementara] Kami terlalu fokus pada pengembangan.

Di akhir penjelasan kepada jurnalis di platform Webex, Pecco mengatakan bahwa mulai di seri kedua di Mandalika nanti, Ia dan crew timnya tidak akan melakukan perubahan setup lagi untuk menghadirkan ke-stabilan dan fokus dalam penyesuaian motor untuk dipakai balap.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

65 COMMENTS

  1. sama kyk kasusnya vinales sewaktu di ymh, sembalap trlalu bnyak pilihan malah pusing adaptasinya, akhirnya fokus pd satu set up n adaptasi

      • Pabrikan 2bh GP22 spek A perlu test part sendiri.. gg bisa minta bantuan satellite.. wkwkwkwk…

        Satellite 3bh GP22 spek B perlu test part sendiri..

        Satellite 3bh GP21 siap pakai.. beruntung..

      • Apakah ini berarti sebetulnya desmo gp21 designnya sudah on the limit (nyaris perfecto), jadi ketika diupgrade disalah satu area maka akan berimpact banyak termasuk masalah handling di motor desmo gp22. Terbukti dari hasil yang berhasil ditorehkan oleh EB23 di race Qatar kemarin.

    • Ducduc gitu lho.
      Meski awal musim bagus, tengah rontok, akhir bagus lagi. Hasilnya poin jurdun kurang dikiiit. Taun berikut nya gitu lagi. Pas setting motor bagus, sembalapnya engga konsisten. Gitu lagi gitu lagi.
      😂

    • iya mangkanya berani ngomong dia… hehe.. tapi bener sih apa kata Pecco, saat race weekend bukanlah hal yang tepat buat coba part baru. Ya kita tau Ducati adalah pabrikan yang penuh inovasi, tapi ga gitu juga cara kerjanya. Saat Race weekend, Pembalap harus fokus pada catatan waktu atau pun race pace juga strategi pemilihan ban.

  2. dimana-mana rider mengincar kursi pabrikan biar selalu dapat update terbaru, tapi kalo cara dapatkan updatenya dgn trial and error tak berkesudahan bahkan sampai mengganggu jalannya akhir pekan,wajar Pecco marah,, tapi kalo ga gitu motornya apakah bisa sempurna ?? apakah sejomplang itu perbedaan GP21 yg “sempurna” dgn GP22 ? bukannya GP22 versi lebih terakhirnya GP21 ?

      • but if your rival improving, you have to improve yours to, because there’s no perfect bike

        nguomong opo tho!!

      • Ini mah motto nya yamaha wak…mnurut mereka g rusak tu M1…liat j kata kata engineer nya(budeg)..disalip di trek lurus baru dah kaget wkwkwkwk

      • There is prototype motor cycle..
        A trial and error testing ground for mass-production motor cycle..

        Jadi ingat RC 66 dan CB 1000 Cc enam Cylinder in line

    • GP21 itu perfect, yes. Tapi bukankah ini motor udah berusia dua tahun? GP21 adalah GP20 yg diupdate ‘minor’, bukan? Wajar.

      Buat Ducati power dari engine bukan hal sulit. Justru penyempurnaan yang menjadikannya paket lengkap lah butuh banyak waktu.
      Sy rasa semua Desmo sebelumnya juga akan menjadi sangat perfect layaknya GP21 kalo dikasih waktu pengembangan selama dua musim.

      GP22 ada potensi ke arah sana, hanya butuh waktu. Dan kemudian berulang, motornya perfect saat musim udah menjelang usai. Gitu aja terus, ahaha

      • bukan hanya ducati, sejatinya kalo cuma power semua pabrikan apa itu suzuki, honda, yamaha dll mampu, masalahnya membuat performa balance itu yang sulit, power ditambah tapi kontrol ngga bisa ya sia-sia

  3. Resiko jd pembalap pabrikan gt sih ya.
    Ducati tampaknya terlalu takut dengan perubahan radikal rc213v dan meningkatnya performa aprilia rs-gp. Makanya byk melakukan uji coba part baru sebagai langkah antisipasi.
    Tapi mereka lupa kalo gp21 msh cukup digdaya melawan motor-motor kompetitor tsb.

  4. dulu 2016 saat hodna kerja lembur bagai kuda buat nyelesaiin masalah software ga sampe bikin pembalapnya sampe kebingungan kayak gini deh,
    ga tau lagi kalo pembalapnya dulu emang berkulit badak jadi gak gampang ngeluh,atau sistem kerja yg emang udah terstruktur dibagi rata

  5. fell sya RCV akn sangat kuat tahun ini, min juara team konstruktor, klo jurdun liat 3 race lagi dan perkembangan MM apakah msh bisa podium / tudak jika 3 race pudium berturut sy pastukan MM bakal jurdun

  6. semua pabrikan melakukan hal yg sama! tapi lagi2 menunjukan pendekatan pabrikan berbeda dari asam garam yg telah mereka rasakan serta mental pembalap juara dunia berbeda yach hehhe

  7. Ada benarnya yg dibilang peco…masak pabrikan disuruh tes part. Kayaknya bakal pas setelah jeda musim lagi nih pabrikan.

    • Lah bukannya pabrikan lain jg gitu? Alurnya kan di tes test rider, cocok kasih coba rider pabrikan, pembalap pabrikan cocok ya dipake race, baru di copy buat satelit. Pecco aje yg maunya terima jadi.

      • Ga gt bro ” yg serba tahu ”
        Yg dipermasalahin adalah momen nya, kalau mau coba2 part ya jgn pas weekend apalagi fp3..
        Itu momen krusial

        • Emg pabrikan lain ga pernah coba part baru selama FP, bro komentator yg ga serba tahu? Selama ini cuma tim satelit yg pake motor tinggal pake ga ada riset atopun tes part di fp. Rossi pernah nuding performa Zarco di Tech3 bagus krn dia cuma tinggal pake sementara dia dan rekan setimnya ada ‘kewajiban’ coba part baru di fp. So? Komen gw salahnya dimana? Kalo mau nyalahin ato nyanggah komen gw, minimal riset dulu. Jgn cuma bermodal ego kaya komentator bawah lu yg komen cuma buat nunjukin rasa bencinya ke komentator laen.

        • Lha itu model kaya si marc apa kabar yang sampe crash cukup sering di sesi FP?dia juga sama kan nyari setup sama coba2 part di sesi FP.

          Sesi FP yang krusial mah paling cuma 15 menit terakhir, sisa waktunya kan bisa aja buat coba part baru atau setup mana nih yang cocok, masa iya harus nunggu tes jeda musim kelamaan dong.

          Ya pecconya mungkin aja kagok jadi begitu deh.

        • Lu gausah ngaku2 jg semua udah tau bombom komentator alakadarnya kok😅 dulu muncul cuma buat ngehina komentator lain, skrg muncul ga ada angin ga ada ujan ngaku2 alakadarnya. Iyeee lu emg alakadarnya kok wkwkwk

  8. Mari sama-sama kita lihat apa yang akan terjadi di smandalika. Data yang tersimpan adalah data tes dan simulasi. Bukan data race weekend. Semua unggulan punya kesempatan yang sama.

  9. Pecco ini kurang lebih sama kaya Dovi, mulai dari riding style, cara pongah didepan media, ampe ketidakjelasan ngasih input. Ducati harus kasih dia developer rider sbg teammate kalo ga mau prestasi Ducati selama ini menurun.

    • tdak sprti itu ferguso, mnrut saya pecco bsa lbih sdikit di atas dovi, walpun motor gak pas settingan(set up), tpi pecco tetep ingin brusaha mmperbaiki posisi, apa anda tdak lihat di race Qatar kmren, pecco ngepush trus2an walapun akhirnya crash, kalo dovi sih diam di tempat dan hnya ingin cari aman, saya kira dovi juga jarang menyentuh limit motor.

  10. Aspal lama mandalika jadi pertanyaan.. Ngeri malah kelupas seperti aspal yang di congkel yang baru diaspal ini

  11. Rider factory= riset berjalan
    Tim satelit , ya terima jadi dari rider factory
    Klau dibalik apa ya mau para pembalap tim factory

  12. Lha kalo gitu kenapa lu ga minta full motor 2021 aja ,co! Atau silahkan lengser ke Gresini biar bastianini yg naik ke factory biar kerjamu lebih ringan

    • Nah ini mgkin ‘tepat’. Krn pola pikir Pecco kaya rider satelit. Padahal rider satelit sejati macam Zarco ato Iannone jaman masih di Pramac aja ngebet naek pabrikan selain ngejar gaji, jg biar bisa dapet part baru lebih dulu dan bisa bikin motor sesuai input. Bkn tinggal terima jadi, diminta input malah seolah minta motor lama mgkin bingung gimana cara improve motor baru. 2021 mesin di freeze, dia cuma tinggal pake motor bekas Dovi dan Petrucci. Skrg dia jadi ace rider, malah kagok.

  13. sjak fp1 sdah kuduga, ducati bkin pecco pusing 7 keliling, wajar trsesat, tiap kluar dari pit sllu mrsakan sensasi motor yg berbeda, akhirnya di fp4 tidak mnyentuh motor lagi(utak-atik)..tpi sdah trlambat, kcpatan tdak ckup untuk race.

    • HRC 2016 yg bahkan sampai lembur d Qatar demi mencoba mencari arah pengembangan. Dan ketika musim berjalan pun gitu tiap sesi d lakukan untuk mengetest dan beradaptasi untuk race. Dari situ awal mula Marc slalu mencari limit motor ketika fp, pasti ada jatuhny tiap seri dan dari situ dia hobby slipstream ketika fp-qp karena motorny tidak siap untuk time attack

  14. Ada 2 orang “dalam” dicati” yg di caplok ktm, salah satunya adlah insinyur elektronik, mungkin ini sebabny Ducati sprti kehilangan arah pengembanganny, krna berkat kelihaian SDM mereka dlm mengulik elektronic besutan magneti lah Ducati kmbali bertaji dri Thun 2016.
    Tpi apapun itu mental Bagnaia blum skuat mm93, masih ingat 2016 yg bukan sampai fp4 pun Marc masih nyariw settingan terbaik sampai2 harus slipstream dulu untuk dapatkan waktu yg bagus ketika kualifikasi. Rcv versi 2016 khususny setengah musim pertama adlh motor setengah matang

  15. Pecco Bagnaia belum bisa jadi pejabat indonesiyah dong. Disini dia yg bilang gak boleh rangkap jabatan, eh dia pulak yg mengangkat pejabat jadi rangkap jabatan. Muehehehe

  16. Bau2nya bakal ngaruh ke dukungan dan policy ducati ke enea bestiality ini

    Mungkin kedepan malah urusan riset dan ujicoba part2 baru dibebankan ke ducati satelit (termasuk ke enea), sementara ducati factory mulai fokus terima jadinya dan championship

  17. Ducati sudah mulai ketar ketir makanya bingung karena Top Speednya sudah mampu dikalahkan oleh mesin Inline yg terkenal stabil dan Inline Suzuki sdh mampu mengovertake di trek panjang.

  18. Bastianini 2 race kedepan podium lagi atau 5 besar terus, bakalan dapet dukungan dr Ducati pabrikan sepertinya

  19. Pantesan Jack sampe ngambek, keliatan banget, doi juga kecewa. Gara2 ngga beres set up elektrnik nya. Emang, yang dikatakan Pecco ada benar nya. Mungkin proporsi nya diubah kali ya. Untuk pengujian part baru, 30%. Sisanya fokus ke set up balapan. Secara, Ducati kalau mau menang, ya maksimalkan potensi Pecco, sebagai juara 2 klasemen tahun lalu.

  20. Ya kan rider pabrikan dapat part terbaru untuk diuji, semua juga gitu cmn bedanya setelah 4-5 lap udah bisa putuskan part ini lanjut atau kagak dipakai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.