TMCBLOG.com – Seperti yang telah kita ketahui sebelum ini, dimana Pol Espargaro mengaku kesal dengan keputusan Michelin karena membawa ban yang menurutnya adalah ban berusia 4 tahun yang lalu ke seri Mandalika. Jenis ban yang dibawa Michelin sebagai respon dari karakter sirkuit Mandalika yang sangat panas sampai menuju 60º C ini menurut Pol seperti merusak apa yang selama ini dibangun di Honda RC213V 2022. Alberto Puig sendiri selaku team manager Repsol Honda Team menyatakan bahwa HRC akan berbicara dan bertanya kepada Michelin mengenai apa yang sudah terjadi di GP Indonesia. “Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan ban, saya harus berbicara secara detail dengan Michelin”. Ternyata keduanya, baik Alberto maupun pihak Michelin dalam hal ini adalah Pierro Taramasso telah bertemu pasca race weekend di Mandalika. Dan seperti yang sudah tertulis di GPOne, Taramasso memberikan statementnya

“Saya terkejut. Saya telah berbicara dengan Puig karena dia tidak hadir di sesi tes dan saya menjelaskan seluruh situasi kepadanya, mengapa kami membuat pilihan ini, saya mencoba memberinya semua elemen yang mungkin tidak dia ketahui. Semua staf teknis tim dan sebagian besar pembalap mengerti dan sebenarnya tidak ada orang lain yang mengeluh. Saya terkejut bahwa hanya dia yang tidak mengerti motivasi dari perubahan (alokasi ban) antara saat test dan ketika Grand Prix ini.”

Ketika ditanya kembali mengenai dasar utama perubahan alokasi ban ini, Pierro mengatakan bahwa paling utama adalah soal alasan keselamatan. “Ya, kami selalu mengutamakan keselamatan, bahkan dalam hal performa. Ban yang dipakai saat test tidak akan bertahan hingga jarak balapan karena suhunya sangat tinggi dan tidak ada kompon yang bekerja, semua pembalap dan semua tim menyadarinya.”

“Di akhir tes saya berbicara dengan semua direktur teknis dan manajer tim menjelaskan situasinya kepada mereka dan memberi tahu mereka bahwa akan ada perubahan untuk GP. Satu-satunya solusi teknis yang mungkin adalah casing ini yang telah kami gunakan pada 2017 dan 2018, kami memasangkannya dengan kompon karet yang digunakan dalam pengujian agar tidak mengacaukan segalanya. Casing ini terbukti mampu menurunkan suhu ban hingga 15-20°, itulah yang dibutuhkan.”

Jadi sudah jelas ya sob, untuk meluruskan anggapan yang hadir di media sosial mengenai ban. Jadi ini tuh ban yang benar-benar baru yang diproduksi baru, dengan menggunakan kompon karet tahun 2022 oleh Michelin namun dengan spesifikasi konstruksi casing lama. di tahun 2017-2018 silam Ketika ditanya seberapa panas kondisi permukaan aspal, Piero menjawab:

“Sampai 60 derajat (Celcius), kami tidak pernah melihat suhu setinggi itu di Sepang. Semua orang menyadari perubahan ini, aneh ada seseorang yang tidak mengerti atau ingin mengerti, jadi saya terkejut. Tidak ada gunanya berbicara tentang keselamatan jika Anda hanya mengeluh tentang kinerja. Juga, beberapa pembalap [merujuk pada Pol Espargaro, red.] percaya bahwa ban itu berasal dari tahun 2018, dalam artian bahwa mereka telah berada di gudang selama 4 tahun (tertawa). Perlu banyak imajinasi untuk berpikir bahwa ban ini diproduksi setelah test pra musim. Ada banyak hal aneh.”

“Itulah intinya. Jenis ban ini memiliki cengkeraman/grip yang lebih sedikit tetapi menawarkan stabilitas yang lebih pada sepeda motor. Jika kita berbicara tentang performa murni, mungkin sedikit lebih rendah, tetapi selama akhir pekan para pembalap melakukan hal yang sama seperti saat tes, ketika mereka melakukan putaran selama tiga hari di trek kering. Catatan waktu Quartararo di kualifikasi sama dengan waktu tes Pol Espargaro dengan ban standar, yang performanya sedikit lebih baik. Dalam hal ini tujuan kami adalah memiliki ban yang tepat untuk melakukan 27 lap dan, jika tidak hujan, sebagian besar pembalap akan memulai dengan ban belakang soft.”

Ketika dikonfirmasi bahwa apakah crash high side yang dialami oleh Marc juga disebabkan oleh Michelin, Piero jelas membantahnya: “Kami menganalisis data kecelakaan dan saya dapat mengesampingkan bahwa itu karena ban.”

Seperti kita ketahui balapan di Mandalika pun diperpendek jumlah lapnya. Apakah ini karena ban? Piero menjawab “Tidak, itu karena kondisi aspal sirkuit, sebenarnya mereka juga mempersingkat balapan Moto2 [dengan ban Dunlop. red]. Ban bertahan dengan baik, kami telah bekerja keras untuk melakukannya, begitu pula tim yang telah bekerja keras untuk membuat mereka bertahan selama 27 lap. Adalah tantangan teknis bagi semua orang, ketika Anda mengganti ban Anda harus mengerjakan ulang sektor suspensi, set-up elektronik, mereka yang berhasil beradaptasi lebih baik dan lebih cepat berada di depan, mereka yang memiliki sedikit kesulitan berada di belakang.”

Kemudian ketika ia ditanya, akankah kita melihat ban jenis ini di trek lain sepanjang tahun, Pierro menjawab “Ini adalah kasus yang luar biasa karena Mandalika adalah sirkuit khusus. Segala cerita di Mandalika sama sekali berbeda dengan sirkuit lain, memiliki kecepatan menikung yang tinggi, aspal baru dengan suhu yang sangat tinggi. Di Thailand dan Austria kami akan membawa versi lain dari ban kami, katakanlah ban yang diperkuat, yang memungkinkan kami untuk menurunkan suhu hingga 7-8°, di Indonesia itu tidak akan cukup. Speknya kira-kira berada antara ban standar dan ban yang telah dipakai di Mandalika.”

Melihat apa yang terjadi selama race weekend dan pendeknya waktu test dengan balapan, hadir opini bahwa alangkah baiknya Michelin menciptakan satu lagi spesifikasi ban khusus Mandalika dengan spek yang lebih baik dan lebih tepat sasaran. Untuk hal ini Piero menjawab “Kami harus melihat kalender untuk tahun depan, jika kami memiliki kesempatan untuk melakukan beberapa tes, kami berencana untuk mengembangkan ban ini. Sekarang kami memiliki banyak data dan kami akan dapat mengerjakan ban khusus itu”.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

67 COMMENTS

    • yg highside dia doang ya bukan ban yg salah. inget dari dulu ban mlulu yg di salahin. tapi gak brani protes minta bridston

      • Dr dulu jg hobi highside, tinggal itung brp kali, liat disirkuit mana aja.
        Fbh sllu punya kambing hitam & alibi, sombongnya bukan main…
        Msh mending fby, yg mengakui bhwa m1 emang letoy kurang power…
        Fbs yg sllu diam krna pabrikannya pura2 budeg+ketika semir di bully

  1. tim ngeselin selama test pra musim ga nyadar kalau mandalika bakal berpotensi suhu tinggi ? dan jelas di situ aspal baru. gak usah selama test pra musim deh, dari mandalika ditetapin jadi sirkuit masuk kalender mereka anggap enteng apa gimana ? sampe gada prepare itu si ban yg katanya anti panas, 4 tahun kaga diupdate sama pihak rnd nya

    ya kalau suhu tinggi dan ban ngeselin cukup durable, ga bakal dikurangin juga kok itu jumlah lap. ehehe

    • pengurangan jumlah lap menurut gw ga hanya tentang ban, tapi krn emg waktu itu hujan diperkirakan akan turun sangat deras, jadi dengan mempersingkat waktu balapan baik moto2 maupun Motogp mereka berharap akan bisa menghindari hujan, tapi apesnya hujan mulai turun tepat di akhir race moto2, krn udah terlanjur turun hujan jadi ya race MotoGP ga bisa dipercepat,
      dan juga kalo pun race MotoGP akan dilaksanakan dalam dry race dan full 27 lap, gw yakin bukan ban nya yg kalah, tapi aspalnya yg akan kalah, Fabio sempat bilang di press conference, kalo masalah aspal lepas masih dirasakan khususnya di t17 untungnya t17 bukan tikungan yg cepat jadi bisa dianggap small trouble aja, dan dia ga kebayang kalo dry race full 27 lap dimana aspal lagi panas2nya aspal yg lepas mungkin tambah parah,
      belum lagi stamina rider bener2 terkuras kalo dry race krn panasnya, untungnya race diadakan wet jadi ga gitu nyiksa buat para rider,

      • ban yg khusus dibawa Michelin itu kyknya cuman utk dry race krn emg yg dikhawatirkan dari awal kan suhu aspalnya, kalo hujan ban pake ban wet biasa

    • Ban spek 4th itu cm ban dry race, ngeselin ga bawa spek itu buat wet race, lagian ngapain ngeselin bawa ban wet race karna ga mungkin aspal kena ujan suhunya sampe 60 derajat…
      Pengurangan jumlah lap bkn karna ban, itu karena ujan+waktu yg udah trllu sore, kliatan kan di tv udah mulai gelap,

  2. sejauh yg gw pantau ban ini bekerja sangat baik utk kubu Yanaha di Mandalika kemaren, mungkin yg paling mendekati ya kubu Duvati, KTM, dan Aptilia, sedangkan kubu yg paling menderita jelas Suxuki dan Homda,

  3. wah besok2 bakalan ada ban khusus mandalika neh, gak kebayang kalo taon depan dipindah ke musim kemarau…….tambah puanaaaas
    btw om puig diledekin micelin tuh, wkwkwkw

  4. Mungkin solusinya jaddi race malam kaya di Qatar biar suhu aspal ga terlalu panas, Mandalika harus nambahin lampu, lebih adem jg nontonnya klo malem

    • Sore jam 4.30 kyk kemarin sudah pas, suhu aspal sudah turun. Klo masalah hujan ya namanya juga rejeki, gak bisa di tolak. Mungkin nyediakan sorot lampu di beberapa spot yg mungkin agak gelap.

  5. sektor suspensi jaman batu, set-up elektronik jg dr jaman batu pula
    disinyalir sektor karet bundar jg dari jaman batu

    goldwing pun lebih canggih kalo di compare dgn motor MotoGP sekarang ini (kalo diukur dr segi advance bukan performa nya loh)😂😂

  6. kayaknya sektor tenaga harus dikurangi deh,secara internal gentleman agreement aja biar ga kebanyakan printilan tambahan dan kerja ban tambah berat,jg untuk keselamatan para pembalap

  7. Wak haji..perhatikan velg yamaha M1 di mandalika warna crom mengkilap plus ada cerukan..infonya ngaruh juga buat tekanan ban..bisa dijelasin lagi wak?

        • Widih siap bang preman tmc, tumben muncul. Btw daripada dateng buat ngatain orang, knp ga jawab pertanyaan aja? Noh diatas komen lu kan ada beberapa pertanyaan, jawab aja yg lu suka/lu tau. Ato lu sama aja, bisanya cuma ngatain orang? Wakwokwakwok

  8. Jumpalitannya Marc mirip sama jumpalitannya Stoner waktu warm up lap, lupa itu 2007 apa 2008, yg jelas pas masih pakai motor 800cc.

  9. Race musim ujan aja masih tinggi suhunya
    Gimana kalo dipindah di musim kemarau,apakah makin tinggi suhunya ? 🤣

  10. karena yang juara markezs mulu, sekarang markez kena gegar otak makanya ban jadi kambing, kasian memang kambing mengkambingkan ban

  11. https ://www.youtube.com/watch?v=OsIENUu_BjA
    di video itu MM bisa bikin slide ekstrim RCV nya dua kali.
    Highside dia kayaknya diintervensi ECU nya. Taun kemaren juga kan dia bilang kalo highside dia disebabkan elektronik.

  12. Sederhana saja logikanya

    Marq jatuh udah berapa kali ?? Masa iya disalahin ban semua ???

    Apa Kambing lagi murah ??!?!!!

  13. Marc sendiri ga pernah nyalahin bannya. kalau lihat highsidenya hampir mirip dengan yang di assen 2021. jadi sepertinya setingan ECU belum klop dengan mesin baru yang sekarang, terutama di control traksi. team ECu ngangeti mareni honda harus lebih hard work

  14. Yakin jarang? 2016 awal aja marq struggle dengan magneti marelli + ban depan yg ga sekuat dan se ngegrip bridgestone.. belom lagi pihak yahaha rossi yg ngeluh soal ban dll

  15. Michelin gak mikir saat tes vs Qi-q4 itu aspalnya beda
    untung ban depan gw udah ganti Pirelli ogah pake Michelin mosok ban kecil aja 450ewu
    Wkwkw

      • Atas ane ketauan komentar para sales yang sakit hati junjungannya cedera mulu, giliran junjungannya jurdun terus langsung muja muja wkwkwk

  16. saya setuju dengan taramasso bahwa penyebab high side MM bukanlah ban, dan seprtinya puig juga tidak menyalahkan michelin sebagai penyebab utama crash nya MM, namun kekecewaan puig lebih ditujukan kepada penurunan signifikan performa RC213V 2022 saat menggunakan ban casing 2018 tersebut

  17. Biasa mengkambing hitamkan kesalahan, motor lain adem adem aja walau dengan problem sama ,harusnya intropeksi knapa motor ana berprilaku beda …. Apa krn biasa ada perlakuan khusus motor juara atau pembalap juara dah ngk bertaji ? ….

  18. Sedih wes marc bakal absen… dah subscribe 1 tahun pula

    GWS marc…

    Bener salah udah gak ngaruh kalo udah gini, dah kejadian coek…

  19. Kalau soal ban harusnya mayoritas tim jug bermasalah. Tp kok cm MM aja yg kena high side? Brarti ada gaya berkendara yg mmg membuat ban bereaksi berlebihan.

    Kcuali jika dalam WUP ada 2-3 pembalap high side, baru deh investigasi

  20. gw lebih percaya omongan para teknisi diatas dari pada komentator gk jelas kualifikasinya yg saling hina padahal cuma sama2 fans

  21. setahuku bukan bannya yg jd masalah, dan bukan marc nya yg aneh , tp motornya yg beda dan aneh bagi marc , motor 2022 honda lebih balance antara fornt end dan rear end nya , sementara gaya old time marc itu front end yg keras , dan tahun ini sama ajah dia adaptasi dgn motor baru , mulai dr awal nyari limit sampe jungkir balik itu udah gayanya marquez , motor type front end kalau buat rem dadakan saat menikung berpotensi high side , apalagi tikungan ganti arah , dan itu salahnya marquez memperlakukan motor 2022 seperti motor 2020 , rcv skrg ga bisa diajak agresif bermanuver harus flowing krn dimensinya lebih besar , dn ak yakin setelah pertengahan musim jeda musim marc udah bisa adaptasi ganti gaya berkendaranya . i’m sure dia bakalan dominan paruh musim kedua nanti , dan berebut poin dgn ell diablo sampai seri terakhir , tinggal diablonya pandai mengatur startegi gak untuk menang di seri eropa awal 2 , kalau banyak finish diluar 3 besar setelah paruh musim , yah bakal sulit untuk title contendernya ……..

  22. MM uda mulai menurun refleknya itu aja, dia uda ga bisa lagi berkendara seperti waktu dia muda dimana refleknya masih bagus.

    umurnya uda mau masuk kepala 3. kemungkinan dia harus cari cara baru berkendaranya. tapi ga yakin akan dominasi lagi kaya dulu2. mungkin hanya seperti di pembukaan seri 22, dimana kaya cuma ya udah gw cuma mampu segini.

    di sirkuit2 yang dia superior kayanya uda ga akan sesuperior tahun2 sebelumnya bahkan bisa jadi kalah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.