TMCBLOG.com – Bagaimana caranya bisa membayar kekalahan top-end power sehingga secara umum dan secara keseluruhan race pace pembalap Yamaha M1 bisa lebih cepat dari pembalap pembalap bermesin V4 yang memiliki top-speed biadab? Selain perubahan mentalitas yang sudah diungkap oleh Quartararo kemarin, kali ini sang crew chief Diego Gubellini yang blak-blakan mengungkapkan resep dan latar belakang teknis dari kisah sukses Quartararo menang ‘sekebon’ dari pembalap lain di Algarve yang juga berpotensi diulang di sirkuit sirkuit Eropa lainnya.

Secara umum dengan karakter Yamaha M1 2022 sekarang ini, untuk memenangkan balapan, pembalap Yamaha membutuhkan tidak adanya lintasan lurus yang panjang dan meraih posisi yang bagus starting grid sebagai hasil dari kualifikasi. Tanpa kedua variabel teknis tersebut, perebutan gelar juara dunia akan rumit bagi pembalap Yamaha khususnya yang berasal nice dengan nomor start 20 – Fabio Quartararo.

Di GP Portugal dia start dari posisi kelima, setelah akhir pekan yang dimulai di posisi ke-20 pada akhir hari Jumat dalam kondisi basah. Pengeringan trek setelah FP4 membantu Fabio sehingga akhirnya bisa mengamankan baris kedua, tetapi perbedaan nyata terjadi di sektor terakhir, di tikungan sebelum berakhir di trek lurus. “Kami mengerjakannya (setup M1 untuk tikungan terakhir) karena, membayar untuk kecepatan tertinggi, kami tahu bahwa melakukan tikungan dengan baik sebelum berada di trek lurus akan membuat kami kehilangan lebih sedikit waktu. Kami selalu berusaha memperbaiki setup motor untuk menghadapi tikungan jenis seperti ini.” jelas kepala kru Diego Gubellini usai balapan di Portimao.

Jadi pada dasarnya Fabio Quartararo harus diberikan potensi untuk bisa ‘membayar’ apa yang hilang di lintasan lurus pada momen menikung pada sektor terakhir ini. Ini akan menjadi kunci sukses mempertahankan gelar MotoGP: “Jika kita menganalisis waktu yang ditorehkan dalam latihan, Fabio tidak pernah kalah sejak awal tahun. Bahkan ketika kami mengambil posisi 7 atau 8 dalam balapan, dia selalu mencapai kecepatan untuk memperebutkan podium.” tambah Gubellini.

“Sayangnya Yamaha cepat tetapi tidak memiliki kecepatan tertinggi, ketika bertarung dalam grup, terutama di trek di mana ada lintasan lurus yang panjang, satu atau dua pembalap melewati Anda setiap putaran. Sehingga menjadi sulit untuk menjaga kecepatan Anda. Di Portimao, kuncinya adalah untuk mendapatkan awal yang baik, menyerang dengan segera di tikungan 3. Kami beruntung karena mendapatkan diri kami di depan Joan Mir yang memiliki kecepatan sedikit lebih baik tetapi kami berhasil berjuang untuk itu.”

Jika dilihat dari data analisis sih, memang benar bahwa Fabio Quartararo begitu bengis di sSektor terakhir – tempat tikungan terakhir sebelum straight hadir. Sobat bisa melihat, hanya tiga lap terakhir ia berada di ordo 32 detikan untuk menyapu sektor ke 4. Itupun menurut Fabio, andai-andai ada pembalap lain yang berada dekat di belakangnya, maka ia pasti tidak akan mengendurkan gas, terus-terusan meraih laptime 1:39.xxx detik.

Namun begitu Aleix Espargaro juga berhasil tampil konsisten dengan baik di sektor terakhir ini. Ordo laptimenya kebanyakan berada di angka 31 detik-an, walaupun di sektor 1, 2 dan 3 Aleix terlihat ia sedikit lebih lamban dari Fabio Quartararo secara rata-rata.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

22 COMMENTS

    • Masih menanti perhitungan live timing. Semoga dapet P1 kesebelas selama karir, dan yang pertama di musim 2022 di blog fenomenal ini. Setidaknya bukan prestasi alakadar 😂

  1. Di post race conference, taro bilang sangat hepi akhirnya bisa merasakan nyalip (semir) di trek lurus. Kasian 😅

  2. Yah intinya semua mengerucut di Quartararo, bagaimana dia mengeksekusi semua strategi dgn baik,
    konsistensi Fabio cukup ngeri walaupun dia lagi struggle setidaknya dia mampu bertahan sampai finish, apalagi kalo dia lagi on fire,

    • ini yg membuat motogp kurang seru, minim dogfight, apalagi kalo race nya model kyk touring.. memboringkan banget..
      kapan lagi ya ada seri yg mirip race assen 2018 ? breathless race..

    • masih dong, kalo lawan saling berdekatan maka pengguna M1 lebih mudah terbully oleh yg lain di straight panjang, menurut ane M1 itu kalah di gigi tinggi, ketika masuk persneling 4,5,dan 6 motor lain terutama V engine masih lebih punya daya dorong untuk melaju lebih kencang lagi, ya yg begini sudah jelas power di putaran menengah keatas nya kurang si M1.

  3. naaiiiss. . .
    perhitungan teknis tiap tikungannya njlimet ternyata bang, hebatlah fabio bisa menyempurnakan setup mtr dgn baik sekali bravo

  4. portimao hmpir mirip dgn mandalika cicuitnya flowing bgt bedanya dia naek truun, tipikal cicuit begini mmg yamaha bgt dan koentjinya adalah sodok didepan dannkabur , dan bs diprediksi balapan akn boring spt di mandalika

  5. Musibah kalau di sirkuit yang notabene Yamaha sering juara tapi FQ tidak berdiri di podium 1.
    Nabung point di sirkuit yang ramah tamah.
    Portimao sirkuit yang bengis, tidak untuk anak mamah..

  6. Asal tidak dalam grup, keteteran ngadepin lainnya yang sekarang di develop lebih kecang, begitu ketemu track lurus bisa di bully mereka deh

Leave a Reply to RacingFans Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.