TMCBLOG.com – Ducati pada awal 2022 sudah bikin ketar ketir pabrikan lain dengan mengisi 33,3% grid start pembalap reguler MotoGP, namun di lima seri pertama berselang termasuk seri pembuka yang biasanya di tahun-tahun lalu merupakan ‘makanan’ empuk Ducati yakni GP Losail – Qatar semuanya tidak sesuai ekspektasi. Yang dua kali menikmati kemenangan seri malah GP21 sementara sampai seri terakhir di Portimao. Sementara pembalap team factory Ducati Jack Miller dan Pecco Bagnaia dengan GP22 bertengger sementara di posisi 9 dan 10 sementara di mana Pecco berbeda 38 poin dari Quartararo sebagai pimpinan klasemen. Namun di balik itu kita bisa melihat bagaimana kembalinya kepercayaan diri Pecco terutama di Portimao setelah ia berhasil finish Top-10 setelah start dari posisi belakang. Apa yang diubah dari GP22?

Seperti yang kita ketahui, Pecco bisa dibilang tampil telat panas di awal 2022 ini . . Penyebabnya? Kombinasi dari telatnya Ducati menentukan konfirmasi paket 2022 buat Pecco – Miller yang disebabkan tidak hadirnya kepercayaan diri Pecco. Awalnya Pecco meminta Ducati untuk kembali ke spek GP22 pertama yang mereka pakai ketika test pra musim 2022 di Jerez akhir tahun 2021 yang lalu. Awalnya Pecco mengira power terlalu brutal dari GP22 versi mutakhir yang sekarang dipakai Martin, Zarco dan Marini lah penyebabnya.

Jadi deh beberapa keputusan paket team factory hanya ditentukan beberapa hari saja dan inilah yang kemungkinan besar membuat Ducati telat panas di awal. Namun setelah dipakai di Losail, Indonesia dan sesi latihan bebas (Jumat-Sabtu) di Termas, Pecco masih berasa tidak nyaman dan sulit memperoleh kepercayaan diri terutama di bagian front-end dari motor. Ia frustasi dong? Yes, tapi tidak putus asa.

Titik baliknya ada di sesi Ahad pagi – sesi warm-up MotoGP Argentina 2022. Para insinyur Ducati di box Pecco membuat perubahan penting pada setup GP22 Bagnaia. Ini adalah pengaturan yang pertama kali mereka gunakan di COTA musim 2021 di mana para insinyur bermain di setup transfer bobot ke arah depan untuk memberi Bagnaia perasaan front-end GP22 yang sama seperti front end GP21 yang dia gunakan untuk memenangkan empat dari enam balapan terakhir tahun lalu.

Tibalah saat race Di Termas dimana Bagnaia start dari posisi 13 di grid dan berakhir dengan finis kelima. Di COTA ia lolos di barisan depan untuk pertama kalinya tahun ini dan di Portimao ia datang dari posisi terakhir di grid dan finis di urutan kedelapan. Belum hasil yang maksimal, Namun jelas jauh lebih baik daripada yang terlihat dan yang terepenting Bagnaia merasa lebih percaya diri di Tiga race weekend ini.

“Dari balapan pertama tahun ini di Qatar kami mencoba untuk lebih memahami motor baru dan kami mengerti di Argentina. Kami mencoba untuk memiliki perasaan yang sama seperti tahun lalu, kami masih kehilangan sesuatu dan akhirnya kami menemukannya. Bagian depan motor baru terasa sedikit lebih tinggi, jadi bagian depan tidak dihadirkan untuk saya. Ketika Anda berada di Limit, perbedaan kecil dapat membuat perbedaan besar, itulah alasan saya sempat struggle untuk memahami apa yang sedang terjadi.”

Banyak yang memperkirakan Ducati meninggikan bagian depan dari GP22 karena mereka memiliki sesuatu yang baru untuk front end di 2022 ini yakni tentunya front-RHA. Di Termas, Pecco sama sekali tidak memakai sistem ini dan dengan menghadirkan setup terakhir, Ducati seperti sukses memberikan feel GP21 pada GP22 yang memiliki power lebih tinggi dari GP21.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

19 COMMENTS

  1. Bagnaia lebih cocok di satelit atau 2nd rider daripada ace. Sayang aja ducati kecepetan perpanjang kontrak doi. Zarco & Martin aja sanggup podium pake gp22, bahkan Miller yg pake spek sama juga bisa podium. Mungkin kudu test ride gp7 buat bandingin se brutal apa dgn gp22 wkwkwk

  2. lagian GP21 utk kurang powerfull apalagi sih ? di GP22 kok powernya malah ditambah lagi bahkan dibuat makin buas lagi, gmn sih Duc ?
    rider yg lembut kyk Pecco dan Enea mungkin emg lebih cocok pake GP21,

  3. Kadang kebanyakan eksperimen bongkar pasang hasilnya blum tentu baik. Malah kebuang waktunya. Klo GP21 kemaren sudah nyaman, mending ditingkatkan pelan2 saja. Toh power jg masih tertinggi..

  4. Semoga aja bisa kembali kompetitif sih. Masa team factory kalah sama Satelit? Secara pride, Team factory pasti bakal ngasih lebih ke pembalap nya. Apa kata sponsor sama rival? Wkwkkwkk. Lagian, lebih banyak yang kompetitif, race akan lebih seru. Ditambah, untuk masalah mental, Pecco rasa nya dewasa banget, liat di tahun lalu gimana dia berkembang, atau saat di Moto2. Dia punya mental untuk tetap tenang, fokus, dan berpikir jernih, meskipun under presure

  5. Mau nanya ini :
    Season ini kok pada ngeluh sama feel front end ya?
    kenapa kok pembalap yg bisa save rear tyre, itu rata2 bisa survive? padahalkan michelin rear tyre paling istimewa kalo di bandingkan bridgestone, dan satu lagi, apa ini mengindikasikan front tyre michelin yang sekarang lbh buruk dari season sebelumnya atau ada peningkatan?

    maaf kalo pertanyaannya panjang dan berkesan “noob”

    thank’s

  6. tim Ducati di awal musim cara kerjanya mau seperti di tim Yamaha era Rossi. Jadiin rider di tim pabrikannya punya pekerjaan tambahan, alias jadi rider penguji part-part baru. Otomatis rider di tim pabrikan yg notabene nya harus fokus ke kejuaraan atau jadi yg terdepan dari tim satelit malah pecah fokusnya harus nyobain dan juga ngasih feedback. Pecco sendiri ngeluhin cara kerja kayak gini

Leave a Reply to izanagi Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.