TMCBLOG.com – Secara natural, dengan hadirnya Winglet aerodinamika di depan plus ketambahan segala macam shape shifter ini akan membuat roda dan ban depan dari motor akan menerima stress lebih karena downforce akan lebih menekan ban dengan aspal sirkuit. Segala jenis friksi baik statis maupun dinamis akan menghasilkan panas/heat. Menurut gas ideal Boyle suhu dan tekanan berbanding lurus, sehingga jika suhu naik maka tekanan ban depan akan naik. Oleh karena itu logis bila rumor yang menyebutkan bahwa saat dimulainya balapan banyak pembalap yang tekanan ban depannya di bawah ambang regulasi.
Yes mereka lakukan ini agar ketika fight nanti, kenaikan suhu yang terjadi dan megakibatkan kenaikan tekanan pada ban tidak akan terlalu membuat ban jadi bermasalah, yang penting ban dengan tekanan yang rendah tersebut tidak terjadi lebih dari setengah jumlah total lap karena regulasi hanya akan melihat pelangaran akan dikenakan hukuman jika dilakukan lebih dari jumlah setengah lap total dalam balapan. Yang penting, saat ban dibutuhkan buat fight nanti, ia tidak berada pada keadaan over-pressure yang menyebabkan grip berkurang karena contact path mengecil.
Oke, itu kalau pembalap jalan sendirian. Pia mengikuti pembalap yang berada di depannya maka cerita akan lain lagi.
Pembalap MotoGP yang sedang melaju di trek secara umum siapa saja akan menghasilkan semacam jalur udara di belakang yang akan sangat bergantung pada jenis dan bentuk aerodinamika dari motor tersebut. Nah, semenjak 2016 memang timbul banyak keluhan dari pembalap ketika mereka ngintilin Ducati bahwa ada sesuatu yang aneh. Bisa jadi itu adalah semacam ‘Dirty Air’ . .
Normalnya di zaman MotoGP tanpa winglet – wingletan, pembalap saat melakukan slipstreaming akan memanfaatkan vakum parsial yang dihasilkan oleh motor di depannya untuk mendapatkan peningkatan kecepatan yang besar. Hal ini sangat penting dan bahkan ekstrimnya dapat memungkinkan pembalap bisa menandingi motor lain ketika mesin mereka kekurangan tenaga kuda sekalipun. Namun saat ini? Luasan daerah dibelakang motor yang dihasilkan motor ber-aerofairing masif di mana memiliki tekanan di bawah tekanan atmosfer (vakum) memiliki area yang sangat luas.
Pembalap yang menemukan dirinya berada di dalam area tersebut dengan tekanan lebih rendah dari atmosfer dengan kecepatan tinggi akan menemukan dirinya dalam masalah besar ketika mengerem. Pembalap yang melakukan slipstreaming dan mengikuti pembalap lain, dibelakang akan mendapati besaran downforce yang dihasilkan aerofairing dari motornya sendiri akan berkurang. Ini jelas akan membuatnya jadi bingung untuk menentukan di mana titik pengereman dan titik untuk melakukan akselerasi untuk menyalip.
Sebagai gambaran adalah ketika Alex Rins masuk gravel trap. Ia bingung karena mendapati kinerja pengereman GSX-RR nya berbeda ketika mengerem di belakang pembalap Ducati (feeling pengereman lebih buruk) dibandingkan ketika dalam posisi sendirian. Yes ketika ia sendirian, segala proses pengereman dilakukan Rins dalam protokol ideal dimana motor memiliki downforce yang terukur, engine-brake yang terukur dan lain-lain . .
Ketika di belakang motor lain, terutama Ducati? Fix buyaaar sob!!! Butuh strategi lain seperti melakukan pengereman lebih awal. Atau seperti kata Marc Marquez, overtaking harus dilakukan lebih agresif dan meninggalkan segala norma norma overtaking yang textbook dan mainstream.
http://app-okeefe.jfo7syl77y-pxr4kzxnv4gn.p.temp-site.link/2021/07/16/tech-talk-intip-desain-mobil-f1-2022-makin-close-racing/
Harap dicatat itu baru soal dirty air, belum lagi soal panas yang diterima ketika pembalap berada di belakang pembalap lain. Panas berlebih akan membuat kinerja ban menurun, kinerja pengereman pun bisa saja turun. Formula 1 2022 terlihat bisa menjadi cermin bagaimana regulator benar-benar mengerti konsep aerodinamika yang benar sehingga mereka bisa meformulasikan regulasi yang adil, tetap bisa membuat F1 tampil sebagai ajang close racing tanpa membuang perangkat aerodinamika. Win win solution . . . ! !
Balik lagi semua ini dimulai oleh maunya Dorna untuk bisa lebih mengendalikan balapan saat mengenalkan ‘underrated’ Unified Software. Dona mungkin tidak berfikir bahwa mereka seperti menyalakan api kecil dalam sekam saat itu. Dorna yang mulai, Dorna pula yang harus cari solusi (?)
Taufik of Buitenzorg | @tmcblog



Semua berawal dari ecu pirelli, diperparah sama ban ngeselin
udah,hapus winglet saja, banned total..
kalau mau tetep pakai winglet,itu ECU dibebasin lah kya dulu..
berani gak Ducati hahaha
wkwkwk…anak angkatan baru nih pada kaga tau ada yg namanya ECU pirelli
Masuk akal si wa kenapa sekarang rata2 masalah di ban , mungkin downforce berlebih bikin bannya mudah stress sampe sampe kaya kasus dimandalika , panas berlebih dikit auto kelar ban nya 😅