TMCBLOG.com – Hanya dengan 1 kali menang di 7 laga seri perdana MotoGP 2022, sejauh ini Fabio Quartararo lah sang pemimpin klasemen championship. Ia unggul 8 poin lebih baik dibandingkan dengan Enea Bastianini yang sanggup 3 kali kemenangan seri dan berada di posisi ke tiga championship sementara ini. Sebuah cermin kseperti yang pernah ditunjukan oleh Joan Mir pada musim 2020, namun juga di satu sisi mata uang lainnya merupakan cermin dan jomplangnya performa motor Yamaha M1 secara pembalap Yamaha lainnya benar-benar tampil ‘berantakan’. Franco Morbidelli berada di peringkat 17 dengan perbedaan 83 poin dari Fabio di puncak klasemen. Dovi? Darryn? Ya lebih buruk lagi . . . Namun apakah ini artinya Yamaha M1 2022 sudah menjadi motor yang Fabio-sentris?

Yaaaa karena yang tiga lainnya struggle sementara Fabio sering berada di depan. Logis kiranya jika ada yang menilai M1 terlalu Fabio-sentris. Namun untuk sementara ini TMCBlog tidak mau ke arah sana dulu karena sejatinya, sampai pada seri ke 7 ini Fabio sendiri masih bolak-balik mengeluhkan minimal satu poin kekurangan dari Yamah M1 yakni pada  top-end power yang dari sini menunjukan bahwa sebenarnya motor empat silinder segaris ini nggak 100% Fabio banget.

Namun, ya dengan segala talenta dan gaya balapnya yang unik dan sulit untuk direplikasi oleh Dovi, Morbidelli dan Darryn. Buat TMCBlog terasa dejavu banget bahwa sepertinya Fabio saat ini memiliki kondisi atau posisi yang mirip dengan Marc Marquez di masa fit-nya. Jadi ini tuh menurut kami bukan masalah pada motornya yang sesuai atau disesuaikan dengan gaya balap Fabio, melainkan Fabio Quartararo-lah yang memiliki kemampuan lebih atau kapabilitas mumpuni untuk bisa menutupi kekurangan dari Yamah M1 dengan cara memaksimalkan semua keunggulannya terutama di area speed-corner.

Dan parahnya, apa yang dipertunjukan oleh Quartararo saat ini tuh benar-benar karakter personal yang sulit untuk bisa direplikasi oleh 3 pembalap Yamaha lain hanya dengan modal melihat grafik-grafik telemetri, tentukan di mana titik mengerem, bagaimana cara tarik gas, seberapa miring motor harus dibawa sehingga menghasilkan efek sentripetal tertentu.

Marc Marquez 2022 ini? Selain ia tidak berada di papan atas klasemen, mungkin sebenarnya masih apa yang terjadi di Marc masih sama. Dengan segala talentanya Marc juga berhasil menutupi apa kelemahan dari RC213V. Tahun 2021 Marc berhasil menunjukan bahwa bahkan dengan kondisi yang baru banget pulih dari cedera ia bisa memenangkan balapan beberapa kali. Tahun ini bahkan menurut kami, kredit musti jauh lebih banyak diberikan ke Marc soal bagaimana talentanya bisa menutupi motor yang tidak dibuat untuknya lagi. Ehh literally sebenarnya nggak juga buat Pol, Taka maupun adiknya juga sih . . Jadi ini RC213V 2022 sebenarnya didesain oleh team di Asaka buat siapa?

Balik lagi di 2022, kita musti re-call kepulihan cedera lengan kanan Marc masih belum 100% fit ditambah lagi dengan motor yang berpindah filosofi CoGnya jadi ke arah ban belakang namun Marc tetap bisa menjadi Honda terdepan yakni posisi 10 di klasemen dan . . . selagi ia tampil dan finish, Marc minimal membawa point 10 lho. Bisa dibilang 2022 ini bicara pembalap yang memiliki talenta serta kecerdasan yang dapat ‘menutupi’ kekurangan motor itu bukan hanya Marc doang, Fabio Quartararo jelas banget masuk di dalam list.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

46 COMMENTS

    • Yg aneh malah Morbi, sebelumnya ok diatas M1, kenapa dg tahun ini…
      Kalau Dovi maklum, mungkin karena usia, lama cuti dan perpindahan dr mesin V4
      Kalau Daryn maklum, rookie

    • menurut ane faktor yg paling mempengaruhi adalah karena udah ga ditukangi Ramona for cada,dia jadi hilang arah gak tahu gimana menaklukkan M1 karena Ramona yg pernah pegang lord M1

      • Saya setuju bro centenario…hanya forcada yang tahu setup buat butter hammer style ala Lorenzo. Dikasi ke morbidelli. Bahkan mimin pernah komen di IG yamaha motogp biar morbido diduetkan lagi dengan forcada klo mau dia kencang

      • Kalau motornya gak ada perubahan, ya tinggal bawa aja tu motor kaya waktu ama forcada. Gitu aja kok repot

  1. Jelas banget…
    Diakui saja kalau memang MM93 & Quartararo itu skill-,nya mampu menutupi atau meminimalisir kelemahan motornya dan di lain sisi masih bisa mengoptimalkan kemampuan motornya yg saat ini masih dirasa inferior.

    Saat ini, jika kondisi sirkuit tidak sedang fit (gerimis, hujan, dll), terbukti MM93 masih bisa bersaing untuk podium dan bahkan juara, karena pembalap lain tidak bisa memaksimalkan 100% kemampuan motornya.

  2. kalau dilihat dari pembalap yamaha yang strunggle,, jika dengan mesin yang kurangpower saja tetap kesulitan,, kenapa yamaha tidak berfikir ingin mencoba menambah power juga, lagian juga kan akan tetap sama kesusahan dengan ada power dan kurang power, jaditinggal pembalapnya yang tinggal perlu cari setelah dan menentukan gaya balap agar bisa klik dengan motor….

  3. Beberapa taon yg lalu, kira2 jaman Lorenzo masih di Yamaha,,, Yamaha terkenal sbg motor yg ramah rookie, tapi ramah dalam artian papan tengah. Rookie bisa bawa itu motor dgn mudah di papan tengah, tapi butuh bakat istimewa utk bawa ke pucuk klasemen. Ditambah Yamaha kayanya masih belon update gede2an, karakter pasti ga byk berubah, maka jelas Quartararo diatas pembalap Yamaha laen yg artinya Quartararo emg bagus aja, sesimpel itu sih wkwkwk

    • bahkan Syahrin yg yaaah (bukannya mengecilkan talentanya) pembalap yg terpaksa dipanggil gegara Folger sakit-sakitan paling ga bisa berebut rookie oty loh dulu

      entah motor lain yg meningkat pesat,atau talent Yamaha selain fabio yg sekarang yg pada ampas

  4. Dorna terlihat sedang membuat pabrikan non jepang berjaya.
    dari aturan penyeragaman ecu. tidak dilarang nya winglet dan masih banyak lagi. Semata mata agar pabrikan non jepang berjaya.
    ya memang harus di akui agar motogp tidak hanya pabrikan jepang saja yang menang. Tapi dengan kepintaran pabrikan jepang masih jadi juara dunia.

    MotoGP saat ini sudah terlihat membosankan. Harus diakui WSBK lebih menyuguhkan balapan yang sesungguhnya.

  5. Motor terkuat yamaha menurut saya ada di 2016, dimana 2 pembalap factory berebut titel. Inget juga duel JL vs MM Mugello
    yg epic di tahun itu. Yamaha sejak ditinggal JL jadi hilang arah. Gak ada lagi rider developer. Satunya i don’t know, satunya gelar doctor tapi gk bisa ngobati.

    Sebelum Taro ada juga Zarco yg oke bawa M1, tapi di php buat masuk factory. Beruntung yamaha dapet Taro yg moncer dgn srt, kebalikannya srt dpt pembalap sisaan. Taro dgn talentanya melengkapi kelemahan M1, sama halnya MM dgn RCV.

    • Wkwkwk lah justru karna king JO, M1 cuman bisa menang klo dibawa ngacir diawal. buat duel apalagi saat basah ya wassalam.

    • Loh kok bawa2 si mbah..
      Doi msh finish top 3 klasemen di 2018 dgn motor yg inferior dan usia yg udah over tuanya. 2019-2021 gausah dianggap lagi, udh masuk usia harus pensiun, ga mungkin bisa ngobatin M1 yg se-inferior itu.
      Bisa dicek musim ini, rider yamaha selain fabio gada yg lebih baik dr Rossi waktu doi pensiun.

  6. sepemikiran dgn wak haji,
    kalo emg M1 itu Fabio sentris mungkin udah dr awal musim permintaan doi soal top speed dikabulkan, Yamaha pasti paham akan lemahnya top speed M1 soalnya dr zaman mbah masih ada di tim keluhan ini udah terdengar, tapi mungkin setelah melalui bbrp tes M1 yg top speed nya lebih tinggi performa keseluruhannya tidak lebih baik dr M1 yg top speednya lebih rendah,
    dan kebetulan Fabio masih terbukti kencang dgn M1 menambah keyakinan Yaamha utk tidak menambahkan top speed meskipun si ridernya sendiri udah misuh2 soal top speed, padahal Fabio bisa kencang juga krn selain skillnya juga krn dia selalu berkendara di batas limit,
    mungkin pilihan Yaamha skrg berusaha mencari talenta lain yg setara Fabio, Lorenzo atau Rossi drpd harus mengutak-atik motornya,

    • Nurutku bukan karena jl juga sih..

      Karena perubahan supplier ban, ecu.. dan adanya winglet yg membuat mesin v4 lebih punya banyak grip,,lebih gampang menikung terutama ducati

  7. Saya rasa bukan Quartararo sentris,klo pembalap bagus semua digrid adalah pembalap kelas atas. Ibaratnya gaya fabio selaras dengan mesin i4 yang mengalir ala butter hammernya lorenzo. Morbidelli mungkin selain cedera juga butuh setup dari ramon forcada yang mengerti gayanya. Sedangkan dovi msh k3ntal gaya v4 dan darryn yang masih rookie masih penyesuain. Yamaha mesti cari pembalap macam duo suzuki,marini dan mantan vr46 academy yang lama berlatih dwngan mesin i4 di tavuila.

  8. Pernah baca, vale bilang bahwa enginer yam selalu mendengar para ridernya, namun kemudian berbuat sesuka hatinya.
    Trus kalo melihat cara duc n hon mendevelop motor, imo… gak jauh beda
    Para enginer tersebut berusaha menerjemahkan masukan dr rider mejadi wujud sebuah motor
    Masalahnya (diluar masalah prioritas) seberapa dekat mindset enginer-rider
    Selain itu juga terkadang ada “ego” dr enginer dalam pengembangan (kl gak salah pernah dibuat artikelnya)
    2 hal tsb yg membuat ketidak cocokan dgn tuntutan rider

  9. Kalau tidak asa yang berubah dari M1 wak, kemana Franco yang sempet moncer tahun2 lalu? Apa iya cuma karna pernah cedera ga berani gaspoll lagi? Kalau emang gak bernyali lagi mendibg kasi seat ke yang kebih layak ketimbang jadi badut sirkus

  10. Kalau diblihat memang karena Fabionya, tapi pembalap yang lain jg memang sudah mentok skillnya, karena sekarang selisih 1 detik posisi di belakang. MotoGP sekarang terlalu menuntut sempurna, kalau gak start di depan ya gak menang, start gak bagus gak menang, karena di belakang ban kepanasan. Dan saat ini Ducati terlalu sempurna, motor lain jadi terlihat inferior. Di Honda ketolong ada MM, di Yamaha ada Fabio. Kalau mau gampang di depan naik Ducati lah, kalau naik Ducati belum di depan ya berarti pembalap itu kemampuannya segitu, karena gak mgkn semua pembalap punya kemampuan sama semua.

  11. Sudah gamblang sebagaimana pelajaran waktu sd dahulu… Survival of the fitest. Yang adaptif yg bertahan… Mau di papan atas, papan tengah ataupun balikpapan.

  12. dengan kata lain, motor m1 dan rcv tahun ini inferior dibandingkan desmo, gsx dan rc ?

    cm beruntung punya f4 dan marc ?

  13. Darren Binder balapan atau ngapain sih…
    Kalau gue sih dulu RNF mending mempertimbangkan buat kontrak Leucona dibandingkan si Darryn tukang sunmori ini…
    Balapan kok finish di belakang Mulu… Rookie kualitas ampas, juara di junior gak ada, tiba-tiba loncat ke MotoGp ya jelas kebanting skillnya, lha wong si Darryn ini saya yakin kalau masuk WSBK tetep bakalan sunmori finish terakhir…

    • dan kalo lecuona pake motor yg lebih siap kayak R1,zx krt,v4r ane yakin bisa lebih baik dr locateli,dan tahun depannya bisa dipastikan jadi title contender jg

    • Umur udah 24 tahun, cuma pernah menang 1x, sepanjang karir cuma berhasil 1x menang dan 6x podium…
      Leucona juga gak pernah menang sih tapi di junior karirnya 😂

  14. selain fabio yg skillnya bagus, ada andil kepala mekaniknya yg juga jago
    begitu juga dengan frangky, selain habis cidera lutut, dia akan lebih bisa maksimalin motor kalau di duetin lagi sama Forcada

  15. Kang Taufik, mungkin akan lebih bagus kalau data laptime Morbi di 2 sirkuit d bandingkan dr tahun 2019, 2021, 2022. 2 sirkuit ini mana pencapaian terbaiknya baru dbandingkan dri tahun ke tahun. Mungkin nanti bs jd kesimpulan apakah Morbinya sebenarnya kecepatannya sama tp musuh makin kencang, atau mmg struggle dengan motornya

  16. Menurut saya sih yamaha m1 memang khususon fabio, dulu dimasa rossi-lorenzo ditim pabrikan dan zarco-syahrin empat pembalap tsb bisa kompetitif, zarco sering ada di lima besar ditiap race bahkan syahrin bisa bersaing di 10 besar

  17. Sama kayak honda dulu. Bukan marq sentris tp marq nya yg bagus. Dan fans sebelah bilang dia menang karna motor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.