TMCBLOG.com – CEO Aprilia Racing, Massimo Rivola berbicara cukup blak-blakan kepada Speedweek akhir-akhir ini, ada banyak yang ia informasikan di mana sebelumnya mungkin bisa dianggap tabu dan ditutupi. Yang pertama adalah soal peningkatan support insinyur yang memperkuat laboratorium riset berjalan Aprilia selama beberapa tahun terakhir. Rivola mengaku dalam 2-3 tahun terakhir Aprilia banyak merekrut insinyur baru dari berbagai disiplin balap baik itu roda empat (Formula 1) maupun roda dua (MotoGP) seperti misalnya Paolo Biasio, Elena De Cia, Stefano Romeo dan Marco de Luca ke Aprilia pada tahun 2020.

Informasi ini tidak dinafikan oleh Rivola; “Benar. Ya, Stefano Romeo juga datang, dia adalah sosok kunci lainnya. Michele Fantini telah memperkuat kami di departemen elektronik. Kami juga telah berkembang dalam pengembangan mesin. Dengan cara ini kami dapat membangun banyak kompetensi. Untuk tahun ini kami telah merekrut ahli lain dari Suzuki. Kami tim yang lebih baik sekarang; tidak ada keraguan tentang itu. Struktur kami telah meningkat.”

Tahun depan 2023 Aprilia akan memiliki team satelit setelah RNF Racing resmi menyatakan akan menyeberang ke sisi mereka dari Yamaha. Mengenai pembalapnya, Rivola diminta mengonfirmasi mengenai apakah dua pembalap di RNF Aprilia 2023 nanti dikontrak oleh pabrikan (Aprilia) dan jawaban Rivola adalah “Ya, ya, dan karena semuanya baru serta (karena) kami tidak ingin membuat kesan buruk dengan tim pelanggan, ini masalah yang rumit.”

“Kami tidak ingin meregangkan anggaran terlalu banyak. Bagi kami, tim pelanggan adalah kesempatan untuk memperkuat perusahaan. Kami dapat mempekerjakan pekerja baru dan mendapatkan lebih banyak sepeda motor di grid. Kami akan mendapatkan lebih banyak data dan memiliki lebih banyak insinyur yang menganalisis data.”

Penambahan dua pembalap akan membuat Aprilia lebih kuat dalam pencarian poin konstruktor (pabrikan/manufakur). Namun melihat kondisi seperti saat ini di mana jumlah pembalap masing-masing pabrikan bisa sangat ‘jomplang’ , Rivola mengangap juara manufaktur tidaklah terlalu penting.

“Dari ketiga kejuaraan tersebut (juara dunia pembalap, manufaktur/konstruktor, team), gelar konstruktor adalah yang paling tidak dibutuhkan. Dan ketika delapan Ducati melawan dua Aprilia dan dua Suzuki seperti saat ini, kejuaraan ini (konstruktor) tidak terlalu berarti. Kejuaraan dunia tim lebih berharga. Karena klasemen kejuaraan ini mencerminkan performa kedua pembalap yang anda gunakan di tim pabrikan.”

Taufik of BuitenZorg | @tmcblg

32 COMMENTS

    • Dan yg menjadi sosok yg paling utama atas moncernya RSGP tsb adalah Aleix Espargaro pastinya 😇😇

      • Sepintas sih emg gitu, klo ga liat ato pura2 ga liat statistik dia disana udh berapa taon dan apa yg dia perbuat selama ini yg bisa dibilang stagnan. Jujur aja gw awalnya malah lebih ga suka Iannone terutama attitude dia di Suzuki, tapi gw ga mau munafik dan menafikan fakta klo RSGP next gen aka RSGP generasi 2020 ampe skrg mau dibolak balik faktanya ato ditutupin pake kepongahan Espargaro, tetep itu RSGP generasi baru berdasar cacian, keluhan, dan bocoran dari Iannone. Gw masih tetep ga suka Iannone, tapi ngeliat dia dihukum 4 taon utk kasus sepele kemudian bikin motor yg dia kembangin hanya dalam beberapa bulan tp jreng di pramusim 2020 udh keliatan arahnya bener seolah diakuin hasil kerja keras rider yg dinegaranya sendiri dikatain medioker, agak kesian ke dia sih. Lebih ke, okelah Iannone emg bad attitude, lebih mirip preman klo ke jurnalis/fans yg dapet paddock pass, tapi ga adil aja. Aleix Espargaro ga lebih cuma penjaga kebon duren yg kejatohan duren mateng hasil rawatan petani baru tapi udh bisa hasilin duren yg lumayan setelah sebelonnya itu kebon gersang bertaon2.

        • sebenarnya dr pihak Aprilia yg rela menunggu keputusan kasus Iannone aja udh menunjukkan kalo Iannone ini punya tempat khusus di Aprilia,

        • Inputan Iannone bisa jadi emg pondasi dari kegemilangan RS-GP saat ini. Dengan modal pengalaman naik Desmo era Gigi yg hampir sempurna, kemudian dilanjut naik GSX-R yg sedang dalam tahap berkembang, CV-nya cukup mentereng untuk dijadikan rider acuan alih-alih Aesp yg nasibnya ga semujur Ian.

          Dua-duanya memang sama2 pernah naik Desmo dan GSX, tapi jeda antara Desmo ke RSGP dalam sudut pandang Iannone jauh lebih singkat dibanding Aesp. Belum lagi ngomongin perbedaan Desmo jaman keduanya amat sangat beda nyata. Yg satu pake frame monocoque, satu lagi udah twinspar.

          So, threshold Iannone tentu saja jauh lebih peka dibanding Aesp jika keduanya sama-sama menjadikan Desmo sebagai kiblat development.

          Tapi, suka tidak suka faktanya Aesp punya peran di pengembangan selanjutnya. Batu pertama sudah diletakkan oleh Ian, tapi struktur tiang dan dindingnya Aesp mengikuti perkembangan setiap inchi-nya.
          Ian sudah membuktikan di Phillip Island, tapi tetep yg bisa ngasih kemenangan pertama adalah Aesp.
          Dia layak mendapatkan kredit.

        • Inputan Iannone bisa jadi emg pondasi dari kegemilangan RS-GP saat ini. Dengan modal pengalaman naik Desmo era Gigi yg hampir sempurna, kemudian dilanjut naik GSX-R yg sedang dalam tahap berkembang, CV-nya cukup mentereng untuk dijadikan rider acuan alih-alih Aesp yg nasibnya ga semujur Ian.

          Dua-duanya memang sama2 pernah naik Desmo dan GSX, tapi jeda antara Desmo ke RSGP dalam sudut pandang Iannone jauh lebih singkat dibanding Aesp. Belum lagi ngomongin perbedaan Desmo jaman keduanya amat sangat beda nyata. Yg satu pake frame monocoque, satu lagi udah twinspar.

          So, threshold Iannone tentu saja jauh lebih peka dibanding Aesp jika keduanya sama-sama menjadikan Desmo sebagai kiblat development.

          Tapi, suka tidak suka faktanya Aesp punya peran di pengembangan selanjutnya. Batu pertama sudah diletakkan oleh Ian, tapi struktur tiang dan dindingnya Aesp mengikuti perkembangan setiap inchi-nya.
          Ian sudah membuktikan di Phillip Island, tapi tetep yg bisa ngasih kemenangan pertama adalah Aesp.
          Dia layak mendapatkan kredit.

        • Iannone jadi pembalap developer aja, jangan jadi pembalap reguler. Terlalu sering bikin onar. Di suzuki pun juga sama, innone sering melakukan hal hal konyol.
          Saat off season, pembalap lain pada operasi servis tulang, si iannone malah operasi permak muka. 🤣

        • Klo lu liat kebelakang, terlebih jaman dimana Aleix Espargaro ga kepake ama timnya (dibuang) di 250cc kayanya lu bakal setuju ama gw bahwa Espargaro cuma kejatohan duren. Belon keitung dibuang Pramac jg, hampir turun kelas ato gantung helm tapi beruntung ada Aspar ART rekrut dia. Dari belasan taon dia di motogp bahkan ampe detik ini, ga ada momen dia dipertahanin timnya murni krn bakat. Klo ga krn ditampung di tim kecil, ya krn tim dia ga dapet pembalap semurah dia aja. Baru di Aprilia ini dia digaji gede, pun faktor ga ada pembalap baru yg mau naek Aprilia dan cuma dia yg baru bisa maksimalin RSGP next gen krn pembalap yg lebih berbakat dari dia masih belajar ngehandle V4.

    • Sebenernya itu udh rahasia umum sih, berapa kali tuh Yamaha ama Honda gagal jurdun pembalap tapi malah juara konstruktor, tapi tetep yg mereka kejar gelar pembalap ampe berani bayar mahal rider masing2 biar ga loncat pagar. Ducati aja yg sukanya ngeles, gagal jurdun pembalap kemudian ngeles motor mereka hebat krn jurdun konstruktor.

      • Tapi jujur ga bisa dipungkiri sih, motor ducati sekarang adalah motor yg paling menjanjikan di grid. Tinggal ridernya aja lagi sanggup atau ga raih jurdun.

  1. Bukan salah ducati bisa pake 8 pembalap, suzuki sama april kan tahun kemarin memang belum bisa bikin tim satelit

  2. saya setuju sekali dgn anda mister Rivola,
    buat Ducati ini jadi hal yg serba salah sebenarnya, dapat juara konstruktor bakalan dibilang ga ada artinya krn ga imbang, tapi kalo ga dpt juara konstruktor juga kebangetan krn udh make 8 motor,

  3. yah bagi raviola gak berarti karena A masih konsesi mau juara gak juara kontruktor gak ada artinya dimata orang lain, orang² pasti beranggap juara kontruktor A karena status konsesi. kalo untuk duc ya wajar gak berarti karena punya tim + rider terbanyak dan juga motor paling friendly se grid motogp, coba seandainya semua tim dengan kondisi yg sama ( jumlah rider + status non konsesi ) bakal beda cerita lagi.

  4. omongan Rivola sepertinya bikin panas pihak ducati🤭
    apalagi klo di akhir kejuaraan aprilia bisa bisa selesai di depan ducati sepertinya bisa makin panas aja ducati, sepanas bibir yg kena oles boncabe level 30 😆

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.