TMCBLOG.com – Sebenarnya apa yang dilakukan Gigi Dall Igna di Ducati tidak se-Instant yang diperlihatkan oleh Suzuki. Suzuki hadir kembali Di MotoGP 2015 dan 5 tahun kemudian di tahun 2020 mereka berhasil merebut Gelar Juara dunia Melalui Joan Mir. Gigi Dall’Igna Datang ke ducati Tahun 2013 dan Baru 9 tahun berikutnya Berhasil meraih gelar Juara dunia Via Pecco Bagnaia. Lebih cepat Suzuki, namun banyak pendapat bahwa Walau Dall’Igna lebih lambat, namun Proses dan hasilnyanya diyakini akan jauh lebih Langgeng. Ducati telah Bertransformasi dari Motor yang punya karakter seperti ‘celeng’, maunya lurus doang, nggak bisa belok , menjadi  Motor terbaik di grid Start motoGP, Motor paling mudah dikendalikan Oleh rookie dan tentunya jadi Motor yang sangat diinginkan Oleh setiap pembalap Grand Prix. Dall’Igna Bukan hanya seorang teknisi handal, Ia juga seorang Organisator hebat. Salah satu Buktinya adalah Saat ini 90% SDM Ducati Corse adalah Orang orang yang ia temui kala bergabung di tahun 2013. Yes, Dall’Igna berhasil menyusun puzzle yang berantakan tanpa harus membuang dan menganti Puzzle secara keseluruhan. Dan kali ini ia berbicara dengan GPOne mengenai Ducati dan pembalapnya yang baru saja memeneangkan kembali gelar Juara dunia MotoGP yang hilang semenjak 15 tahun yang lalu, Pecco Bagnaia.

Tanya : Anda bergabung dengan Ducati pada akhir tahun 2013 untuk menang di MotoGP, apakah ada saat di mana Anda takut tidak akan berhasil?

Dall”igna : “Jika kita perhatikan lebih dekat, Desmosedici pertama, GP15 tidak buruk, kami finis ke-2 dan ke-3 di GP pertama tahun 2015 ini. Di 2016 kami memenangkan balapan pertama, di 2017 kami berjuang untuk gelar hingga yang terakhir melawan Marquez.

2018 dan 2019 bukan tahun yang luar biasa, tetapi kami memiliki banyak kemenangan bersama Jorge dan Dovi, pada tahun 2021 kami finis kedua di kejuaraan lagi. Untuk menjawab pertanyaan: jujur ​​tidak ( takut akan gagal) . Saya selalu berpikir itu hanya masalah waktu karena Ducati bermain untuk posisi yang telah dihitung selama bertahun-tahun”.

Tanya : Apa yang membuat Bagnaia berbeda dari Lorenzo dan Dovizioso?

Dall’Igna “Pecco adalah pemenang serial bahkan lebih dari dua lainnya. Dia memenangkan balapan pertamanya di Aragon tahun lalu dan sejak saat itu dia memenangkannya hari ini. Dia adalah pembalap luar biasa yang akan memberi kami banyak kepuasan ”

Tanya : Kapan Anda memahami Spesialnya Pecco?

Dall’Igna : “Ketika dia di Moto3 mengendarai Mahindra, yang tentu saja bukan motor terbaik, dan dia selalu menang dan mencoba: itu karakter yang tidak dimiliki semua orang. Sebagian besar pilot mengalami depresi pada waktu-waktu tertentu, kehilangan arah dan tidak mungkin mendapatkan apa pun di rumah. Mereka yang, di sisi lain, bahkan dengan kendaraan yang lebih rendah, mencoba dan berhasil, seperti Lorenzo, adalah orang-orang yang dapat bersaing memperebutkan gelar ”.

Tanya : Anda menyebut Lorenzo, apakah Bagnaia mengingatkan Anda akan dia?

“Jujur, ya, juga untuk karakter mereka: mereka selalu berusaha. Saya ingat saat-saat bersama Lorenzo di Derbi, kami tentu saja tidak memiliki motor terbaik, namun dia memenangkan balapan dan terkadang mendominasi mereka. Jelas bahwa dia mengeluh dan menginginkan lebih, semua pembalap menginginkannya, tapi bukan itu masalahnya. Bahkan teknisi didorong maju oleh pengendara, tetapi ketika dia keluar di trek Anda harus mencoba, itulah yang membuat perbedaan”.

Tanya : Apakah Ducati yang membuat sepeda motor Khusus untuk Bagnaia atau Bagnaia yang membuat Ducati jadi miliknya ?

Dall’Igna : “Saya selalu mendengarkan semua pembalap saya, di SBK saya juga mendengar Biaggi, Camier karena jika saya memecahkan masalah dengan motor yang hanya dimiliki Leon, pada akhirnya Max juga akan melaju lebih cepat. motor yang lebih baik untuk semua pengendara,” terkadang berhasil, terkadang tidak. Masalah dengan motor bisa dilihat saat pengendara mengendarainya”.

Tanya : Semuanya berakhir dengan baik, tetapi di awal musim Bagnaia telah melakukan beberapa kesalahan dan mungkin Anda juga para teknisi, dengan GP22 yang tidak lahir dengan baik.

Dall’Igna : “Masalahnya dalam beberapa tahun terakhir, dengan cara kejuaraan diselenggarakan, sangat sedikit waktu untuk tes dengan para pebalap. Ada dua tes sebelum kejuaraan dan satu setelah balapan terakhir yang bisa berbahaya karena pembalap tidak fokus. Jadi keputusan yang Anda buat pada kesempatan itu bisa menjadi kesalahan yang dapat menyesatkan Anda, saya pikir itulah yang terjadi. Tapi kami tahu seperti apa motor yang memenangkan balapan pertama (GP21 dengan Bastianini ) dan kami bekerja untuk kembali ke langkah-langkah yang kami yakini salah ”.

Tanya : Anda memiliki tujuan lain yang bisa Anda capai akhir pekan ini: gelar SBK bersama Alvaro Bautista.

Dall’Igna : “Bahkan, setelah tes di sini di Valencia, dia akan pergi ke Mandalika. Saya tahu upaya yang dilakukan semua orang yang bekerja untuk saya, termasuk para pebalap, dan tidak pergi ke balapan yang begitu penting akan tampak seperti kurangnya rasa hormat terhadap mereka dan memang benar saya ada di sana ”.

63 COMMENTS

  1. Desmo itu mulai bisa ‘belok’ tahun 2016 (GP16), trus berangsur-angsur membaik kemampuan beloknya sampai GP22 nya Pecco. Walaupun cornering speednya masih sedikit di bawah RCV, GSX, apalagi M1, tapi stabilitasnya pas belok itu di atas ketiga motor yang aku sebut. Pengeremannya juga super stabil. Itu yang bikin Desmo sekarang mudah dikendarai rookie sekalipun, yup stabil alias nggak godek, nggak ngangkat-ngangkat macam RX King liaran spek 402 meter.

    just my ‘sotoy’ opinion

      • Di buku peraturan teknis MotoGP gak ada pelarangan pakai mass damper dan di pasal lain juga gak ada peraturan yang melarang pemakaian parts dengan harga tertentu.
        Jadi selama gak dilarang maka dipersilahkan.

        Sekarang pertanyaannya cuma mau sampe kapan dibolehkan? Kabarnya alasan penyeragaman ECU selain untuk mewujudkan level kompetisi yang merata juga untuk mereduksi pengeluaran dana riset pabrikan / operasional team.

        • Nah tapi Om, kalau koridor pengembangannya semua peserta disamain, kita gabisa ngelihat inovasi inovasi baru “khas” dengan nama prototype dong ?

        • @RichardGN Kayaknya asik sih semisal FIM nerapin Budget Cap rules di MotoGP ala ala gaweannya FIA di Formula 1.
          Dengan syarat ECU balik bebas dan kalo masih suka winglet-winglet an juga monggo.
          Jadinya parbrikan bisa milih strategi kenceng dengan pake elektronik bisa . . , mau kenceng pake cara avatar Aang juga bisa. Selama anggaran riset gak melebihi batas yang ditentukan.

          Kalo itu terjadi, kira2 apa plus minus nya?

        • nah ini setuju saya,yg penting anggaran apa saja yg akan masuk di penghitungan nanti jelas banget,jangan sampe gara gara gak jelas, malah pegawainya jadi gak makan/gak dapat uang lembur karena takut kejadian kayak RBRT,jadi romusha entar wkwkwk

        • Kalo regulasinya masih seperti ini berarti gak bisa di sebut penghematan. Karena di satu sisi di batasi biar hemat tapi sisi lainnya malah di biarkan jorjoran dana gak terbatas. Kyaknya emang ada niatan untuk memihak pabrikan eropa biar juara dan menekan pabrikan jepang biar gak bisa berkembang

        • Agak kaget masih ada yg inget unified ECU yg mengebiri pabrikan Jepang, dan mempermudah Ducati juara dunia
          Hampir di semua media saat ini tidak ada yg menyebutkan kecurangan yg legal Ducati dan Dorna saat Ducati juara dunia

        • ” Kecurangan yang legal “??

          Well, sejauh ini Ducati gak ada mencurangi peraturan apapun. Mungkin lebih tepat kalau menggunakan frase “dipermudah regulasi” ..

        • @nugie : Berkaca dari cara pelaku kriminal ngelakuin money laundrying, saya agak yakin kalau itu rawan “diakalin” Om wkwkw, apalagi perkara biaya jasa.

          misalnya gaji mekanik/tim riset kepentok di 10 ribu nih, karna harga hardware susah diakali vendor. Yauda alokasiin aja 10 ribu. Kalau biaya aslinya 30 ribu, tinggal transfer sisa 20ribu nya diamdiam ahaha

    • single ecu namun bikin pabrikan jepang kalangkabut bayar ahli ecu dan biaya riset. mgkn banyakan jepun yg jurdun seh. ngerti saja kite kite…

  2. peran Lorenzo brner2 sgt besar utk Ducati Corse, tentu tanpa mengesampingkan sang empu Gigi, tapi tanpa data berharga Lord, Gigi bakalan tetep stuck, peran rider yg bisa mengerti motor skrg emg bener2 krusial, sempat baca kalo Pecco waktu pertama mencoba adaptasi dgn Desmo kan pakai datanya warisan Lorenzo,

    • menurut gw malah peran ianone yg pondasi awal bikin ducati bagus, dateng lord semakin mempermudah develop ducati bisa belok.

    • tapi waktu itu stoner masih jadi bagian ducati test rider, dia merasa kayak gak di hargai hasil inputan motor dari si kura kura boy ini, stoner sudah tidak ingin jadi test rider ducati lagi

      • kalau ngikutin inputan dari stoner, ducita masih saja jadi motor celeng soalnya gaya berkendara kuri² boy extra ordinary, susah ditiru oleh rider lain

  3. kok gak ditanya knapa pake mass damper di saladbox. kan di F1 dilarang. 21k harganya. dan ini yg bikin motor slalu stabil kan.

    • di motogp ga ada larangan…siapapun boleh nyoba! ini sama dgn winglet semua awalnya protes akhirnya ngikut juga!
      masalahnya lu mampu nyediain ga bos?

      • gak ada larangan…krn blm ketahuan. trus knapa di F1 dilarang. klo mengurangi budget..bukankah motogp jg maunya kurangin budget sampe single ecu? serius nanya buat yg pro mass damper. itu disembunyiin pke gak pernah dibuka biar kuattt sampe karatan. ujungnya sepandainya menutupi api akan keliatan jg

        • @Mave12ick tolong lah pahami rules dengan benar dan coba mengerti situasi di paddock MotoGP. Siapa bilang belom ketauan? Jelas-jelas Aprilia RSGP dan Honda RC213V pakai mass damper juga, gimana bisa nyebut kalo mass damper “belom ketahuan”???
          Dan orang2 di lingkungan paaddock juga udah tau lama, salah satunya Mat Oxley yang udah nulis artikel taun 2021 soal mass damper Ducati ini.

          Peraturan larangan parts ini itu antara di F1 dan MotoGP gak bisa disamain.
          Sekarang gue balik, sejak 1995 di F1 gak boleh pakai suspensi aktif yang mana pembalap bisa mengatur ketinggian mobil saat melaju di trek saat sesi FP hingga balapan. Di MotoGP masih boleh kan? Tuh liat ride height adjusters dan holeshit devices.

          Kalo di F1 mass damper dilarang ya udah gak ada masalah dan sangkut paut sama MotoGP juga 😆
          Gitu doang kok rame.

    • ini mulu bahasannya, udah jelas gak dilarang.

      ini kaya di kampung lagi lebaran, ada 1 2 anak yg punya terompet baru disaat mayoritas anak lainnya ga pakai terompet, terus anak yg pakai terompet malah didesak suruh buang aja terompetnya. Lohe

    • menurut saya ini salah satu kelihaian Ducati, mungkin mereka punya team ahli hukum yg pandai mencari celah aturan. Tugas engineer tinggal riset dan membuat apapun yg diperlukan untuk menang, selama tidak dilarang pasti akan dipasang di motornya. Jadi mereka tahu bahwa berbagai macam inovasi tsb tidak akan bisa dituntut bahkan ke pengadilan sekalipun

  4. termasuk orang jenius ini,dia bisa mengkompensasi sasis buatan Italia yg masih kalah walaupun udah nyontek pake twinspar alumunium seperti motor Jepang yg sasisnya pada ciamik dengan sayap dll daripada cuma pusing ngubek2 sasis dan mesin doang yg malah bisa gak selesai2

  5. peran ni ngkong gigi emang mantep dah, dia tau belanja pembalap yg top develop bakal berperan besar meski si pembalap dah pergi, pendapat gw peran ianone sebagai pondasi awal dan di datengkan lord makin memperbagus motor ducati. gak sia² kan gaji lord gede hasilnya motor friendly
    imo

  6. Karena menyebut kesuksesan di tahun 2016, tanpa mengurangi rasa hormat ke Mbah Gigi dan kejeniusannya, sy pikir kesuksesan beliau tetap tak lepas dari peran regulasi (again) unified ECU-software. Yang suka atau tidak suka harus diakui memang mengebiri duo Japanese, Honda dan Yamaha.
    Selanjutnya doi hanyalah jadi sosok cerdik dan opportunist khas engineer yurop yg memanfaatkan segala upaya terutama kelonggaran regulasi aerodinamika untuk menjadikan Ducati racikan bisa sebaik seperti saat ini.

    Dan jika kesuksesannya selama 9 tahun ini disederhanakan dalam sebuah pertanyaan, “apakah kesuksesan Ducati saat ini lebih karena andil Ducatinya yg sukses atau pabrikan lain yg melemah/tak mampu beradaptasi secepat Ducati?” sepertinya jawaban tidak akan sepenuhnya karena kalimat pertama.

  7. Lorenzo memang developer motor yang bagus, saat masih di Yamaha, Rossi balik dari Ducati bisa langsung kenceng dengan motor racikan Lorenzo. Setelah Lorenzo keluar dari Yamaha, M1 jadi kehilangan arah pengembangan. Gaya balap Lorenzo yang netral dan balance jadi buat motor yang mudah di adaptasi semua pembalap. Itu terjadi di Yamaha, waktu jaman Lorenzo dan sekarang pindah ke Ducati.

      • sekarang kayaknya rins yg keliatan hasilnya, pecco dah dapet motor mateng saat masuk ke satelit ducati dulu, fq20 cuma dia yg bisa make motor yamaha, mm93 sama aja cuma dia doang yg bisa make develop dia, mir?? hmm… ntah lah tapi sebelum mir dateng kan rins duluan di suzuki. kalo tes rider gw pegang dp26 dah setaralah sama lord hohe, yah bisa diliat pertarungan jl99 vs mm93 dimasa rookie mm93 gimana enaknya rcv.

        • mm kok agak kurang valid ya klo ngeliat fakta dia paling sering absen, motor inputan Pol, tapi dia yg paling banyak raih poin tahun ini.

          dan zaman pembalap honda lain pada kesusahan pakai motor yg katanya marc sentris, malah lebih banyak yg bisa nyodok ke depan dibanding saat dinahkodai oleh Pol.

  8. ..full seri dgn marc,, atau marc yg perlu full seri..??
    ..rcv is marc style,, sesi 13..14 2x berturut, sesi 16..17..18..19 4x berturut dan hmpr 5x berturut, menyamai doohan jk sesi 20 sukses.. oh tidak beliau cedera dgn rcv marc style..!!
    cedera dgn rcv marc style..?? wuoot
    Ada pepatah.. alien hny dpt dikalahkan diriny sndr.. realitany di scifi alien kalah sm predator.. arnold suasanasegar dll.. atau malah rcv bertransformer jd predator..hhhh
    sesi 23.. rcv marc style vs m1 marc style melawan 8 doekati ala gigi.. URRRA

  9. sekarang motor yang paling bersahabat buat rookie adalah Ducati ya
    bukan Yamaha lagi, fakta berbicara..
    jadi gimana ya kelanjutan ribut-ribut om ALberto (puig) ama Kang Luigi (dalligna) ya?
    seperti apakah duet B2 (Bagnaia-Bastianini) tahun depan?
    gils emang ducati kalau berhasil juga triple crown di WSBK

  10. kunci sukses ducati adalah semua dipaksa ecu pirelli 😜 pas yang lain oleng dia templok sana sini di body motornya biar stabil

  11. Well, respect. Biarpun caranya dengan “memainkan” dan “mencari celah” regulasi, pada akhirnya berbuah manis juga..
    Tapi kalau menurut gw MVP-nya tetap Fabio dan M1. Dengan motor apa adanya masih bisa bertarung sampai akhir. 11-12 lha ya sama Marc, walaupun RCV jadi badut di musim ini, dan sempet AFK beberapa seri, eh malah jadi rider Honda terbaik di musim kemarin..

    Can’t wait for next season!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.