TMCBLOG.com – Secara umum, semenjak WSBK 2022 sampai saat ini kondisi aspal trek dan seluruh infrastruktur pendukung di dalam lintasan dan di luar lintasan Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok NTB bisa TMCBlog konfirmasi jauh lebih baik dibandingkan dengan misalnya pada saat gelaran MotoGP di awal tahun 2022. Di sela-sela gelaran CBR Track Day 2022, TMCBlog berkesempatan menginterview Pak Awallutfi Andhika, Track & Race Control Supervisor MGPA untuk memperoleh informasi utuh ‘A1’ mengenai upgrade apa saja yang telah dilakukan pada sekitaran gelaran WorldSBK yang telah juga sukses diselenggarakan.

default

Banyak sekali yang dijelaskan Pak Dhika kepada TMCBlog dan cukup mengonfirmasi ulang beberapa informasi sebelumnya bahwa secara umum semua bagian badan trek telah mengalami pengaspalan ulang dengan aspal baru. Bukan dilapis ulang, melainkan terlebih dahulu dilakukan pengupasan lapisan aspal lama dan kemudian dilakukan ‘layering’ baru dari aspal yang baru.

Mengenai aspal barunya berdasarkan hasil riset dan juga bantuan dari konsultan Dromo dibawah pimpinan Jarno Zaffanelli secara umum proses mixing-nya tidak banyak berubah, namun kali ini Mandalika menggunakan campuran aspal yang secara umum memiliki tingkat porositas lebih kecil dan kehalusan lebih, namun menurut Pak Dhika tetap memiliki spek tekstur yang sama dengan permukaan aspal sebelumnya untuk tetap menghadirkan kualitas grip yang tak jauh berbeda. Hal ini pun juga TMCBlog rasakan saat dua kali melakukan track day dalam jangka waktu dua pekan berturut-turut di sirkuit Mandalika.

Selain itu juga Pak Dhika menjelaskan bahwa ada beberapa upgrade minor mengenai sudut camber di beberapa tiikungan yang dibuat sedikit lebih miring untuk membuat lebih baik masalah drainase air dan membuat air cepat surut, aspal cepat mengering, tidak terjadi genangan dan tidak terjadi aliran menyilang dari air ketika hujan deras turun. Mandalika juga mengupgrade kerb di beberapa tikungan pada sektor 1 dengan jenis negative kerb Misano yang secara fisik berupa penambahan panjang menjadi 1,5 m dari awalnya hanya 1 meter. Upgrade ini berdasarkan masukan dari mantan Safety Officer FIM Grand Prix -Franco Uncini-.

Mandalika juga mengonfirmasi penggunaan material kerikil baru yang akhirnya diputuskan untuk diambil dari sumber yang lebih dekat yakni Gunung Rinjani sehingga mereka menamakan aspalnya sebagai ‘aspal Rinjani’. Di akhir interview yang juga bisa sobat simak di vlog YouTube kami, Pak Dika tidak menutupi bahwa sirkuit Mandalika sedang dalam proses melakukan Homologasi untuk FIA dengan tujuan ultimate penyelenggaraan Formula 1. Secara umum infrastuktur sudah sangat bagus untuk sirkuit, namun memang ada beberapa masukan dari FIA seperti persiapan penanganan evakuasi mobil yang jelas berbeda dengan motor. Kita lihat saja nanti perkembangannya di tahun 2023 ya sob.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

33 COMMENTS

  1. kalo mau cuan emg harus rambah roda 4. oke lah fans roda 2 dimari bejibun, tapi sepenglihatan gw sekali lagi ini opini gw tanpa justifikasi (monmaap kalo salah ato nyinggung) fans roda 4 kebanyakan kantong tebel. kalo penggemar roda 2 yg kantongnya tebel (beneran tebel bukan pura2 tebel apalagi hasil ngebanting pintu) biasanya pemakai 600cc up dan segmented. sekali lagi, menurut gua lo ya. dari level tersimpel aja, penggemar roda 4 banyak yg gw liat enteng aje keluar kocek buat langganan tv bebayar biar bisa nonton F1 all session, Nascar, Lek Man, WRC, DTM, bahkan Dakkar. apalagi ke Lombok nonton langsung.

    menurut gw malah selaen ngejar homologasi FIA, Mandalika jg kalo bisa rencanain bikin area aspal barang 2 ato 3 hektar buat datengin Formula E jg, kalo event selese itu area aspal bisa jadi arena drag ato expo jg kan.

    • ya gimana yaaa…
      hoby nya cuma mereng-mereng di jalan umum.
      nonton motogpnya di tv terestrial, kalo iklannya kepanjangan misuh-misuh.
      itu aja sesumbarnya sudah bilang “wani perih” 🤣🤣🤣

    • Event internasional bisa dibilang sumber cuan gede, tapi dalam setahun bisa berapa kali? Belum lagi kadang harus setor dana komitmen yg gak kecil ke juragan event tsb. Akhirnya cari partner yg sepaham dan dompet tebel beneran.

      Bijaknya sih tetap merangkul organisasi lokal utk bikin event lokal yg lebih sering (4x setahun misalnya), duitnya mungkin kecil tapi minimal cukup buat nutup operasional sirkuit.

    • imho, kalo mau nyelenggarain F1 kita harus mastiin punya daya jual yg tinggi , biar ga bernasib sama dgn Sepang, krn lagi2 target marketnya orang2 berduit yg bisa dengan mudahnya nonton langsung ke luar negeri,

    • penonton F1 dan MotoGP Indonesia aja berbeda jauh bre…

      simple liat di konten YouTube yang bahas MotoGP dan F1 lebih Monmaap berkelas komentarnya di channel F1, ngobrolin soal highlight race, becandaaan soal pertarungan drivernya juga lebih kelass, dll… lebih kaya informasi daripada MotoGP.

      yaa bener kata tulang lele, Mereka B aja buat bayar TV langganan untuk nonton F1, bukan macam MotoGP yang sibuk nyari link ilegal buat nonton FP, QP, .. gitu di youtube ada yang bahas jalannya FP moto3, Motogp, tetep aja penonton gak kelas..

      gak tau ngapa dah, padahal sama orang Indonesia 😂😂😂

    • Sebenarnya sih bisa bagi Mandalika utk menggelar balap roda 4 seperti F1 karena teorinya sirkuit yg didesain utk balap motor 99% pasti bisa dipakai utk balap mobil, secara balap F1 ga membutuhkan run-off seluas balap motor.

    • Setuju, semakin banyak acara race yang diselenggarakan ya semakin cuan. Apalagi balap roda 4, yang kantongnya lebih tebel, mulai dari F1, formula E, GTworld

  2. lay out mandalika berpotensi mengahdirkan (typo ala wak haji 😉) drs train, kalo dipake buat F1 era turbo hybrid.

    But never say never, Hungangoring aja sampe sekarang masih dipake tuh 😁

  3. 4,3 km untuk formula 1 rasanya terlalu pendek ini sirkuit

    wsbk kemaren saja superpole sudah di 1 menit 30 detikan , motogp bisa jadi lebih cepat 1-2 detik

    bayangkan untuk F1 bisa bisa satu lap hanya sekitar 1 menit 10 – 15 detikan

    • pendek iya juga dan straight kurang panjang sih menurut gw, terutama start finish line nya, makanya emg lebih cocok utk balap motor krn seinget gw ini sirkuit emg ide awalnya utk menyelenggarakan MotoGP, beda dgn Sepang yg dr awal emg utk F1,

    • Kasih chicane baru di beberapa titik udah cukup.

      Sebetulnya ini peluang buat dilirik FIA dan Liberty media, mengingat sekarang2 ini F1 lg ngejar bgt membuka pasar baru yg targetnya usia yg lebih muda. Sampai2 rela (masih kemungkinan) ngorbanin sirkuit legendaris seperti Monaco, Spa, Hungaroring, bahkan Yas Marina yg IMO sirkuit termewah saat ini. Siapa tau pasar Indonesia mau coba digarap.
      Ingat, yg dikejar ga cuma penonton sirkuit, tp lebih dari itu supaya F1 lebih dikenal untuk masa depan demi sustainability bisnis dalam jangka panjang.

  4. jangan ke f1 dulu deh, kepikiran ke penonton gua. apalagi roda 4 body lebih gede jelas menarik, khawatir tar kalo pas motogp penontonnya dikit. saya sebagai gp mania kan jadi sedih hehehee

  5. menurut sya klau buat f1 Paddock Harus d gedein lgi, kempuan Marshal harus benar2 d tingkatkan dan T2 T3 T4 mungkin harus d rubah lumayan bhaya itu bisa sperti Redbull ring Austria Thun 2020, setelah T1 tncap gas menuju t2 tpi tdak dpat bisa langsung nyodok ke t3 t4 dan itu bhya

  6. Setuju, semakin banyak acara race yang diselenggarakan ya semakin cuan. Apalagi balap roda 4, yang kantongnya lebih tebel, mulai dari F1, formula E, GTworld.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.