TMCBLOG.com – Pada umumnya motor bermesin V4 MotoGP Ducati, Honda, Aprilia dan KTM, terkadang kita bisa melihat ada peranti berbentuk kotak khusus yang dihubungkan dengan kabel baja mekanik-elektronik tertentu di bagian ujung dari muffler knalpot. Alat itu adalah Electronic Exhaust Valve yang memiliki tujuan untuk menghasilkan ‘engine brake’ yang dibutuhkan pembalap dan menghadirkannya hanya dalam situasi yang hanya ketika engine brake di tingkat tertentu dibutuhkan. . . . Nah, bagaimana cara kerjanya?

Ketika valve di muffler tersebut tertutup, maka gelombang bertekanan tinggi akan terbangun di port exhaust. Ini biasanya akan membuka klep buang (ex) di kepala silinder terbuka sedikit. Terbukanya ex valve (katup/klep buang) di kepala silinder akan membuat gerakan piston menjadi ‘terhambat’ dan ‘hambatan kerja’ dari gerakan piston ini yang tentunya disalurkan ke flywheel, transmisi dan akhirnya ke roda belakang dan dirasakan sebagai engine brake atau secara umum mungkin lebih tepat disebut sebagai exhaust brake oleh pembalap.

Di komentar Instagram @tmcblog ketika kami pertama kali merilis foto ini banyak sobat-sobat sekalian yang menyambungkannya dengan parts serupa yang biasa di temukan di sistem knalpot mesin diesel dari truk. Dan ini tuh pada dasarnya tidak salah sama sekali karena memang secara sistem bisa dibilang cara kerja dan efeknya mirip dengan exhaust brake pada mesin mesin diesel truk traktor penarik kontainer itu, hehe.

Lalu di komentar Instagram juga ada pertanyaan menarik lagi bahwa sejak dulu dunia balap atau MotoGP mencoba menghilangkan friksi pengereman saat mesin (engine brake) dengan cara membuat slipper clutch sampai seamless gearbox. Tapi sekarang malah engine brake dengan cara menggunakan exhaust valve malah dihidupkan kembali, konsistensinya di mana?

Untuk menjawab pertanyaan ini patut dilihat bahwa Electronic Exhaust Valve di knalpot MotoGP itu memiliki beberapa sensor termasuk yang berhubungan dengan sistem pengereman. Yes, klep atau valve di knalpot hanya akan menutup ketika pengereman dan bahkan di beberapa sirkuit tim memutuskan untuk tidak menggunakannya.

Ini artinya besaran feel engine brake karena ditutupnya salah satu jalur exhaust bisa divariasikan ‘pemanggilannya’, atau bisa hanya dihadirkan ketika dibutuhkan saja. Sebaliknya, kalau main di jenis plat kopling kan nggak tuh! Besaran engine brakenya akan konstan segitu-segitu saja bergantung pada tingkat friksi dari plat kopling yang dipakai.

Selain itu kita bisa lihat bahwa derajat kebebebasan me-variasikan feel dan besaran engine brake/exhaust brake yang dihasilkan bisa banyak banget. Modal dari variasi sudut klep kupu-kupu dalam menutup (bisa 1/4 menutup, setengah menutup sampai menutup penuh) hingga kita bisa melakukan variasi tempat pemasangan klep kupu-kupunya dimana ia bisa divariasikan tempatnya lebih maju atau lebih mundur untuk menghadirkan besaran pressure/tekanan yang diinginkan dalam menghambat kinerja piston alias untuk menghasilkan feel engine brake tertentu. Silahkan dikunyah-kunyah, semoga berguna.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

23 COMMENTS

  1. Buat naikin torsi tenaga powerband low to mid range rpm..

    Karena stelan motogp tenaga besar di rpm tinggi..
    Low to midnya jatuh.. dengan adanya exup bisa naik tenaga low & midnya..

    Cocok buat zx25r

  2. itu 1 kotak korek api udah nyambung sama saluran knalpot dr silinder depan,apa harus pasang 1 lagi (sesuai kebutuhan)

  3. oh jadi ini gebrakan pabrikan yurop? teknologi lama ini mah, prinsipnya kurleb sama aja kaya katup di exhaust 2 tak apalagi yg dikombinasiin ama rotary valve. sangat berani sekali mengambil langkah, ketimbang inovasi di elektronik yg terlalu futuristik kaya yg dipikirin Jejepangan, mending paksa Dorna buat unified ECU dgn alasan biaya, tapi satu2 teknologi non digital aka manual macam singlet, holeshot, ampe klep knalpot di’inovasiin’. padahal kalo diperhatiin secara global, sama aja kembali ke jaman klasik, F1 udh pake singlet sejak hampir 50 taon lalu, holeshot inspirasinya dari motocross taon 90an, klep knalpot udh dari teknologi 2 tak 80an. teknologi2 usang yg baru dikenalin lg di motogp hanya demi menyamai sensasi rider aid bikinan Jepang (elektronik) aka teknologi 10 taon lalu, tapi dibilang inovasi dan langkah berani. padahal ini mah langkah mundur kalo kita ngacu ke timeline inovasi2 Italia dimotogp ini.

    • biar nanti dimassprod bisa dimunculin sebagai barang lenong nongol yang nyusahin mekanik yg ngerjain tiap service wkwkw

      padahal udah jelas pabrikan Jepang bikin elektronik tinggal colak colok sensor aja.

      eiya ya elektronik mereka aja di massprod rewelan wkwk

  4. tehnologi motogp saat ini kok berasa banyak yg manual yak..yg automatis/elektronik ada yg di batasi atau malah di larang..

  5. baru tau saya wak, dan percis seperti yang saya rasakan, waktu itu pernah jadi sopir bus dan saat itu satu kali kejadian dimana tuas exhaust brake lupa tidak saya kembalikan seperti semula, alhasil ketika saya injak gas, bukanya tambah melaju bus malah semakin melambat malah sempet kaya mau mogok (klo kata urg sunda mah RERENCODAN😀) setelah itu keluar asap hitam dari area mesin, setelah saya berhenti lalu saya cari2 masalahnya dan ternyata memang tuas exhaust brake nya dalam keadaan on 😅, setelah itu perjalanan dilanjut dan gk pernah terjadi apa2 lagi alias lancar smpai tujuan..

  6. Bukannya ini teknologi jadul 30 sampai 40 tahun lalu di jaman power valve 2 tak macam ypvs suoerkips,rc valve dsb ampe 4 tak kaya exup-nya yamaha dsb. Lantas kenapa disebut terobosan dan inovasi terbaru oleh yurop?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.