TMCBLOG.com – Mantan team manager Suzuki Ecstar kepada GPOne mengatakan bahwa secara pribadi ia tidak menyukai format kehadiran Sprint Race di kelas MotoGP mulai 2023 ini. Sesuatu yang seperti dipaksakan, di hadirkan dengan terlalu berlebihan dan tidak bagus dalam pandangan psiko-fisik. Silahkan simak penjelasan dari Livio Suppo ini sob . .

“Saya langsung mengatakan bahwa saya tidak menyukainya dan saya telah memperkuat keyakinan saya. Ketika anda beralih dari teori ke praktik, banyak hal dapat berubah dan saya mencoba melihatnya dengan cara yang tidak berprasangka.

Jelas bahwa Sprint Race akan spektakuler dan dari sudut pandang itu memenuhi harapan, masalahnya format saat ini terlalu berlebihan menurut saya karena menempatkan pembalap dalam kondisi mulai hari Jumat untuk tidak terlalu memikirkan balapan namun lebih banyak memikirkan kualifikasi, yang berarti banyak mempertaruhkan sesuatu dalam latihan, mereka memiliki 3 sesi kualifikasi (P1, P2 dan Q2), 4 untuk mereka yang melewati Q1, yang berarti melakukan 8 putaran dengan kecepatan yang sangat tinggi,”.

“Sabtu adalah hari dengan format yang berlebihan dari segi psiko-fisik. Ada latihan bebas yang tidak ada gunanya, karena itu satu-satunya sesi di mana waktu tidak penting namun dilakukan pada waktu yang berbeda dengan balapan. Lalu ada kualifikasi, Sprint Race, di mana semua komitmen ekstra ditambahkan: tampaknya terlalu berlebihan bagi saya.

Apalagi mengingat hari Ahad adalah acara terpenting di akhir pekan, yang memberikan poin terbanyak. Menurut saya itu berlebihan, apalagi di kejuaraan dengan 21 putaran banyak yang saling berdekatan. Coba pikirkan dari sudut pandang psiko-fisik seperti apa dua bulan terakhir ini,” terang Suppo kepada GPOne.

Ketika diingatkan mengenai sudah ada 4 pembalap yang absen karena cedera di Termas  de Rio Hondo pasca race weekend pertama di Portimao, Livio menjelaskan; “Itu adalah gelaran pertama dan mereka semua bersemangat, saya harap mulai sekarang para pembalap bisa lebih tenang, meski itu tugas mereka.”

“Ini seperti memberi anak mainan yang berbahaya, sulit bagi mereka untuk mengerti. Bahkan tanpa cedera lebih lanjut, mereka akan kelelahan di akhir musim. Menurut pendapat saya, ini terlalu banyak, sesuatu dapat dan harus diciptakan untuk menjadikan balapan hari Ahad sebagai acara yang lebih penting, untuk membuat MotoGP sesuatu yang ingin dilihat orang lagi.”

“Jika mereka melakukan balapan sprint untuk meningkatkan ketertarikan pada MotoGP, itu tidak akan berhasil. Mereka membuat senang para penggemar biasa yang mengikutinya bahkan sebelumnya dan yang sekarang memiliki kesempatan untuk melihat dua balapan.”

Keras juga ya, Livio juga panjang lebar menjelaskan mengenai hal-hal yang menurutnya merupakan kesalahan Dorna memaksakan format MotoGP menjadi seperti sekarang yang secara kualitas balapan memang menjadi lebih seru karena ada banyak aksi salip-menyalip. Namun Livio juga mengatakan bahwa ada resikonya dimana resikonya ada pada masa 3 tahun ke depan sampai batas akan hadirnya regulasi teknis baru bisa lebih parah lagi. Jika minat pada kejuaraan dunia tidak mengalami pembalikan tren, beberapa pabrikan, terutama pabrikan Jepang, mungkin akan memutuskan hengkang. Wadooww . . .

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

37 COMMENTS

    • Inti nya sy udah ga pernah nonton motogp lagi, cuma baca ulasan aja di blog Kang Taufik, hengkang aja jepun, biar jadi omr ducati semua,

      • kalo gak ada perubahan, akan ada komen:”dari jaman motor onthel sampe jaman canggih, masa balapan gitu2 aja..?”
        memang akan serba salah dan akan menuai pro dan kontra, tapi sebagai “panitia pemilik sirkus” dorna sah-sah saja mau berbuat apa sepanjang masih ada kkomitmen dari para peserta (pabrikan) yg ikutan..
        toh dari dulu juga sering berubah2 kok….
        setiap masa ada momen nya…

  1. memang format balap cuma di hari minggu, meningkatkan kualitas balap itu sendiri (tim lebih tenang dan matang persiapan balapnya), dan ada sesuatu yg dinantikan tiap 2 minggu oleh penonton, yang mana hanya ada 1 kesempatan itu, tiap 2 minggu,

    kalo sprint race, kesannya seperti sinetron kejar tayang, di awal2 mungkin penonton seneng, tapi kalo udah bisa ditebak jalan ceritanya (apalagi Ducati baru naek daun gini) lama2 pasti banyak yg bosen, apalagi sekarang tidak ada pembalap sekharismatik VR, rating motogp bisa terus turun, apalagi kalo beneran ke depan, ada lagi pabrikan Jepang yg mundur

  2. Menurut saya, MotoGP sekarang B aja
    Motornya terlalu canggih mungkin ya
    Apa gara2 pabrikan non Jepang yang giliran mendominasi?
    Minim aksi saling overtake
    Rider-nya banyak yang ngeluh kalo ada manuver yang katanya berbahaya (kesenggol dikit langsung mengeluh)
    Tambahin kalo ada lagi

      • Overtake kebanyakan disuguhkan karena faktor kecepatan motornya, bukan karna pembalap habis habisan dogfight buat naik dan turun posisi, sekarang pembalap lebih mending mendulang point dikit tpi bisa dibawa pulang, dibanding ambil resiko dri aksi heroic overtake, gue liat overtake sekarang kebanyakan di 5 lap terakhir ramenya, mungkin karena ogah kali ya udh capek nyalip eh ntar disalip lagi.

        • Lhah ..overtake karena motornya yg joss
          Kalau tak ada yg mengendarai bagaimana mas…
          Tetep saja rider juga jos …
          Itu saja mas…
          Masak rider dinomer 2 kan
          Motor bagus rider loyo…ya…ngawag juga mas….mas

        • Bukan ogah tapi emang di awet2 sampe 5 lap terakhir,karena kalo kebanyakan overtake ban bakal cepat habis atau suhunya bakal terlalu panas yg akhirnya cengkraman ke aspal ga terlalu gigit yg berakibat lapnya makin melambat ya turu di gravel

  3. Padahal pabrikan Jepang itu yg memiliki fanbase yg paling besar,karena produknya bisa digapai hampir semua kalangan,
    apalagi situasi sekarang pabrikan Jepang kayak semakin dipojokkan, siap-siap makin sepi tribun

  4. @yuda
    Jadi eropa ga boleh dominan ya baru dianggap seru?
    Kalaupun memang minim overtake adalah benar, sebabnya karena teknis. Aero menyulitkan overtake dari berbagai aspek.

    (Btw ga bisa post reply dari mobile opera, cloudflare baru nongol pas komen biasa)

  5. Padahal pabrikan Jepang itu yg memiliki fanbase yg paling besar,karena produknya bisa digapai hampir semua kalangan,
    apalagi situasi sekarang pabrikan Jepang kayak semakin dipojokkan

  6. Sesuai komen gw tempo ari, orang yg beneran ngarti balap apalagi pernah berkecimpung didalemnya pasti ngeri liat sprint race motogp. Boro2 punya pikiran sprint race seru apalagi berharap format sprint race dibawa ke hari minggu.

  7. Emang dari awal gua ga setuju kalo sprint full di semua seri. Harusnya di beberapa seri aja. Mana kalo rider absen, rugi banget. Kehilangan point banyak. Terserah buat yang bilang sprint seru, tapi sangat riskan.

  8. Berhubung Marc absen dan Taro juga hanya penghuni papan tengah, saya mending libur nonton mgp dulu, karena pembalap pabrikan jepang yg lain juga belum bisa diharapkan. 🙏

  9. nah ini, sekarang emang masih seru, tapi kalo tiap race disuguhi tontonan kayak kemarin juga lama lama pasti bosen nantinya

    kalo mau bikin balapan seru karena pembalap gak harus mikir soal ban ya kasi ban yang awet biarpun terus dipaksa, kalo bikin ban awet gak mungkin karena faktor teknis mungkin bisa bikin format balap yang wajib swap motor di pertengahan race

  10. Jujur saja semenjak bentuk motoGP menjadi aneh akibat banyaknya winglet saya jadi males nonton, soalnya dulu lihat bentuk moto GP sama dengan new ninja 250 FI tahun 2018 punya saya, jadi berasa banget aura naik motor sportnya.
    Kondisi mulus no minus, taat pajak, low KM.
    Kalau minat hubungi WA 081548265×836.
    🙂

  11. Super Bowl tidak berbeda dengan pertandingan football Amerika lainnya, tetapi itu adalah sebuah Super Bowl dan jutaan orang akan menontonnya, tidak hanya orang2 di Amerika tetapi juga orang2 di Italia. Hal yang sama terjadi pada final Wimbledon atau Grand Prix Formula 1 di Monaco, event tersebut lah sesuatu yang ingin ditonton oleh banyak orang. Bukan dengan balapan yang dibagi dua, yang satu memberikan setengah poin dan bahkan tidak menentukan line-up pembalap untuk starting grid di hari Minggu, yang justru bisa membuat MotoGP menjadi keren. Tampaknya MotoGP meniru Formula 1 namun lupa bahwa keduanya adalah olahraga yang berbeda, dimulai dari fakta bahwa lebih mudah bagi pembalap motor untuk mengalami cedera.

    -Livio Suppo-

  12. lihat marc coba motor non winglet dan goyang dombret itulah seninya… -kembalikan ecu factory…
    -nonaktifkan winglet…
    -kasih ban durability…
    -pasang aturan budget cap…
    – lupakan time new record..
    setelah itu serahkan semua ke skill pembalap maka keseruan gp era 90an akn terulang kembali uhuuyyy

  13. Spint race 😅😅😁 menurut ku sangat tdk oke knp pertama riskan utk rider cedera jika terjadi kecelakaan di race blm lagi keletihan pembalap/rider yg bisa merusak konsentrasi utk race utama so saya kurang suka dgn spint race dan kurang suka juga dgn cara darno skrg dlm mengelola sistem nya sangat” Low inovasi 😁😅

  14. Ekwkwk emang motojipi skrng makin kesana kesannnya makin membahayakan si ridernya sendiri, jambakan 1000cc kagak maen**tentunya dri thun ke thun powernya makin naek,yang 800cc aja dlu banyak jg crash salah satunya ya dp26, tambah lagi sprint race baru mulai udah ada yg cedra… Mootor sekarang udah kayak bawa pesawat aja tombol bejibun di setang bikin rider bingung😂😂

  15. IMHO
    Kasian rider-nya 21 race
    Kejar FP Q1/Q2 SPR RACE
    Stamina dikuras bgt
    Belum resiko jatuh
    lha f1 kan ada tebeng/armornya katakanlah
    MotoGP lebih rawan cedera…
    Seolah kurikulum yang dipaksakan

  16. Kalimat terakhir kalo oom Suppo ngomong, besar kemungkinan akan menjadi kenyataan.
    Kalo ane sbg rakyat jelata sih ngeliatnya , semenjak dominasi Ducati, pabrikan Jepang sepertinya ogah2an dan pasrahan, apalagi Honda yang biasanya bergigi. Sepertinya bentuk protes mereka tapi ngga mau frontal.
    Toh Honda yg kaga jurdun aja motornya paling laku sedunia, balapan bukan bukan lagi race Sunday sell Monday.
    Lama2 pabrikan akan berpikiran mending biaya balapan buat biaya RnD n marketing aja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here