TMCBLOG.com – Situasi pabrikan Ducati di awal musim MotoGP 2024 bisa dibilang sangat nyaman, bahkan mewah. Dua mesin pabrikan lengkap dengan Pecco Bagnaia yang super konsisten kuat, ditambah dua mesin pabrikan lagi di tangan Pramac Racing dengan kandidat juara dunia tajam lainnya yakni Jorge Martin plus empat motor Juara Dunia 2023 lainnya ada di tangan empat pembalap dengan konduite level performa dan konsistensi yang baik. Dari tahun tahun sebelumnya sudah terbukti bahwa ‘Desmosecici tua’ tetap mampu unggul dari kompetitor/brand lainnya . . . Namun ketika memasuki GP kedua di Portimao terlebih di CoTA 2024, Red Alert menyala! Tapi bukan menyala abangku . . .

Kepemimpinan teknologi Desmosedici berpotensi runtuh khususnya jika kita merujuk secara eksklusif pada GP Texas. NKOTB, ‘Si Bocah Nakal’ Pedro Acosta dengan teknologi Austria dan Maverick Vinales yang pada dasarnya tak tersentuh di dua balapan Grand Prix Portimao dan CoTA , menyalakan alarm peringatan yang bergaung seantero Borgo Panigale. Meski Jorge Martin masih memimpin klasemen dan kemenangan masih berpeluang di dua balapan awal, namun Aprilia dan KTM saat ini memiliki kondisi dan potensi kuat dimana mereka tidak bisa disentuh oleh Ducati. Ini jelas sebuah red alert di masa awal kepemimpinan Mauro Grassilli yang menggantikan Paolo Ciabatti.

Yang bisa TMCBlog lihat pasca seri Texas, problem menerpa Ducati dari dua sisi yakni dari sisi teknis dan juga non-teknis. Kita bicara soal teknis dimana sudah hampir 10 tahun lebih TMCBlog tidak pernah lagi mendengar problem bernama chatter di rear-end motor MotoGP dan di tahun 2024 ini mendadak hadir kembali khususnya menerpa pasukan Ducati terlebih yang menggunakan Desmo GP24. Awalnya TMCBlog kira dikarenakan Ducati memperkecil dimensi salad box mereka yang umumnya merupakan tempat bersemayam Tuned-Mass Damper sang pereda gejala chattering, namun ternyata setelah dikunyah-kunyah lebih lama, ini lebih ke ‘masalah mewah’ . .

Yes ‘Masalah Mewah’ begitulah kami menyebutnya . . Chatter/getaran hadir pada Ducati GP24 dan GP23 karena bahkan tingkat grip yang bertambah pada ban belakang Michelin yang mereka pakai di musim 2024 ini. Grip bertambah bagus, malah chattering, Anggie Ang bilang di Podcast MotoGP Trans7. “Sesuatu yang berlebihan itu memang nggak baik”.

“Saya berjuang sepanjang akhir pekan dengan ban yang soft – banyak getaran di bagian belakang. Kami terlalu menekan ban belakang dan setiap lap menjadi lebih buruk. Kami punya banyak masalah dengan chatter di sini dan di Qatar – kami harus menyelesaikannya, atau kami akan mengalami masalah ini sepanjang musim. Merek lain tidak memilikinya — saya tidak mengerti penyebabnya.” Begitu keluh Jorge Martin.

Keluhan chatter Pecco Bagnaia setelah Sprint Qatar: “Saya mendapat banyak chatter dari bagian belakang — getaran setelah tiga atau empat lap”. Dan setelah balapan Grand Prix di Portugal: “Hari ini saya mengalami chatter — kami tidak menduganya”.

Grip yang berlebihan menyebabkan chatter ini, yang memaksa pembalap untuk melambat atau berisiko terjatuh, karena ban benar-benar mental mentul di atas aspal trek dan membuat pembalap merasa seperti membalap di trek dengan permukaan aspal berbentuk papan penggilasan untuk mencuci baju sehingga ban bisa mental mental saat melaju dengan ketinggian antara setengah sampai 6 mm. Pertanyaannya adalah dari mana sumber tambahan grip ini? Dilihat dari silogisme bahwa Marc Marquez dan pembalap pengguna GP23 lainnya yang notebenennya tidak alami chatter di 2024. Maka disinyalir penyebabnya adalah ban slick Michelin 2024.

Michelin di 2024 ini menghadirkan ban depan dan belakang baru dalam hal solusi kompon. Dibandingkan dengan  Bridgestone yang memiliki ban depan yang kuat, grippy dan konsisten, Michelin itu dari dulu sudah terkenal hebat mengenai grip ban belakangnya, ketika mereka kembali lagi berkonsentrasi ke ban belakang yang diejawantahkan dengan menambah grip karena senyawa kimia dari kompon karetnya diubah. Maka hasilnya adalah chatter karena kali ini getaran yang dirasakan oleh karet ban tidak kuasa diredam dengan maksimal oleh suspensi dan mass damper di buritan motor.

Kepala teknisi Öhlins MotoGP – Mats Larsson – menjelaskan kepada Mat Oxley “Ban itu sendiri memiliki tingkat redaman tertentu. Frekuensi (peredaman) alami ban adalah sekitar 17Hz hingga 19Hz [17-19 cycles per second], jadi jika ada ketidak-teraturan atau ketidak-seimbangan pada sepeda motor yang sesuai dengan frekuensi yang sama maka getaran akan dimulai. Itu mungkin hanya terjadi pada kecepatan tertentu di tikungan tertentu dan sudut kemiringan tertentu.”

 

Yang dimaksud oleh Mats Larsson dalam fisika dasar adalah Konsep Interferensi Gelombang dimana jika ada dua gelombang dengan frekeuensi yang sama berinterferensi (bergabung) maka hasilnya adalah penambahan amplitudo dari getaran.

Contoh mudahnya ada gelombang 1Hz beramplitudo 1 cm klop bertemu dengan gelombang 1Hz beramplitudo 2 cm maka akan dihasilkan Interferensi Konstruktif berupa gelombang dengan amplitudo 3 cm. Ngerikan kalau hal tersebut terjadi di motor?

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

 

31 COMMENTS

    • Dan saat itu Honda juaranya.
      2024 aprili4 dan Kateem sibuk betulin buntut. Seperti dah tau klo ban thn ini beda dan Ducati blm tau bakal ngaruh besar.

      • Betul, ducati fokus ke aero depan dan samping, berarti selama test pramusim, pembalap2 ducati yang pake GP24 tidak benar2 ngetest motor dalam keadaan longrun. Sedangkan baik pembalap Aprilia n KTM (Lebih ke Acosta kalo KTM) sering banget fokus ke longrun, bahkan baik Aleix, Vinales, Raul, dan Oliveira gak kelihatan wah laptimenya di Test Pramusim Sepang n Qatar. Acostaa juga sibuk banget ngetest longrun di Shake Down Sepang, sampe Test Qatar. Jadi ya, bukan gak mungkin kalo Acosta mungkin udah nemuin Base Setup dibanding pembalap KTM yang lain. Karena emang dari 3 seri ini, cuma Acosta yang kemajuan finishnya bagus terus dibanding pembalap KTM yang lain.

  1. Kata dora kata kuncinya adalah grip.seharusnya yamaha+honda di untungkan dengan ban tipe ini.tanpa harus menambahkan mass damper dapat tambahan grip yang selalu jadi masalah mereka.setidaknya sedikit membantu riset mereka dalam menemukan tambahan grip belakang yang selalu menjadi isu mereka.dan motor yang punya mechanical grip tinggi seperti ducati [jack miller pernah bilang gitu]harus mereset stelan dasar motor.kenapa waktu di tes pramusim belum ter deteksi masalah ini?mungkin ban yang di pake test berbeda.

    • Kalo menurutku Honda dan Yamaha lebih ke arah belum nemu setelan setup yang pas, jadi harus nyari setup dulu meski udah terbantu sama kondisi ban. Nah, sedangkan Ducati emang paling ngegrip keknya dibanding yang lain, dilihat dari pedenya Pecco n Martin di Test Pramusim dengan laptimenya. Tapi kan pengguna GP24 mungkin gak ngetest motornya ketika kondisi longrun, sedangkan duo Aprilia Factory fokus ke longrun, Acosta juga fokus ke longrun. Kalo cuma ngejar laptime kenceng ya gak ngaruh ini ban.

  2. Terdengar seperti mudah utk ditangani, tinggal fokus di mass damper nya, tp kok berkelanjutan hingga seri ke-3? Apa bisa jd jg disebabkan oleh desain GP 24 scr menyeluruh, aero, swing arm, suspensi, ecu?

  3. Sementara itu… fans Marc udah heboh nulis kalo Marc sukses ngalahin rider ducat-i yg make motor lebih baru…

    Dikirain motor terbaru pasti langsung lebih joss

    • Terus lu lupa kalo ini baru 3 seri dari 21 seri tahun ini…

      Terlalu cepat ngambil kesimpulan motor 24 udah langsung lebih joss dari 23.
      Ingat nggak pecco kapan hari malah milih motor hibrid taun sebelumnya

      Terus lu lupa kalo F Diggia cuma satu peringkat dibawah Marc dengan selisih 9 point’ ?

      Terus lu lupa kalo ada rookie make motor yg ga pernah jurdun tapi di standings diatas Marc… ?

      Lu ga lupa… Lu fanatik doang..

  4. Supra 125 saya pernah chatter pas buat cornering, hampir highside malahan
    Stelah saya k box ternyata kata crew chief saya suspensi showa dh rembes harus ganti baru sama bos swing armnya dh dobol
    Akhirnya saya bisa conering dgn nyaman tanpa hrs khawatir chatter lg

    • sialan wkwkwkwkw

      saya yang bobotnya boncengan ini mengaminkan ini. Ganti kyb zeto lgsg joss kaget mulu tiap nikung kenceng jadi enak gripnya

      lalu timbullah kelakukan janaham selanjutnya “wah ini kaki depan yg bermasalah” jiakhhhhh

  5. Jd idealnya supplier ban motoGP,enaknya timing memperkenalkan (hanya nyicipi tanpa dipakai race)ban baru disaat stengah musim berjalan Dan akan full dipakai full musim tahun berikutnyny.

  6. paling cuma part damper terbaru belum dipasang aja gara2 ban baru ini.

    harusnya seri 5 keatas uda bye2 yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here