TMCBLOG.com – Sejak diperkenalkan oleh Ducati pada tahun 2018, Ride Height Device (RHD) telah menjadi salah satu topik teknologi paling panas dan paling kontroversial di paddock MotoGP. Walaupun sudah diputuskan untuk tidak digunakan mulai musim 2027 nanti, perangkat ini akan menyimpan banyak kenangan untuk dibicarakan di kemudian hari karena sempat secara fundamental mengubah cara motor MotoGP berakselerasi dan berinteraksi dengan lintasan.
Meskipun kehadirannya didorong oleh pencarian kecepatan absolut, efeknya yang memicu perdebatan sengit—terutama terkait dengan larangan penggunaannya secara bertahap—menjadikan RHD salah satu inovasi paling signifikan dalam dekade terakhir.
1. Prinsip Kerja: Menaklukkan Wheelie dan Pusat Gravitasi
Ride Height Device (RHD) adalah sistem mekanis atau hidrolik (dilarang menggunakan elektronik) yang dirancang untuk secara temporer menurunkan ketinggian motor, terutama bagian belakangnya.
Mengapa Ketinggian Motor Perlu Diturunkan?
Tujuan utamanya adalah:
-
Menurunkan Pusat Gravitasi (CoG): Dengan menurunkan ketinggian motor, pusat gravitasi ikut turun. Hal ini meningkatkan stabilitas dan grip saat berakselerasi.
-
Mengatasi Wheelie: Saat pembalap berakselerasi kencang, terutama saat keluar dari tikungan lambat (fase wheelie), transfer bobot motor ke belakang sering menyebabkan roda depan terangkat (wheelie). Dengan menurunkan bagian belakang, gaya tekan pada roda belakang meningkat, membantu menjaga roda depan tetap menapak di aspal.
Hasilnya, pembalap dapat berakselerasi lebih keras dan lebih cepat, mendapatkan keunggulan waktu sepersekian detik yang sangat berharga.
Perbedaan dengan Holeshot Device
Teknologi RHD terinspirasi dari Holeshot Device yang sudah lama digunakan di Motocross.
-
Holeshot Device: Hanya digunakan di garis start. Perangkat ini mengompresi dan mengunci garpu depan sebelum start. Rem depan akan melepaskan kunci ini saat memasuki tikungan pertama.
-
Ride Height Device (RHD) Belakang: Perangkat ini dapat diulang (repeatable) dan dapat diaktifkan oleh pembalap, tidak hanya di garis start, tetapi juga saat balapan berlangsung (misalnya, saat keluar dari tikungan terakhir menuju lintasan lurus).
2. Inovasi Cerdas Ducati dan Batasan Regulasi
Ducati adalah pelopor di balik RHD modern. Setelah sukses memperkenalkan RHD belakang yang dapat digunakan saat balapan, inovasi terus berlanjut.
Pada tahun 2022, Ducati bahkan terlihat menguji RHD depan yang dapat diulang (aktif saat motor bergerak), yang memungkinkan motor merunduk secara keseluruhan, baik depan maupun belakang, sebelum berakselerasi.
Teknologi Non-Elektronik
Penting untuk digarisbawahi, perangkat RHD harus sepenuhnya dikontrol secara mekanis atau hidrolik. Regulasi MotoGP melarang keras penggunaan kontrol elektronik yang mengintervensi suspensi (seperti suspensi aktif), sehingga pembalap harus mengaktifkan RHD secara manual, biasanya dengan tombol atau tuas khusus di setang.
Beberapa pabrikan mencoba mengembangkan sistem “semi-otomatis” yang diaktifkan pembalap sebelum tikungan, dan perangkat akan merunduk secara otomatis pada momen percepatan tertentu.
3. Kontroversi, Risiko, dan Dampak Balapan
Penggunaan RHD memicu perdebatan sengit antara pabrikan (yang fokus pada kecepatan) dan penggemar/pengelola balap (yang fokus pada tontonan).
Dampak Positif (Kecepatan)
-
Akselerasi Maksimal: Memungkinkan motor mencapai kecepatan tertinggi lebih cepat.
-
Stabilitas: Meningkatkan stabilitas saat keluar tikungan.
Dampak Negatif (Kontroversi)
-
Mengurangi Tontonan: Hilangnya aksi wheelie spektakuler di garis start dianggap mengurangi daya tarik balapan. Beberapa pengamat juga berpendapat hal itu mengurangi seni menikung dan setup motor yang dulu mengandalkan skill pembalap murni.
-
Risiko Kerusakan (Malfunction): Karena sifatnya yang mekanis, RHD berisiko macet atau glitch. Jika RHD macet pada posisi rendah atau terlepas terlalu cepat/lambat, pembalap bisa mengalami kesulitan besar, bahkan kecelakaan.
-
Beban Komponen: Perubahan pada ketinggian dan transfer bobot memberikan tekanan dan panas tambahan pada ban (Michelin) dan sistem pengereman (Brembo).
-
Dirty Air: Perubahan aerodinamika saat motor merunduk dapat mengganggu udara di belakang, memengaruhi motor lain dan mengurangi efek slipstreaming.
4. Batasan Regulasi dan Masa Depan RHD
Menyikapi kontroversi dan untuk alasan keselamatan, Komisi Grand Prix telah memberlakukan pembatasan progresif:
-
Larangan RHD Depan (mulai 2023): Penggunaan RHD di roda depan yang dapat diulang (aktif saat motor bergerak) telah dilarang per musim 2023.
-
Larangan Total (mulai 2027): Pihak penyelenggara (Dorna dan FIM) telah mengumumkan bahwa SEMUA perangkat penyetel ketinggian motor yang dapat diulang, baik depan maupun belakang, akan dilarang sepenuhnya mulai musim 2027.
Larangan ini bertujuan untuk mengendalikan biaya pengembangan, mengurangi kompleksitas motor, dan yang paling penting, mengembalikan elemen kecepatan yang lebih bergantung pada skill murni pembalap dan setup suspensi pasif.
Meskipun RHD memberikan pabrikan jalan keluar untuk meningkatkan kecepatan, keputusan untuk melarangnya di tahun 2027 menandai akhir dari era singkat teknologi yang sangat agresif ini, sekaligus langkah kembali menuju balapan yang lebih berfokus pada dinamika skill klasik.









Ok Wak haji
Lebih suka MotoGP jadul dimana skill pembalap berbicara ketimbang siapa paling cepat tapi seni balapan hilang, ga bisa nyalip = keseruan balap berkurang. Balapan lebih monoton
Berarti usulan buat pake RHD seperti DRS di situasi dan area tertentu saja mentah
Mentah, karena nanti di motor harus ada sensor tambahan lagi buat tau jarak dengan motor di depannya, ditambah ya itu tadi biaya jadi bengkak, karena di 2024 dan 2025 aja Ducati juga masih berinovasi di sektor RHD, sedangkan tujuan Regulasi 2027 juga buat ngurangi Dirty Air dari penggunaan Aero. Ini kek regulasi F1 sejak 2019, dimana di area wing depan gak boleh ada perintilan2 yang bisa ngarahin udara, alhasil cukup ngurangi dirty air, bahkan di regulasi 2022-2025 juga F1 ngurangi Aero besar2an, meski di 2026 malah kek nambah Aero lagi, karena sektor yang dekat kokpit jadi dibalikin lagi, alhasil disitu bisa buat nyari celah regulasi, ditambah keknya mulai 2026 akan ada DRS di Wing Depan.
Dulu pirro jd korban development holeshot bukan sih? Ngeri bener ban depan tiba2 ngunci lagi topspeed gitu.
Orang lama yg pernah ga pakek gitu2an selain mamakes siapa aja ya?
Kayaknya tdk ada
kalau di level motogp ya JZ, MV kayaknya yg masih sempet pke motor polosan, tp JZ pke yamaha sdh berkumis/aero depan cm blm ada RHD dan HS
Marc, Miller, Vinales, Zarco, Rins, Morbi, Nakagami – Aleix (wildcard)
untuk musim 2027 tinggal bbrp rider aja paling, Marc, Vinales, Morbi, zarco dan Miller kayae ga dapat seat
Kapan mbah darno buka segel ecu inhouse japan..gk butuh aero2 lg..aksi salip bisa lbh seru
Keknya susah bro, di F1 aja ECU juga seragam, tujuannya pake Ecu seragam kan juga biar bisa juga buat Moto3 dan Moto2, meski jenis dan spek ECU nya beda, tapi masih tetep di Merk yang sama, bahkan MotoE pun kan juga pake ECU yang sama. Keknya alasan MotoE pake Energica dan Ducati (gak pake Mugen yang langganan juara TT Zero di IOMTT, dan pabrikan lain) ya karena biar bisa dipakein ECU MM.
perkara winglet yang berubah sudut gimana wak?
Goodbye RHD
Goodbye DRS
End of an era.
berasa baca AI, ati2 wak, jangan keseringan, ntar usernya notice. memang jaman sudah canggih, tapi sentuhan tangan manusia tetap yg terbaik. cuma saran sih, nuhun.
Sial, bener juga, dari bahasanya kek AI emang, Wak Haji dari segi penulisan emang gak kek gini.
RHD, adalah pisau yang menusuk hati Fabio di Silverstone.. tangisnya tak terbendung padahal pembalap ke 2 ga mungkin bisa nyusul andai RHD normal.