TMCBLOG.com – Musim MotoGP 2025 telah mengukuhkan status Fabiano Sterlacchini sebagai salah satu tokoh kunci di paddock. Mengambil alih peran krusial sebagai Direktur Teknis Aprilia Racing setelah kepergian Romano Albesiano, insinyur asal Italia ini dihadapkan pada apa yang oleh banyak pengamat disebut sebagai “mission impossible”.
Aprilia tidak hanya kehilangan bapak dari proyek RS-GP mereka, tetapi juga menghadapi perombakan besar-besaran pembalap dan kepala kru. Namun, di bawah kendali Sterlacchini, skuad Noale berhasil menavigasi musim yang penuh tantangan ini dengan manajemen yang impresif.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan Manuel Pecino, Sterlacchini merefleksikan perjalanan kariernya—dari akar mekaniknya, hampir dua dekade di Ducati, periode singkat di KTM, hingga filosofi kepemimpinannya yang tak kenal kompromi di Aprilia.
Akar Teknik dan Era Emas Ducati
Berlatar belakang pendidikan teknik mesin, karier Sterlacchini dimulai dengan menyeimbangkan kuliah dan kerja di bengkel balap mobil pamannya. Jalannya menuju roda dua terbuka melalui koneksi di Superbike, yang akhirnya membawanya ke Ducati Corse.
Selama 18 tahun di Borgo Panigale, Sterlacchini bekerja bersama nama-nama besar. Ia menyoroti pengaruh mendalam dari Filippo Preziosi, sosok jenius di balik Desmosedici awal. “Filippo tidak diragukan lagi memiliki pikiran yang luar biasa,” kenang Sterlacchini, mengakui bahwa Preziosi adalah mentor yang paling memengaruhinya, terutama di masa mudanya.
Meskipun ia juga bekerja di bawah Gigi Dall’Igna—yang ia gambarkan sebagai sosok yang sangat kompeten—Sterlacchini akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Ducati. Keputusan itu didasarkan pada “timbangan kehidupan,” di mana alasan untuk pergi akhirnya lebih berat daripada alasan untuk bertahan. Ia membutuhkan “detoksifikasi” dari tuntutan dunia balap yang tiada henti.
Pelajaran dari KTM: “Saya yang Menentukan Arah Kapal”
Setelah jeda singkat, Sterlacchini kembali ke MotoGP bersama KTM. Meskipun periode ini berlangsung singkat (tiga tahun), pengalaman tersebut sangat penting dalam mendefinisikan gaya manajemennya.
Perpisahannya dengan pabrikan Austria tersebut bukan karena masalah teknis semata, melainkan perbedaan mendasar dalam visi strategis organisasi. Sterlacchini menggunakan analogi bahari yang kuat untuk menjelaskan filosofinya dalam memimpin sebuah proyek teknis tingkat tinggi.
“Jika saya berada di puncak proyek, saya yang memutuskan ke mana kapal akan berlayar,” tegas Sterlacchini. “Jika seseorang datang dan menyuruh saya untuk berbelok, saya katakan: ‘Anda ambil alih kemudi, dan saya pergi.’ Begitulah cara kerjanya.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa bagi Sterlacchini, tanggung jawab kepemimpinan harus disertai dengan otoritas penuh dalam menentukan arah strategis.
Visi di Balik Tantangan Aprilia
Filosofi inilah yang ia bawa saat menerima tawaran dari CEO Aprilia, Massimo Rivola. Situasi di Noale saat ia tiba sangatlah kompleks:
- Motor baru yang harus dipahami,
- Hilangnya data historis dari pembalap utama yang hengkang, dan
- Hanya menyisakan sedikit referensi.
Bagi banyak orang, ini adalah resep bencana. Namun, Sterlacchini melihatnya berbeda.
“Kemampuan dalam pekerjaan kami… bukan hanya melihat apa yang ada di depan mata, tetapi untuk memperkirakan potensi dari apa yang Anda lihat,” jelasnya.
Ia melihat kualitas yang luar biasa pada staf Aprilia di berbagai departemen, dan itulah yang memberinya kepercayaan diri. Meskipun mengakui bahwa Aprilia telah mencapai “level yang cukup baik” di musim 2025, Sterlacchini menegaskan bahwa mentalitas pemenang tidak mengizinkan rasa puas.
“Di balapan, hanya ada satu hasil yang harus dituju,” pungkasnya, mengisyaratkan bahwa di bawah komandonya, kapal Aprilia hanya memiliki satu tujuan: posisi teratas di kejuaraan dunia.






Tegas
Istilah orang yg suka nulis,
aling aling Tanpa tedeng
Sisi lain dari guru gembul