Bedah Tuntas Krisis Ducati MotoGP 2025 Versi Mat Oxley: Bukan Cuma Soal Inersia Mesin, Tapi ‘PR Disaster’!

TMCBLOG.com – Musim MotoGP 2025 akan dikenang sebagai salah satu musim yang paling aneh, setidaknya bagi tim pabrikan Ducati Lenovo. Bagaimana tidak? Mereka berhasil menyapu bersih gelar Juara Dunia Pembalap, Konstruktor, dan Tim berkat kejeniusan satu pembalap (Marc Márquez), namun di saat yang sama, tim tersebut juga mencatatkan salah satu periode terburuknya, khususnya di lima seri terakhir musim.

Melalui artikel tajamnya yang berjudul “Ducati MotoGP: How to mismanage a crisis”, jurnalis senior dan kredibel Mat Oxley melakukan bedah mendalam mengenai apa yang sebenarnya terjadi di garasi merah Borgo Panigale. Hasilnya? Krisis Ducati 2025 ternyata bukan hanya soal masalah teknis pada Desmosedici GP25, tetapi juga sebuah blunder manajemen komunikasi (PR) yang parah.

1. Dominasi Pincang Desmosedici GP25

Secara statistik, Ducati Lenovo mendominasi. Namun, fokus Oxley adalah pada paradoks performa. Di satu sisi, Marc Márquez datang dan menunjukkan kelasnya sebagai pembalap alien.

Ia mampu meraih kemenangan dan gelar, membuktikan bahwa meskipun motor tidak sempurna, ia bisa mengatasinya—seperti Casey Stoner di tahun 2007. Oxley bahkan berpendapat bahwa Márquez datang di saat yang tepat bagi Ducati, karena untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade, mereka tidak memiliki motor terbaik di grid.

Di sisi lain, pembalap utama mereka, Pecco Bagnaia, dan pembalap satelit GP25 lainnya seperti Fabio Di Giannantonio, mengalami penurunan performa yang drastis dan tidak konsisten.

Puncaknya, di 5 Grand Prix terakhir setelah MM93 absen cedera, tim pabrikan Ducati Lenovo hanya mampu mengumpulkan dua poin dari 125 poin yang tersedia. Sebuah catatan yang memalukan bagi tim sekelas Ducati.

2. “Cacat Fundamental” GP25: Apa Kata Pembalap?

Ketidakkonsistenan ini didasari oleh apa yang disebut Mat Oxley sebagai “Cacat Fundamental” (fundamental flaw) pada Desmosedici GP25.

Bagnaia sendiri, di akhir musim, memberikan pernyataan yang menunjukkan frustrasinya: “Rasanya selalu sama, hanya performanya yang berbeda,” kata Bagnaia. “Saya selalu merasa tidak ada pengereman, tidak ada belokan, tidak ada deselerasi.”

“Di Sepang itu cukup untuk memimpin Sprint, di Phillip Island cukup untuk menjadi yang terakhir, dan di sini (Valencia) cukup untuk berada di posisi ke-16.”

Di Giannantonio memperkuat sentimen ini, menunjuk masalah utama pada bagian depan (front-end) motor. Ia menyebut konfigurasi GP25 “tidak memberikan feeling yang jujur dari depan”, membuat pembalap sulit membangun kepercayaan diri dan berujung pada kecepatan yang lebih lambat.

3. Kegagalan PR Ducati: Menciptakan ‘Vakum Konspirasi’

Inilah poin utama yang diangkat Oxley: Krisis teknis diperparah oleh krisis komunikasi. Oxley menyebut Departemen PR Ducati melanggar dua aturan utama dalam Public Relations:

  1. Jangan pernah menciptakan vakum informasi (PR Rule #1): Alam membenci kekosongan. Ketika informasi resmi tidak ada, maka kekosongan itu akan diisi oleh bullshit alias teori konspirasi liar di internet.

  2. Berbohong hanya ketika benar-benar harus (PR Rule #2): Jika Anda 9 dari 10 kali mengatakan kebenaran, orang akan cenderung mempercayai satu kebohongan yang Anda perlukan.

Kegagalan Ducati memberikan petunjuk yang jelas tentang masalah GP25 justru memicu badai spekulasi—mulai dari teori konspirasi Ducati sengaja menghancurkan Bagnaia demi Márquez, hingga masalah software.

Situasi ini mencapai puncaknya ketika Bagnaia mengatakan di Mandalika, “Saya hanya mengatakan apa yang orang suruh saya katakan,” sebuah indikasi bahwa rider sudah muak karena tidak diizinkan menjelaskan situasi yang sebenarnya. Komunikasi yang tidak jujur ini justru mengalihkan sorotan dari dominasi MM93 menjadi kegagalan tim di paruh akhir musim.

4. Teori Mat Oxley: Inersia Mesin Biang Keladi Sebenarnya?

Dalam sebuah pertemuan off-the-record dengan Gigi Dall’Igna dan para insinyur, Oxley sempat diberi tahu bahwa akar masalah GP25 adalah perangkat Ride-Height Device. Namun, Oxley tidak percaya dengan penjelasan tersebut.

Oxley mengajukan teori teknisnya sendiri yang lebih kredibel, mengingat adanya aturan homologasi mesin:

  • Masalah sebenarnya adalah kemungkinan besar Inersia Mesin (Engine Inertia) yang berlebihan.

Inersia mesin yang terlalu besar menyebabkan mesin terus mendorong motor ke depan meskipun gas sudah ditutup (closed throttle). Hal ini membuat pembalap kehilangan daya cengkeram (grip) di bagian depan saat memasuki tikungan, sebuah resep bencana bagi semua pembalap kecuali Márquez, yang dengan talenta supranaturalnya mampu mengendalikan efek tersebut.

Oxley membandingkan ini dengan kesalahan Suzuki pada tahun 2017, di mana peningkatan massa crankshaft (yang menambah inersia) membuat motor GSX-RR “tidak dapat berhenti, mengurangi kecepatan, atau berbelok”. Karena spesifikasi mesin beku (homologated), Ducati tidak punya pilihan selain melanjutkan dengan mesin yang sudah ada.

Kesimpulan: Antara Teknik dan Jurnalisme

Krisis Ducati 2025, menurut analisis komprehensif Mat Oxley, adalah kombinasi yang mematikan: Sebuah fundamental flaw (kecatatan fundamental) pada Desmosedici GP25 (diduga kuat inersia mesin) yang ditutupi oleh mismanagement of crisis dari departemen PR.

Kabar baiknya bagi Ducati adalah, meskipun spesifikasi mesin 2026 dibekukan, mereka dapat menggunakan setiap mesin yang telah dihomologasi untuk tahun 2025, yang berarti mereka dapat kembali menggunakan mesin GP24 yang terbukti jauh lebih mudah dikendalikan—seperti yang ditunjukkan oleh MM93 bersama Gresini sebelum pindah ke tim pabrikan.

Sebagai penutup, Oxley mengutip dari George Orwell: “Jurnalisme adalah mencetak sesuatu yang tidak ingin dicetak oleh seseorang. Selain itu adalah Public Relations.” Tindakan blacklisting yang ia terima dari Ducati hanya membuktikan bahwa upayanya mengungkap kebenaran di tengah ‘badai konspirasi’ adalah sesuatu yang krusial dan diperlukan.

Bagaimana menurut sobat sekalian? Sejauh mana inersia mesin GP25 mempengaruhi performa Pecco Bagnaia selama musim 2025, dan apakah langkah PR Ducati sudah tepat dalam menghadapi krisis ini? Silakan tinggalkan komentar di bawah! – @tmcblog

26 COMMENTS

  1. Lebih penasaran apa yang dilakukan Marc sehingga bisa melampaui dari dugaan masalah atas inersia GP25 ini, apa yang dimiliki/dilakukan Marc yang tidak dimiliki Pecco dan Diggia.

    • Penasaran juga kira-kira apa yang dimiliki Marc tapi tidak dimiliki oleh Pedrosa, Cal Crutlow, Nakagami ketika di Honda dulu?

    • ya, lebih tepatnya marc tau cara handle masalah tersebut dan dia menberitahu hal ini ke alex marquez. hasilnya dua marquez yg dominan. kalo ducati mau bagus lagi, marq harus keluar dari ducati. Ducati tinggal pilih, mau banyak 8 rider ducati yg bagus prestasinya. atau duo marquez aja yg bagus

      • Sepertinya bro ga baca isi artikelnya. Jelas-jelas udah disebut di artikel kalo mesin GP24 itu jauh lebih mudah dikendalikan. Jadi ga ngaruh MM bagi-bagi info ke AM kalo GP25 ada masalah inersia mesin karena AM nya aja ga pake GP25 buat tahun ini.

  2. Jujur dan ceritain semua masalah motor mereka ke publik? Gengsi dong! Nanti ketauan mereka “digendong” marc sepanjang musim 2025. Mereka kan pernah ngomong gak mau rekrut marc karna nanti klo menang yang diliat ridernya bukan motornya dan sekarang jadi kenyataan.
    Berarti aman dibilang bukan mental pecco yang bermasalah tapi emang motornya yang balik jadi celeng.

  3. Setiap thn ada dibbrp keluaran motor ducati yg mslh.. kaya gp23 yg rada susah dikendalikan, mslh’y dlu musuh blm improve pada kenceng2.. tp pas gp25 mslh, sdmgkan musuh dah mulai padakenceng.. tp beruntung ada marquez yg cepet nutup gap kekurangan dari gp25, bahkan di bbrp race gp24 juga kesulitan lawan aprilia ma Ktm

  4. jika masalah insersia maka benar marquez marc bisa beradaptasi dengan baik di gp 25,itu karena masalah inersia ada di gp 23 yg di pakai marc saat di gresini.namun dengan akselerasi gp 25 yang jauh lebih baik dari pada gp 23.dan kalau tidak salah saat tes pramusim,marc tidak mau tes gp 24.sehingga mungkin marc tidak terdistorsi secara feel berkendara antara gp 24 dan gp 25.

  5. Haha dr penjelasan PR saat jelasin material berbeda namun lbh kuat dgn ukuran yg sama, inersianya sama itu aja saya yg ga paham2 amat sama mesin dr dahulu ga percaya, klo mesin pengen tambah awet ga jauh2 dr ngurangi massa crankshaft, menambah flywheel tp resikonya ngloyor dh sesimpel itu, mslh material/metalurgi saya yakin semua pabrikan dh setara/sama semua
    Klo ga salah Wak Haji kn pernah tu bikin artikel PR nya, smpe dr kesimpulan Wak Haji sndiri memilih berkhusnudhon bhw yg dikatan PR itu bener wkwkwk

  6. mesin GP24 yang terbukti jauh lebih mudah dikendalikan—seperti yang ditunjukkan oleh MM93 bersama Gresini sebelum pindah ke tim pabrikan.

    Kurang paham kalimat yang ini…bukankah MM93 belum sempat pake GP24?

  7. Menurut pengamatan sy. Pada awal pengembangan Ducati GP 2025 lebih banyak masukkan MM93 yg diprioritaskan dari pada Bagnaia dan Digia. Ini bisa jadi karena nama besar MM93 yg begitu berpengaruh dgn sponsor. Ingat ketika MM93 dan DP26 masih di Honda dulu. Ketika DP26 mengatan suku cadang ini, itu bagus ut dia tapi MM93 tdk mau memakainya bukan karena tdk cocok dgn gaya balapnya tapi karena bagaimana dia ingin membunuh pengarunya DP26 di honda.
    Jujur, memang MM93 sangat bertalenta tapi racun bagi pengembangan motor. Dia bisa beradaptasi dgn masukkan rider lain tapi dilain sisi masukkannya dlm pengembangan motor racun bagi rider lain. Racunnya ganas tdk ada penawarnya😅

    • Eksternal flywheel memang bebas bisa dganti2 apalagi model mesin macem ducati desmo..
      Tp netizen salah kaprah bhw tiap sirkuit bisa ganti2 flywheel mnurut karakter sirkuit..
      Kenyataannya massa crankshaft sm flywheel itu dh ada massa pakemnya menyesuaikan upshift/downshift yg paling efektif
      Misal kasarnya gini target massa crankshaft+flywheel itu 1kg buat kinerja mesin bisa efektif mnurut insinyurnya, dlm artian jambakannya pas, deselerasinya pas tp harus jg cocok dgn kinerja naik turunnya gigi agar ga terlalu nyentak berlebih saat naik/turun gigi
      Nah dr sini aja dh bisa dfahami sejatinya dgn merubah massa flywheel maka seolah wajib jg merubah massa crankshaft
      Dan sebenarnya flywheel ducati dtaruh di luar itu fungsi utamanya ga untuk diganti2, tp agar ga memakan banyak ruang d crancase bisa mengejar diameter yg lbh besar d luar namun lbh ringan dan jg ga terkena hambatan oli

  8. Ducati GP25 walaupun bermasalah pada mesin, namun itu adalah motor yg kencang dan punya kelebihan saat akselerasi keluar tikungan.

    Ya mirip-mirip dgn motor Ducati 2007 yg dikendarai Casey Stoner, walaupun motor celeng namun kencang…

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP